Demam Tifoid

DEMAM TIFOID

Pengertian Demam Tifoid

Penyakit demam tifoid atau typhoid fever, enteric fever merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Sering disebut oleh masyarakat awam sebagai sakit tipes, tifus, demam tifus.

Penyakit ini ditularkan melalui makanan dan minuman tercemar bakteri Salmonella. Terkait dengan gaya hidup tidak bersih, buruknya kualitas higiene pribadi dan kebersihan lingkungan. Demam tifoid menjadi penyakit endemik dan permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Kejadian demam tifoid bisa mencapai rata-rata 500/100.000 penduduk dengan persentase angka kematian 0,6 – 5%. WHO memperkirakan terdapat 11-20 juta kasus demam tifoid  dengan angka kematian mencapai sekitar 128 000–161 000 tiap tahunnya

Penyebab Demam Tifoid

Penyebab utama demam tifoid yaitu bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica. serovarian paling sering typhii, serta serovarian paratyphii A. B dan C. Salmonella typhii telah menjadi penyakit mayor pada manusia selama ribuan tahun, dicurigai sebagai penyebab  bencana wabah The Great Plague of Athens di akhir masa peperangan Pelopennesian. Salmonella typhi menyebabkan demam typhoid pada 22 juta orang setiap tahun. Salmonella paratyphi menyebabkan demam paratyphoid pada 5 juta orang setiap tahun.

salmonella

Sumber gambar CDC

Proses Terjadi Demam Tifoid

Bakteri masuk melalui jalur fecal – oral. Proses penularan biasanya dari makanan/minuman/air tercemar kuman penyakit. Bakteri masuk di dalam usus kemudian akan dimakan oleh sel darah putih (makrofag). Salmonella mampu lolos dari pencernaan makrofag kemudian berkembang biak makin banyak dalam tubuh penderita. Bakteri akan berkembang biak di usus kemudian masuk ke peredaran darah. Bakteri tersebar menginfeksi nodus limfatikus di Plak Peyeri, empedu, hati, limpa dan seluruh tubuh penderita.

Penderita akan mengeluarkan feses tercemar bakteri, bisa juga melalui urin. Bakteri kemudian menginfeksi orang lain. Beberapa orang menjadi pembawa (carrier) penyakit sehingga terus-menerus menularkan bakteri ke lingkungan melalui fesesnya. Sebanyak 1 dari 20 orang menjadi carrier penyakit. Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi hanya hidup di manusia. Namun binatang bisa menularkan bakteri Salmonella jenis lain yang juga bisa menyebabkan penyakit pada manusia.

Tanda dan Gejala Demam Tifoid

Gejala demam tifoid secara umum demam, merasa tidak enak badan, badan terasa lemah, sakit perut, sembelit (tapi pada sedikit kasus bisa juga diare).

Pola demam tifoid khas yaitu naik secara bertangga di minggu pertama kemudian demam kontinyu (remiten) di minggu kedua. Demam terutama pada sore/malam hari. Sakit kepala, nyeri otot, nafsu makan menurun hingga anoreksia, sakit perut menyeluruh (abdominal cramps), badan terasa lemah, mual, muntah, sembelit atau diare.

Tanda yang bisa ditemukan: suhu tubuh meningkat, demam, lidah berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung merah; lidah tremor), liver membesar (hepatomegali), limpa membesar (splenomegali), nyeri pada pemeriksaan perut, bisa ditemukan bercak ruam kemerahan di kulit (roseolae, rose-colored spots).

Diagnosis Demam Tifoid

Diagnosis demam tifoid cukup sulit sebab manifestasi protean dari Salmonella. Kondisi ini menyebabkan tantangan tersendiri mengingat keparahan penyakit, keterbatasan alat diagnosis juga risiko resistensi bakteri. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan pemeriksaan darah tepi dan pemeriksaan serologi. Darah akan diambil sedikit untuk dihitung jumlah sel-selnya. Uji serologi memakai pemeriksaan antibodi dan enzyme immunoassay test untuk mendeteksi antigen bakteri Salmonella. Tes serologi lebih sensitif serta bisa cepat dilakukan pada hari 4-5 pertama demam. Uji Widal apalagi jika hanya satu kali pemeriksaan tidak direkomendasikan sebab khawatir terjadi positif palsu, over-diagnosis dan over-treatment. Uji Widal juga bisa positif dengan infeksi malaria, demam berdarah, reaksi silang dengan Salmonella non-tifoid, enterobacteriaceae. Diagnosis gold standard dengan kultur bakteri melalui spesimen darah, feses, urin, cairan empedu. Pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan sesuai indikasi klinis.

Diagnosis demam tifoid positif jika dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang mengarah pada infeksi Salmonella typhi atau S. paratyphi. 

Tata Laksana dan Pengobatan Demam Tifoid

Pengobatan untuk demam tifoid dengan pemberian antibiotik. Penderita demam tifoid yang tidak diobati bisa mengalami demam hingga berminggu-minggu juga berisiko komplikasi. Sebanyak 30% penderita yang tidak diobati dengan benar bisa meninggal. 

Minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter. Istirahat dengan bed rest serta mobilisasi bertahap. Pastikan kecukupan minum sebab risiko dehidrasi lebih tinggi saat demam. Makan makanan bergizi seimbang, cukup kalori dan protein, rendah serat, serta konsistensi lunak membantu mudah dikonsumsi. Monitor dan kontrol secara teratur. Jika dilakukan rawat jalan pastikan memperoleh edukasi tata laksana pengobatan dan tanda bahaya yang harus diperhatikan.

Pemberian antibiotik harus dilakukan sesuai petunjuk resep dari dokter. Resistensi pengobatan antibiotik terhadap Salmonella makin meningkat. Pengobatan harus dilakukan dengan tepat. Biasanya gejala mereda setelah pemberian antibiotik. Bakteri penyebab demam tifoid belum tentu sudah menghilang meski gejala sudah mereda. Tetap minum obat sesuai petunjuk dokter. Penderita demam tifoid yang tidak tuntas diobati juga bisa menjadi carrier bakteri sehingga kemungkinan bisa kambuh lagi atau menularkan ke lingkungan sekitarnya.

Pastikan melakukan:

  • Pengobatan dengan benar seperti petunjuk dokter,
  • Buang hajat BAB/BAK di toilet,
  • Cuci tangan dengan sabun dibilas pakai air bersih mengalir hingga bersih tiap kali selesai dari toilet, akan makan, kontak dengan hewan
  • Penderita sebaiknya menghindari memasak atau menyajikan makanan bagi orang lain hingga dokter menyatakan sudah tuntas sembuh, 

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi penyakit ini sangat berbahaya. Demam tifoid yang tidak diobati dengan benar bisa menyebabkan perdarahan saluran cerna, perlubangan (perforasi) usus, ileus paralitik, radang pankreas (pankreatitis).

Bakteri Salmonella ganas bisa menyebar melalui darah. Pada organ lain di luar saluran pencernaan pun juga bisa terjadi komplikasi. Sistem kardiovaskuler bisa mengalami kegagalan sirkulasi perifer, radang otot jantung/miokarditis, gangguan hematologi (anemia hemolitik, trombositopedia, koagulasi intravaskuler diseminata), paru (pneumonia, empiema, pleuritis), gangguan hati (hepatitis, kolesistitis), gangguan ginjal (glomerulonefritis, pielonefritis, perinefritis), tulang (osteomielitis, periostitis, spondilitis, artritis) juga gangguan kejiwaan akibat toksik tifoid. 

Tips Kiat Mencegah Demam Tifoid

Berikut ini pencegahan demam tifoid:

  1. Imunisasi menggunakan vaksin tifoid 
  2. Jaga kebersihan diri, makanan minuman serta lingkungan

Vaksin tifoid diberikan, selama tidak ada kontraindikasi kesehatan, kepada individu yang rentan mengalami penularan. Terdapat 2 jenis vaksin tifoid. Ikhtiar vaksinasi memang tidak 100% bisa mencegah infeksi namun bisa meringankan gejala jika sakit. Ikhtiar vaksinasi tetap sinergis dengan upaya menjaga gaya hidup bersih sehat lainnya. Konsultasikan pemberian vaksinasi lebih lanjut bersama dokter anda.

Urbanisasi, mobilisasi penduduk dan perubahan iklim kemungkinan bisa meningkatkan beban penyakit demam tifoid ini. Demam tifoid sering terjadi setelah pergi berwisata. Berikut ini saran jika sedang pergi berwisata:

  • Pastikan makanan dimasak hingga matang dan tersaji panas saat beli makanan di tempat wisata 
  • Hindari minum susu mentah dan produk susu mentah yang tidak dipasteurisasi atau dimasak hingga matang
  • Hindari minum es kecuali yakin sumber airnya aman
  • Hanya minum air yang direbus matang atau dalam kemasan. Jika tidak yakin sumber air minumnya maka rebus dulu hingga mendidih selama 1 menit. Cuci tangan pakai sabun dibilas dengan air bersih mengalir hingga bersih tiap kali selesai dari toilet, kontak dengan hewan
  • Cuci buah hingga bersih, jika bisa kupas kulit buah

 

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.