Kesehatan Wanita

Infertilitas

KONDISI SULIT HAMIL

Secara umum infertilitas didefinisikan sebagai kondisi dimana tidak terjadi kehamilan setelah melakukan hubungan seksual rutin tanpa pelindung selama sekitar 1 tahun. Jika wanita berusia di atas 35 tahun, maka infertilitas didefinisikan sebagai kondisi dimana tidak bisa hamil seletah 6 bulan melakukan hubungan seksual rutin tanpa pelindung.

Penyebab tidak bisa hamil bisa karena:

  • permasalahan kesuburan pria (sekitar 40%)
  • permasalahan kesuburan wanita (sekitar 40%)
  • permasalahan kesuburan keduanya (sekitar 10%)
  • penyebab tidak diketahui (sekitar 10%)
Sekitar 1 dari 7 pasangan di Australia mengalami permasalahan kesuburan. Sekitar  9% pria di Amerika mengalami permasalahan kesuburan. Sekitar wanita 11% di Amerika mengalami permasalahan kesuburan. Ada 12% hingga 15% pasangan tidak dapat hamil setelah 1 tahun melakukan hubungan seks tanpa pelindung dan ada 10% pasangan masih belum memiliki bayi yang lahir hidup setelah 2 tahun melakukan hubungan seks tanpa pelindung. Pada pasangan usia kurang dari 30 tahun yang sehat biasanya sekitar 40% hingga 60% dapat hamil dalam 3 bulan pertama melakukan hubungan seks tanpa pelindung.

Kehamilan membutuhkan tubuh seorang wanita harus melepaskan sel telur dari salah satu indung telurnya. Sperma pria harus bisa bergabung dengan sel telur di saluran reproduksi wanita. Telur yang telah dibuahi harus bisa melalui tuba fallopii menuju ke rahim (uterus). Zigot hasil pembuahan harus menempel pada bagian dalam rahim (implantasi). Infertilitas dapat disebabkan oleh masalah dengan salah satu atau beberapa langkah ini. 

Kesuburan menurun seiring bertambahnya usia pada pria dan wanita. Efek usia jauh lebih besar pada wanita. Di usia 30-an, kesuburan wanita menurun sekitar setengahnya dibandingkan di awal 20-an. Kesempatan konsepsi menurun secara signifikan setelah usia 35,6 tahun. Kesuburan pria juga menurun dengan bertambahnya usia, tetapi lebih bertahap. Gangguan fekunditas merupakan suatu kondisi berkaitan dengan wanita yang mengalami kesulitan mempertahankan kehamilan hingga mampu melahirkan bayi di usia kehamilan normal.

Infertilitas Pada Pria

Infertilitas pada pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan biasanya dievaluasi dengan analisis semen. Analisis semen dilakukan untuk melihat jumlah sperma (konsentrasi), motilitas (gerakan), dan morfologi (bentuk). Analisis semen yang sedikit abnormal bukan berarti bahwa seorang pria tidak subur. Analisis semen bantu menentukan apa penyebab dan bagaimana faktor pria berkontribusi terhadap infertilitas.

Penyebab Infertilitas Pria

Pria butuh sperma sehat yang mampu lancar bergerak kemudian bisa membuahi ovum di saluran tuba fallopii organ reproduksi wanita. Kondisi yang mempengaruhi salah satu hal di atas bisa berkontribusi mengakibatkan infertilitas. Penyebab infertilitas pada pria ada beberapa macam.

Gangguan fungsi testis atau ejakulasi

  • Varikokel, suatu kondisi di mana pembuluh darah pada testis pria berukuran besar dan menyebabkannya terlalu panas. Panas dapat mempengaruhi jumlah atau bentuk sperma.
  • Trauma cidera pada testis dapat mempengaruhi produksi sperma dan menghasilkan jumlah sperma yang lebih rendah.
  • Kebiasaan tidak sehat seperti penggunaan alkohol berat, merokok, penggunaan steroid anabolik, atau penggunaan narkoba.
  • Penggunaan obat-obatan dan suplemen tertentu.
  • Pengobatan kanker melibatkan penggunaan jenis kemoterapi, radiasi, atau operasi tertentu seperti riwayat mengangkat satu atau kedua testis
  • Kondisi gangguan kesehatan seperti diabetes, cystic fibrosis, beberapa jenis kelainan autoimun, dan jenis infeksi tertentu dapat menyebabkan kegagalan fungsi testis.

Gangguan hormonal

  • Fungsi hipotalamus atau kelenjar hipofisis yang tidak sehat. Hipotalamus dan kelenjar hipofisis di otak menghasilkan hormon yang mempertahankan fungsi testis normal. Produksi terlalu banyak prolaktin, hormon yang dibuat oleh kelenjar hipofisis (seringkali karena adanya tumor kelenjar hipofisis jinak) atau kondisi lain yang merusak anatomi atau mengganggu fungsi hipotalamus atau kelenjar hipofisis dapat mengakibatkan rendah atau tidak adanya sperma produksi.
  • Kondisi ini dapat meliputi tumor hipofisis jinak dan ganas (kanker), hiperplasia adrenal kongenital, paparan terlalu banyak estrogen, paparan terlalu banyak testosteron, sindrom Cushing, dan penggunaan obat-obatan glukokortikoid dalam waktu lama.

Kelainan genetik

  • Kondisi genetik seperti sindrom Klinefelter, mikrodelesi kromosom Y, distrofi miotonik, dan kelainan genetik lainnya yang dapat menyebabkan tidak ada produksi sperma atau rendahnya jumlah sperma yang diproduksi.

Ada banyak faktor bisa mempengaruhi infertilitas pada pria, contohnya:

  • Usia: usia semakin tua juga akan mempengaruhi kualitas kesuburan pria
  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Merokok
  • Pemakaian alkohol berlebihan
  • Pemakaian ganja/marijuana
  • Paparan testosteron: peresepan injeksi, implantasi, gel oles mengandung testosterone atau penyalahgunaan testosterone untuk meningkatkan massa otot
  • Riwayat infeksi tertentu
  • Paparan radiasi
  • Paparan suhu panas di area testis: duduk terlalu lama di kursi roda, sering sauna atau pakai hot tub
  • Paparan obat tertentu seperti flutamide, cyproterone, bicalutamide, spironolactone, ketoconazole, cimetidine
  • Paparan toksin dari lingkungan seperti pestisida, timbal, cadmium, atau merkuri

Infertilitas Pada Wanita

Wanita butuh sel telur, saluran tuba fallopii dan rahim sehat supaya bisa hamil. Kondisi yang mempengaruhi salah satu hal di atas bisa berkontribusi mengakibatkan infertilitas. Penyebab infertilitas pada wanita ada banyak.

Gangguan ovulasi

Ovulasi terjadi pelepasan sel telur di masa subur ketika seorang wanita memiliki siklus menstruasi teratur. Gangguan ovulasi bisa terjadi contohnya pada kondisi:

  • Polycystic ovary syndrome (PCOS): kondisi dimana wanita mengalami ovulasi tidak teratur atau tidak ovulasi
  • Diminished ovarian reserve: kondisi dimana sel telur di ovarium lebih sedikit dibandingkan ovarium normal 
  • Functional hypothalamic amenorrhea (FHA): terjadi gangguan menstruasi akibat olahraga berlebihan, gangguan makan anoreksia, stres, kurang gizi hingga berat badan kurang.
  • Gangguan fungsi kelenjar hypothalamus dan pituitari sehingga terjadi gangguan ovulasi
  • Premature ovarian insufficiency dimana kondisi ini sering disebut sebagai menopause prematur akibat kegagalan fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun.
  • Menopause dimana fungsi ovarium menurun akibat pertambahan usia, biasanya sekitar umur 50 tahun

Sumbatan pada saluran tuba fallopii

Sumbatan saluran tuba fallopii ini bisa terjadi akibat adanya sumbatan, peradangan atau saluran terbuka namun tidak berfungsi sehat. Sumbatan saluran tuba fallopii bisa disebabkan oleh berbagai penyebab, contohnya:

  • riwayat infeksi panggul
  • riwayat ruptur radang usus buntu (appendicitis)
  • penyakit menular seksual seperti gonore, penyakit klamidia
  • endometriosis
  • riwayat operasi perut 

Kontur rahim abnormal

Kontur rahim tidak normal bisa saja karena ada fibroid, kelainan bawaan (contohnya septum uterus), synechiae uterus, endometriosis atau kelainan yang menyebabkan anatomi rahim abnormal lainnya. Kondisi ini menyulitkan untuk terjadi implantasi zigot atau janin bisa tumbuh hingga akhir masa kehamilan yang normal.

Permasalahan ovulasi pada bisa dipengaruhi oleh:

  • Proses penuaan ketika usia seorang wanita bertambah tua
  • Merokok
  • Pemakaian alkohol berlebihan serta zat berbahaya lainnya
  • Peningkatan berat badan berlebihan
  • Penurunan berat badan ekstrim
  • Stres emosional
  • Aktivitas fisik terlalu berlebihan

Evaluasi Infertilitas

Evaluasi infertilitas meliputi pemeriksaan dan tes untuk menemukan penyebab mengapa belum hamil. Jika penyebabnya ditemukan maka diharapkan bisa segera dilakukan pengobatan untuk memudahkan kehamilan. Pada banyak kasus, infertilitas dapat berhasil diobati sehingga bisa hamil serta melahirkan bayi sehat, bahkan ketika tidak diketahui apa penyebab infertilitasnya.

Pertimbangkan segera melakukan periksa evaluasi infertilitas, pada kondisi:

  • Anda belum hamil setelah 1 tahun melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
  • Anda berusia lebih dari 35 tahun dan belum hamil setelah mencoba melakukan hubungan seksual secara teratur selama 6 bulan tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
  • Anda berusia lebih dari 40 tahun dan belum hamil dalam waktu 6 bulan setelah mencoba melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
  • Siklus menstruasi Anda tidak teratur.
  • Anda atau pasangan Anda memiliki masalah kesuburan yang telah diketahui sebelumnya.
  • Memiliki riwayat faktor risiko kondisi yang mempengaruhi kesuburan.

Lakukan evaluasi infertilitas dengan memeriksakan diri bersama pasangan ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) berkompeten. Pada kondisi khusus akan ditangani oleh dokter obgyn subspesialis infertilitas dan ahli endokrinologi reproduktif. Pria akan ditangani oleh dokter spesialis urologi. Beberapa dokter spesialis urologi memiliki keahlian menangani infertilitas pada pria.

Idealnya semua pasangan melakukan Pemeriksaan Kesehatan Pra-nikah sebelum menikah dan Pemeriksaan Persiapan Kehamilan saat akan melakukan perencanaan kehamilan.

kehamilan4.jpg

Tulisan ini hadir berkat kerjasama antara dr. Annisa Karnadi dengan dr. Noorma Rina Hanifah, Sp.OG

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.