Bincang Sehat, Nutrisi dan Kebugaran

Mikrobiota Usus: Pencernaan Sehat Bagi Tubuh Sehat

GUT MICROBIOME

Mengenal Sisi Lain Saluran Pencernaan

Ilmu pengetahuan terus berkembang. Saat ini usus diketahui memiliki peran sangat penting, tidak hanya sebagai organ pencernaan penyedia nutrisi saja.

Saluran pencernaan sering dianggap sebagai tabung panjang dengan dua lubang di ujungnya untuk dilewati makanan. Makanan pertama harus melewati kerongkongan untuk sampai ke lambung kemudian menuju usus halus, usus besar, dan akhirnya dubur. Usus besar juga disebut kolon. Namun peran usus lebih dari sekedar organ pencernaan, usus memainkan banyak peran penting bagi tubuh.

Usus memiliki peran dalam:

  • Mencerna makanan dengan menghancurkan makanan menjadi bagian-bagian yang dapat dicerna tubuh
  • Menyerap nutrisi seperti vitamin, mineral, karbohidrat, protein, dan lemak
  • Menyerap air
  • Membuang sampah produk limbah, termasuk racun toksin berbahaya
  • Berfungsi sebagai “gerbang” bagi sistem kekebalan tubuh: melawan bakteri, virus, jamur, dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit
  • Bantu sistem kekebalan tubuh belajar untuk membedakan antara zat yang berbahaya dan zat yang aman
  • Menerima sinyal dari otak melalui sistem saraf
  • Mengirim kembali sinyal informasi ke otak melalui sistem saraf.

Ternyata usus tidak melakukan semua ini sendiri. Ada bantuan mikroba yang hidup di usus. Mikroba ini kebanyakan dari jenis bakteri dan beberapa jamur (yeast). Mikrobiota usus ini disebut gut microbiome. Ada triliunan mikrobiota hidup di usus, jumlahnya melebihi sel-sel di seluruh tubuh manusia. Tubuh manusia mengembangkan hubungan yang kompleks dengan mikrobiota ini. Mikrobiota bantu pencernaan makanan, sintesis vitamin serta memerangi kuman penyebab penyakit infeksi. Kita saat ini saling bergantung untuk hidup. Hidup kita bergantung pada keberadaan mikrobiota dalam usus. 

Pentingnya Usus Sehat Bagi Tubuh Sehat

Kesehatan usus terhubung dengan terhubung dengan kesehatan dan kesejahteraan keseluruhan tubuh. Pada saat mengalami “sakit perut” dimana timbul gejala mual, kram sakit perut, atau peradangan maka ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Penyakit seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, atau kanker dapat memiliki dampak yang lebih besar. Kesehatan usus berhubungan dengan hampir semua sistem tubuh. Misalnya, apa yang terjadi di usus bisa terkait langsung dengan semua hal berikut ini: 

  • Penyakit autoimun (di mana tubuh menyerang dirinya sendiri), seperti rheumatoid arthritis
  • Kesehatan tulang dan osteoporosis (penyakit yang mengakibatkan tulang lemah)
  • Penyakit metabolik (penyakit yang melibatkan perubahan kimiawi dalam tubuh yang mendukung kehidupan) seperti diabetes dan obesitas
  • Penyakit jantung
  • Kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan.

Examples of parts of the body that can be affected by the health of the gut.

sumber gambar VA

Pentingnya Peran Mikrobiota Usus

Ilmu pengetahuan menemukan bahwa mikrobiota usus memainkan peran sentral dalam menunjang kesehatan usus hingga mempengaruhi kesehatan seluruh tubuh. Terjadi aksi antara sel-sel usus bersama makhluk-makhluk gut microbiome “tetangganya” di lingkungan dalam usus. Perhatian pada microbiome telah meningkat selama 15 tahun terakhir. Meskipun mikrobiota usus telah dieksplorasi selama beberapa dekade, penyelidikan tentang peran mikroorganisme yang berada di usus manusia berkembang di luar penyakit menular klasik. Sebagai contoh banyak penelitian telah melaporkan perubahan mikrobiota usus  tidak hanya pada obesitas, diabetes, dan penyakit hati tetapi juga pada penyakit kanker dan bahkan penyakit neurodegeneratif. 

Memang masih diperlukan penelitian lebih lanjut, namun tampaknya bakteri serta mikrobiota usus memiliki peran dalam: 

1. Persaingan sehat

Ada “bakteri baik” yang hidup di usus Anda. Bakteri baik ini bermanfaat dalam mendukung fungsi usus yang sehat juga kesehatan seluruh tubuh. Ada juga “bakteri berbahaya” yang dapat menyebabkan penyakit ketika jumlahnya terlalu banyak. Tidak perlu memiliki 100% bakteri baik untuk membantu kesehatan, sebab jauh lebih penting untuk memiliki keragaman dan keseimbangan mikrobiota yang baik. Persaingan terjadi antara berbagai jenis mikrobiota yang hidup di usus sepanjang waktu. Perilaku, pola makan, gaya hidup juga lingkungan akan mempengaruhi keseimbangan ini.

2. Intestinal barrier

Sel-sel yang melapisi dinding usus perlu membiarkan beberapa zat bisa masuk ke aliran darah dan mencegah beberapa zat keluar dari tubuh ke rongga usus. Penghalang ini berubah berdasarkan sinyal yang dikirim bakteri ke sel-sel usus. Sinyal memberi tahu sel untuk mengencangkan atau melonggarkan ruang antar-sel. Ketika ruang-ruang ini terlalu longgar maka akan terjadi “bocor” sehingga bisa membiarkan terlalu banyak zat masuk ke dalam darah. Bakteri bantu memberi tahu usus untuk menjaga kerapatan sel tetap bagus dan kencang sehingga tidak terlalu bocor.

3. Lapisan lendir mukus

Terdapat lapisan lendir mukus di permukaan sel-sel usus. Lapisan lendir mukus ini sangat penting serta bekerja sebagai salah satu pelindung. Lapisan lendir mukus juga menjadi tempat hidup bagi bakteri dan mikrobiota usus serta tempat terjadinya proses pencernaan makanan. Bakteri baik akan bantu menjaga lapisan lendir mukosa bagus dan tebal.

4. Sistem imunitas

Sel-sel imunitas yang penting bagi kekebalan tubuh bergerak ke seluruh bagian tubuh. Terdapat barisan kekebalan tubuh spesial di usus dimana sel-sel imunitas berkumpul dalam jumlah besar. Pada area ini sistem imunitas berinteraksi dengan bakteri berbeda dalam usus, bersama bahan makanan yang kita makan. Sistem imunitas di usus ini akan memproduksi sinyal yang kemudian disebarluaskan ke seluruh bagian tubuh.

5. Nutrisi

Bakteri dan mikrobiota usus akan mendapatkan nutrisi dari makanan yang kita makan. Mikrobiota usus bantu proses metabolisme tubuh manusia dengan mencerna makanan di usus. Mikrobiota usus bahkan akan membentuk nutrisi-nutrisi baru seperti vitamin juga asam lemak yang penting bagi tubuh. Sel-sel usus juga akan menggunakan nutrisi hasil metabolisme mikrobiota ini sehingga terjaga sehat.

6. Metabolisme

Mikrobiota di usus akan memproduksi sinyal yang bisa mempengaruhi sistem hormon manusia. Sinyal hormonal ini akan mempengaruhi metabolisme tubuh termasuk pengaturan rasa lapar-kenyang, nafsu makan hingga penyimpanan lemak.

7. Pikiran dan emosi

Usus memiliki percabangan sistem persarafan yang disebut sistem persarafan enterik. Sistem persarafan usus sangatlah besar sehingga sering dijuluki sebagai “otak kedua”. Bakteri mikrobiota usus membuat sinyal atau stimulasi sel-sel usus ke sistem persarafan, termasuk otak. Koneksi ini disebut “gut-brain axis“. Kemungkinan ini menunjukkan bahwa bakteri juga mikrobiota di usus memiliki peran mempengaruhi pikiran hingga perasaan. 

8. Perbaikan

Mikrobiota usus juga bantu proses perbaikan sel-sel rusak. Jika proses perbaikan sel-sel rusak salah maka akan bisa terjadi keganasan menimbulkan penyakit kanker. Beberapa bakteri terkait dengan kanker kolorektal.

Pentingnya Keseimbangan Bakteri di Usus

Keseimbangan bakteri baik dalam usus bantu delapan area di atas dalam keseimbangan yang lebih baik. Jika keseimbangan bakteri mikrobiota usus terganggu bisa ada kemungkinan lebih besar untuk mengalami masalah kesehatan dimana satu atau lebih dari delapan area mungkin bisa tidak berfungsi dengan baik. Bakteri dalam usus dapat berperan pada peningkatan risiko terjadinya berat badan berlebih, memiliki tekanan darah tinggi, terkena diabetes, memiliki perlemakan hati hingga risiko terkena serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa bakteri tertentu di usus memproduksi substansi zat kimia yang memiliki efek menyerupai tipe medikasi untuk depresi serta gangguan kecemasan sehingga mikrobiota usus bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Usus yang terjaga sehat akan mendukung keseimbangan mikrobiota usus terjaga baik. Oleh sebab itu jaga kesehatan usus dengan cara:

  1. Pola makan sehat: Makan sayur juga buah berwarna-warni, kacang-kacangan, biji-bijian serta sumber lemak sehat juga ikan sebagai sumber omega-3. Konsumsi susu serta produk susu (yoghurt, kefir) dalam jumlah secukupnya. Jaga konsumsi daging tidak berlebihan. Bahan makanan nabati sumber serat pangan bantu menjaga lapisan mukus dan bakteri mikrobiota baik di usus. Probiotik merupakan bakteri baik yang membantu menciptakan keseimbangan antara bakteri baik dan bakteri jahat di usus. Probiotik merupakan makanan bagi bakteri-bakteri baik sehingga membantu terciptanya keseimbangan mikrobiota usus yang baik. Beberapa jenis makanan mengandung probiotik juga prebiotik yang baik bagi usus. Pola makan dengan diet terlalu banyak bahan nabati atau sebaliknya terlalu banyak bahan hewani bisa turut mempengaruhi komposisi mikrobiota usus.
  2. Rutin melakukan aktivitas fisik/olahraga: Gerak jasmani akan menyebabkan usus bergerak secara rutin dan sehat. Olahraga latihan fisik secara teratur akan menurunkan peradangan dalam tubuh juga menjaga keseimbangan metabolisme gula, lemak serta nutrisi lain. Stres menjadi menurun sehingga kondisi perasaan emosional lebih baik dengan latihan fisik. Sistem persarafan yang mengatur pikiran juga perasaan berkomunikasi dengan usus sehingga kondisi mental emosional stabil akan membuat usus bekerja lebih sehat.
  3. Istirahat dengan cukup: Usus akan bekerja sepanjang waktu. Kerja usus ternyata menyesuaikan untuk menunjang aktivitas tubuh siang dan malam. Istirahat yang cukup akan memberikan kesempatan bagi otak, jantung juga usus untuk juga “beristirahat”. Tidur yang sehat akan bantu mengatur siklus bangun – tidur tubuh. Inilah sebabnya kenapa cukup tidur akan menunjang kesehatan tubuh, bahkan mempengaruhi metabolisme hingga kesehatan otak, jantung juga usus. 
  4. Lakukan manajemen stres dengan baik: Bagian otak yang merespons stres terhubung dengan persarafan usus “otak kedua” melalui “brain – gut connection”. Pada kondisi stres akan terjadi pengaruh ke kondisi usus. Stres mempengaruhi gerak usus sehingga bisa terjadi diare atau sebaliknya, konstipasi. Manajemen stres yang baik akan mempengaruhi kondisi usus tetap terjaga sehat.  

Mikrobiota usus manusia dipandang sebagai sumber terapi baru potensial. Banyaknya data metagenomik dihasilkan pada perbandingan subyek sakit dan sehat dapat menyebabkan klaim yang salah terkait bakteri dengan perlindungan atau timbulnya penyakit. Faktanya faktor lingkungan seperti kebiasaan diet pola makan, perawatan obat, motilitas usus, frekuensi feses dan konsistensi feses menjadi faktor yang mempengaruhi komposisi mikrobiota sehingga tentunya masih dibutuhkan banyak penelitian serta pertimbangan lebih lanjut.

Baca juga artikel: Perilaku Hidup Bersih Sehat dan Aksi Cerdik Untuk Pencegahan Penyakit

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.