Kesehatan Umum

Gangguan Kecemasan (Ansietas)

GANGGUAN KECEMASAN

Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Manusia pasti pernah merasa takut, cemas, khawatir dalam suatu waktu. Kita takut saat bertemu binatang buas liar. Kita cemas di hari pertama masuk kerja. Kita khawatir saat anak sakit. Rasa takut dalam kadar tertentu merupakan bagian normal emosi yang penting dalam membantu mengamankan diri dari ancaman marabahaya. Rasa takut normalnya hanya muncul sementara, kemudian kembali tenang seperti sedia kala saat kondisi telah teratasi.

Rasa takut yang normal berbeda dengan gangguan kecemasan pada sindrom ansietas. Beberapa orang mengalami kecemasan berlebihan, ketakutan tidak rasional, dan kekhawatiran berkelanjutan yang menyusahkan serta hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Kondisi ini mungkin mengindikasikan gangguan kecemasan. Seringkali tidak ada alasan yang jelas atau logis untuk perasaan takut, khawatir serta cemas tersebut sehingga justru dapat membuat gangguan kecemasan bahkan menjadi lebih mengkhawatirkan bagi penderitanya.

Ansietas merupakan sekelompok gangguan mental emosional yang ditandai dengan perasaan kecemasan berlebihan dan lebih bersifat obyektif. Kondisi ini meliputi gangguan kecemasan umum, fobia sosial, fobia spesifik (contohnya agoraphobia dan claustrophobia), gangguan kepanikan, obsessive compulsive disorder (OCD) dan post traumatic stress disorder (PTSD). Gangguan kecemasan yang tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan permasalahan depresi. 

Ansietas dan depresi merupakan gangguan mental emosional yang sering terjadi. Di Indonesia sekitar lebih dari 6% penduduk mengalami gangguan mental emosional dengan gejala depresi dan ansietas. Jumlah ini mencapai sekitar 14 juta jiwa. Gangguan kecemasan sangat sering ditemukan, kemungkinan 25% populasi memiliki sebuah gangguan kecemasan yang butuh diterapi dan 25% lainnya memiliki gangguan kecemasan lebih ringan.

Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Penyebab pasti terjadinya sindrom gangguan kecemasan (ansietas) belum diketahui. Sindrom ansietas kemungkinan terjadi akibat kombinasi pengaruh genetik dan lingkungan. Pencetus tiap-tiap tipe gangguan kecemasan bisa berbeda bagi tiap orang. Beberapa kondisi menjadi faktor meningkatkan risiko sindrom ansietas. 

Faktor risiko gangguan kecemasan pada sindrom ansietas antara lain:

  • tipe dan temperamen pemalu atau penakut
  • pola asuh penghambatan perilaku dari orang tua
  • paparan lingkungan yang membuat stres dan berperilaku negatif di masa kecil atau saat dewasa
  • mengalami kejadian yang membuat sangat tertekan
  • riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan atau penyakit kejiwaan lain
  • pengaruh permasalahan kesehatan tertentu, contohnya seperti aritmia, gangguan tiroid
  • konsumsi kafein, zat atau obat tertentu bisa menimbulkan gejala gangguan ansietas

Tanda dan Gejala Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Keluhan tanda gejala utama dari gangguan kecemasan adalah pikiran ketakutan yang konstan hingga menyusahkan dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Gejala lain dari gangguan kecemasan mungkin termasuk:

  • Serangan panik, cemas atau ketakutan akan kondisi ini
  • Reaksi kecemasan fisik misalnya gemetar, berkeringat, pingsan, detak jantung cepat, kesulitan bernafas atau mual
  • Perilaku menghindar dimana seseorang akan berusaha keras untuk menghindari situasi atau benda yang mereka pikir bisa menimbulkan kecemasan atau panik ketakutan.

Gangguan Kecemasan Umum

Orang dengan gangguan kecemasan umum menunjukkan kecemasan atau kekhawatiran berlebihan hampir setiap hari selama setidaknya 6 bulan tentang sejumlah hal seperti kesehatan pribadi, pekerjaan, interaksi sosial, atau keadaan kehidupan rutin sehari-hari. Ketakutan dan kecemasan dapat menyebabkan permasalahan signifikan dalam kehidupan mereka seperti interaksi sosial, di sekolah, atau di pekerjaan. 

Gejala gangguan kecemasan umum meliputi: 

  • Merasa resah, gelisah, cemas, atau mengakhiri
  • Menjadi mudah lelah
  • Kesulitan berkonsentrasi pikiran menjadi kosong
  • Mudah tersinggung
  • Memiliki permasalahan ketegangan otot dimana bisa timbul keluhan nyeri
  • Kesulitan mengendalikan perasaan khawatir
  • Memiliki permasalahan tidur: sulit tidur, tidur tidak nyenyak, terjaga saat tidur atau tidak lelap

Gangguan Kepanikan

Orang dengan gangguan panik (panic disorder) memiliki serangan panik berulang secara tidak terduga. Serangan panik adalah periode ketakutan intens yang datang dengan cepat, tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam beberapa menit. Serangan panik dapat terjadi secara tak terduga atau dapat disebabkan oleh pemicu seperti objek, situasi yang ditakuti. 

Selama serangan panik, orang mungkin mengalami: 

  • Jantung berdebar-debar, detak jantung cepat, atau palpitasi
  • Berkeringat
  • Gemetar atau bergetar
  • Sensasi sesak nafas, tercekik, tercekat atau tersedak
  • Perasaan akan datangnya malapetaka
  • Perasaan di luar kendali

Orang dengan gangguan panik sering khawatir tentang kapan serangan berikutnya akan terjadi dan secara aktif mencoba untuk mencegah serangan di masa depan dengan menghindari tempat, situasi, atau perilaku yang mereka kaitkan dengan kemunculan serangan panik. Khawatir tentang serangan panik dan upaya yang dilakukan untuk menghindari serangan bisa menyebabkan masalah signifikan di berbagai bidang kehidupan, termasuk pengembangan agorafobia (lihat di bawah).

Gangguan Fobia

Fobia adalah ketakutan yang luar biasa kuat akan objek atau situasi tertentu. Fobia terhadap obyek atau situasi berbahaya memang realistis. Namun, penyandang fobia memiliki ketakutan luar biasa yang tidak normal seperti orang lain.

Para penyandang fobia: 

  • Memiliki kekhawatiran irasional atau berlebihan terhadap objek atau situasi yang ditakuti
  • Ambil langkah aktif untuk menghindari objek atau situasi yang ditakuti
  • Mengalami kecemasan sangat kuat saat menghadapi objek atau situasi yang ditakuti
  • Bertahan menghadapi benda dan situasi yang ditakuti namun tidak dapat dihindari dengan kecemasan sangat intensif

Ada beberapa jenis fobia dan gangguan terkait fobia:

Fobia Spesifik

Fobia spesifik kadang-kadang disebut fobia sederhana. Orang yang memiliki fobia spesifik memiliki ketakutan kuat atau merasakan kecemasan intens tentang jenis objek atau situasi tertentu. Beberapa contoh fobia spesifik termasuk ketakutan: 

  • Penerbangan
  • Ketinggian
  • Hewan tertentu contohnya seperti laba-laba, anjing, ular, ulat
  • Takut suntikan
  • Darah

Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial sebelumnya disebut fobia sosial. Orang dengan gangguan kecemasan sosial secara umum memiliki rasa takut, khawatir atau kecemasan terhadap situasi sosial atau kinerja. Memiliki kekhawatiran bahwa tindakan atau perilaku yang terkait dengan kecemasan mereka akan dievaluasi secara negatif oleh orang lain sehingga jadi merasa malu. Kekhawatiran ini sering menyebabkan orang dengan kecemasan sosial menghindari situasi sosial. Gangguan kecemasan sosial dapat bermanifestasi dalam berbagai situasi seperti di tempat kerja atau lingkungan sekolah.

Agorafobia

Orang dengan agorafobia memiliki ketakutan intensif terhadap dua atau lebih situasi berikut ini:

  • takut memakai fasilitas transportasi umum
  • berada di tempat terbuka
  • berada di tempat tertutup
  • berada di keramaian atau di antrian
  • berada di luar rumah sendirian

Para penderita agorafobia sering menghindari situasi yang mereka takuti sebab khawatir terjebak tidak bisa meninggalkan situasi tersebut atau khawatir akan terjadi serangan panik saat berada dalam situasi tersebut. Kondisi ini menyebabkan penderita agorafobia dalam kondisi sangat parah menjadi individu yang tidak mau pergi meninggalkan rumah.

Gangguan Kecemasan Perpisahan

Kecemasan perpisahan (separation anxiety) sering dianggap sebagai suatu gangguan yang hanya dialami oleh anak-anak. Namun, orang dewasa juga dapat didiagnosis dengan gangguan kecemasan perpisahan. Orang dengan gangguan kecemasan perpisahan memiliki kekhawatiran berpisah dari orang-orang tertentu yang terikat dengan mereka. Mereka sering khawatir akan terjadi hal buruk atau sesuatu yang tidak diinginkan saat terpisah. Ketakutan ini membuat mereka menghindari terpisah dengan orang-orang tersebut dan tidak mau sendirian. Orang dengan gangguan kecemasan perpisahan bisa mengalami mimpi buruk tentang dipisahkan dari orang yang terikat padanya, mengalami gejala fisik ketika terjadi perpisahan atau terjadi kondisi yang diantisipasi.

Mutisme

Gangguan yang agak jarang terkait dengan kecemasan adalah mutisme selektif. Mutisme selektif terjadi ketika orang gagal berbicara dalam situasi sosial tertentu walaupun memiliki kemampuan komunikasi yang normal. Mutisme selektif biasanya terjadi sebelum usia 5 tahun dan sering dikaitkan dengan rasa malu yang ekstrem, ketakutan akan rasa malu sosial, sifat kompulsif, penarikan diri, perilaku melekat, dan amarah. Orang yang didiagnosis dengan mutisme selektif seringkali juga terdiagnosis dengan gangguan kecemasan lainnya.

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Orang dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD) memiliki pikiran atau obsesi yang intrusif, tidak diinginkan dan tidak disengaja. Mereka juga merasa terdorong untuk melakukan ritual perilaku dan mental yang kompulsif seperti mencuci tangan, mandi atau memeriksa sekitar secara berlebihan. Mereka biasanya menyadari sifat perilaku ini tidak rasional dan berlebihan.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) merupakan gangguan stres pascatrauma yang berkembang setelah seseorang terpapar pada peristiwa sangat traumatis. Peristiwa tersebut mungkin baru-baru ini seperti kecelakaan mobil atau serangan fisik, atau pernah terjadi di masa lalu seperti kekerasan seksual masa kecil. Reaksi kesedihan, goncangan, dan kemarahan menjadi hal yang normal setelah kejadian traumatis. Namun, orang-orang dengan gangguan stres pasca trauma PTSD mengalami reaksi parah, berkepanjangan dan mengganggu yang secara dramatis mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Pikiran akan ingatan atau gambaran situasi yang menyebabkan trauma terkadang lebih mengganggu atau lebih menyusahkan daripada peristiwa aslinya. Seringkali orang mulai menghindari pengingat trauma termasuk tempat atau situasi serupa.

Gangguan kecemasan dapat menyebabkan isolasi sosial, depresi dan dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja, belajar dan melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Gangguan kecemasan juga bisa merusak hubungan dengan pasangan, teman, keluarga, dan kolega. Sementara depresi dapat menjadi penyakit serius dengan risiko tinggi melukai diri sendiri atau bahkan kematian akibat bunuh diri. Segera periksa ke dokter, psikolog atau ahli kesehatan jiwa berkompeten untuk mendapatkan bantuan profesional mengatasi gangguan kesehatan mental emosional.

Pemeriksaan dan Diagnosis Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Diagnosis dilakukan dengan anamnesis riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tes darah serta tes lain yang sekiranya diperlukan. Serangkaian tes penunjang baik tes darah, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, ultrasonografi, foto thoraks, elektrokardiografi, deteksi gangguan hormon, atau tes lain dilakukan sesuai indikasi medis untuk menyingkirkan apakah ada penyebab gangguan kesehatan sebagai munculnya keluhan.

Terapi dan Tata Laksana Perawatan Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Gangguan kecemasan (ansietas) biasanya diterapi dengan psikoterapi, pemberian pengobatan, manajemen stres atau kombinasi.

Psikoterapi dilakukan oleh ahli profesional berkompeten dengan terapi spesifik sesuai dengan jenis gangguan kecemasan yang dialami. Cognitive behavioral therapy (CBT) merupakan salah satu jenis psikoterapi. Penderita ansietas akan diajarkan pendekatan pemikiran, perilaku atau reaksi berbeda terhadap pemicu situasi atau objek yang menyebabkan ansietas. CBT bisa menolong orang mempelajari dan mempraktekkan kemampuan sosial yang penting mengatasi gangguan kecemasan sosial.

CBT bisa meliputi terapi kognitif dan terapi paparan. Terapi kognitif fokus pada identifikasi, tantangan dan penetralan pencetus kecemasan. Terapi paparan dengan memberikan paparan terhadap objek atau situasi yang dihindari secara bertahap. Terapi paparan disertai latihan relaksasi dan gambaran citra untuk perumpamaan. CBT bisa dilakukan individual sendiri atau bersama sekelompok sesama penderita ansietas.

Pengobatan ansietas untuk bantu menghilangkan keluhan gejala ansietas. Kelas obat yang digunakan contohnya obat anti-ansietas, antidepresant dan beta-blockers. Pemilihan obat dipertimbangkan manfaat hingga efek samping tidak menyenangkan yang bisa muncul. Pengobatan ansietas dilakukan dengan observasi ketat oleh dokter. Pengobatan ansietas tetap juga membutuhkan perubahan gaya hidup yang menunjang efek terapi. Pemilihan jenis obat, dosis obat dan rencana terapi perawatan dilakukan dengan pengawasan dokter sesuai kondisi masing-masing pasien. Terkadang pengobatan membutuhkan waktu untuk bekerja. 

Pemakaian kafein, obat batuk-pilek bebas, suplemen herbal, NARKOBA bisa berinteraksi dengan obat yang diberikan dokter. Tanyakan kepada dokter apa saja yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi saat proses terapi. Kenali pengobatan yang diberikan oleh dokter Anda. Komunikasikan jika mengalami efek tidak menyenangkan saat meminum obat atau jika terjadi perbaikan gejala. Pengobatan akan disesuaikan secara bertahap termasuk saat akan selesai terapi, ada obat tidak bisa mendadak dihentikan.

Teknik manajemen stres dan meditasi dapat membantu orang dengan gangguan kecemasan menenangkan diri serta dapat meningkatkan efek terapi. Ibadah serta doa dengan khusyuk. Latihan aerobik juga dapat membantu beberapa orang mengelola kecemasan mereka. Namun, olahraga tidak menggantikan perawatan standar dan diperlukan. Bergabung dengan kelompok pendukung yang positif bisa bantu saling menguatkan. Tetap berhati-hati memilih kelompok pendukung dan sumber informasi. Lakukan kontrol pemeriksaan kesehatan secara rutin sesuai petunjuk dokter.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.