Kesehatan Umum

Stroke

STROKE

Otak merupakan pusat pengontrol tubuh manusia. Otak mengontrol gerakan, menyimpan ingatan dan pusat sumber pemikiran, emosi serta bahasa untuk komunikasi dengan sesama. Otak mengatur banyak sekali fungsi tubuh seperti gerakan tangan, kaki, proses pernapasan hingga pencernaan. Otak butuh asupan nutrisi juga oksigen adekuat supaya bisa berfungsi dengan baik. Otak memang hanya 2% dari berat tubuh, namun membutuhkan 20% oksigen yang dihirup. Pembuluh darah arteri bertugas mengantarkan oksigen yang dibutuhkan oleh otak.

Jika terjadi sumbatan atau kerusakan pada pembuluh darah arteri maka aliran darah ke otak akan terganggu. Aliran darah bisa terhenti akibat sumbatan atau mengalir keluar saat terjadi pecah pembuluh darah. Akibatnya suplai oksigen terhenti sehingga mengakibatkan kerusakan atau kematian sel-sel di otak. Inilah penyebab terjadinya stroke.

Pengertian Stroke

Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah, sehingga terjadi kematian sel-sel pada sebagian area di otak. Stroke bisa menyebabkan kerusakan otak permanen, kecacatan menetap atau bahkan kematian.

Terdapat 2 tipe stroke, yaitu:

  1. Stroke iskemik: stroke iskemik merupakan jenis stroke dimana terjadi penyumbatan pembuluh darah akibat gumpalan darah atau plak lemak. 
  2. Stroke hemoragik: stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah sehingga darah menyembur keluar sehingga mengakibatkan kerusakan di otak. 

1551852249731

Stroke (sumber gambar CDC)

Sebagian besar stroke (sekitar 87%) merupakan stroke iskemik. Gumpalan darah menyumbat pembuluh darah. Aliran darah terhambat sehingga darah kaya oksigen tidak bisa mengalir lancar di otak. Stroke hemoragik terjadi ketika arteri pecah atau bocor sehingga darah keluar dari pembuluh darah menyebabkan tekanan di jaringan otak. Tekanan darah tinggi dan aneurisma contoh penyebab stroke hemoragik.

Terdapat dua jenis stroke hemoragik yaitu stroke akibat perdarahan intraserebri dan stroke akibat perdarahan subarachnoid. Stroke dengan perdarahan intraserebri lebih sering terjadi, kondisi ini akibat pembuluh darah pecah sehingga darah bocor ke jaringan sekitarnya. Perdarahan subarachnoid terjadi ketika pembuluh darah yang pecah terletak diantara otak dan selaput meninges pembungkus jaringan otak. Stroke merupakan kegawatan dalam medis sehingga pertolongan secepatnya sangat penting bagi kehidupan sel-sel otak maupun penderita.

Transient ischaemic attact (TIA) kadang-kadang disebut “mini-stroke.” TIA berbeda dari jenis stroke utama sebab aliran darah ke otak tersumbat hanya untuk waktu singkat, biasanya tidak lebih dari 1 – 2 jam, bahkan bisa hanya kurang dari 5 menit, meski ada juga yang bisa 24 jam. Namun TIA merupakan tanda peringatan risiko terjadinya stroke di masa depan. Lebih dari sepertiga penderita TIA yang tidak mendapatkan perawatan mengalami stroke besar dalam 1 tahun. Sebanyak 10% hingga 15% orang akan mengalami stroke besar dalam 3 bulan setelah TIA. Sayang sekali tidak ada yang bisa memperkirakan sebelumnya apakah gejala serangan hanya TIA atau stroke sehingga TIA tetap sebuah kondisi darurat medis yang membutuhkan perawatan darurat. 

Penyebab dan Faktor Risiko Stroke

Stroke iskemik dan TIA disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah. Penyakit aterosklerosis bisa menyebabkan penumpukan plak lemak di dinding pembuluh darah. Penumpukan plak aterosklerosis bisa terbentuk di arteri karotis sehingga pembuluh darah menjadi menyempit kaku kemudian aliran darah di otak jadi terbatas. Emboli akibat gumpalan darah atau plak lemak yang terlepas bisa menyumbat pembuluh darah sehingga aliran darah ke otak terhenti.

Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah sehingga darah bocor keluar merusak jaringan otak. Tekanan darah tinggi, aneurisma, malformasi pembuluh darah di otak bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah sehingga terjadi stroke hemoragik. Stroke terjadi karena kombinasi antara kondisi genetik, kebiasaan gaya hidup dan faktor lingkungan. Ada kondisi, genetik serta kebiasaan tertentu yang bisa meningkatkan risiko terjadinya stroke yang disebut sebagai faktor risiko.

Faktor risiko stroke antara lain:

  • Penyakit hipertensi dimana kondisi tekanan darah tinggi meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah.
  • Diabetes di mana kadar gula darah tinggi.
  • Penyakit jantung: penyakit jantung iskemik, kardiomiopati, gagal jantung, dan fibrilasi atrium dapat menyebabkan penjendalan darah dimana gumpalan darah dapat menyebabkan stroke.
  • Merokok. Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah. Merokok juga dapat mengurangi jumlah oksigen yang mencapai jaringan tubuh. Paparan perokok pasif juga bisa merusak pembuluh darah.
  • Usia dan jenis kelamin. Risiko stroke meningkat seiring bertambahnya usia. Pada usia yang lebih muda, pria lebih mungkin terkena stroke daripada wanita. Namun, wanita lebih cenderung meninggal akibat stroke.
  • Ras dan etnis.
  • Riwayat stroke pada keluarga.
  • Riwayat stroke atau TIA sebelumnya. Risiko mengalami stroke berulang yang tertinggi terjadi tepat setelah stroke. TIA juga meningkatkan risiko terkena stroke, seperti halnya memiliki riwayat keluarga stroke.
  • Aneurisma otak atau malformasi arteriovenosa (AVM). Aneurisma adalah tonjolan seperti balon di arteri yang dapat meregang kemudian pecah. AVM merupakan pembentukan jalinan arteri dan vena yang tidak seharusnya dimana kondisi ini berisiko terjadi ruptur pembuluh darah.

Faktor risiko stroke lain yang bisa dikontrol:

  • Pemakaian alkohol dan NAPZA
  • Kondisi kesehatan penyakit sickle cell, vasculitis, gangguan perdarahan 
  • Kurang aktivitas fisik
  • Kelebihan berat badan: kegemukan dan obesitas
  • Stress dan depresi
  • Kadar kolesterol darah tidak baik
  • Pola makan tidak sehat
  • Pemakaian obat antiinflamasi non-steroid

Harap diperhatikan bahwa memiliki faktor risiko belum tentu akan mengalami sakit dan tidak memiliki faktor risiko juga belum tentu bebas dari kemungkinan bisa sakit. Semua orang berisiko mengalami stroke sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat, edukasi diri tentang kesehatan serta responsif melihat tanda-gejala tubuh sehingga bisa diatasi dengan tepat.

stroke.jpg Stroke (sumber gambar CDC)

Tanda dan Gejala Stroke

Tanda gejala stroke bisa muncul mendadak dalam waktu sangat cepat. Namun, ada juga gejala stroke yang muncul perlahan dalam hitungan jam atau bahkan hari. Kondisi ini dipengaruhi oleh tipe stroke dan area otak yang terkena.

Tanda gejala stroke antara lain:

  • Kelemahan secara mendadak
  • Paralisis: wajah, tangan atau kaki mendadak lumpuh, tidak bisa digerakkan biasanya separuh bagian tubuh
  • Kebas: tidak bisa merasa di wajah, tangan atau kaki biasanya separuh bagian tubuh
  • Kebingungan
  • Permasalahan wicara atau kesulitan berbicara atau sulit memahami pembicaraan
  • Gangguan penglihatan pada satu atau kedua mata
  • Permasalahan pernapasan
  • Pusing
  • Mendadak sakit kepala atau kepala sangat nyeri kesakitan
  • Sulit berjalan
  • Kesulitan menjaga keseimbangan tubuh 
  • Hilang kesadaran

Transient ischemic attack (TIA) memiliki tanda gejala menyerupai stroke. TIA biasanya sebentar sekitar 1 – 2 jam, meski ada yang bisa selama 24 jam kemudian bisa membaik normal kembali. Namun tidak ada yang bisa membedakan antara TIA dan stroke sehingga semua yang mengalami tanda gejala menyerupai stroke sebaiknya segera mendapatkan perawatan medis secepatnya. Hubungi ambulans atau layanan medis darurat untuk secepatnya mendapatkan bantuan pengobatan medis sebab untuk kasus stroke setiap menit begitu berharga.

Komplikasi stroke sangat berbahaya. Stroke menyebabkan kelumpuhan sehingga orang menjadi tidak bisa bergerak untuk waktu yang lama. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena pembekuan darah di pembuluh darah bagian dalam kaki. Tidak bergerak juga dapat menyebabkan kelemahan otot dan penurunan fleksibilitas otot. Jika stroke mempengaruhi otot-otot yang digunakan untuk menelan, maka bisa terjadi kesulitan makan atau minum. Kondisi ini juga meningkatkan risiko menghirup makanan atau minuman ke dalam paru-paru sehingga terjadi pneumonia aspirasi. Beberapa stroke mempengaruhi otot untuk buang air kecil sehingga jadi sering mengompol. Kehilangan kontrol usus atau sembelit juga dapat terjadi setelah stroke.

Pemeriksaan dan Diagnosis Stroke

Dokter akan melakukan anamnesis riwayat sakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis stroke. Pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah serta pemeriksaan fungsi saraf. Pemeriksaan darah dilakukan untuk pemeriksaan darah rutin, kadar gula darah, kolesterol, serta faktor pembekuan darah. Gambaran otak dilakukan pemeriksaan dengan brain tomography scan (CT scan otak), magnetic resonance imaging (MRI). Ultrasonografi karotis, angiografi karotis dilakukan untuk melihat gambaran pembuluh arteri karotis. Pemeriksaan CT arteriogram (CTA) and magnetic resonance arteriogram (MRA) dilakukan untuk melihat pembuluh darah di otak, jika ada sumbatan atau pecah pembuluh darah. Pemeriksaan elektrokardiografi dan echokardiografi dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung.

Terapi dan Tata Laksana Perawatan Stroke

Terapi pengobatan stroke bergantung pada tipe apakah stroke iskemik atau stroke hemoragik. Terapi pengobatan TIA bergantung pada waktu terjadinya gejala serta kondisi medis lainnya.

Perawatan untuk stroke iskemik atau TIA dapat mencakup obat-obatan dan prosedur medis. Jika mengalami stroke iskemik akibat bekuan darah akan diberikan obat penghancur gumpalan darah atau penghilang gumpalan darah yang disebut aktivator plasminogen jaringan (tPA). Idealnya obat ini harus diberikan sesegera mungkin. Semakin cepat perawatan dimulai maka semakin baik peluang untuk pulih. Jika tidak bisa menerima tPA karena alasan medis, maka kemungkinan digunakan obat antiplatelet yang membantu menghentikan trombosit membentuk gumpalan darah atau obat antikoagulan (pengencer darah) yang mencegah pembentukan gumpalan darah.

Pada penyakit arteri karotis direkomendasikan angioplasti arteri atau endarterectomy karotis untuk membuka sumbatan pada artero karotis. Penelitian saat ini sedang meneliti manfaat pemakaian trombolisis intra-arterial atau mechanical clot removal in cerebral ischemia (MERCI) untuk mengatasi sumbatan di arteri otak.

Stroke hemoragik terjadi jika arteri di otak bocor darah atau pecah. Langkah pertama dalam mengobati stroke hemoragik adalah menemukan penyebab perdarahan di otak dan kemudian mengendalikannya perdarahan. Jika tekanan darah tinggi menjadi penyebab pendarahan di otak, maka diberikan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Ini dapat membantu mencegah pendarahan lebih lanjut. Pembedahan juga mungkin diperlukan untuk mengobati stroke hemoragik. Jenis operasi yang digunakan termasuk aneurysm clipping, coil embolization dan perbaikan arteriovenous malformation (AVM).

Setelah stroke teratasi maka akan dilakukan rehabilitasi juga terapi faktor risiko penyebab stroke. Proses penyembuhan stroke berbeda bagi masing-masing individu. Program rehabilitasi medis dilakukan dengan terapi bicara, terapi fisik dan terapi okupasi. Terapi dan obat-obatan dapat membantu mengatasi depresi atau kondisi kesehatan mental lainnya setelah stroke. Bergabung dengan kelompok pendukung yang positif dapat membantu menyesuaikan diri dengan kehidupan setelah stroke.  Dukungan dari keluarga dan teman-teman juga dapat membantu menghilangkan rasa takut dan kecemasan setelah stroke. Pengobatan diberikan sesuai penyakit atau gangguan kesehatan yang dimiliki. Gaya hidup sehat berkelanjutan dilakukan untuk mengontrol faktor risiko yang ada. Lakukan pemeriksaan serta kontrol kesehatan secara teratur untuk mencegah serangan stroke berulang.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.