Kesehatan Umum

Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Pengertian Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Sindrom nyeri regional kompleks (SNRK) adalah kondisi nyeri kronis (berlangsung lebih dari enam bulan) yang paling sering menyerang satu anggota tubuh (lengan, kaki, tangan, atau kaki) biasanya setelah cedera. SNRK diyakini disebabkan oleh kerusakan, atau kegagalan fungsi dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi pusat. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang sementara sistem saraf tepi melibatkan serabut persarafan tempat sinyal saraf dari otak dan sumsum tulang belakang menuju ke seluruh tubuh. SNRK ditandai oleh nyeri hebat berkepanjangan bisa disertai perubahan warna kulit, suhu, atau juga pembengkakan di area yang terkena.

SNRK dibagi menjadi dua jenis: SNRK-I dan SNRK-II. Penderita SNRK tanpa cedera saraf dikonfirmasi diklasifikasikan sebagai memiliki SNRK-I (sebelumnya dikenal sebagai sindrom distrofi simpatis simpleks). SNRK-II (sebelumnya dikenal sebagai kausalgia) adalah ketika ada gejala disertai cedera saraf. Meskipun demikian, perawatannya serupa.

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Tidak jelas mengapa beberapa individu mengembangkan Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK), sementara orang lain dengan riwayat sama tidak mengalami SNRK.

Pada lebih dari 90% kasus, kondisi SNRK dipicu oleh riwayat trauma atau cedera yang jelas. Pemicu paling umum adalah patah tulang, keseleo, cedera jaringan lunak (contohnya luka bakar, luka, atau memar), imobilisasi tungkai (contohnya dipasang gips), operasi, atau bahkan prosedur medis kecil seperti jarum suntik. SNRK mewakili respons abnormal yang memperbesar efek dari cedera. Beberapa orang menanggapi pemicu secara berlebihan yang sebenarnya tidak menyebabkan masalah bagi orang lain. 

Abnormalitas saraf perifer yang ditemukan pada individu dengan SNRK biasanya melibatkan serabut saraf sensorik tidak bermyelin dan bermyelin tipis (akson) yang membawa pesan rasa sakit dan sinyal persarafan ke pembuluh darah. Serabut saraf kecil berkomunikasi dengan pembuluh darah sehingga cedera pada serabut saraf dapat memicu berbagai gejala SNRK. Molekul yang dikeluarkan dari ujung serabut saraf kecil hiperaktif dianggap berkontribusi terhadap peradangan dan kelainan pembuluh darah.

Kelainan saraf perifer ini pada gilirannya memicu kerusakan pada sumsum tulang belakang dan otak. Pembuluh darah di ekstremitas yang terkena mungkin melebar atau mengeluarkan cairan ke jaringan di sekitarnya menyebabkan kulit merah dan bengkak. Otot-otot dan jaringan yang lebih dalam dapat menjadi kekurangan oksigen serta nutrisi, sehingga terjadi kerusakan, nyeri otot dan nyeri persendian. Pembuluh darah dapat menyempit menyebabkan kulit putih atau kebiru-biruan. 

SNRK juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Sitokin peradangan dalam jumlah tinggi ditemukan di jaringan. Ini berkontribusi pada kemerahan, pembengkakan, dan timbulnya panas. SNRK lebih sering terjadi pada individu rentan dengan kondisi peradangan seperti alergi dan autoimun. SNRK kemungkinan juga dapat dipengaruhi oleh genetika. SNRK familial gejala bisa lebih parah dengan onset dini, distonia yang lebih berat, dan lebih dari satu anggota tubuh yang terkena. Kadang-kadang SNRK berkembang tanpa cedera yang diketahui. Infeksi, masalah pembuluh darah, atau jebakan saraf mungkin telah menyebabkan cedera internal.

Tanda dan Gejala Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Gejala utama Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK) adalah nyeri parah berkepanjangan yang bisa terus-menerus dirasakan. Nyeri digambarkan sebagai sensasi panas seperti terbakar, nyeri tajam seperti ditusuk jarum atau seperti diremas. Rasa sakit mungkin menyebar ke seluruh jaringa sekitar. Contohnya rasa sakit menyebar ke seluruh kaki, meskipun cedera mungkin hanya melibatkan jari. Pada kasus yang jarang, rasa sakit kadang-kadang bahkan dapat menyeberang ke ekstremitas berlawanan.

Sering ada peningkatan sensitivitas di daerah yang terkena sebagai allodynia di mana kontak normal dengan kulit yang sakit terasa sangat menyakitkan. Penderita SNRK juga mengalami perubahan suhu kulit, warna kulit, atau pembengkakan pada anggota tubuh yang terkena. Hal ini disebabkan oleh mikrosirkulasi abnormal akibat kerusakan pada saraf yang mengontrol aliran darah serta suhu. Akibatnya lengan atau tungkai yang terkena mungkin merasa lebih hangat atau lebih dingin dibandingkan dengan anggota tubuh lain. Kulit pada anggota tubuh yang terkena dapat berubah warna menjadi muncul spot biru, ungu, pucat, atau merah. 

Keluhan tanda gejala SNRK lainnya termasuk: 

  • perubahan tekstur kulit pada area yang terkena: mungkin terlihat mengkilap dan tipis
  • pola keringat abnormal di daerah yang terkena atau daerah sekitarnya
  • perubahan pola pertumbuhan kuku dan rambut
  • kekakuan pada sendi yang terkena
  • masalah koordinasi gerakan otot dengan penurunan kemampuan untuk memindahkan bagian tubuh yang terkena
  • gerakan abnormal pada ekstremitas yang terkena: distonia, tremor atau sentakan pada ekstremitas.

Pemeriksaan dan Diagnosis Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

Diagnosis SNRK dilakukan dengan anamnesis riwayat sakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Saat ini tidak ada tes khusus yang langsung dapat mengkonfirmasi SNRK. Pemeriksaan juga dapat digunakan untuk membantu mengesampingkan kondisi lain seperti arthritis, penyakit Lyme, penyakit otot, thrombosis vena atau polineuropati serabut saraf kecil. Pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) atau bone scan dilakukan untuk membantu memastikan diagnosis. Sementara CRPS sering dikaitkan dengan resorpsi tulang berlebih, suatu proses di mana sel-sel tertentu memecah tulang dan melepaskan kalsium ke dalam darah, temuan ini dapat diamati pada penyakit lain juga.

Terapi dan Tata Laksana Perawatan Sindrom Nyeri Regional Kompleks (SNRK)

1. Rehabilitasi dan Terapi fisik.

Program latihan fisioterapi untuk menjaga anggota tubuh yang sakit supaya dapat bergerak secara aman sehingga meningkatkan aliran darah. Selain itu, olahraga latihan fisik dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, kekuatan, dan fungsi anggota gerak yang terkena. Merehabilitasi anggota tubuh yang terkena juga dapat membantu mencegah kerusakan otak atau mengembalikan perubahan otak sekunder yang berhubungan dengan nyeri kronis. Terapi okupasi dapat membantu individu mempelajari cara-cara baru untuk bekerja dan melakukan tugas sehari-hari secara aman. 

2. Psikoterapi.

SNRK sering dikaitkan dengan gejala gangguan psikologis yang mendalam pada individu. Penderita SNRK rentan mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan stres pasca-trauma yang semuanya meningkatkan persepsi rasa sakit dan membuat upaya rehabilitasi lebih sulit. Mengobati kondisi sekunder ini penting untuk membantu orang mengatasi dan pulih dari SNRK. 

3. Obat-obatan.

Beberapa kelas obat yang berbeda telah dilaporkan efektif untuk SNRK, terutama ketika digunakan pada awal perjalanan penyakit. Dokter meresepkan kombinasi obat yang bisa berbeda-beda bagi tiap penderita SNRK. Obat-obatan untuk mengobati SNRK meliputi: 

  • bifosfonat, seperti alendronat dosis tinggi atau pamidronat intravena
  • obat antiinflamasi nonsteroid untuk mengobati nyeri sedang, termasuk aspirin, ibuprofen, dan naproxen yang dijual bebas
  • kortikosteroid yang mengobati peradangan, pembengkakan dan edema, seperti prednisolon dan metilprednisolon (kebanyakan digunakan pada tahap awal SNR
  • gabapentin, pregabalin, amitriptyline, nortriptyline, dan duloxetine untuk mengatasi neuropati
  • injeksi toksin botulinum
  • opioid seperti oksikodon, morfin, hidrokodon, dan fentanyl. Obat-obatan ini harus diresepkan dan dipantau di bawah pengawasan ketat dokter.
  • antagonis reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) seperti dekstrometorfan dan ketamin,
  • anestesi lokal topikal seperti lidokain.

Semua obat atau kombinasi obat dapat memiliki berbagai risiko efek samping. Konsultasikan efek pengobatan dan keluhan lebih lanjut bersama dokter Anda.

Sympathetic nerve block, stimulasi saraf tulang belakang, stimulasi saraf, intrathecal drug pumps ditujukan untuk mengatasi gangguan saraf sehingga rasa nyeri tidak terasa lagi. Operasi sympathectomy dilakukan dengan merusak beberapa serabut saraf, namun terapi ini masih kontroversial. Terapi sedang dikembangkan memakai imunoglobulin intravena, ketamine atau juga graded motor imagery memakai latihan fisik mental. Terapi alternatif memakai modifikasi perilaku, akupunktur, teknik relaksasi dengan biofeedback, relaksasi otot progresif serta guided motion therapy. Diskusi konsultasikan pilihan terapi lebih lanjut bersama tim dokter Anda.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.