Kesehatan Umum

Carpal Tunnel Syndrome

CARPAL TUNNEL SYNDROME

Pengertian Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Terowongan carpal merupakan lorong sempit dan kaku diantara ligamen serta tulang di pangkal tangan. Terowongan carpal ini dilewati oleh saraf medianus dan tendon otot-otot untuk gerakan menekuk jari. Saraf medianus akan memberi sensasi rasa ke sisi telapak jempol, telunjuk, jari tengah, dan bagian dari jari manis. Saraf medianus juga mengontrol beberapa otot kecil di pangkal ibu jari.

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) ini merupakan kondisi akibat gangguan fungsi saraf (neuropati) sehingga terjadi keluhan nyeri, kebas dan kesemutan (paresthesia) di pergelangan tangan dan tangan. CTS terjadi ketika saraf medianus yang membentang dari lengan bawah ke telapak tangan mengalami tekanan di pergelangan tangan. Penebalan dari lapisan tendon yang teriritasi atau proses pembengkakan lainnya bisa mempersempit terowongan sehingga menyebabkan saraf medianus terkompresi. CTS merupakan neuropati paling sering ditemukan akibat tekanan di serabut saraf tepi.

Penyebab dan Faktor Risiko Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) sering merupakan hasil kombinasi dari beberapa faktor yang menyebabkan ruang di terowongan carpal semakin sempit sehingga ruang untuk saraf medianus dalam terowongan carpal semakin berkurang.

Faktor berikut bisa menyebabkan gangguan ruang di terowongan carpal:

  • riwayat trauma atau cedera pada pergelangan tangan yang menyebabkan pembengkakan seperti keseleo atau patah tulang
  • kelenjar pituitari terlalu aktif
  • kelenjar tiroid kurang aktif
  • rheumatoid arthritis
  • masalah mekanis pada persendian pergelangan tangan
  • tekanan pergelangan tangan akibat pekerjaan
  • penggunaan berulang alat-alat tangan yang bergetar
  • retensi cairan selama kehamilan atau menopause
  • perkembangan kista atau tumor di saluran juga dapat berkontribusi pada kompresi

Seringkali, tidak ada penyebab tunggal yang dapat diidentifikasi. CTS bisa jadi merupakan kombinasi dari kebiasaan gaya hidup, hormonal, pembengkakan, akumulasi cairan akibat edema, tekanan, cidera atau sumbatan di terowongan carpal. Wanita tiga kali lebih sering mengalami CTS daripada pria. Mungkin karena anatomi terowongan carpal tunnel pada wanita sendiri lebih kecil daripada pria. Sekitar 20 – 45% ibu hamil mengalami CTS. Tangan yang dominan biasanya terkena terlebih dahulu atau menghasilkan rasa sakit paling parah.

Penyandang diabetes atau gangguan metabolisme lainnya yang secara langsung memengaruhi saraf tubuh akan lebih rentan terhadap kompresi juga berisiko tinggi terjadi neuropati. CTS sering dikeluhkan pada kondisi obesitas, gangguan pemakaian alkohol, rheumatoid arthritis, diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, hipotiroidisme, gagal ginjal, transthyretin amyloidosis, dan neuropati herediter. Namun CTS juga bisa terjadi di semua orang meski tanpa riwayat penyakit.

CTS lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Risiko mengalami CTS bisa dipengaruhi oleh industri atau pekerjaan akibat cidera terlalu sering digunakan. Pekerja di bidang perakitan manufaktur, penjahit, tukang daging, bagian pengepakan ikan, juru masak manual, penulis, juru ketik rentan mengalami CTS. Sering bekerja dengan komputer maupun ponsel juga berisiko mengalami CTS.

Tanda dan Gejala Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Keluhan gejala Carpal Tunnel Syndrome (CTS) biasanya mulai secara bertahap dengan gangguan sensasi seperti panas terbakar, kesemutan, mati rasa gatal di telapak tangan dan jari-jari. Keluhan dirasakan terutama ibu jari dan telunjuk dan jari tengah. Beberapa penderita CTS mengatakan jari terasa tidak berfung dan bengkak. Meski seringkali hanya sedikit terlihat tanda pembengkakan atau bahkan tidak terlihat ada pembengkakan.

Tanda gejala CTS antara lain:

  • kebas
  • nyeri tajam seperti ditusuk jarum
  • nyeri terutama di malam hari
  • rasa sakit dari pergelangan tangan nyeri menjalar ke tangan atau bahkan ke bahu
  • tangan terasa lemah
  • jari kelingking dan separuh jari manis biasanya tetap normal

Keluhan gejala CTS sering kali pertama muncul pada satu atau kedua tangan pada malam hari karena banyak orang tidur dengan posisi pergelangan tangan tertekuk. Serangan gejala CTS bahkan bisa menyebabkan terbangun dengan perasaan perlu “mengibaskan” tangan atau pergelangan tangan. Terasa kesemutan pada saat gejala semakin memburuk. CTS menyebabkan berkurangnya kekuatan cengkeraman sehingga dapat mempersulit membentuk kepalan, menangkap benda-benda kecil, atau melakukan tugas-tugas manual lainnya. CTS mmebuat kesulitan membuka pintu, memasang kancing dan bekerja.

Komplikasi CTS kronis yang tidak diobati bisa menyebabkan hilangnya otot-otot di pangkal ibu jari. CTS juga menyebabkan tidak dapat membedakan antara panas dan dingin dengan sentuhan sehingga rentan cidera. Segera periksa ke dokter sebab diagnosis dan perawatan dini pada CTS sangat penting untuk menghindari kerusakan permanen pada saraf medianus.

Pemeriksaan dan Diagnosis Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Diagnosis Carpal Tunnel Syndrome (CTS) dengan proses anamnesis riwayat sakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik tangan, lengan, bahu, dan leher dilakukan untuk mengetahui penyebab ketidaknyamanan tangan. Pergelangan tangan diperiksa untuk mengecek adanya peradangan, pembengkakan, kehangatan, dan perubahan warna. Setiap jari diuji untuk sensasi. Otot-otot di pangkal tangan harus diperiksa untuk kekuatan dan tanda-tanda atrofi.

Tes laboratorium rutin dan foto rontgen sinar-X dilakukan untuk deteksi adanya patah tulang, radang sendi, atau mendeteksi penyakit lain seperti diabetes. Tes Tinel dilakukan dengan mengetuk atau menekan saraf medianus di pergelangan tangan. Tes ini positif ketika kesemutan terjadi pada jari yang terkena. Manuver Phalen (atau tes pergelangan tangan) dengan menekan punggung tangan dan jari bersama-sama dengan pergelangan tangan sehingga terjadi kesemutan atau mati rasa terjadi di jari yang terkena dalam 1-2 menit. Dokter juga akan menanyakan gerakan yang mencetuskan gejala.

Tes elektrodiagnostik dapat membantu mengkonfirmasi diagnosis CTS. Sebuah studi konduksi saraf mengukur aktivitas listrik saraf dan otot dengan menilai kemampuan saraf untuk mengirim sinyal di sepanjang saraf atau ke otot. Elektromiografi adalah teknik perekaman khusus yang mendeteksi aktivitas listrik dari serat otot dan dapat menentukan tingkat keparahan kerusakan pada saraf medianus. Pemeriksaan ultrasonografi dapat menunjukkan ukuran abnormal serabut saraf medianus. Magnetic resonance imaging (MRI) dapat menunjukkan anatomi pergelangan tangan tetapi sampai saat ini belum terlalu bermanfaat dalam mendiagnosis CTS.

Terapi dan Tata Laksana Perawatan Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) sebaiknya segera ditangani secepatnya dengan perawatan medis supaya saraf serta otot kembali sehat. CTS yang disebabkan oleh penyakit lain seperti cidera, diabetes atau arthritis maka penyakit penyebabnya harus segera diobati.

Pilihan terapi antara lain:

  • Pembebatan pergelangan tangan: dokter akan mengajarkan cara memakai pembebatan pergelangan tangan supaya posisi tangan terjaga netral. Bebat biasanya dipasang di malam hari, atau sesuai petunjuk dokter.
  • Hindari aktivitas yang mencetuskan gejala nyeri pergelangan tangan.
  • Kompres dingin pada pergelangan tangan yang sedang bengkak, panas dan kemerahan.
  • Obat antiinflamasi non-steroid untuk meredakan rasa sakit dengan mengontrol reaksi peradangan
  • Kortikosteroid untuk mengontrol atau mengurangi peradangan secara cepat. Terkadang dokter akan menyuntikkan lidocaine ke pergelangan tangan
  • Fisioterapi
  • Pembedahan dengan menggunting bagian ligamen sehingga tekanan pada serabut saraf medianus menghilang. Ligamen akan tumbuh kembali namun memberikan ruang lebih banyak bagi saraf. Proses penyembuhan bisa membutuhkan waktu.

Diskusi konsultasikan pemilihan terapi lebih lanjut bersama tim dokter Anda.

Tips Kiat Pencegahan Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Tidak semua kondisi Carpal Tunnel Syndrome (CTS) bisa dicegah. Namun dengan modifikasi faktor risiko diharapkan kemungkinan sakit semakin kecil. Berikut ini saran untuk mengurangi Carpal Tunnel Syndrome (CTS):

  • pekerja dapat melakukan pengkondisian di tempat kerja,
  • melakukan latihan peregangan,
  • sering istirahat memberi jeda bagi pergelangan tangan,
  • jaga supaya postur dan posisi pergelangan tangan aman
  • mengenakan sarung tangan tanpa jari dapat membantu menjaga tangan tetap hangat dan fleksibel

Pengusaha dapat mengembangkan program serta tempat kerja sesuai dengan prinsip ergonomi dimana kondisi tempat kerja dan tuntutan pekerjaan sesuai dengan kemampuan pekerja. Workstation, alat dan gagang alat, dan tugas pekerjaan dapat dirancang ulang agar pergelangan tangan pekerja dapat mempertahankan posisi alami selama bekerja. Jika memungkinkan bisa melakukan rotasi di antara para pekerja.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.