Kesehatan Umum

Inkontinensia Urin

PERMASALAHAN KESULITAN MENAHAN KENCING

Pengertian Inkontinensia Urin

Permasalahan kontrol kandung kemih adalah kondisi yang mempengaruhi cara seseorang menahan atau melepaskan urin saat kencing. Keluarnya urin tidak disengaja yang disebut inkontinensia urin (IU) adalah salah satu permasalahan dalam kontrol kandung kemih paling sering terjadi. IU sendiri merupakan suatu kondisi yang bisa terkait dengan masalah kesehatan lain atau fase dalam kehidupan tertentu seperti kehamilan pada wanita atau pembesaran prostat pada pria.

Masalah kontrol kandung kemih bisa menjadi gangguan kecil, namun juga dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Banyak orang menyimpan sendiri permasalahan ini kemudian jadi terlalu malu atau takut untuk berpartisipasi dalam kegiatan kehidupan sosial atau bahkan hingga tidak dapat menjalankan rutinitas normal harian. Banyak penyandang IU tidak bisa menahan kencing hingga sampai .

Diagnosis penyebab utama dan perawatan yang tepat sangat penting bagi kualitas hidup penyandang IU. 

Penyebab dan Faktor Risiko Inkontinensia Urin

Inkontinensia Urin (IU) sering dikeluhkan. Hampir separuh wanita pernah mengalami kebocoran urin dalam sekali waktu. Saluran urethra wanita lebih pendek sehingga pada kondisi khusus seperti kehamilan, pasca salin atau menopause menjadi lebih rentan mengalami IU. Namun, semua orang bisa mengalami IU. Sekitar 1 dari 3 pria lanjut usia (lansia) mengalami permasalahan kontrol kandung kemih.

Kondisi berikut bisa menjadi faktor meningkatnya risiko IU, antara lain:

  • pertambahan usia
  • infeksi saluran kemih pada bagian kandung kemih
  • jenis kehamin wanita
  • sedang mengalami fase kehidupan tertentu: kehamilan, persalinan, menopause, pembesaran prostat
  • permasalahan kesehatan tertentu seperti obesitas, diabetes, konstipasi kronis
  • merokok
  • kelainan bawaan tertentu dimana terdapat masalah di struktur saluran kemih
  • blokade saluran kemih akibat batu ginjal atau tumor
  • riwayat keluarga juga bisa mempengaruhi

Kejadian kehidupan tertentu dan masalah kesehatan dapat menyebabkan inkontinensia urin pada wanita akibat otot dasar panggul melemah:

  • kehamilan
  • persalinan normal
  • riwayat trauma, cedera, kekerasan seksual
  • sistokel dan prolaps organ panggul
  • menopause

Otot-otot dasar panggul yang lemah dapat menyulitkan kandung kemih untuk menahan urin selama terjadi tekanan. Inkontinensia stres bisa terjadi ketika batuk, bersin, tertawa, atau aktivitas fisik dimana memberi tekanan pada kandung kemih sehingga menyebabkan urin bocor. Kelemahan otot dasar panggul juga dapat menyebabkan inkontinensia fekal atau masalah kontrol usus.

Harap diperhatikan bahwa memiliki faktor risiko belum tentu akan mengalami sakit dan tidak memiliki faktor risiko juga belum tentu bebas dari kemungkinan bisa sakit. Semua orang berisiko mengalami inkontinensia urin sehingga penting untuk meningkatkan kesadaran mengenali kondisi serta responsif melihat tanda-gejala tubuh sehingga bisa diatasi dengan tepat.

Tanda dan Gejala Inkontinensia Urin

Keluhan tanda gejala permasalahan kontrol kandung kemih antara lain:

  • urin bocor saat melakukan aktivitas harian seperti mengangkat barang, berdiri, batuk, atau olahraga
  • mendadak (sangat kebelet) ingin kencing
  • urin keluar tanpa disertai rasa ingin kencing
  • urin sudah keluar sebelum sampai di toilet
  • kasur basah saat tidur akibat mengompol di malam hari

Keluhan tanda gejala inkontinensia urin bergantung pada tipe juga penyebab terjadi kebocoran urin keluar di luar kontrol. 

  • Inkontinensia stres terjadi ketika urin keluar akibat gerakan batuk, bersin, tertawa, atau aktivitas fisik yang memberi tekanan pada kandung kemih. 
  • Inkontinensia urgensi terjadi ketika seseorang terasa ingin kencing namun urin sudah bocor keluar sebelum sampai di toilet. Inkontinensia urgensi disebut sebagai kandung kemih yang terlalu aktif akibat saraf dan otot kandung kemih tidak sinkron.
  • Inkontinensia campuran merupakan kondisi dimana terjadi inkontinensia urgensi dan stres inkontinensia pada saat bersamaan. Itulah sebabnya disebut inkontinensia campuran. 
  • Inkontinensia refleks merupakan kondisi urin yang bocor tanpa peringatan atau dorongan rasa ingin kencing. Kondisi ini sering terjadi ketika saraf kandung kemih seseorang rusak dan tidak bisa berkomunikasi dengan otak secara normal. Selama inkontinensia refleks, kandung kemih dapat berkontraksi secara refleks (tanpa disadari) sehingga menyebabkan urin bocor di waktu yang tidak tepat. Kerusakan saraf akibat kondisi kesehatan seperti multiple sclerosis atau dari trauma seperti cedera tulang belakang menjadi salah satu penyebab inkontinensia refleks. Terkadang disebut juga inkontinensia “tidak sadar” atau “bawah sadar”. 
  • Inkontinensia overflow terjadi ketika kandung kemih tidak mengosongkan urin sepenuhnya sehingga menyebabkan terlalu banyak urin tetap bertahan di dalam kandung kemih. Urin bocor karena kandung kemih menjadi terlalu penuh. 
  • Inkontinensia fungsional terjadi pada kondisi ada kecacatan fisik, hambatan fisik, masalah berbicara, masalah berpikir sehingga membuat seseorang tidak bisa mencapai toilet tepat waktu. Misalnya pemakai kursi roda mungkin tidak dapat ke toilet pada waktunya, penyandang arthritis mungkin mengalami kesulitan membuka kancing celana, atau penyandang penyakit Alzheimer mungkin tidak menyadari bahwa mereka perlu merencanakan untuk menggunakan toilet. 
  • Inkontinensia sementara terjadi dimana permasalahan kebocoran urin berlangsung singkat karena suatu situasi seperti menggunakan obat tertentu atau menderita penyakit yang menyebabkan kebocoran seperti batuk parah. 
  • Mengompol disebut nocturnal enuresis. Mengompol ternyata tidak hanya terjadi pada anak-anak. Beberapa orang dewasa bisa mengompol saat tidur karena berbagai alasan. Obat-obatan tertentu, minum kafein atau alkohol meningkatkan risiko mengompol di malam hari. Pada beberapa kasus terjadi kandung kemih tidak dapat menahan volume urin semalaman. Perubahan gaya hidup seringkali dapat memperbaiki gejala ini. Beberapa orang mengompol karena mereka tidak menghasilkan cukup hormon tertentu pada malam hari seperti pada penyakit diabetes insipidus. Masalah kesehatan lainnya seperti infeksi saluran kemih, batu ginjal, pembesaran prostat, atau obstructive sleep apnea dapat menyebabkan orang dewasa mengompol atau sering buang air kecil di malam hari.

Inkontinensia urin bisa menimbulkan komplikasi gangguan aktivitas harian sehingga membuat penyandang inaktif, permasalahan emosional dan gangguan hubungan intim bersama pasangan sehingga sebaiknya segera periksa ke dokter jika mengalami permasalahan kencing.

Pemeriksaan dan Diagnosis Inkontinensia Urin

Inkontinensia urin sangat mengganggu aktivitas harian sehingga semakin cepat terdiagnosis diharapkan akan semakin baik hasilnya. Diagnosis Inkontinensia Urin (IU) dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Tes kandung kemih dengan mengedan untuk melihat kemampuan kandung kemih menahan urin. Tes urin dan tes darah dilakukan untuk mengecek apakah terdapat masalah infeksi atau gangguan kesehatan lain.

Pemeriksaan ultrasonografi, cystoscopy dan tes urodinamika. Pemeriksaan USG untuk mengetahui gambaran kondisi kandung kemih serta saluran kemih. Cystoscopy dilakukan jika dicurigai terdapat permasalahan di dalam kandung kemih. Tes urodinamika digunakan untuk mendeteksi tekanan dalam kandung kemih. Buat catatan diari kencing selama 2 – 3 hari beserta keluhan lain. Catatan pola kencing harian diharapkan bisa bantu untuk mendiagnosis permasalahan inkontinensia urin ini.

Terapi dan Tata Laksana Inkontinensia Urin

Terapi perawatan inkontinensia urin (IU) dilakukan dengan pendekatan multidisipliner. Terapi terutama dengan mengatasi penyebab terjadinya inkontinensia. Pilihan terapi meliputi:

  • Perubahan gaya hidup sehat
  • Melatih otot kandung kemih
  • Senam melatih otot dasar panggul
  • Pemberian pengobatan untuk memperkuat otot panggul, mengecilkan prostat (pria), terapi hormonal (pada wanita) sesuai indikasi
  • Pemasangan alat medis
  • Fisioterapi
  • Pemberian bulking agent
  • Pemasangan vaginal pessary
  • Operasi
  • Stimulasi persarafan
  • Terapi biofeedback
  • Psikoterapi dan edukasi
  • Bergabung dengan kelompok pendukung yang positif
  • Perawatan suportif

Terapi dilakukan sesuai kondisi dan penyebab inkontinensia.

Minum jumlah volume cairan dengan tepat pada waktu yang tepat. Menjaga asupan cairan sangat penting supaya tidak mengalami dehidrasi yang membuat kesehatan makin buruk. Tanyakan kepada dokter berapa jumlah volume air yang harus minum setiap hari dan kapan saja waktu minum. Membatasi makanan dan minuman dengan kafein, seperti cokelat, teh, kopi, dan minuman berkarbonasi dapat membantu mengurangi kebocoran. Hindari alkohol sebab alkohol dapat meningkatkan jumlah urine yang dihasilkan oleh tubuh. 

Lakukan hidup sehat aktif dengan aktivitas fisik secara aman sesuai kondisi kesehatan. Aktivitas fisik teratur penting untuk manajemen berat badan dan kesehatan supaya tetap baik. Cari tempat olahraga dengan toilet dekat seperti pusat perbelanjaan, taman komunitas, atau gym lokal. Jaga berat badan (BB) supaya sehat ideal. Kelebihan berat badan atau obesitas meningkatkan risiko diabetes dan IU. Jika mengalami kelebihan berat badan maka turunkan BB secara bertahap dengan memakai gaya hidup sehat berkelanjutan. Hindari sembelit sebab konstipasi memperburuk kesehatan saluran kemih dan dapat menyebabkan IU. Berhenti merokok. Merokok meningkatkan risiko menderita inkontinensia stres, karena merokok menyebabkan batuk kronis. Merokok juga menyebabkan sebagian besar kasus kanker kandung kemih.

Produk berikut ini bisa bantu penyandang IU mengatasi kebocoran urin dalam menjalani aktivitas harian:

  • memakai pembalut
  • pakai celana dalam khusus yang punya lapisan anti-air dan punya lapisan penyerap air
  • gunakan celana dalam anti-air
  • gunakan celana yang didesain khusus bagi inkontinensia urin
  • pasang lapisan penyerap khusus di atas kursi, kasur, dll
  • memakai kateter
  • memakai krim dan pembersih kulit khusus untuk melindungi kulit di area kelamin dari iritasi akibat paparan urin
  • jaga kebersihan

Tips Kiat Mencegah Inkontinensia Urin

Tidak semua kondisi kesehatan bisa dicegah, namun gaya hidup sehat bisa menurunkan risiko mengalami sakit atau gangguan kesehatan. Jaga kebersihan area kelamin dengan benar, rutin melakukan senam kegel, menjaga berat badan ideal sehat, teratur berolahraga secara aman, minum air yang banyak sesuai kebutuhan asupan cairan harian dan pola makan sehat bergizi seimbang dengan asupan serat cukup bisa bantu mencegah inkontinensia urin.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.