Kesehatan Wanita

Permasalahan Nyeri Wanita

Rasa nyeri merupakan sinyal yang diberikan sistem persarafan untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu berbahaya pada tubuh. Rasa nyeri menjadi pengalaman rasa tidak nyaman seperti ditusuk, menjalar, tersengat, terbakar dan kesakitan.

Rasa sakit yang terjadi bisa hanya pada satu bagian, atau pun pada seluruh tubuh. Rasa nyeri sebenarnya bermanfaat untuk melindungi tubuh dari bahaya yang bisa mencelakai.

Terdapat nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut terjadi secara mendadak akibat perlukaan, penyakit atau reaksi peradangan. Nyeri akut bisa membaik setelah didiagnosis dan diobati secara tepat. Nyeri kronis yaitu nyeri yang dirasakan dalam waktu lama. Nyeri akut bisa berubah menjadi nyeri kronis/menahun.

Wanita seringkali dipaksa bersahabat dengan rasa sakit. Sakit saat mengalami menstruasi bulanan, sakit saat melahirkan, sakit saat belajar menyusui serta berbagai rasa sakit lain yang menggangu. Kondisi penyakit penyebab terjadinya keluhan nyeri sakit menahun, seperti autoimun, juga lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.

Kemunculan rasa nyeri terkadang membuat kebingungan. Apakah betul ada rasa nyeri, kecapekan atau sekedar perasaan saja. Oleh sebab itu, seringkali keluhan rasa sakit itu disepelekan serta tidak mendapat penanganan yang tepat.

Rasa nyeri tentu membuat frustasi. Bahkan hingga bisa menimbulkan gangguan mental pada kondisi yang lebih berat lagi. Sebaiknya segera periksa ke dokter atau ahli berkompeten untuk mencari tahu lebih jauh terhadap kondisi tubuh, cari kelompok pendukung hingga pelajari teknik relaksasi untuk berdamai dengan rasa nyeri.

Wanita juga rentan mengalami nyeri menahun. Nyeri menahun didefinisikan sebagai rasa nyeri kronis yang dialami seseorang lebih dari 3 bulan. Nyeri kronis ada yang bisa sampai bulanan hingga tahunan. Kondisi ini sering disebabkan oleh cidera, efek komplikasi suatu penyakit atau kondisi lainnya. Pemeriksaan laboratorium serta penunjang diperlukan untuk mendiagnosis letak cidera atau penyakit penyebab. Jika tidak ditemukan maka kemungkinan nyeri kronis itu sendiri sebagai penyebab muncul sakitnya.

Nyeri bisa diatasi meskipun pengobatan tidak selalu bisa menghilangkan seluruh atau masalah yang timbul. Pengobatan nyeri memakai metode holistik dengan obat, herba, akupunktur, fisioterapi, aktivitas fisik, prosedur pembedahan, dll.

Penyebab Wanita Rentan Nyeri

Wanita lebih sering mengalami gangguan nyeri dibandingkan pria. Penyebabnya hingga saat ini belum diketahui. Refleks nyeri pada wanita juga lebih sensitif dibandingkan pria contohnya ketika persarafan kaki diberi stimulus elektrik. Pada pemeriksaan darah bayi baru lahir, tampak ekspresi bayi perempuan lebih kesakitan dibanding bayi laki-laki. Penelitian ini menunjukkan bahwa wanita lebih sensitif terhadap rasa nyeri sejak baru lahir. Pada penelitian-penelitian yang mempelajari tentang rasa nyeri-normal juga paparan nyeri berulang menunjukkan bahwa subjek wanita melaporkan sakit lebih banyak dibandingkan subjek laki-laki.

Nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan sebagai pertanda adanya kerusakan jaringan atau proses yang bisa menyebabkan kerusakan jaringan. Rangsangan nyeri akan diterima oleh nosiseptor di akhiran serabut saraf nyeri kemudian sinyal akan diteruskan melalui serabut persarafan hingga ke sistem saraf pusat kemudian pesan diteruskan hingga menimbulkan persepsi tidak menyenangkan di otak. Intensitas rangsang terendah yang menimbulkan persepsi nyeri disebut sebagai ambang nyeri.

Tingkat nyeri tertinggi yang dapat diterima oleh seseorang disebut sebagai toleransi nyeri. Ambang nyeri bersifat tetap sedangkan toleransi nyeri berbeda-beda. Toleransi nyeri saat ini diangap penting sebab rasa nyeri bisa menimbulkan gangguan fungsi, kerusakan struktur anatomi hingga disabilitas individual.

Pengalaman nyeri berulang dalam rentang kehidupan tampaknya bisa menyebabkan sistem saraf wanita lebih sensitif terhadap respons nyeri. Sebuah penelitian terhadap skor nyeri 250 penyakit dan kondisi berbeda terlihat perbedaan antara nilai nyeri laki-laki dan wanita. Skor nyeri dari pasien wanita rata-rata 20% lebih tinggi dibandingkan pasien pria. Sakit pinggang bagian bawah, terkilir pada kaki, migraine, nyeri leher hingga sinus lebih sering dialami wanita dibandingkan laki-laki. Genetik, hormon dan kondisi psikologis bisa turut mempengaruhi munculnya rasa nyeri.

Hormon reproduksi kewanitaan mempengaruhi kemunculan maupun keparahan rasa nyeri. Terbukti setelah masa pubertas dimana kadar hormon kewanitaan lebih tinggi menjadikan tubuh lebih rentan sakit. Wanita jadi lebih rentan mengalami migraine juga nyeri datang bulan mengikuti siklus hormonal. Sebaliknya, para wanita lebih rentan mengalami nyeri sendi setelah masa menopause ketika kadar hormon reproduksi menurun. Namun hingga kini belum diketahui hormon apakah yang bertanggung jawab dan bagaimana mekanisme proses yang terjadi sehingga wanita lebih rentan sakit. Riwayat penyakit, kondisi perasaan, serta tingkat stress juga mempengaruhi beratnya rasa nyeri yang dialami oleh seseorang.

Mengukur nyeri sangat sulit sebab bersifat subjektif. Keberagaman pengalaman terhadap rasa nyeri sering membuat penderita kebingungan mengungkapkan kata yang tepat untuk mendeskripsikan, sulit mengingat pengalaman tidak nyaman saat kambuh atau justru sebaliknya jadi menyangkal keparahan rasa sakit yang terjadi. Kenali dan catat beberapa poin berikut ini saat terjadi nyeri untuk disampaikan kepada dokter anda:

  • Lokasi nyeri: merupakan bagian paling nyeri atau sumber nyeri meski belum tentu lokasi organ yang mengalami gangguan.
  • Intensitas nyeri: biasanya akan menggunakan penilaian 1 – 10 memakai Visual Analogue Scale (VAS)
  • Kualitas nyeri: terminologi yang digunakan untuk menjelaskan rasa nyeri seperti tajam, tumpul, panas, seperti terbakar, seperti ditusuk, tertarik, tersayat, dll.
  • Awitan nyeri, variasi durasi dan ritme
  • Faktor pemberat dan faktor yang meringankan rasa nyeri
  • Dampak nyeri: pola tidur, aktivitas, selera makan, kondisi perasaan, energi, kehidupan sosial, emosi, konsentrasi, dll
  • Gejala lain yang menyertai: mual, muntah, kebingungan, mengantuk, pandangan kabur, dll

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.