Kesehatan Umum

Intoleransi Laktosa

INTOLERANSI LAKTOSA

Pengertian Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa merupakan kondisi dimana terjadi keluhan pencernaan seperti perut kembung, diare dan banyak gas setelah konsumsi produk susu, mengandung susu dan turunan susu. Keluhan intoleransi laktosa muncul karena tubuh tidak mampu mencerna laktosa. Laktosa merupakan gula spesial yang terkandung dalam susu. Produk mengandung susu dan turunan susu seperti keju, yoghurt, es krim juga mengandung laktosa.

Reaksi intoleransi terjadi karena tidak terbiasa konsumsi makanan mengandung laktosa sehingga terjadi malabsorbsi laktosa. Sekitar 68% penduduk dunia memilki kondisi intoleransi laktosa. Hampir 90 – 100% orang Asia di Amerika Serikat mengalami keluhan intoleransi laktosa. Kondisi ini akibat rendahnya enzim laktase untuk mencerna laktosa di susu karena kebiasaan jarang meminum susu dalam pola diet Asia. Di Indonesia, konsumsi susu hanya sekitar 17,5 kg/orang/tahun dibanding negara Asia Tenggara lain yang sebesar 25 kg/kapita.

susu dan produk turunan susu 
Susu dan Produk Turunan Susu (CDC)

Penyebab dan Faktor Risiko Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa dicurigai disebabkan oleh genetik. Genetik bisa menyebabkan kondisi intoleransi laktosa primer, antara lain:

  • Lactase nonpersistence dimana kadar enzim laktase menurun setelah lewat masa bayi
  • Defisiensi laktase kongenital

Tidak semua malabsorbsi laktosa akibat pengaruh genetik. Terdapat juga kondisi lain yang bisa menyebabkan intoleransi laktosa yaitu usus halus mengalami luka cidera dan kelahiran prematur. Kadar enzim laktase pada bayi prematur akan semakin meningkat sehingga kondisi intoleransi laktosa juga akan hilang. Cidera pada usus halus bisa disebabkan oleh infeksi, penyakit atau kondisi lain seperti Crohn’s disease, celiac disease, efek samping pengobatan tertentu, pasca operasi atau radiasi. Kondisi intoleransi laktosa akibat usus halus cidera ini disebut intoleransi laktosa sekunder. Intoleransi laktosa akan menghilang saat usus halus kembali sehat.

Kondisi ini menyebabkan terjadi malabsorbsi laktosa di saluran cerna akibat usus halus tidak bisa mencerna laktosa sehingga timbul gejala intoleransi. Tidak semua kondisi malabsorbsi laktosa akan menimbulkan keluhan gejala. Hanya orang dengan intoleransi laktosa yang akan mengalami keluhan gejala. Reaksi intoleransi laktosa ini bukan alergi susu. Alergi susu merupakan penyakit sistem imunitas tubuh pada protein susu.

Tanda dan Gejala Intoleransi Laktosa

Keluhan tanda gejala intoleransi akan muncul dalam beberapa jam setelah minum susu dan konsumsi produk turunan susu atau makanan lain yang mengandung laktosa. Gejala bisa salah satu atau kombinasi dari keluhan berikut:

  • perut kembung
  • diare
  • banyak gas: sendawa, kentut
  • mual
  • perut nyeri kesakitan, terasa sakit melilit
  • perut mulas dengan suara bergemuruh
  • muntah

Saluran cerna yang tidak terbiasa mengolah laktosa menyebabkan saat minum susu jadi sakit perut. Kondisi ini biasanya tidak membahayakan namun sangat mengganggu. Derajat keparahan gejala bisa ringan hingga berat, tergantung pada banyaknya kadar laktosa yang dikonsumsi. 

Jika memakan makanan yang mengandung laktosa akan mengalami gejala perut mulas, mual, kram, kembung, sering kentut, diare atau bahkan muntah. Gejala muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah mengkonsumsi bahan pencetus. Jika keluhan sangat berat atau disertai tanda gejala penyakit lain sebaiknya segera periksa ke dokter.

Diagnosis dan Pemeriksaan Intoleransi Laktosa

Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Anamnesis meliputi riwayat keluhan tanda gejala sakit, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pengobatan (termasuk pemakaian obat herbal juga suplemen) serta kebiasaan makan. Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis banding kondisi lain contohnya irritable bowel syndrome, penyakit peradangan usus, celiac disease, polip usus, penyakit infeksi dan lain sebagainya. 

Pengobatan diberikan untuk mengatasi keluhan gejala. Jika terjadi dehidrasi akan diberikan terapi cairan sesuai kondisi pasien. Dokter akan menyarankan observasi pola makan dengan menghindari susu, produk turunan susu dan produk mengandung susu. Jika keluhan membaik maka kemungkinan karena intoleransi laktosa, Jika keluhan tidak membaik maka akan dilakukan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan hydrogen breath test dilakukan untuk melihat kemampuan usus mencerna laktosa pada kasus malabsorbsi laktosa dan intoleransi laktosa.

Suplemen laktase dikatakan mampu membantu mengatasi keluhan, bicarakan pemakaian lebih lanjut bersama dokter. Selanjutnya akan dilakukan pengaturan pola makan. Intoleransi laktosa primer akan dilakukan diet khusus bebas laktosa. Intoleransi laktosa sekunder akan dilakukan terapi untuk menyehatkan kembali kondisi usus halus. Lakukan konsultasi pola makan lebih lanjut bersama ahli gizi berkompeten.

Derajat keparahan intoleransi laktosa bisa berbeda-beda pada tiap orang. Ada penyandang intoleransi laktosa yang masih bisa konsumsi laktosa dalam jumlah terbatas sehingga cukup dibatasi asupan susu dan produk mengandung laktosa lainnya. Yoghurt dan keju bisa menjadi alternatif susu sebab kultur bakteri membantu produksi enzim laktase jadi kadar laktosa lebih rendah. Jika keluhan intoleransi laktosa berat sebaiknya menghindari semua produk yang mengandung laktosa. Saat ini banyak pilihan produk susu maupun turunannya yang tidak mengandung laktosa sebagai sumber kalsium juga vitamin D. Bicarakan pengaturan pola makan lebih lanjut bersama dokter dan ahli gizi berkompeten.

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.