Kesehatan Umum

Konstipasi

KONSTIPASI

Pengertian Konstipasi

Feses dibentuk di rectum. Rektum merupakan bagian ujung dari usus besar yang berukuran sekitar 15 cm. Bagian akhir dari rectum berakhir di lubang anus. Feses dibentuk di usus besar kemudian disimpan sementara di rectum. Terjadi proses reabsorbsi cairan juga fermentasi material sisa metabolisme sehingga terbentuk feses. Gerakan peristaltik usus serta makanan yang telah terkumpul akan merangsang terjadinya refleks defekasi sehingga kita bisa membuang feses keluar dari tubuh. Terdapat sekitar 1500 mL material memasuki colon setiap hari namun berkat proses reabsorbsi yang efisien hanya diproduksi sekitar 200 mL feses.

Konstipasi merupakan suatu keluhan gejala yang bisa disebabkan oleh banyak kondisi juga penyakit. Masing-masing orang bisa jadi memiliki pola BAB normal berbeda dengan orang lain. Konstipasi sering diartikan sebagai sembelit sulit buang air besar (BAB). Konstipasi sebagian besar terjadi dalam waktu singkat kemudian membaik sendiri, tapi ada juga yang disebabkan oleh kondisi berbahaya. Disebut konstipasi jika terdapat keluhan antara lain:

  • BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu
  • Tinja keras, kering dan menggumpal kasar
  • Tinja sulit dikeluarkan atau sakit saat BAB
  • BAB terasa tidak bisa tuntas

Penyebab Konstipasi

Penyebab konstipasi ada banyak, secara umum bisa karena:

  • Feses bergerak lambat di usus besar (colon)
  • Keterlambatan pengosongan usus besar (colon)
  • Gangguan fungsional pada saluran pencernaan

Pengaruh obat tertentu dan suplemen diet bisa membuat konstipasi bertambah parah. Obat seperti antasida, anticholinergic, antispasmodik, antikonvulsan, calcium channel blocker, diuretik, suplementasi zat besi, obat anti-parkinson, obat antinyeri golongan narkotik, beberapa obat anti-depresi bisa memiliki efek samping konstipasi. Jangan pernah menghentikan pengobatan tanpa petunjuk dokter. Ada baiknya diskusi konsultasikan pemilihan pengobatan lebih lanjut bersama dokter anda.

Konstipasi bisa terjadi pada kondisi:

  • Kehamilan
  • Proses penuaan
  • Sedang bepergian melancong dan berwisata
  • Menunda berak saat sudah merasa kebelet BAB
  • Mengubah obat dalam pengobatan rutin
  • Mengubah pola makan (diet mendadak berubah)

Pola makan rendah asupan serat, kurang minum air putih dan malas bergerak akan berisiko lebih tinggi mengalami permasalahan sembelit. Konstipasi juga bisa menjadi tanda terjadi dehidrasi akibat kurang asupan cairan. Beberapa penyakit bisa mempengaruhi terjadinya konstipasi antara lain:

  • Penyakit pada usus seperti celiac disease, 
  • Penyakit pada sistem persarafan pusat di otak seperti Parkinson, multiple sclerosis, stroke
  • Cidera tulang belakang, cidera otak 
  • Gangguan metabolisme seperti pada penyakit diabetes
  • Gangguan hormon seperti pada hipotiroidisme, hipopituitarisme
  • Radang usus akibat penyakit divertikulitis, proctitis
  • Sumbatan pada usus akibat tumor, blokade anorektal, hemoroid/wasir/ambeien
  • Permasalahan kelainan anatomi pada sistem organ saluran pencernaan, rectocoele, hernia abdominalis

Faktor Risiko Konstipasi

Semua orang bisa saja mengalami konstipasi. Namun beberapa kondisi berikut ini meningkatkan risiko terjadi konstipasi sehingga menjadi faktor risiko, yaitu:

  • Wanita, terutama saat hamil atau sesaat setelah melahirkan
  • Orang lanjut usia
  • non-Kaukasia
  • Jarang konsumsi bahan makanan sumber serat: buah, sayur, biji-bijian utuh
  • Jarang minum air putih sehingga terjadi dehidrasi
  • Efek samping obat, suplemen
  • Riwayat penyakit tertentu, termasuk gangguan fungsional saluran cerna
  • Riwayat operasi pada saluran pencernaan

Tanda dan Gejala Konstipasi

Tanda gejala mengalami konstipasi bisa:

  • Jarang berak dengan frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu
  • Feses/tinja keras, kering, kasar, kecil-kecil
  • Tinja sulit dikeluarkan
  • Harus mengejan kuat saat BAB
  • Sakit saat buang air besar
  • Merasa tidak bisa tuntas mengeluarkan tinja saat BAB sehingga terkadang ada juga yang jadi sering BAB namun tinja keras serta tidak tuntas
  • Perut menggembung
  • Perut kram, sakit, terasa mulas

Gejala konstipasi biasanya membaik sendiri. Namun waspada jika tidak bisa membaik, sering kambuh atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal. Sebaiknya segera periksa ke dokter atau rumah sakit jika konstipasi disertai mengalami salah satu atau lebih kondisi berikut:

  • Perdarahan dari usus
  • Terdapat darah di tinja
  • Perut terasa nyeri kesakitan terus-menerus
  • Tidak bisa kentut
  • Muntah
  • Demam
  • Nyeri kesakitan pada pinggang bagian bawah
  • Mengalami penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas

Pemeriksaan dan Diagnosis Konstipasi

Segera periksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tambahan untuk mengetahui penyebab. lakukan pencatatan BAB harian saat akan pergi periksa. Dokter akan menanyakan riwayat keluhan, riwayat penyakit, riwayat keluarga dan gaya hidup sehari-hari. Pemeriksaan fisik secara umum dengan pemeriksaan tekanan darah, suhu dan denyut jantung, pengecekan status hidrasi, juga pemeriksaan perut. Perut diperiksa untuk mengetahui apakah terjadi pembengkakan, sumbatan, nyeri tekan, juga benjolan atau massa. Dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui timbunan feses di rektum.

Pada foto rontgen terlihat timbunan feses pada colon, rectum dan atau keduanya. Pada kondisi biasa akan dicoba untuk diberikan pengobatan terlebih dahulu. Jika dicurigai sembelit akibat kondisi tertentu maka akan dilakukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan pemeriksaan tes darah, tes urin dan tes feses. Endoskopi, kolonoskopi, flexible sigmoidoscopy dilakukan untuk melihat gambaran kondisi anus, rektum dan colon. Jika terdapat kondisi tidak normal bisa sekaligus dilakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologi jaringan lebih lanjut.

Tes fungsi usus dilakukan dengan pemeriksaan sinar-X ditambah pemakaian marker radioaktif, scintigraphy, defecography, manometri anorektal, atau balloon expulsion test sehingga bisa diketahui bagaimana zat akan berjalan di dalam usus. Pemeriksaan penunjang dengan diagnosis pencitraan seperti ultrasonografi (USG) abdomen, magnetic resonance imaging (MRI), computerised tomography scan (CT scan) atau pemeriksaan lainnya untuk melihat organ dalam tubuh lebih detail.

Terapi dan Tata Laksana Konstipasi

Terapi dilakukan dengan modifikasi gaya hidup sehat dan pengobatan. Konstipasi akibat komplikasi penyakit lain maka dilakukan pengobatan penyakit penyebab terjadinya sembelit susah BAB. Lakukan aktivitas fisik serta olahraga secara teratur supaya gerak usus baik. Jaga asupan air dan serat supaya cukup. Makan sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan serat harian. Serat pangan bersama air akan membantu menjaga konsistensi feses lunak.

Latihan usus besar untuk memperbaiki kebiasaan BAB. Pada kondisi normal biasanya akan merasa kebelet ingin buang air besar setelah sarapan di pagi hari. Setelah 15 – 45 menit selesai sarapan bisa coba pergi ke toilet untuk BAB. Lakukan relaksasi dan atur posisi duduk dengan kaki diatas footstool (jika pakai toilet duduk) sehingga mudah BAB. Lakukan buang air besar secara rutin sehingga tubuh akan memiliki pola BAB. 

Jika mengalami konstipasi segera coba untuk membuat tinja lebih lembut sehingga mudah dikeluarkan. Dokter akan memberikan saran untuk:

  • Konsumsi aneka ragam bahan makanan sumber serat seimbang 
  • Minum air putih untuk memenuhi asupan cairan harian
  • Hidup aktif dengan juga rutin melakukan olahraga latihan fisik secara bertahap sesuai kondisi
  • Biasakan BAB secara rutin, terutama di pagi hari setelah sarapan
  • Hindari terlalu banyak makan keripik, daging merah, makanan olahan, makanan cepat saji, makanan instan

Jika susah BAB muncul akibat efek samping pengobatan maka diskusikan bersama dokter untuk mengubah dosis atau jenis obat. Jangan pernah menghentikan pengobatan tanpa petunjuk dokter. Ada baiknya diskusi konsultasikan pemilihan pengobatan lebih lanjut bersama dokter anda.

Dokter biasanya meresepkan laksatif untuk melancarkan gerak usus besar. Namun pastikan bijak mengkonsumsi obat-obatan laksatif ini. Tetap lakukan perubahan gaya hidup dan pola makan sehat sebagai pilihan terapi utama. Laksatif hanya digunakan jika konstipasi tidak membaik dengan cara penanganan lain. Pada kondisi permasalahan otot pengatur gerak usus akan dilakukan fisioterapi untuk melatih otot. Jika terjadi masalah sumbatan usus akibat gangguan anatomi, prolapsus rektal, kelainan usus maka akan dilakukan tindakan operasi.

Komplikasi Konstipasi

Konstipasi dalam waktu lama bisa menimbulkan berbagai komplikasi, diantaranya:

  • wasir/ambeien
  • luka pada anus hingga terbentuk fissura anus
  • usus besar rusak akibat prolapsus rektum
  • impaksi feses hingga sulit dikeluarkan
  • inkontinensia fecal
  • inkontinensia urin

Sembelit/konstipasi bisa disebabkan karena pola makan tinggi kalori rendah serat. Pola makan rendah asupan serat pangan akan lebih berisiko menyebabkan kanker kolorektal. 

Tips Kiat Mencegah Konstipasi

Konstipasi bisa dicegah dengan:

  • Makan aneka ragam bahan makanan sumber serat
  • Minum air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh
  • Lakukan gaya hidup sehat aktif dalam kehidupan sehari-hari
  • Bangun kebiasaan BAB harian yang baik secara rutin
  • Lakukan terapi tata laksana kondisi lain yang berisiko menyebabkan sembelit/konstipasi

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.