Penyakit Kanker

Kanker Payudara

KANKER PAYUDARA

Pengertian Kanker Payudara

Payudara wanita merupakan organ tubuh dengan fungsi utama untuk memproduksi ASI. Setiap payudara tersusun atas sel-sel kelenjar dalam lobus dan ductus saluran ASI. Setiap payudara memiliki 15 hingga 20 lobus yang tiap-tiap lobus terbagi dalam lobulus. Lobulus tersusun atas bagian-bagian kecil alveolus yang memproduksi ASI. Saluran ductus akan menghubungkan alveolus, lobulus juga lobus kemudian berakhir di pori-pori pada ujung puting. 

payudara.jpg
Anatomi Payudara (sumber CDC)

Kanker payudara merupakan kanker terbanyak pada wanita. Setiap tahun terdapat sekitar 2,1 juta penderita kanker payudara di seluruh dunia. Pada tahun 2018 terdapat sekitar 670.000 wanita meninggal akibat kanker payudara. Kanker payudara merupakan salah satu prevalensi kanker tertinggi di Indonesia, yaitu 50 per 100.000 penduduk  dengan angka kejadian tertinggi di D.I Yogyakarta sebesar 24 per 10.000 penduduk sesuai informasi dari Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun 2013. Meskipun sangat jarang, pria juga bisa mengalami kanker payudara.

Kanker payudara termasuk dalam 10 penyebab kematian terbanyak pada perempuan di Indonesia dengan angka kematian 21,5 per 100.000 penduduk. 

Kanker payudara merupakan penyakit keganasan dari sel-sel di payudara. Pada artikel ini akan lebih banyak membahas kanker payudara pada wanita. Tipe kanker payudara paling sering yaitu karsinoma ductal dan karsinoma lobular. Karsinoma ductal invasif berasal dari sel-sel ductus yang menjadi ganas. Karsinoma lobular invasif merupakan keganasan yang berasal dari sel-sel di lobus payudara.

Ductal carcinoma in situ (DCIS) merupakan penyakit keganasan pada sel-sel saluran ductus. Lobular carcinoma in situ (LCIS) merupakan penyakit keganasan pada sel-sel. Namun keganasan DCIS dan LCIS belum menyebar ke bagian jaringan lain. DCIS menjadi asal muasal perkembangan kanker payudara. Ada juga kondisi keganasan payudara lain sepetti Paget’s disease, kanker medullaris, kanker mucinosa, peradangan kanker payudara.

Penyebab Kanker Payudara

Terjadi kerusakan DNA sehingga sel normal berubah menjadi sel ganas. Sel-sel ganas berkembang sehingga menyebabkan penyakit kanker. Namun belum diketahui secara pasti penyebab munculnya keganasan. Kombinasi pengaruh lingkungan dan genetik dipercaya mempengaruhi keganasan sel. Saat ini beberapa kondisi tertentu dicurigai bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

Faktor Risiko Kanker Payudara

Kanker payudara memiliki banyak faktor risiko antara lain:

  • memiliki riwayat genetik mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.
  • umur: risiko mengalami kanker payudara lebih besar dengan pertambahan usia, paling banyak di umur 50 tahun ke atas
  • jenis kelamin: wanita lebih berisiko mengalami kanker payudara
  • riwayat keluarga dengan kanker payudara: 5 – 10% kanker payudara dipengaruhi faktor herediter
  • memiliki kondisi jaringan payudara lebih padat 
  • hyperplasia sel payudara, DCIS, LCIS
  • densitas sel payudara tinggi dilihat dari hasil biopsi
  • paparan sinar radiasi di regio dada
  • menarche di usia terlalu dini (kurang dari 12 tahun)
  • menopause di usia terlalu lambat (di atas 55 tahun)
  • tidak punya anak
  • punya anak pertama di atas umur 30 tahun
  • memakai pil kontrasepsi hormonal (berhenti memakai akan menghilangkan faktor risiko dari pemakaian, lakukan konseling keluarga berencana)
  • berat badan berlebih atau bahkan mengalami obesitas
  • pemakaian terapi hormon untuk menopause 
  • konsumsi alkohol berlebihan
  • riwayat pernah mengalami tumor, benjolan, kanker payudara sebelumnya

Harap diperhatikan bahwa memiliki faktor risiko belum tentu akan mengalami sakit dan tidak memiliki faktor risiko juga belum tentu bebas dari kemungkinan bisa sakit. Hampir sebagian besar wanita bisa berisiko mengalami kanker payudara. Namun, kanker payudara juga bisa terjadi pada pria. Risiko pria mengalami kanker payudara sekitar 1 dari 883 pria di Amerika Serikat.

Tanda dan Gejala Kanker Payudara

Tanda gejala penyakit payudara stadium awal seringkali tidak jelas. Sementara jika pada kanker payudara stadium lanjut akan memiliki banyak gejala. Kanker payudara sangat ganas sehingga juga bisa menimbulkan komplikasi metastasis kanker ke organ tubuh lain. 

Waspada jika terdapat satu atau lebih tanda gejala berikut:

  • perubahan ukuran atau bentuk pada satu atau lebih payudara
  • keluar cairan tidak normal dari puting, terkadang disertai darah
  • benjolan atau pembengkakan di area ketiak
  • kulit payudara terdapat lekukan seperti tertarik ke dalam
  • ruam kemerahan di area sekitar atau di puting
  • perubahan tekstur kulit jadi bersisik, membengkak, merah pada kulit payudara, areola dan puting
  • pori-pori kulit menyerupai kulit jeruk peau d’orange
  • perubahan pada puting, seperti puting tertarik masuk atau tenggelam dalam payudara (puting mendadak inversi)
  • perubahan apapun di payudara dan puting
  • ada area payudara terasa nyeri sakit 

Rasa nyeri jarang bisa dirasakan pada kanker payudara stadium awal. Gejala paling mudah dikenali yaitu benjolan atau penebalan di area payudara. Banyak benjolan payudara disebabkan oleh kondisi lain, jadi sebaiknya segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter. Banyak kondisi penyakit memiliki gejala serupa, periksa ke dokter menjadi cara terbaik mengetahui penyebab munculnya keluhan gejala.

Idealnya kanker terdeteksi saat pre-invasif stadium 0 dimana masih carcinoma in situ. Namun, kanker payudara stadium dini ini bahkan belum tampak jelas tanda gejala penyakitnya sehingga seringkali terlewat. Lakukan pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) secara rutin setiap bulan. Lakukan pemeriksaan klinis payudara (SADANIS) bersama tenaga kesehatan berkompeten juga pemeriksaan mamografi dan/atau USG secara rutin meski tidak mengalami tanda gejala sakit.

Baca informasi tentang Periksa Payudara Sendiri (SADARI) lebih lanjut disini

Diagnosis dan Pemeriksaan Kanker Payudara

Pemeriksaan payudara dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya sesuai kondisi. Pada pemeriksaan fisik akan dilakukan pemeriksaan SADANIS untuk mencari benjolan tidak normal pada payudara juga kelenjar getah bening di sekitarnya. Jika hasil pemeriksaan terdapat kecurigaan kanker, maka akan dilakukan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis.

Pemeriksaan mamografi dan ultrasonografi (USG) payudara dilakukan untuk mendapat gambaran kondisi jaringan payudara. Pada usia kurang dari 35 tahun dilakukan pemeriksaan USG untuk mendapat gambaran lebih jelas. USG juga dilakukan untuk mengetahui penyebab benjolan apakah massa kistik atau solid. Biopsi dilakukan untuk mendapatkan sampel jaringan. Jaringan kemudian dilakukan pemeriksaan patologi anatomi memakai mikroskop. Kelenjar getah bening juga dilakukan pemeriksaan scan atau bahkan biopsi.

Pemeriksaan penunjang dengan diagnosis pencitraan seperti foto thoraks, USG abdomen, magnetic resonance imaging (MRI), computerised tomography scan (CT scan), positron emission tomography (PET) scan dilakukan untuk melihat gambaran lebih detail organ tubuh serta mendeteksi jika ada penyebaran sel kanker. Kanker payudara juga dinilai melalui tingkat stadium kanker dan tingkat derajat kondisi sel.

Jika ditemukan sel-sel kanker akan dilakukan pengetesan lebih lanjut untuk mengetahui reseptor estrogen, reseptor progesteron, gen dan protein HER2/neu juga tes genetik multipel supaya diketahui:

  • kecepatan sel tumbuh,
  • cara kanker menyebar,
  • pemilihan terapi,
  • kemungkinan rekurensi

smartselectimage_2019-01-08-08-07-43-01

Pemeriksaan Mamografi

Terapi dan Tata Laksana Kanker Payudara

Terapi kanker payudara dipilih berdasarkan jenis kanker dan kondisi penyebaran. Terapi kanker payudara biasanya dilakukan dengan prosedur operasi. Tindakan operasi bisa lumpektomi, mastektomi, radikal mastektomi tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Terapi lain meliputi radioterapi, kemoterapi, terapi hormon dan terapi target kanker payudara. Kemoterapi diberikan obat-obatan diminum atau disuntikkan untuk mematikan sel-sel kanker dan membuat kanker menyusut. Terapi hormon akan mengeblok sel-sel kanker dari hormon sehingga kanker tidak berkembang. Terapi biologis memakai sistem imunitas untuk melawan sel-sel kanker atau mengontrol efek samping terapi lain. Terapi radiasi memakai radiasi untuk mematikan sel kanker.

Penanganan kanker akan dilakukan oleh tim tenaga kesehatan yang terdiri dari berbagai keahlian sehingga proses terapi bisa secara menyeluruh. Prognosis terapi bergantung pada:

  • Stadium kanker saat ditemukan apakah terbatas atau telah menyebar ke organ tubuh lain
  • Tipe kanker penyebab keganasan
  • Reseptor estrogen atau progesteron pada jaringan tumor
  • Kadar HER2/neu pada jaringa tumor
  • Kanker payudara triple negative
  • Ukuran tumor dan kecepatan pertumbuhan tumor
  • Umur pasien
  • Kondisi kesehatan umum pasien Sudah menopause atau belum
  • Terdiagnosis pertama kali atau sebelumnya sudah pernah mengalami keganasan 

Tips Kiat Mencegah Kanker Payudara

Lakukan pencegahan kanker payudara dengan gaya hidup sehat seimbang serta deteksi dini penyakit. Deteksi dini kanker payudara dilakukan dengan:

  1. Periksa payudara sendiri
  2. Pemeriksaan payudara klinis
  3. Pemeriksaan mamografi

Skrining kanker payudara dilakukan dengan pemeriksaan fisik oleh dokter kemudian dilakukan mammografi. Mammografi ditambah pemeriksaan USG hasilnya akan lebih akurat. Namun pemeriksaan USG saja tidak bisa menggantikan peran mammografi. Pemakaian mammografi serta USG tidak membahayakan sehingga tetap lakukan pemeriksaan mammografi sesuai saran dokter.

Hamil, melahirkan dan menyusui membantu menurunkan risiko kanker payudara. Menjaga berat badan ideal, rutin latihan fisik dan senang makan buah sayur juga membantu mencegah kanker. Hindari konsumsi alkohol dan merokok. Lakukan konseling pemeriksaan komprehensif saat akan memakai pil KB atau terapi hormonal. Gunakan alat pelindung diri untuk menghindari paparan zat kimia berbahaya. Lakukan konseling genetik jika memiliki keluarga dengan riwayat mutasi gen BRCA1 dan BRCA2. Jika terjadi mutasi genetik BRCA1 dan BRCA2 bisa dipertimbangkan pemberian pengobatan, mastektomi, salpingo-oophorektomi. Diskusikan lebih lanjut bersama dokter.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.