Kesehatan Umum

Tuli dan Gangguan Pendengaran

GANGGUAN PENDENGARAN

Pengertian Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran merupakan beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang tidak bisa mendengar bunyi suara dengan jelas seperti kondisi normal. Terdapat 2 tipe tuli yang menyebabkan gangguan pendengaran, yaitu:

  • Tuli akibat kerusakan serabut saraf pendengaran
  • Tuli akibat gelombang suara tidak berjalan lancar
anatomi telinga.jpg Anatomi Telinga (Medline Plus)
Proses mendengar suara terjadi ketika gelombang suara memasuki liang telinga diubah menjadi gelombang getaran vibrasi yang berjalan di tulang-tulang pendengaran menuju organ pendengar di telinga dalam kemudian diteruskan menjadi sinyal-sinyal yang berjalan di serabut saraf pendengaran menuju pusat mendengar di otak. Gelombang suara masuk ke liang teliga kemudian menimbulkan vibrasi di gendang telinga. Vibrasi diteruskan ke tulang pendengaran hingga ke telinga dalam. Vibrasi getaran berjalan di cairan dalam rumah siput cochlea kemudian ditangkap oleh sel-sel rambut di telinga dalam akan diteruskan menuju ke otak. 

Penyebab Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran bisa disebabkan karena:

  • Tersumbatnya liang telinga akibat kotoran cerumen prop atau benda asing
  • Kerusakan telinga bagian dalam sehingga terjadi kerusakan saraf pendengaran
  • Kerusakan gendang telinga (membrana timpani)
  • Gangguan telinga tengah akibat infeksi
  • Kelainan kongenital, tumbuh tumor atau penyakit keganasan

Tuli konduksi terjadi jika terdapat sumbatan di telinga sehingga rangsang gelombang suara tidak bisa dihantarkan. Permasalahan terjadi jika terjadi radang pada liang telinga, tumpukan kotoran telinga (cerumen props), kista, tumor, cairan di telinga tengah, robeknya gendang telinga. Kondisi tuli konduksi ini bisa diatasi dengan pengobatan medis secara tepat.

Tuli sensorineural merupakan jenis tuli permanen akibat kerusakan sel-sel di koklea serta sel saraf auditorius yang menghantarkan rangsang suara ke otak. Faktor risiko penyebab tuli antara lain pertambahan usia dan paparan suara keras. Paparan suara yang merusak telinga ini bisa berasal dari tempat kerja, kebiasaan mendengar music dengan keras dan bahkan memakai MP player dengan keras dalam waktu lama. Infeksi gondongan (mumps), campak morbili, rubella, meningitis, cytomegalovirus, dan otitis media kronis menyebabkan 31% problematika tuli/gangguan pendengaran pada anak.

Faktor Risiko Gangguan Pendengaran

Beberapa kondisi bisa menyebabkan atau meningkatkan risiko mengalami gangguan pendengaran. Kondisi tersebut dapat berupa kelainan kongenital akibat gangguan saat masih janin di dalam rahim atau ketika persalinan dan penyebab lain yang didapat.

Faktor risiko penyebab tuli akibat kondisi kongenital, yaitu:

  • Infeksi rubella, sifilis atau infeksi lain pada ibu hamil
  • Bayi prematur
  • Bayi berat lahir rendah
  • Asfiksia saat persalinan
  • Pemakaian obat tertentu saat ibu hamil
  • Mengalami kondisi jaundice sangat berat
  • Kelainan genetik tertentu yang diwariskan

Penyebab tuli yang didapat:

  • Infeksi campak morbili, infeksi gondongan (mumps), meningitis
  • Infeksi telinga kronis
  • Otitis media supuratif sehingga terjadi penumpukan cairan di telinga tengah
  • Pemakaian obat-obatan tertentu
  • Cidera kepala atau perlukaan pada telinga
  • Paparan suara sangat keras baik mendadak (ledakan) atau kronis (mesin di tempat kerja)
  • Paparan suara keras dari pusat hiburan, tempat rekreasi atau media alat secara rutin dalam waktu lama
  • Proses penuaan dimana terjadi degenerasi sel-sel sensorik di telinga
  • Telinga kemasukan benda asing
  • Cerumen prop
  • Neuropati auditori 

Tanda dan Gejala Gangguan Pendengaran

Tuli merupakan permasalahan yang sering dijumpai pada orang usia lanjut. Tuli terdapat dua macam yaitu tuli konduksi dan tuli sensorineural. Tuli bisa derajat ringan dimana penderita masih mampu mendengar, hingga derajat berat dimana penderita tidak bisa mendengar suara sama sekali.

Gejala mengalami gangguan pendengaran diantaranya:

  • Kurang jelas saat mendengar suara orang berbicara dan suara sekitar
  • Kesulitan memahami kata-kata terutama saat di tempat ramai dan banyak orang
  • Sulit mendengar bunyi konsonan
  • Sering bertanya ulang
  • Sering meminta orang lain mengulangi bicara, melambatkan bicara dan mengeraskan suara saat bicara
  • biasanya penderita sulit untuk diajak berbicara dengan suara normal
  • senang mendengar suara audio keras seperti menyetel televisi/radio dengan keras 
  • mudah marah tersinggung sebab salah pengertian saat berkomunikasi
  • Menarik diri dari kehidupan sosial
  • Jadi pendiam malas mengobrol

Diagnosis dan Pemeriksaan Gangguan Pendengaran

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika terjadi gangguan pendengaran atau keluhan pada telinga. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Telinga akan diperiksa memakai otoskopi. Kualitas pendengaran akan dilakukan tes dengan garpu tala, tes audiometri dan pemeriksaan lain pada bagian telinga, leher, kepala sesuai kondisi. 

Terapi dan Tata Laksana Gangguan Pendengaran

Terapi dilakukan sesuai penyebab gangguan pendengaran. Cerumen prop diatasi dengan membersihkan tumpukan kotoran di liang telinga. Dilakukan pengobatan jika terjadi peradangan, infeksi atau kerusakan membrana timpani. Pilihan terapi untuk tuli bisa dengan pemberian alat bantu dengar, implantasi cochlea, rehabilitasi dengan latihan khusus, pengobatan dan tindakan operasi.

Komplikasi Gangguan Pendengaran

Gangguan pendengaran bisa menimbulkan masalah gangguan kejiwaan seperti stres, depresi, anxietas hingga gangguan bersosialisasi. Penderita mengalami kesepian, frustasi dan sering menyendiri. Masalah pendengaran menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$ 750 juta.

Tips Kiat Mencegah Gangguan Pendengaran

Beberapa penyebab tuli bisa dicegah seperti pemakaian vaksin untuk mencegah infeksi campak morbili, mumps dan rubella, vaksin untuk mencegah radang telinga tengah akibat infeksi Haemophylus influenza tipe B, vaksin untuk mencegah penyakit meningitis. Gunakan alat pelindung diri untuk melindungi telinga dari suara keras di atas 85 desibel.

Lakukan pencegahan tuli dengan menjaga kesehatan telinga. Kenali polusi suara di lingkungan sekitar maupun tempat kerja. Gunakan pelindung telinga yang cocok serta nyaman. Jika anda telah mengalami tuli maka komunikasikan bersama orang-orang di sekitar. Minta orang lain untuk berbicara dengan jelas. Bicara dengan nada rendah namun diartikulasikan dengan jelas lebih mudah dipahami dibandingkan bicara dengan suara keras. Perhatikan ekspresi mimik wajah untuk membaca gerak bibir orang yang mengajak berbicara. Alat bantu dengar bisa membantu pada beberapa kasus. Konsultasikan bersama dokter spesialis THT untuk memantau kesehatan telinga.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.