Penyakit Kanker

Kanker Esofagus

KANKER ESOFAGUS

Pengertian Kanker Esofagus

Esofagus merupakan saluran penghubung antara mulut dengan lambung. Panjang organ sekitar 25 – 33 cm dengan diameter paling sempit sekitar 2 cm. Dinding esofagus memiliki lapisan dari luar ke dalam dibentuk oleh lapisan jaringan ikat, lapisan otot, lapisan submukosa dan lapisan mukosa dengan lamina propria, lamina muscularis dan epitel esofagus. Makanan dan minuman berjalan dengan dorongan gerak peristaltik esofagus menuju ke lambung.

saluran pencernaan.jpg

Kanker esofagus merupakan penyakit akibat keganasan sel-sel di esofagus. Kanker biasanya berasal dari sel-sel di lapisan mukosa. Ada 2 jenis sel utama di epitel mukosa sehingga kanker esofagus terdapat:

  1. Karsinoma sel squamosa: Karsinoma berasal dari sel squamosa pembentuk utama dinding mukosa esofagus. 
  2. Adenokarsinoma: Adenokarsinoma berasal dari sel-sel glandular penghasil mukus.

Pada kondisi sangat jarang, bisa juga terjadi kanker tipe lain seperti sarkoma, melanoma dan limfoma di esofagus.

Penyebab Kanker Esofagus

Terjadi kerusakan DNA sehingga sel normal berubah menjadi sel ganas. Sel-sel ganas berkembang bisa menyebabkan penyakit kanker. Belum diketahui secara pasti penyebab munculnya keganasan sel di esofagus. Namun beberapa kondisi telah dikenali bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker esofagus.

Faktor Risiko Kanker Esofagus

Kondisi berikut ini bisa meningkatkan risiko mengalami kanker esofagus, diantaranya:

  • Umur: risiko kanker esofagus makin besar dengan bertambahnya usia
  • Jenis kelamin: pria lebih berisiko dibanding wanita
  • Memiliki refluks gastroesophageal reflux disease (GERD) berisiko terjadi Barret esophagus hingga adenokarsinoma
  • Memiliki kondisi Barrett’s (or Barrett) esophagus dimana sel-sel esofagus bagian bawah mengalami kerusakan kronis hingga terjadi displasia akibat paparan asam lambung dalam waktu lama sehingga berisiko terjadi adenokarsinoma
  • Merokok dan memakai produk tembakau lainnya: rokok, cerutu, mengunyah tembakau, dll
  • Konsumsi alkohol
  • Kombinasi minum alkohol dan merokok akan semakin meningkatkan risiko
  • Kegemukan dan obesitas meningkatkan risiko terjadi GERD dan adenokarsinoma
  • Pola makan tertentu contohnya konsumsi daging olahan (processed meat) terlalu tinggi, jarang makan buah sayur, terlalu sering minum air sangat panas suhu di atas 65° C
  • Paparan toksin dari lingkungan
  • Mengalami kondisi achalasia esofagus dalam waktu sangat lama sehingga sel-sel esofagus terpapar zat makanan lebih lama dibanding waktu transit normal
  • Memiliki tylosis sehingga rentan tumbuh benjolan papilloma di esofagus yang berisiko terjadi karsinoma
  • Memiliki Plummer-Vinson Syndrome berisiko mengalami anemia defisiensi besi dan pertumbuhan tidak normal di esofagus
  • Paparan toksin di tempat kerja atau lingkungan
  • Infeksi HPV: infeksi human papilloma virus ditemukan pada sepertiga kasus kanker esofagus di daerah Asia dan Afrika Selatan
  • Riwayat mengalami kanker lain: penderita kanker paru, kanker mulut, kanker tenggorokan berisiko lebih tinggi mengalami karsinoma sel squamosa di esofagus

Harap diperhatikan bahwa memiliki faktor risiko belum tentu akan mengalami sakit dan tidak memiliki faktor risiko juga belum tentu bebas dari kemungkinan bisa sakit.

Tanda dan Gejala Kanker Esofagus

Kanker esofagus biasanya terdiagnosis karena menimbulkan keluhan gejala. Gejala paling sering, yaitu:

  • kesulitan menelan
  • rasa sakit di belakang tulang dada
  • dada nyeri terasa panas seperti terbakar
  • penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas
  • suara serak atau batuk

Permasalahan paling sering dikeluhkan akibat kanker esofagus merupakan masalah menelan. Gumpalan makanan terasa tercekat di tenggorokan atau dada, bahkan jadi sering tersedak saat makan. Kondisi ini disebut disfagia. Tanpa sadar penderita akan mengubah pola makannya menjadi hanya makan makanan lembut, mengunyah sedikit demi sedikit makanan, menghindari daging atau makanan yang sulit ditelan. Pada kondisi berat akhirnya hanya minum susu atau makanan cair sebab tidak bisa menelan makanan padat lagi. Ludah akan diproduksi sangat banyak oleh tubuh untuk mengkompensasi disfagia sehingga penderita mengeluh sangat banyak ludah di mulut.

Dada terasa sakit, tidak nyaman, seperti sensasi terbakar juga terasa sakit saat menelan makanan/minuman. Rasa sakit muncul ketika makanan atau cairan mulai mendekati lokasi kanker serta saat melewati kanker. Metabolisme kanker juga kesulitan makan menyebabkan penurunan berat badan. Bisa muncul gejala tidak spesifik lainnya seperti suara serak, batuk kronis, muntah, cegukan, nyeri di bagian tulang dan perdarahan esofagus. Darah bisa tertelan kemudian menyebabkan timbulnya feses berwarna kehitaman. Perdarahan kronis bisa menyebabkan anemia sehingga penderita mengalami komplikasi akibat anemia.

Segera periksa ke dokter jika mengalami salah satu atau lebih keluhan tanda gejala sakit di atas. Banyak kondisi penyakit memiliki gejala serupa, periksa ke dokter menjadi cara terbaik mengetahui penyebab munculnya keluhan gejala. Sayangnya kondisi kanker esofagus stadium awal seringkali tidak menimbulkan keluhan gejala sehingga sulit terdiagnosis lebih dini. 

Pemeriksaan dan Diagnosis Kanker Esofagus

Sebaiknya segera periksa ke dokter jika terdapat keluhan gejala sakit di dada, sakit saat menelan atau gejala lain yang tidak normal. Dokter akan melakukan diagnosis dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tes darah, serta tes pemeriksaan lain yang sekiranya diperlukan. Pemeriksaan kanker esofagus dilakukan untuk mengetahui tipe kanker penyebab dan menentukan stadium tingkat keparahan penyakit.

Pemeriksaan foto dada dengan sinar-X, barium enema, endoskopi, dan biopsi. Jaringan sampel hasil biopsi akan diperiksa dengan mikroskop. Pemeriksaan computerised tomography scan (CT scan), scan endoskopi ultrasonografi, positron emission tomography (PET) scan dan laparoskopi dikerjakan untuk diagnosis stadium. Tes darah biasanya dilakukan untuk mengecek kondisi darah rutin dan tes fungsi hati. Stadium penyakit ditentukan oleh lokasi dan ukuran, penyebaran ke kelenjar getah bening, penyebaran ke organ tubuh lain.

Terapi dan Tata Laksana Kanker Esofagus 

Penanganan kanker akan dilakukan oleh tim tenaga kesehatan yang terdiri dari berbagai keahlian sehingga proses terapi bisa secara menyeluruh. Pengobatan kanker esofagus terdapat beberapa pilihan seperti tindakan operasi, reseksi mukosa memakai endoskopi, pemasangan stent, radioterapi, kemoterapi, terapi target langsung ke kanker, imunoterapi. Pemilihan terapi bergantung pada stadium penyakit, kesuksesan tindakan operasi dan kondisi umum pasien. Diskusikan pemilihan terapi lebih lanjut bersama tim dokter.

Tips Kiat Mencegah Kanker Esofagus

Tidak semua kanker bisa dicegah, namun kita bisa mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi risiko mengalami sakit kanker. Pencegahan kanker esofagus dengan berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, hindari alkohol, jalani terapi pengobatan GERD, makan sehat dengan benar dan jaga berat badan ideal.

Pola makan kaya akan buah juga sayuran bantu menurunkan risiko kanker esofagus. Penyakit refluks dan GERD bisa dilakukan pengobatan untuk mengendalikan asam lambung sehingga mencegah proses kerusakan sel-sel esofagus lebih lanjut. Terapi asam lambung akan meringankan derajat penyakit dengan mengurangi gejala dan mencegah komplikasi di masa depan.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.