Penyakit Kanker

Kanker Rahim

KANKER RAHIM

Pengertian Kanker Rahim

Kanker rahim merupakan penyakit keganasan pada organ rahim. Sel-sel endometrium merupakan penyebab pertama paling sering terjadinya kanker pada rahim. Oleh sebab itu, kanker endometrium sering disebut sebagai kanker rahim. Pada kondisi sangat jarang bisa pula muncul keganasan dari sel-sel otot penyusun dinding rahim sehingga disebut sarcoma uteri. Kanker rahim dibedakan dengan kanker ovarium dan kanker serviks. Kanker rahim paling sering dialami pada kelompok wanita mengalami menopause atau yang sudah menopause.

Penyebab Kanker Rahim

Penyebab utama kanker rahim belum diketahui. Kanker endometrium terjadi ketika sel-sel endometrium rahim mulai tumbuh dengan cepat. Lapisan endometrium mengalami penebalan di beberapa tempat. Penebalan akan membentuk benjolan yang disebut tumor.

Faktor Risiko Kanker Rahim

Beberapa kondisi bisa menyebabkan risiko mengalami kanker rahim lebih tinggi, yaitu:

  • Umur: risiko mengalami kanker rahim makin besar dengan bertambah tua. Pada sebagian besar kasus terjadi di umur 40 tahun hingga 74 tahun. Hanya 1% kanker rahim yang terdiagnosis di umur kurang dari 40 tahun
  • Paparan hormon estrogen: Kadar estrogen tinggi berisiko lebih besar terjadi kanker rahim, terutama jika tidak seimbang dengan progesteron. Paparan estrogen kadar tinggi setelah masa menopause bisa berisiko kanker rahim lebih besar sebab saat menopause tubuh sudah tidak banyak memproduksi progesteron.
  • Obesitas: Hormon estrogen bisa diproduksi oleh jaringan lemak sehingga terjadi produksi hormon estrogen perifer dari sel-sel lemak lebih tinggi pada wanita yang terlalu gemuk. Kegemukan meningkatkan risiko kejadian kanker rahim 3 kali lipat, sangat obese meningkatkan risiko kanker rahim hingga 6 kali lipat dibandingkan wanita dengan berat badan ideal.
  • Riwayat reproduksi: wanita yang tidak pernah hamil memiliki risiko kanker rahim lebih tinggi sebab pada saat kehamilan kadar progesteron lebih tinggi dari estrogen.
  • Terapi memakai tamoxifen dalam jangka panjang. Pada wanita yang mendapatkan terapi tamoxifen akan dilakukan pemantauan lebih ketat. Segera periksa konsultasi ke dokter jika mengalami gejala keluhan perdarahan melalui vagina tidak normal.
  • Kadar hormon insulin tinggi akibat kondisi hiperinsulinemia.
  • Polycystic ovary syndrome meningkatkan risiko terjadi kanker rahim sebab terjadi kadar estrogen tinggi.
  • Penyakit genetik Lynch Syndrome
  • Hiperplasia endometrium terjadi pertumbuhan jaringan endometrium berlebihan sehingga berisiko menyebabkan kanker rahim lebih tinggi.

Tanda dan Gejala Kanker Rahim

Sebagian besar kanker rahim akan menunjukkan tanda gejala secara dini. Tanda gejala sakit kanker rahim paling sering dialami adalah perdarahan rahim tidak normal. Perdarahan rahim tidak normal pada wanita sudah menopause yaitu semua bentuk perdarahan yang keluar dari vagina. Perdarahan rahim tidak normal pada wanita belum menopause yaitu keluar darah diantara periode menstruasi normal, ngeflek, menstruasi tidak teratur atau keluar darah haid sangat deras pada waktu menstruasi.

Tanda gejala sakit kanker rahim yang lebih jarang seperti nyeri pada perut bagian bawah, sensasi seperti ditekan pada panggul, merasa kesakitan saat melakukan hubungan seksual. Jika kanker rahim sudah stadium tinggi maka bisa juga muncul keluhan gejala sakit pada punggung, sakit pada panggul, sakit pada kaki, kembung, nafsu makan menurun, mudah merasa kenyang, mudah lelah, mual, perubahan pola kencing dan buang air besar.

Pemeriksaan dan Diagnosis Kanker Rahim

Segera periksa konsultasi ke dokter jika mengalami perdarahan vagina tidak normal. Ada banyak penyebab perdarahan vagina tidak normal dimana kanker rahim hanya menjadi salah satunya saja. Namun, tidak ada salahnya lebih berhati-hati.

Diagnosis kanker rahim ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis kanker dilakukan untuk deteksi kanker penyebab serta menentukan stadium kanker. Pada pemeriksaan fisik juga akan ditawarkan pemeriksaan panggul untuk melihat kondisi organ di dalam panggul. Pemeriksaan juga dilakukan untuk menyingkirkan penyakit lain penyebab keluhan mirip kanker rahim, seperti penyakit endometriosis dan mioma uteri.

Pemeriksaan ultrasonografi vagina dilakukan untuk melihat apakah terjadi perubahan pada lapisan dinding rahim, termasuk pertambahan ketebalan, keberadaan kista atau massa benjolan tidak normal. Dokter akan menilai ketebalan endometrium dan ukuran rahim. Pemeriksaan biopsi untuk mengambil sampel jaringan jika lapisan endometrium memiliki ketebalan tidak normal. Hasil sampel jaringan biopsi digunakan untuk melihat sel-sel di laboratorium bermanfaat sebagai deteksi penyakit penyebab gejala keluhan. Biopsi dilakukan dengan histeroskopi atau dengan dilatasi dan kuretase. Tes diagnosis dengan pencitraan seperti pemeriksaan X-rays, CT scan, MRI (magnetic resonance imaging) dilakukan untuk mendeteksi massa tumor juga kondisi organ di dalam tubuh.

Terapi dan Tata Laksana Kanker Rahim

Pasien kanker akan ditangani oleh tim medis dari berbagai spesialisasi sehingga terapi diharapkan lebih menyeluruh secara tuntas. Terapi kanker rahim bergantung pada:

  • Tipe dan ukuran kanker
  • Stadium kanker saat terdiagnosis
  • Kondisi kesehatan umum pasien
  • Kanker telah menyebar ke organ lain atau belum menyebar
  • Pertimbangan kesuburan

Terapi paling sering dengan tindakan operasi, terutama jika pasien telah mengalami menopause serta tidak ingin menambah anak lagi. Pada stadium awal, histerektomi bisa mengatasi kanker rahim juga mencegah kekambuhan. Namun prosedur histerektomi menyebabkan tidak bisa hamil lagi. Histerektomi bisa dikerjakan dengan pengangkatan ovarium sekaligus tuba fallopii (salpingo-oophorectomy). Terapi lainnya meliputi radioterapi, kemoterapi atau terapi hormonal tergantung kondisi juga stadium penyakit. Diskusikan pemilihan terapi lebih lanjut bersama tim dokter.

Pasien akan dilakukan pemeriksaan rutin setelah selesai menjalani terapi pengobatan. Angka harapan hidup 5 years survival rate dari kanker rahim stadium I yang menjalani pengobatan bisa sampai 90%. Lakukan gaya hidup sehat seimbang dengan pola makan sehat dan rutin berolahraga untuk menurunkan risiko kekambuhan.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.