Penyakit Kanker

Kanker Kolorektal

KANKER USUS BESAR

Pengertian Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal merupakan kanker yang terjadi di usus besar kolon dan rektum. Kanker kolorektal sering juga hanya disebut kanker kolon (colon cancer). Kanker kolorektal merupakan kanker nomor tiga terbanyak di Indonesia (Depkes). Jumlah penderita kanker kolorektal di seluruh dunia sekitar 1,80 juta dengan menyebabkan kematian kedua terbesar yaitu 862.000 jiwa di tahun 2018.

Kolon merupakan bagian dari sistem pencernaan manusia. Pada usus besar terjadi proses penyerapan nutrisi vitamin, mineral, karbohidrat, lemak, protein dan air serta membuang material kotoran sisa dari sistem pencernaan juga tubuh. Kolon merupakan bagian pertama dari usus besar sedangkan rektum merupakan bagian akhir dari usus besar. Rektum akan menyerap air dari sisa metabolisme makanan kemudian membentuk feses yang akan dibuang melalui anus. 

colon_illustration_lg.jpg 
Usus (sumber gambar CDC)

Penyebab Kanker Kolorektal

Kanker kolon terjadi karena keganasan sel-sel di kolon. Kanker rektal terjadi karena keganasan sel-sel di rektal. Kanker bisa terjadi akibat pertumbuhan tidak normal sel-sel usus membentuk polip yang kemudian menjadi ganas. Penyebab pasti terjadi mutasi gen sehingga muncul sel-sel usus ganas belum diketahui. Namun beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadi kanker usus telah dikenali.

Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Semua orang bisa mengalami kanker kolorektal. Beberapa kondisi terkait dengan peningkatan risiko mengalami kanker kolorektal lebih tinggi. Risiko terjadi kanker lebih tinggi saat bertambah tua. Sebagian besar kasus 90% kanker kolorektal terjadi pada orang di atas usia 50 tahun. Faktor risiko lain meliputi:

  • Memiliki riwayat penyakit peradangan usus besar seperti Crohn’s disease atau ulcerative colitis.
  • Riwayat penyakit keluarga dengan kanker kolorektal atau polip kolorektal.
  • Memiliki sindroma genetik tertentu seperti familial adenomatous polyposis (FAP) atau hereditary non-polyposis colorectal cancer (Lynch syndrome).
  • Ras berkulit hitam.

Gaya hidup juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker kolorektal, contohnya seperti:

  • Gaya hidup kurang aktif
  • Jarang makan sayur dan buah
  • Pola makan dengan diet tinggi lemak dan rendah serat
  • Kegemukan dan obesitas
  • Konsumsi alkohol
  • Merokok

Tanda dan Gejala Kanker Kolorektal

Tiga gejala utama kanker usus besar antara lain:

  • Terdapat darah di tinja/feses: terjadi tanpa penyebab yang tidak jelas atau berhubungan dengan perubahan pola BAB. Darah di feses bisa berwarna merah segar atau bisa juga feses jadi hitam.
  • Terjadi perubahan pola buang air besar (BAB) persisten: jadi sering BAB, sering diare, mencret, sembelit, rasa tidak tuntas saat BAB tanpa penyebab tidak jelas
  • Rasa nyeri, sakit, kram, rasa tidak nyaman, kembung pada perut bagian bawah saat makan serta berhubungan dengan kurangnya nafsu makan, penurunan nafsu makan atau penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

Gejala kanker usus memang seringkali tidak spesifik. Polip dan kanker stadium dini bahkan tidak menunjukkan keluhan gejala sama sekali. Disinilah pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan rutin deteksi dini kanker kolorektal.

Jika terjadi keluhan sakir perut tidak menghilang, darah saat BAB dan penurunan berat badan tidak jelas penyebabnya maka segera periksa konsultasikan lebih lanjut ke dokter. Terlebih pada orang sudah berumur atau memiliki faktor risiko.

Pemeriksaan dan Diagnosis Kanker Kolorektal

Jika mengalami keluhan gejala kanker usus sebaiknya segera periksa ke dokter. Banyak penyakit lain punya gejala serupa sehingga satu-satunya cara mengetahui tentu dengan periksa ke dokter. Dokter akan menegakkan diagnosis dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dilakukan untuk mengetahui riwayat keluhan gejala sakit serta riwayat penyakit dalam keluarga. Dokter akan melakukan pemeriksaan perut dan pemeriksaan usus memakai jari untuk meraba apakah terdapat benjolan.

Tes darah untuk pemeriksaan darah rutin juga mengetahui adanya tanda anemia serta pemeriksaan  carcinoembryonic antigen (CEA) dalam darah. Perdarahan usus akibat kanker bisa menyebabkan anemia defisiensi besi. Feses juga bisa dilakukan analisis di laboratorium. Pemeriksaan sigmoidoskopi, kolonoskopi dengan memakai kamera sangat kecil dilakukan untuk melihat kondisi dinding usus. Pemeriksaan USG abdomen membantu untuk melihat kondisi organ dalam perut, termasuk hati. Ada juga endorectal ultrasonografi. Biopsi dengan pemeriksaan histopatologi sampel jaringan dilakukan untuk mencari sel-sel tidak normal dan tanda keganasan. Pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI), computerised tomography scan (CT scan), positron emission tomography (PET) scan dilakukan untuk melihat gambaran lebih detail organ tubuh serta mendeteksi jika ada penyebaran sel kanker.

Terapi dan Tata Laksana Kanker Kolorektal

Pasien kanker akan ditangani oleh tim medis dari berbagai spesialisasi sehingga terapi diharapkan lebih menyeluruh secara tuntas. Kanker usus dilakukan terapi kombinasi sesuai dengan letak kanker dan kondisi penyebaran kanker.

Terapi kanker usus meliputi:

  • Tindakan operasi mengangkat usus yang mengalami kanker.
  • Kemoterapi dengan obat yang bisa mematikan sel-sel kanker.
  • Radioterapi dengan radiasi untuk mematikan sel-sel kanker.
  • Terapi biologis dengan pengobatan jenis baru yang bisa meningkatkan efektivitas kemoterapi serta mencegah kekambuhan penyakit.

Semakin dini stadium kanker terdeteksi maka diharapkan angka harapan hidup juga semakin besar. Prognosis dan keberhasilan terapi bergantung pada:

  • Stadium kanker saat ditemukan apakah baru berada di lapisan paling dalam usus atau telah menyebar ke dinding usus, kelenjar getah bening atau organ tubuh lain.
  • Apakah kanker saat ditemukan telah membuat usus berlubang atau telah memblokade usus.
  • Kesuksesan tindakan operasi dalam membersihkan sel-sel kanker
  • Apakah kanker terjadi kekambuhan
  • Kondisi kesehatan umum

Prognosis juga bergantung pada kadar carcinoembrionic antigen (CEA) dalam darah sebelum terapi dilakukan. CEA akan meningkat kadarnya saat terjadi keganasan.

Tips Kiat Mencegah Kanker Kolorektal

Cara mencegah risiko terjadinya kanker kolorektal dengan melakukan pemeriksaan deteksi dini secara rutin sesuai anjuran dokter. Sebagian besar kanker kolorektal berasal dari polip di kolon atau rektum. Polip tumbuh bertahun-tahun tanpa menunjukkan keluhan gejala sakit sebelum terjadinya keganasan, pemeriksaan skrining deteksi dini bantu untuk mendeteksi keberadaan polip. Polip kemudian akan diambil sehingga mencegah pembentukan sel-sel ganas. 

Pola makan rendah lemak, tinggi konsumsi serat sayuran serta sering makan buah juga biji-bijian utuh bantu menurunkan risiko penyakit kronis seperti penyakit arteri koroner, diabetes dan kanker kolorektal. Lakukan gaya hidup sehat dengan aktivitas fisik, menghindari konsumsi alkohol dan menghindari rokok juga pemakaian produk tembakau lainnya.

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.