Kesehatan Wanita

Mioma Uteri

FIBROID UTERUS

Pengertian Mioma Uteri

Mioma uteri atau fibroid uterus merupakan benjolan atau tumor sel-sel otot dalam rahim (uterus). Disebut juga leiomioma uteri. Mioma atau fibroid uterus biasanya bersifat jinak. Tumor ini bisa muncul tunggal atau bisa pula multipel ada sangat banyak. Ukurannya bisa sebesar biji apel atau hingga bisa sebesar jeruk dan pada beberapa kasus bisa sangat besar sekali.

uterine-fibroids-2Fibroid uterus (Womens Health)

Sekitar 20% hingga 80% wanita mengalami mioma saat umur 50 tahun. Proses terbentuknya mioma sering terjadi antara umur 16 – 50 tahun ketika kadar estrogen dalam tubuh wanita sangat tinggi. Mioma uteri sering terdiagnosis di usia wanita 40-an dan awal 50-an. Mioma atau fibroid biasanya bersifat jinak. Ada kasus sangat jarang, satu dari 1000 wanita bisa mengalami kanker ganas fibroid yang disebut leiomiosarkoma. Namun leiomiosarkoma tidak berasal dari mioma dan memiliki mioma tidak meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim jenis lainnya. 

Tidak semua wanita dengan mioma akan mengalami keluhan gejala. Jika muncul gejala biasanya muncul rasa nyeri saat menstruasi atau darah haid keluar sangat banyak. Massa tumor juga bisa menimbulkan tekanan pada organ lain di sekitar rahim. Tekanan tumor pada kandung kemih akan menyebabkan sering kencing. Tekanan pada rektum bisa menimbulkan keluhan BAB. Jika ukuran massa tumor sangat besar akan menyebabkan pembesaran perut sehingga tampak seperti hamil.

Penyebab Mioma Uteri

Penyebab utama kemunculan mioma belum diketahui. Para ilmuwan beranggapan mioma terjadi akibat beberapa faktor. Faktor tersebut bisa karena pengaruh:

  • Hormonal yaitu akibat  pengaruh kadar hormon estrogen dan progesteron
  • Genetik

Mioma tumbuh pesat saat masa kehamilan. Mioma menyusut saat menjalani pengobatan anti-hormonal. Mioma juga bisa menyusut saat menopause.

Faktor Risiko Mioma Uteri

Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya mioma, antara lain:

  • Umur: risiko mengalami fibroid makin bertambah dengan pertambahan usia wanita, terutama usia antara 30-an dan 40-an hingga menopause. Setelah menopause biasanya massa mioma akan menyusut. Persentase mioma sekitar 4 persen pada kelompok umur 20-30 tahun, 11-18 persen pada wanita kelompok umur 30-40 tahun dan 33 persen pada wanita kelompok umur 40-60 tahun.
  • Riwayat keluarga dengan mioma: riwayat mioma pada ibu akan meningkatkan risiko mioma tiga kali lipat pada anak
  • Asal etnis: ras kulit hitam, wanita keturunan Karibia, Afro-Amerika memiliki risiko lebih tinggi
  • Obesitas: kegemukan meningkatkan risiko mengalami mioma. Pada wanita yang sangat gemuk risiko 2 hingga 3 kali lebih besar
  • Pola makan: makan terlalu banyak daging merah dan ham meningkatkan risiko mengalami mioma. Makan banyak sayuran berdaun hijau tampaknya menurunkan risiko mengalami mioma.
  • Tidak pernah hamil (nullipara)
  • Hipertensi

Tanda Gejala Mioma Uteri

Banyak mioma tidak menunjukkan gejala keluhan penyakit. Namun pada beberapa kondisi bisa timbul keluhan antara lain:

  • Keluar darah haid sangat banyak hingga bisa menyebabkan timbulnya anemia akibat kekurangan darah
  • Kesakitan saat menstruasi
  • Terasa penuh di area panggul atau perut bagian bawah
  • Perut bagian bawah membesar
  • Sering kencing
  • Sakit saat melakukan hubungan seksual
  • Nyeri punggung bagian bawah
  • Komplikasi saat kehamilan atau persalinan
  • Pada kondisi lebih jarang, bisa terjadi keluhan permasalahan reproduksi contohnya seperti sulit hamil

Satu dari 3 penderita mioma akan mengalami salah satu gejala antara lain menstruasi dengan darah haid keluar deras, sangat sakit saat menstruasi, pinggang bawah terasa nyeri, merasa sering kencing, sembelit atau tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual. Meski terdapat mioma tetap memiliki kemungkinan bisa hamil namun sering menimbulkan permasalahan kehamilan dimana sering terjadi keguguran atau persalinan prematur. Pada kondisi sangat jarang, mioma menyebabkan gejala infertilitas.

Massa fibroid mioma akan menyusut bahkan bisa menghilang setelah menopause. Perdarahan terlalu banyak bisa menimbulkan penyakit anemia sehingga mengganggu kesehatan tubuh. Segera periksa konsultasi ke dokter untuk penanganan lebih lanjut jika memiliki keluhan menstruasi atau gejala lain seperti di atas.

Pemeriksaan dan Diagnosis Mioma Uteri

Dokter akan melakukan diagnosis dengan serangkaian proses anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Terkadang mioma terdiagnosis saat pemeriksaan kesehatan rutin. Pada pemeriksaan panggul biasanya mioma bisa terdeteksi ketika dokter memeriksa vagina, rahim dan ovarium. Benjolan mioma bisa teraba oleh jari dokter saat pemeriksaan dalam. Pemeriksaan penunjang menggunakan serangkaian tes untuk mendapatkan gambar pencitraan, contohnya bisa memakai:

  • Tes ultrasonografi (USG) melalui USG perut atau USG vagina untuk mendapatkan gambaran kondisi rahim
  • Magnetic resonance imaging (MRI) – menggunakan gelombang radio dan magnetik untuk mendapatkan gambaran kondisi rahim
  • X-rays – menggunakan radiasi sinar X untuk mendapatkan gambaran kondisi rahim
  • Cat scan (CT)
  • Hysterosalpingogram(HSG) atau sonohysterogram
  • Laparoskopi dilakukan dengan prosedur pembedahan memakai incisi sangat kecil untuk melihat kondisi rahim juga organ-organ dalam perut
  • Histeroskopi dilakukan dengan memasukkan kamera sangat kecil melalui vagina
fibroid mioma uteri Fibroid Rahim atau Mioma Uteri (sumber gambar NHS)

Pada proses pemeriksaan terdapat mioma yang dibedakan berdasarkan letak saat ditemukan, yaitu:

  • mioma intramural: fibroid mioma uteri paling sering ditemukan, terletak di dalam lapisan otot penyusun dinding rahim. 
  • mioma subserosal:  fibroid mioma uteri ini tumbuh di bagian lapisan paling luar dinding rahim kemudian bisa makin membesar di rongga panggul hingga menekan organ lain di dekatnya.  
  • mioma submukosal: fibroid mioma uteri ini tumbuh di bawah lapisan paling dalam dinding rahim kemudian bisa makin membesar di rongga rahim.

Mioma subserosa dan submukosa bisa tumbuh membesar bertangkai sehingga disebut mioma pedunculata. Mioma pedunculata bisa mengalami torsi mioma sehingga menimbulkan gejala nyeri sangat berat hingga harus segera mendapat penanganan medis secepatnya.

Komplikasi Mioma Uteri

Komplikasi anemia akan muncul jika sering terjadi perdarahan berlebihan akibat keberadaan mioma dalam rahim. Sebagian besar penderita mioma tetap bisa hamil secara normal. Namun mioma uteri memang bisa menyebabkan komplikasi pada kehamilan seperti:

  • Persalinan dengan operasi caesar: risiko harus melahirkan melalui operasi caesar enam kali lebih tinggi jika terdapat mioma.
  • Gangguan posisi janin, seperti posisi sungsang sebab massa mioma mengganggu gerakan bayi saat berputar
  • Persalinan tidak maju
  • Abrupsio plasenta dimana plasenta terlepas dari tempatnya melekat di rahim di masa kehamilan sehingga berisiko terjadi perdarahan dan janin kekurangan oksigen
  • Persalinan prematur

Pada ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit mioma uteri sebaiknya dipantau oleh dokter obgyn selama masa kehamilan. Mioma uteri juga bisa menimbulkan komplikasi infertilitas karena menyebabkan sulit hamil.

Terapi dan Tata Laksana Mioma Uteri

Pada sebagian besar wanita tidak mengeluhkan adanya gejala sakit. Pada kasus mioma uteri lainnya bisa mengalami gejala dari ringan hingga sangat berat bahkan membahayakan jiwa. Terapi penatalaksanaan mioma uteri bergantung pada:

  • Tingkat keparahan keluhan gejala yang dialami
  • Rencana kehamilan di masa depan
  • Ukuran massa mioma/fibroid
  • Lokasi massa mioma/fibroid
  • Usia
  • Sudah menopause atau belum menopause

Jika terdapat mioma di rahim namun tanpa gejala keluhan penyakit maka dokter biasanya memberikan saran untuk observasi dengan pemeriksaan rutin memantau pertumbuhan massa mioma ini. Mioma kecil tidak menimbulkan keluhan gejala biasanya akan menghilang sendiri, terutama setelah menopause. Jika terdapat mioma uteri dengan keluhan ringan akan diberikan pengobatan. Penanganan nyeri dilakukan dengan pemberian obat pereda rasa sakit. Jika keluar darah haid banyak namun tidak parah maka akan diberikan suplementasi zat besi atau pengobatan anemia jika sudah terjadi anemia.

Beberapa pengobatan diberikan sebagai usaha untuk mengecilkan ukuran atau mencegah pertambahan besar mioma. Obat-obat hormonal seperti kontrasepsi hormonal bisa membantu mengontrol keluhan gejala mioma. Kontrasepsi hormonal bantu supaya mioma tidak bertambah besar dan bantu mengurangi darah haid berlebih. Pengobatan “gonadotropin releasing hormone agonists” (GnRHa) digunakan untuk mengecilkan ukuran mioma. Obat ini digunakan sebelum proses operasi sehingga lebih memudahkan membersihkan mioma. 

Tindakan operasi terdapat miomektomi, histerektomi, ablasi endometrium atau miolisis. Pada miomektopi dilakukan tindakan operasi pengangkatan massa fibroid. Miomektomi bisa dengan jalan laparoskopi, histeroskopi atau operasi pembedahan perut mayor. Pada histerektomi dilakukan pengangkatan rahim. Histerektomi dilakukan pada kondisi ukuran mioma sangat besar sekali, terjadi perdarahan sangat banyak, usia sudah tua, mendekati menopause, sudah menopause atau jika sudah tidak ingin memiliki anak lagi. Ablasi endometrium dilakukan dengan mengambil endometrium untuk mengatasi kondisi perdarahan berlebihan. Miolisis merupakan prosedur untuk menghancurkan benjolan mioma. Terdapat juga prosedur lain untuk mengatasi kondisi mioma.

Semua tindakan memiliki efek menjanjikan perbaikan serta kesembuhan dari cengkraman mioma, namun juga ada risiko efek samping. Diskusikan rencana terapi secara komprehensif bersama dokter.

 

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.