Kesehatan Wanita

Hiperplasia Endometrium

HIPERPLASIA ENDOMETRIUM

Pengertian Hiperplasia Endometrium

Hiperplasia endometrium merupakan pertumbuhan lapisan sel endometrium rahim secara berlebihan sehingga menjadi terlalu tebal. Kondisi ini bukan kanker, namun pada beberapa kasus bisa mengarah ke kanker rahim.

Hiperplasia endometrium diklasifikan sebagai hiperplasia endometrium sederhana atau hiperplasia endometrium kompleks. Hiperplasia endometrium juga diklasifikasikan berdasarkan apakah ada perubahan di tingkat sel. Jika terjadi perubahan sel maka disebut atipik. Hiperplasia dikelompokkan:

  • Hiperplasia simpleks
  • Hiperplasia kompleks
  • Hiperplasia atipik simpleks
  • Hiperplasia atipik kompleks

Risiko mengalami kanker sekitar 1% pada hiperplasia simpleks, 3% pada hiperplasia kompleks, 8% pada hiperplasia atipik simpleks, 29% pada hiperplasia atipik kompleks.

Perubahan Endometrium

Endometrium mengalami perubahan akibat pengaruh perubahan hormon saat siklus menstruasi. Pada bagian pertama siklus menstruasi terdapat hormon estrogen yang diproduksi ovarium. Estrogen akan merangsang sel-sel endometrium rahim untuk tumbuh dan menebal supaya siap menyokong kehamilan. Pada pertengahan siklus menstruasi akan terjadi ovulasi. Progesteron akan meningkat. Progesteron mempengaruhi fungsi endometrium untuk menerima juga memberi nutrisi zigot hasil pembuahan. Jika tidak terjadi pembuahan maka kadar estrogen dan progesteron menurun kemudian menyebabkan kerusakan lapisan atas rahim sehingga terjadi keluarnya darah haid. Siklus menstruasi kembali berulang dari awal setelah semua lapisan atas rahim terlepas. Baca informasi Siklus Menstruasi Normal disini.

siklus menstruasi

Gambar Siklus Menstruasi dari Encyclopedia Britannica

Penyebab Hiperplasia Endometrium

Penyebab hiperplasia endometrium paling sering adalah pengaruh kadar berlebihan hormon estrogen dan progesteron. Endometrium terus-menerus tumbuh akibat pengaruh hormon estrogen. Sel-sel baru kemudian bergerombol makin rapat juga mungkin menjadi sel tidak normal. Pertumbuhan sel berlebihan ini disebut dengan hiperplasia, pada kondisi wanita tertentu akan bisa menimbulkan kanker.

Hiperplasia endometrium biasanya terjadi setelah masa menopause. Ovulasi sudah berhenti pada saat wanita mengalami menopause sehingga tidak ada lagi progesteron. Pada masa perimenopause terjadi proses ovulasi tidak teratur. Beberapa situasi berikut ini juga rentan mengalami paparan kadar estrogen tinggi dan progesteron rendah, yaitu:

  • Pemakaian pengobatan yang beraksi menyerupai estrogen
  • Pemakaian terapi hormon estrogen dosis tinggi setelah menopause pada wanita tanpa riwayat histerektomi
  • Mengalami periode menstruasi tidak teratur, misalnya akibat polycystic ovary syndrome atau permasalahan infertilitas
  • Obesitas

Faktor Risiko Hiperplasia Endometrium

Hiperplasia endometrium lebih sering terjadi pada wanita yang memiliki faktor risiko antara lain:

  • Berumur lebih dari 35 tahun
  • Ras putih
  • Tidak pernah hamil
  • Menopause di usia lebih tua
  • Mengalami menarche di usia lebih dini
  • Memiliki riwayat kesehatan tertentu seperti diabetes melitus, polycystic ovary syndrome, penyakit kantung empedu atau penyakit tiroid
  • Obesitas
  • Merokok
  • Riwayat keluarga dengan penyakit kanker ovarium, colon, atau kanker rahim

Tanda dan Gejala Hiperplasia Endometrium

Perdarahan rahim tidak normal menjadi tanda gejala paling sering dari hiperplasia endometrium. Sebaiknya segera periksa jika terdapat satu atau lebih tanda gejala berikut ini:

  • Darah haid sangat banyak
  • Periode keluar darah haid sangat panjang dalam satu siklus menstruasi jadi mens tidak selesai-selesai
  • Sering keluar darah haid atau sering mens karena mengalami siklus menstruasi kurang dari 21 hari (dihitung dari hari pertama keluar darah haid sebelumnya ke hari pertama keluar darah haid berikutnya)
  • Mengalami keluar darah dari vagina setelah menopause

Diagnosis dan Pemeriksaan Hiperplasia Endometrium

Terdapat banyak penyebab perdarahan rahim tidak normal. Jika mengalami keluhan gejala menstruasi di umur lebih dari 35 tahun atau mengalami keluhan gejala menstruasi tidak membaik dengan meminum obat di umur kurang dari 35 tahun sebaiknya segera periksa konsultasi ke dokter. Pemeriksaan yang dilakukan bisa dengan USG transvagina. Pemeriksaan untuk proses diagnosis lebih pasti dilakukan dengan mengambil sampel jaringan rahim untuk diperiksa di mikroskop. Cara dilakukan dengan biopsi endometrium, dilatasi dan kuretase atau histeroskopi.

Terapi dan Tata Laksana Hiperplasia Endometrium

Terapi hiperplasia endometrium diatasi dengan pengobatan, atau tindakan operasi . Pada banyak kasus hiperplasia endometrium akan diberikan pengobatan hormonal memakai progestin. Progestin tersedia juga sebagai bentuk kontrasepsi hormonal. Pilihan progestin bisa pil progestin, suntikan progestin, krim vagina progestin atau IUD progestin. Terapi dengan progestin akan membuat terjadi periode haid seperti siklus menstruasi normal. Pada hiperplasia endometrium atipik risiko terjadi kanker rahim meningkat. Jadi jika pasien tidak lagi ingin punya anak akan disarankan untuk menjalani operasi pengangkatan rahim (histerektomi)

Tips Kiat Mencegah Hiperplasia Endometrium

Langkah berikut ini bisa dicoba untuk menurunkan risiko mengalami hiperplasia endometrium:

  • Pemberian hormon progestin atau progesteron jika melakukan terapi hormon estrogen
  • Jika memiliki siklus menstruasi tidak teratur direkomendasikan terapi dengan pil KB yang mengandung progestin serta estrogen
  • Turunkan berat badan supaya menurunkan risiko mengalami kanker endometrium

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.