Kesehatan Umum

Sakit Kepala Tipe Klaster

SAKIT KEPALA TIPE KLASTER

Pengertian Sakit Kepala Tipe Klaster

Sakit kepala tipe klaster atau cluster headache merupakan sakit kepala yang memiliki pola siklus atau kelompok klaster munculnya gejala serangan nyeri.

Sakit kepala klaster merupakan kepala primer, biasanya tidak berbahaya namun paling sakit dibandingkan jenis sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala tipe klaster lebih jarang ditemui dibanding sakit kepala tipe lainnya, dialami oleh 4 dari 1000 orang. Jika gejala datang bisa membangunkan seseorang di tengah malam. Penderita sangat kesakitan di sekitar satu mata salah satu sisi kepala pada saat gejala kambuh. Penderita mengalami periode serangan bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian terdapat periode remisi bebas sakit kepala (klaster).

Terapi bisa membantu kekambuhan lebih singkat, lebih ringan gejala dan periode klaster berkurang. Terdapat sakit kepala tipe klaster episodik dan kronis. Sakit kepala klaster episodik lebih sering terjadi hingga 80 – 90% dibandingkan yang kronis. Nyeri episodik hanya terjadi 1 hingga 8 kali serangan dalam sehari selama 1 minggu hingga 1 tahun kemudian diikuti periode remisi bebas nyeri bisa selama hingga 12 bulan. Sementara nyeri kronis terjadi lebih dari 1 tahun dengan periode remisi kurang dari 1 bulan.

Baca juga artikel informasi tentang Sakit Kepala

Penyebab Sakit Kepala Tipe Klaster

Penyebab pasti sakit kepala tipe klaster belum diketahui. Gejala tampaknya berhubungan dengan pelepasan secara mendadak histamine dan serotonin di area persarafan wajah yaitu nervus trigeminus. Pola sakit kepala klaster juga dicurigai terdapat permasalahan tidak normal pada hipothalamus yang berperan mengatur jam biologis tubuh. 

Sakit kepala klaster tidak terhubung dengan pencetus tertentu seperti perubahan hormonal atau stres. Tapi saat dalam periode klaster, jika penderita minum alkohol maka akan memicu datangnya serangan gejala sakit. Pemakaian obat tertentu juga bisa menjadi pencetus gejala. Berikut ini beberapa hal yang dihubungkan bisa mencetuskan gejala sakit kepala tipe klaster:

  • Minum alkohol
  • Merokok
  • Berada dalam ketinggian (misalnya naik pesawat, naik gunung)
  • Cahaya terang (termasuk sinar matahari)
  • Aktivitas fisik
  • Panas (cuaca panas, mandi air panas)
  • Makanan tinggi nitrit
  • Obat-obat tertentu
  • Kokain
  • Aroma bau yang kuat: bau parfum, minyak tanah, bensin, cat, pelarut, pemutih

hipothalamus.jpg

Hipothalamus/pituitari (sumber gambar)

Faktor Risiko Sakit Kepala Tipe Klaster

Kondisi berikut ini bisa meningkatkan risiko sakit kepala tipe klaster:

  • Jenis kelamin: pria 6 kali lebih sering dibanding wanita
  • Umur: bisa terjadi pada semua umur, namun paling sering antara umur 20 – 50 tahun
  • Kebiasaan merokok: banyak penderita sakit kepala tipe klaster merupakan perokok
  • Pemakaian alkohol
  • Riwayat keluarga dengan sakit kepala tipe klaster: 3 – 5% penderita sakit kepala klaster memiliki riwayat keluarga

Tanda dan Gejala Sakit Kepala Tipe Klaster

Pada saat periode klaster bisa terjadi kekambuhan serangan sakit kepala muncul di jam sama setiap hari, selama 15 menit hingga 3 jam. Penderita menggambarkan serangan seperti disodok benda panas di salah satu mata. Sakit kepala kambuh biasanya di malam hari setelah 1 sampai 2 jam tidur malam. Serangan sakit kepala tipe klaster muncul cepat, tanpa tanda peringatan. tanda dan gejala meliputi:

  • Sakit sangat berat pada area sekitar mata, namun bisa menyebar ke area lain di wajah, kepala, leher dan bahu.
  • Nyeri seperti ditusuk-tusuk
  • Sakit satu sisi
  • Gelisah sulit istirahat
  • Air mata keluar banyak
  • Mata disisi yang kesakitan jadi tampak berwarna merah
  • Bengkak di area sekitar mata dan kelopak mata sisi kepala yang sakit
  • Kelopak mata turun
  • Pupil menyempit
  • Hidung di sisi yang sakit terasa tersumbat dan pilek
  • Dahi dan wajah berkeringat
  • Kulit wajah pucat atau kulit kemerahan

Gejala menyerupai migren seperti sensitif terhadap suara atau cahaya bisa terjadi, meski hanya pada satu sisi yang sakit saja. Penderita sakit kepala klaster cenderung lebih suka bergerak mondar-mandir, duduk dengan bergoyang-goyang. Penderita biasanya kelelahan setelah serangan sakit hilang. Serangan gejala sakit kepala memiliki periode klaster, biasanya berlangsung antara 6 hingga 12 minggu. Tanggal dan durasi lama masing-masing periode klaster bisa konsisten dari waktu ke waktu, contohnya periode klaster terjadi di musim panas.  

Pemeriksaan dan Diagnosis Sakit Kepala Tipe Klaster

Sebaiknya segera periksa ke dokter jika mengalami gejala sakit kepala berulang secara berkelompok seperti tipe klaster ini. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mata, dan pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan persarafan meliputi fungsi otak, pemeriksaan saraf, tes refleks , tes motorik, tes sensorik. Pemeriksaan penunjang dengan tes radiologi pemindaian seperti CT scan, MRI.

Diagnosis Banding Sakit Kepala Tipe Klaster

Gejala sakit kepala tipe klaster bisa membingungkan sehingga menyerupai penyakit lainnya seperti migren, sakit kepala tipe tegang, sakit kepala tipe sinus. Pada penyakit serius seperti tumor, aneurisma, meningitis, stroke, pasca cidera kepala atau penyakit lainnya bisa disertai keluhan sakit kepala. Segera periksa ke UGD jika mengalami salah satu gejala:

  • Nyeri kepala hebat, mendadak
  • Sakit kepala disertai salah satu kondisi seperti: demam, kaku kuduk, perubahan kesadaran, kejang, penglihatan mata dobel, kelemahan bagian anggota tubuh, kebas atau kesulitan berbicara
  • Sakit kepala pasca cidera kepala, terutama jika sakit kepala makin bertambah berat
  • Sakit kepala kronis yang memberat gejalanya saat batuk, bersin, peregangan tubuh atau perubahan posisi tubuh lainnya
  • Sakit kepala pada orang berusia di atas 50 tahun
  • Sakit kepala disertai tanda bahaya lainnya

Terapi dan Tata Laksana Sakit Kepala Tipe Klaster

Belum ditemukan obat untuk menyembuhkan sakit kepala klaster. Pengobatan saat ini dilakukan untuk menghilangkan gejala, mempersingkat periode kekambuhan sakit dan mencegah serangan kambuh. Nyeri kepala pada sakit kepala klaster ini sangat berat namun gejala muncul cukup singkat sehingga butuh obat dengan aksi cepat. Beberapa obat digunakan untuk meredakan gejala sakit secara cepat saat periode klaster kambuh. Pengobatan juga dilakukan dengan tujuan mengurangi frekuensi serangan kekambuhan dan mencegah keparahan nyeri.

Pada saat sakit kambuh akan diberikan oksigen, anestesi lokal, obat golongan triptan, dihidroergotamine. Pemberian oksigen pada saat kekambuhan gejala secara dramatis mampu meredakan nyeri, relatif aman dan harga terjangkau. Octreotide sintetis hormon somatostatin membantu segera meredakan gejala pada beberapa penderita sakit kepala klaster. Kompres dingin pada area sakit bisa bantu sedikit meredakan serangan nyeri. Terapi pengobatan preventif bertujuan untuk mencegah kekambuhan gejala sakit. Pilihan obat selama terapi antara lain anti-psikotik, calcium-channel blocker, kortikosteroid, lithium carbonate, blokade saraf, melatonin atau juga obat anti-kejang.

Pada kondisi berat yang tidak teratasi dengan obat bisa dilakukan tindakan operasi. Dilakukan pembedahan pada jalur persarafan penyebab timbulnya kesakitan. Namun prosedur ini memiliki efek samping kelemahan otot sehingga jarang dilakukan. Tindakan stimulasi persarafan pada nervus occipitalis atau stimulasi hipothalamus sedang dikembangkan. Terapi pengobatan disesuaikan dengan kondisi dan gejala pasien. Terapi ini juga akan dikurangi secara perlahan sesuai kondisi pasien. Dokter akan memantau respons terapi. Kooperatif melakukan pengobatan dengan tuntas diharapkan bisa mengatasi sakit kepala tipe klaster.

Tips periksa ke dokter untuk menangani sakit kepala bisa baca informasi tentang Sakit Kepala disini

Tips Kiat Mencegah Sakit Kepala Tipe Klaster

Hidup dengan riwayat memiliki serangan sakit kepala tipe klaster ini tidak mudah. Periode kekambuhan gejala bisa diprediksi sehingga memberikan pengaruh dan beban dalam kehidupan. Penderita bisa mengalami trauma hingga depresi sebab ketakutan menghadapi saat-saat gejala kambuh. Coba lakukan tindakan berikut ini:

  • Modifikasi gaya hidup sehat seimbang dengan jadwal tidur secara teratur
  • Bergabung dengan kelompok pendukung
  • Hindari alkohol
  • Psikoterapi untuk manajemen penanganan rasa khawatir dan stres
  • Lakukan pengobatan preventif hingga tuntas sesuai anjuran dokter

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.