Kesehatan Umum

Tuberkulosis

TUBERKULOSIS PARU

Pengertian Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis (TBC) paru merupakan infeksi paru akibat bakteri Mycobacterium tuberkulosis. TBC menjadi 10 penyakit sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2017 terdapat 10 juta penderita TBC dan 1,6 juta meninggal akibat TBC. Pada tahun 2017 terdapat 1 juta anak sakit TBC dengan 230.000 anak meninggal akibat TBC. Terdapat 558.000 kasus baru TBC resisten obat rifampicin. Namun sebanyak 54 juta penderita berhasil diselamatkan dengan diagnosis dan terapi TB adekuat sejak tahun 2000 – 2017.

Dua pertiga kasus TBC dunia terdapat di negara India, China, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan. TBC tidak pernah selesai untuk menjadi beban kesehatan Indonesia. Indonesia masuk 5 besar negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia (saat ini nomor 3 tertinggi di dunia). Kasus TBC di Indonesia menyumbang angka 5,8%. Kondisi ini makin diperparah dengan meningkatnya bakteri resisten obat antituberkulosis.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular berbahaya sejak jaman dahulu kala. Bakteri Mycobacterium terbentuk sekitar 150 juta tahun yang lalu. Mycobacterium tuberkulosis telah bertahan menginfeksi manusia selama 70.000 tahun dengan menyebabkan penyakit TBC sebanyak 2 trilyun manusia di seluruh dunia. Setiap tahun terdapat 10,4 juta kasus TBC baru. TBC menyebabkan 1,4 juta kematian setiap tahun (link). Telah ditemukan kerangka manusia berusia 9000 tahun dengan tanda mengalami sakit TBC.

Artikel ini hanya membahas tentang tuberkulosis paru, sementara infeksi M tuberculosis bisa menyebabkan penyakit di semua organ tubuh.

Penyebab Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru disebabkan oleh bakteri gram positif Mycobacteriaceae yaitu Mycobacterium tuberculosis. M tuberculosis berbentuk batang, bersifat anaerobik, non-motil, tidak membentuk spora, fakultatif, hidup di dalam sel. Punya dinding sel mengandung mycolic, asam, glikolipid rantai panjang dan fosfoglikan yang melindungi bakteri dari serangan enzim lisosom.

tuberculosis

Gambar scanning electron microscopic (SEM) bakteri Mycobacterium tuberculosis, picture credit NIAID, sumber gambar CDC

Proses Terjadinya Penyakit Tuberkulosis

Manusia merupakan satu-satunya reservoir M tuberculosis. Bakteri disebarkan oleh penderita TBC di udara melalui respiratory droplet yang dikeluarkan oleh penderita TBC. Bakteri M tuberculosis menyebar ke udara jika penderita TBC paru batuk, bersin, bicara atau bernyanyi. Dalam sekali batuk, seorang penderita TB aktif akan menghasilkan 3000 droplet infeksius. Hanya butuh 10 bacilli untuk menyebabkan infeksi TBC. Orang di sekitar penderita kemudian akan menghirup udara tercemar bakteri M tuberculosis.

Droplet mengandung bakteri akan masuk ke dalam alveoli paru. Butuh 2 – 12 minggu bagi satu M tuberculosis berkembang biak berjumlah 1000 – 10.000 hingga menimbulkan reaksi dari sel-sel di sistem kekebalan tubuh. M tuberculosis sangat antigenik sehingga mengaktivasi sel Langerhans, limfosit dan leukosit polimorfonuklear. Jika imunitas kuat maka infeksi akan diatasi hingga bersih atau dikendalikanmenjadi infeksi laten.

cough

Begini ilustrasi kuman menyebar saat penderita batuk/bersin, photo credit James Gathany, sumber gambar CDC 

Bakteri masuk ke saluran pernafasan kemudian dimakan oleh fagosit mononuklear dari sistem imun. Namun bakteri bisa bertahan hidup di dalam sel fagosit. Hanya 5% orang sehat akan menunjukkan gejala sakit, infeksi lainnya akan menjadi infeksi laten. Pada saat terjadi situasi perubahan sistem kekebalan tubuh, infeksi laten akan menjadi infeksi aktif. Sekitar sepertiga penduduk dunia pernah terinfeksi M tuberculosis.

Gejala sakit bisa muncul beberapa minggu, bisa juga setelah bertahun-tahun terinfeksi M tuberculosis. Bakteri akan reaktivasi, berkembang biak dan menyebar ke paru. M tuberculosis bisa menyebar dibawa oleh aliran darah kemudian menginvasi organ di luar paru, seperti kelenjar getah bening, sumsum tulang, hati, limpa, ginjal, tulang dan otak. TBC paru akan membuat penderitanya bisa menyebarkan bakteri M tuberculosis ke lingkungan sekitar. Sementara infeksi TBC yang hanya di otak, ginjal atau tulang belakang biasanya jarang menyebarkan kuman penyebab infeksi ke lingkungan sekitar.

Faktor Risiko Tuberkulosis

Infeksi tuberkulosis akan bisa menular jika:

  • Jumlah bakteri yang dikeluarkan oleh penderita banyak
  • Ada banyak bakteri di lingkungan
  • Lamanya waktu paparan
  • Status kekebalan tubuh

Lingkungan yang tertutup dan penuh akan meningkatkan risiko sakit TBC. Sekitar 20% orang disekitar penderita dalam satu lingkungan akan mengalami infeksi (hasil tes tuberkulin positif). Orang yang memiliki risiko tinggi lebih rentan sakit TBC:

  • tinggal di negara dengan angka kasus TBC tinggi
  • kontak dekat bersama penderita TBC
  • pernah terinfeksi M tuberculosis
  • anak-anak dibawah umur 5 tahun
  • kurang gizi
  • perokok: 7,9% kasus TBC terkait dengan asap rokok
  • pekerja rumah sakit
  • tinggal di panti jompo
  • tinggal di penjara
  • penderita HIV/AIDS: HIV meningkatkan risiko 20 – 30 kali lipat sakit TBC
  • pecandu penyalahgunaan obat via suntikan
  • pecandu alkohol
  • diabetes mellitus
  • silicosis
  • mendapat terapi immunosupresif
  • penderita kanker kepala dan leher, kanker darah
  • penderita gagal ginjal akhir

Tanda dan Gejala Tuberkulosis

Terdapat TB laten dan TB aktif. Pada infeksi TB laten tidak terlihat tanda dan gejala. Penderita TB laten merasa sehat, tidak batuk, pemeriksaan dahak negatif, pemeriksaan rongsen foto thorax bersih dan tidak menyebarkan infeksi. TB laten suatu saat bisa berubah menjadi TB aktif jika terdapat faktor risiko aktivasi bakteri dalam tubuh. Penderita TB aktif menunjukkan tanda gejala dan bisa menyebarkan penyakit infeksi ke lingkungan sekitarnya. 

Keluhan gejala tergantung pada beratnya penyakit. Penderita bisa mengalami batuk lama lebih dari 3 minggu, batuk berdahak, nyeri dada. Keluhan gejala lainnya bisa mengalami demam, menggigil, berkeringat di malam hari, berat badan menurun, tidak enak badan, terasa lemah, mudah capek, nafsu makan turun, batuk berdarah, sesak nafas, dada terasa sakit saat batuk. Segera periksa ke dokter jika batuk lama lebih dari 2 minggu, demam berkeringat di malam hari dan berat badan turun.

Tanda sakit TBC bergantung juga pada derajat berat penyakit. Penderita batuk. Tampak lemah kurang bergairah, kurus, nafas cepat (takipnea), demam. Pada pemeriksaan paru tanda konsolidasi saat diperkusi redup, fremitus mengeras/melemah, suara nafas bronkial/melemah, bisa terdengar ronki basah atau kering. Tanda dan gejala tuberkulosis juga dipengaruhi organ tempat bakteri hidup berkembang biak menyebabkan penyakit. Paru merupakan organ paling sering tempat berkembang-biaknya M tuberculosis. Sekitar 85% pasien TBC mengalami keluhan gejala di paru. TB ekstra paru bisa terjadi baik sebagai infeksi primer atau infeksi sistemik, atau tempat reaktivasi.

Pemeriksaan dan Diagnosis TBC

Segera periksa ke dokter jika curiga mengalami gejala tanda sakit tuberkulosis. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dilakukan pemeriksaan sputum dahak sewaktu, pagi dan sewaktu. Sputum akan diperiksa di bawah mikroskop untuk bakteri tahan asam. TBC ditegakkan jika 2 dari 3 pemeriksaan sputum SPS positif. Sayangnya pemeriksaan mikroskop hanya mampu mendiagnosis 50% kasus TBC dan tidak bisa mendeteksi kasus resistensi obat.

Pemeriksaan penunjang akan dilakukan pemeriksaan radiologis dengan foto thoraks, pemeriksaan darah dan tes serologi. Tes uji kulit dengan tuberculin (Mantoux Test) dengan melihat reaksi kulit setelah disuntik. PCR TB dari dahak jika ingin mendeteksi DNA, namun pemeriksaan in jarang dilakukan sebagai rutinitas. Sejak tahun 2010, WHO merekomendasikan rapid test Xpert MTB/RIF® untuk diagnosis kasus TBC dan TB resisten rifampicin. Tes bisa mendeteksi TBC dalam waktu 2 jam. Pada tahun 2016 WHO merekomendasikan 4 tes uji diagnosis baru yaitu sebuah rapid molecular test dimana bisa dipakai di faskes pelosok yang tidak bisa memakai Xpert MTB/RIF® dan 3 tes untuk mendeteksi TB resisten obat.

Diagnosis Banding Tuberkulosis

Diagnosis banding tuberkulosis antara lain pneumonia, tumor/kanker paru, infeksi jamur pada paru, penyakit paru

Terapi dan Tata Laksana Tuberkulosis

Terapi tuberkulosis harus dilakukan hingga tuntas. Keberadaan bakteri resisten pengobatan terjadi akibat banyaknya penderita TBC putus obat. Tata laksana TBC:

  • Pengobatan memakai obat antituberkulosis
  • Berhenti merokok dan hindari paparan asap rokok
  • Asupan nutrisi memakai pola makan bergizi seimbang
  • Istirahat
  • Hindari polusi
  • Terapi suportif lain sesuai kondisi pasien

Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi; persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program.

Komplikasi Tuberkulosis

  • Komplikasi paru: kerusakan paru hingga menyebabkan ateletaksis, batuk berdarah, fibrosis, bronkiektasis, pneumothoraks dan gagal nafas
  • Komplikasi ekstra paru: pleuritis, efusi pleura, radang selaput pembungkus jantung (pericarditis), radang selaput perut (peritonitis), TB getah bening, meningitis,
  • Cor pulmonale
  • Jika tidak diobati bisa menimbulkan komplikasi: Nyeri tulang belakang akibat penyebaran bakteri di tulang belakang. Kerusakan persendian pada artritis tuberkulosis. Meningitis akibat peradangan selaput otak sehingga terjadi nyeri kepala hingga gangguan mental. Permasalahan pada hati atau ginjal akibat infeksi tuberkulosis. Gangguan jantung akibat peradangan dan pengumpulan cairan di sekitar jantung sehingga mengganggu fungsi pemompaan darah akibat cardiac tamponade.

Tips Kiat Mencegah Tuberkulosis

Sebagian besar penderita TBC berada dalam kelompok usia produktif (15 – 55 tahun). Kondisi ini menyebabkan TBC terkait dengan economic lost yang tentunya akan mempengaruhi pendapatan rumah tangga dan negara. Jika dalam keluarga terdapat penderita TB maka akan mempengaruhi economic lost 3 – 4 bulan. Jika ada yang meninggal karena TBC maka bisa mempengaruhi economic lost hingga 15 tahun (link). Strategi nasional pengendalian TB telah sejalan dengan petunjuk internasional (WHO DOTS dan strategi baru Stop TB), serta konsisten dengan Rencana Global Penanggulangan TB.

Rencana global penanggulangan TB didukung oleh 6 komponen dari Strategi Penanggulangan TB baru yang dikembangkan WHO:

  1. yaitu mengejar peningkatan dan perluasan DOTS yang berkualitas tinggi,
  2. menangani kasus ko-infeksi TB-HIV,
  3. menangani kekebalan ganda terhadap obat anti TB dan tantangan lainnya,
  4. berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan,
  5. menyamakan persepsi semua penyedia pelayanan,
  6. memberdayakan pasien TB dan masyarakat dalam memberantas TB
  7. mewujudkan dan  mempromosikan penelitian

DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade, dan tetap menjadi komponen utama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas, termasuk pengelolaan kasus kekebalan obat anti TB, TB terkait HIV, penguatan sistem kesehatan, keterlibatan seluruh penyedia layanan kesehatan dan masyarakat, serta promosi penelitian. Indonesia masih menggunakan vaksin Bacille Calmette-Guérin (BCG) sebagai bagian untuk mencegah penyakit TBC. Penderita TBC laten diterapi sesuai kondisi klinis. Selain pemberian obat sebaiknya lakukan pencegahan penyebaran TBC dari penderita dengan cara memakai masker dan menutup mulut, pada fase pengobatan aktif sebaiknya banyak istirahat, hindari kontak bila tidak diperlukan, dan minum obat dengan pengawasan. Pastikan lingkungan rumah memiliki higienitas, sanitasi dan ventilasi yang baik.

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.