Kesehatan Umum

Leptospirosis

LEPTOSPIROSIS

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Leptospira. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis dimana manusia tertular Leptospira melalui hewan lain.

Perkiraan angka kejadian penyakit 0.1 – 1 per 100.000 penduduk tiap tahun di negara beriklim sedang. Tapi angka kejadian penyakit bisa 10 lebih per 100.000 penduduk per tahun di iklim tropis lembab. Jika terjadi wabah dan pada kelompok risiko tinggi angka kejadian penyakitnya bisa 100 lebih tiap 100.000 penduduk.

Leptospira

Gambar scanning electron microscopic (SEM) bakteri Leprospira, photo credit Janice Haney Carr, CDC

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Leptospira interrogans. Leptospira merupakan spiroseta dari genus Leptospira. 

Faktor Risiko Leptospirosis

Penyakit leptospirosis bisa terjadi pada hewan dan manusia. Manusia terinfeksi bakteri Leptospira melalui kontak langsung dengan urin dari hewan sakit leptospirosis atau melalui lingkungan yang tercemar urin hewan sakit leptospirosis. Penularan langsung dari manusia dikatakan jarang terjadi (link). Leptospirosis bisa terjadi di seluruh dunia namun paling sering terjadi di negara tropis atau beriklim hangat.

Hewan yang bisa membawa bakteri leptospira: sapi, babi, kuda, anjing, tikus (rodensia), serta binatang liar. Tikus merupakan reservoir leptospira utama. Namun, banyak juga hewan lain yang bisa mengalami leptospirosis. Hewan yang sakit bisa hampir tanpa gejala. Hewan tersebut akan mengeluarkan bakteri Leptospira dari urinnya ke lingkungan sekitar.

Pekerjaan seperti petani, penambang, nelayan, pekerja kebersihan, dokter hewan, perawat hewan, bekerja di pemotongan hewan, tentara bisa lebih berisiko. Leptospirosis juga bisa ditularkan melalui aktivitas berenang, kayaking, rafting dan aktivitas lain di sungai atau danau yang terkontaminasi. Hati-hati jika berpartisipasi dalam aktivitas luar rumah atau olahraga rekreasional. 

Faktor yang bisa meningkatkan risiko leptospirosis:

  • Ada luka atau lecet pada kulit
  • Ada luka pada membrana mukosa mulut, hidung, mata
  • Kontak dengan urin (dan cairan tubuh) hewan sakit leptospirosis
  • Terpapar air, tanah, makanan segar dari lingkungan tercemar kencing hewan sakit leptospirosis
  • Minum air terkontaminasi leptospira
  • Banjir dimana air menjadi terkontaminasi kencing tikus 

Proses Terjadinya Leptospirosis

Leptospira akan keluar dari urin hewan sakit leptospirosis kemudian bertahan hidup di lingkungan. Bakteri kemudian memasuki tubuh manusia melalui luka di kulit atau membran mukosa mulut, hidung dan mata. Bakteri masuk kemudian melepaskan toksin yang merusak endotel pembuluh darah. Invasi bakteri menimbulkan respons peradangan non-spesifik dan reaksi imunologi.

Waktu timbulnya gejala penyakit sekitar 2 hari hingga 4 minggu sejak terpapar sumber kontaminasi Leptospira. Organ yang sering diserang oleh Leptospira: ginjal, hati, jantung, otot rangka, mata, pembuluh darah, sistem persarafan pusat. Gejala sakit bermula dengan demam yang disertai keluhan lainnya. Gejala sakit bisa beberapa hari hingga 3 minggu lebih. Tanpa terapi proses pemulihan bisa hingga berbulan-bulan dengan risiko komplikasi berbahaya.

Weil Disease merupakan bentuk penyakit leptospirosis berat dimana terjadi ikterus, perdarahan, anemia, azotemia, gangguan kesadaran dan demam terus-menerus. Terjadi pada 1 – 6% kasus leptospira akibat serotipe icterohaemorragica. Pada Weil Disease terdapat gangguan pada ginjal, hati dan pembuluh darah.

Tanda dan Gejala Leptospirosis

Gejala awal leptospirosis meliputi demam tinggi, nyeri kepala hebat, nyeri otot, menggigil, mata merah, perut sakit, muntah, kulit menguning/jaundice/ikterus, diare, ruam kulit, perdarahan pada kulit dan membran mukosa. Nyeri otot pada pinggang, paha dan terutama bagian betis terasa sangat sakit. Penderita juga mengalami fotofobia saat terkena sinar matahari. Pada kondisi berat terjadi gangguan kencing, penurunan kesadaran.

Tanda leptospirosis demam, kulit kuning, nyeri tekan pada otot, nyeri tekan pada perut, ruam kulit. Hati bisa teraba membesar akibat hepatomegali. Limpa teraba akibat splenomegali. Edema, bradikardi relatif, konjungtiva merah dan tanda perdarahan di kulit. Terjadi kaku kuduk pada komplikasi meningitis.

Leptospirosis biasanya melalui 2 fase:

  • Fase pertama penderita mengalami gejala demam, menggigil, nyeri kepala, nyeri otot, muntah dan diare kemudian membaik sementara lalu sakit lagi.
  • Fase kedua gejala lebih berat dimana bisa menyebabkan gangguan fungsi organ hingga gagal ginjal, gagal hati atau mengalami meningitis.

Pemeriksaan Penunjang Leptospirosis

Pemeriksaan serta diagnosis leptospirosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan pemeriksaan darah, deteksi antibodi dan urin.

Diagnosis Banding Leptospirosis

Diagnosis banding untuk penyakit leptospirosis seperti penyakit: malaria, hepatitis virus, demam berdarah, penyakit rickettsia 

Tata Laksana dan Pengobatan Leptospirosis

Segera periksa ke dokter jika curiga mengalami infeksi leptospirosis. Pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki pelayanan penyakit dalam dan hemodialisa. Pengobatan leptospirosis dengan pemberian antibiotika, terapi suportif dan pemantauan ketat. Terapi suportif dengan observasi pengawasan ketat supaya tidak terjadi dehidrasi, hipotensi, perdarahan, gangguan sistem saraf pusat, gangguan fungsi hati dan gagal ginjal.

Komplikasi Leptospirosis

Penyakit leptospirosis sangat berbahaya sebab bisa menimbulkan komplikasi:

  1. Meningitis
  2. Gangguan pernafasan berbahaya
  3. Gagal hati
  4. Gagal ginjal

Tanpa pengobatan secara adekuat penderita rentan mengalami peradangan pada selaput otak, kerusakan hati (liver), kerusakan ginjal, distress pernafasan hingga kematian.

Tips Kiat Mencegah Leptospirosis

Penyakit leptospirosis sering ditemukan di daerah tropis, beriklim hangat, higienitas kurang dan sanitasi lingkungan masih buruk. Penyakit ini sulit dicegah. Pakai air dari sumber air bersih yang aman. Jaga kebersihan makanan dan minuman. Hindari kontak dengan hewan atau tempat berpotensi tercemar urin binatang. Gunakan pakaian dan alat pelindung diri bagi orang yang berisiko tinggi. Simpan makanan dan minuman dengan baik supaya tidak terjangkau tikus. Rajin cuci tangan serta kaki memakai sabun dibilas air mengalir hingga bersih setelah bekerja di tempat yang rentan kontaminasi urin hewan reservoir (sawah, pertanian, peternakan, selokan dan tempat lainnya).

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.