Kesehatan Umum

Demam Tifoid

DEMAM TIFOID

Pengertian Demam Tifoid

Demam tifoid merupakan penyakit sistemik mematikan akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini sangat menular. Penderita akan menyebarkan bakteri penyebabdemam tifoid melalui feses, juga kadang melalui urin. Air tercemar kemudian mencemari makanan dan minuman sehingga infeksi menyebar ke orang yang mengkonsumsi. Bakteri akan menyebar ke organ lain di seluruh tubuh menimbulkan gejala penyakit yang jika tidak diobati dengan benar bisa menimbulkan komplikasi berbahaya.  

Salmonella typhi sejak ribuan tahun yang lalu menyebabkan penyakit mematikan pada manusia. Demam tifoid menjadi bencana wabah The Great Plague of Athen saat akhir perang Pelonnesian. Infeksi tifoid menyebabkan gangguan kesadaran juga komplikasi mematikan. Banyak orang menyebutkan demam tifoid dengan sakit tipes, tifus, typhus. Tifus berbeda dengan demam tifoid. Penyakit typhus merupakan infeksi akibat organisme rickettsia sehingga menyebabkan demam. Rickettsia prowazekii ditularkan melalui vector arthropoda, kutu Pediculus corporis.

Penyebab Demam Tifoid

Infeksi demam tifoid disebabkan oleh bakteri spesies Salmonella, subspecies enterica, serovarian typhi serta serovarian paratyphi A, B dan C. Salmonella typhi hanya bisa hidup di manusia. Salmonella paratyphi bisa menyebabkan penyakit menyerupai demam tifoid dalam bentuk lebih ringan dibandingkan Salmonella typhi. Terdapat juga bakteri Salmonella jenis lain yang bisa menginfeksi manusia dengan sumber penularan dari binatang.

salmonella

Bakteri Salmonella, sumber gambar: CDC

WHO memperkirakan kasus demam tifoid sekitar 11 – 20 juta dengan angka kematian 128.000 – 161.000 tiap tahun. Satu dari 5 penderita demam tifoid meninggal dunia tanpa perawatan adekuat. Risiko tifoid lebih tinggi pada populasi yang kekurangan air bersih dan sanitasi lingkungannya buruk. Anak-anak, orang lanjut usia dan penderita kelemahan system kekebalan tubuh merupakan kelompok paling berisiko. Urbanisasi, mobilisasi manusia, perubahan iklim dan ancaman resistensi antibiotik makin meningkatkan beban penyakit tifoid.

Faktor Risiko Demam Tifoid

Indonesia merupakan negara yang endemik sebab tingginya angka penyakit demam tifoid. Jumlah penderita diperkirakan 500/100.000 penduduk, meningkat dari tahun ke tahun dan persentase angka kematian 0,6 – 5%. 

Penyakit demam tifoid terkait dengan rendahnya higienitas pribadi dan buruknya sanitasi lingkungan. Demam tifoid jarang terjadi di negara Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada, Eropa Barat dan Australia. Kasus di Amerika Serikat hanya 350 kasus/tahun dan Inggris hanya 500 kasus/tahun.

Berikut ini beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko tertular demam tifoid:  

  • Air yang tercemar kotoran penderita
  • Kebiasaan buang air besar sembarangan (BAB).
  • Jarang cuci tangan.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang diolah pakai air terkontaminasi bakteri tifoid
  • Konsumsi kerang yang berasal dari daerah perairan terpolusi kotoran
  • Konsumsi sayur dan buah mentah yang dipupuk memakai pupuk organic berasal dari kotoran penderita demam tifoid
  • Konsumsi susu dan produk susu mentah yang terkontaminasi kotoran
  • Lalat yang membawa bakteri dari tempat terpolusi kotoran penderita demam tifoid, kemudian hinggap di makanan

Proses Terjadinya Demam Tifoid

Penularan terjadi melalui jalur fecal-oral. Feses penderita yang mencemari air akan membuat orang lain tertular melalui makanan dan minuman. Penularan secara langsung mungkin bisa terjadi namun lebih jarang.

Bakteri dalam usus penderita akan berkembang biak. Bakteri Salmonella typhi memiliki kemampuan mampu bertahan dari sel darah putih (makrofag). Bakteri dari usus akan masuk ke dalam peredaran darah menyebar ke nodus limfatikus termasuk menginfeksi plak Peyeri, empedu, hati, limpa serta bagian tubuh lainnya.

Tanda dan Gejala Demam Tifoid

Tingkat keparahan gejala demam tifoid sangat bervariasi. Gejala utama demam. Demam intermiten naik secara bertangga pada minggu pertama kemudian menetap kontinyu (remiten) pada minggu kedua. Demam tinggi (39 ℃ – 40 ℃), naik-turun terutama pada sore dan malam hari. Sakit kepala paling sering di area dahi (regio frontal). Badan sakit, nyeri otot pegal-linu, terasa lemah, perut sakit, mual, muntah, nafsu makan menurun hingga tidak mau makan dan sembelit (pada orang dewasa serta anak lebih besar). Tapi penderita juga bisa mengalami diare. Bisa disertai batuk, insomnia, BAB berdarah.

Tanda demam tifoid seperti suhu tubuh meningkat akibat demam, bradikardi relatif, lidah berselaput (kotor di tengah, tepid an ujung merah; lidah tremor), pembesaran hati (hepatomegali), pembesaran limpa (splenomegali), perut sakit saat dipegang/ditekan. Kulit bisa disertai bercak-bercak kemerahan roseolae. Pada demam tifoid berat bisa terjadi kuning/icterus, penurunan kesadaran atau kejang.  

Pemeriksaan dan Diagnosis Demam Tifoid

Segera periksa jika curiga mengalami sakit demam tifoid. Pemeriksaan demam tifoid lumayan sulit sebab gejala demam tifoid pada awal infeksi sering tidak spesifik. Dokter akan melakukan anamnesis terkait riwayat penyakit. Gejala demam tifoid bisa muncul dalam waktu 7 – 14 hari setelah memakan makanan/minuman terkontaminasi bakteri penyebab tifoid. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan. Diagnosis suspek demam tifoid jika hasil anamnesis dan pemeriksaan mengarah pada demam tifoid.

Pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan pemeriksaan darah perifer lengkap, pemeriksaan serologi dan pemeriksaan penunjang lain sesuai kondisi klinis pasien. Pemeriksaan serologi dengan tes antibodi untuk mendeteksi bakteri Salmonella typhi. Tes Widal yang hanya dilakukan satu kali sulit untuk interpretasi hasilnya sebab kemungkinan positif palsu tinggi, rentan over-diagnosis dan over-treatment. Gold standard dilakukan dengan pemeriksaan kultur Salmonella melalui specimen feses, urin, darah serta cairan empedu. Kultur cairan empedu dilakukan untuk mengetahui carrier tifoid. Diagnosis klinis diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Differential Diagnosis Demam Tifoid

Banyak penyakit lain menyerupai gejala awal demam tifoid. Diagnosis banding demam tifoid: demam berdarah dengue, malaria, leishmaniasis, typhus, leptospirosis, infeksi saluran kencing, hepatitis A, sepsis, tuberculosis milier, endocarditis infektif, demam rematik akut, abses abdomen, demam tidak spesifik yang berhubungan dengan HIV.

Pengobatan Demam Tifoid

Demam tifoid diobati dengan antibiotik. Pengobatan antibiotik dilakukan selama 7 – 14 hari. Pada kasus ringan bisa dilakukan rawat jalan dengan kontrol pemeriksaan secara rutin. Pada kasus berat akan dirawat inap dengan pemberian antibiotik injeksi. Pengobatan demam tifoid juga akan ditambahkan obat untuk meredakan gejala. Pasien istirahat tirah baring/bedrest, mobilisasi secara bertahap. Pastikan asupan minum mencukupi supaya terhindar dari dehidrasi. Makan bergizi seimbang, cukup kalori, cukup protein, rendah serat dan konsistensi lunak. Kontrol monitor tanda vital dan kondisi penderita secara rutin.

Penderita demam tifoid yang tidak diobati akan terus-menerus sakit hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, dan berisiko tinggi mengalami komplikasi. Sekitar 30% penderita yang tidak diobati akan meninggal akibat komplikasi demam tifoid. Terapi antibiotik biasanya akan membuat gejala membaik dalam beberapa hari. Meski gejala telah membaik namun ancaman risiko tetap ada.

Penderita bisa menjadi carrier pembawa bakteri penyebab demam tifoid meski gejala sakitnya telah membaik. Satu dari 20 orang penderita demam tifoid menjadi carrier bakteri Salmonella. Kondisi ini berisiko menyebabkan infeksi berulang di masa depan, juga menjadi sumber penularan penyakit bagi lingkungan sekitarnya. Ancaman resistensi antibiotik terhadap pengobatan demam tifoid makin meningkat. Bakteri yang resisten antibiotik akan kebal dan tetap berkembang biak. Pastikan melakukan pengobatan demam tifoid hingga tuntas. Ikuti anjuran pengobatan sesuai petunjuk dokter.

Lakukan hal berikut ini jika sakit demam tifoid:

  • Minum obat antibiotik sesuai saran petunjuk dari dokter hingga tuntas
  • Jangan buang air besar BAB/BAK di sembarang tempat, apalagi di sungai
  • Rajin cuci tangan pakai sabun bilas dengan air bersih mengalir tiap selesai dari toilet
  • Penderita sebaiknya tidak bertugas memasak atau menghidangkan makanan untuk orang lain hingga sembuh tuntas
  • Pemeriksaan feses bisa dilakukan untuk memastikan sudah tidak ada Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi dalam tubuh

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi akibat demam tifoid berat biasanya terjadi di minggu 2 – 3 perjalanan penyakit. Penderita bisa mengalami tifoid toksik, syok septik, perdarahan hingga perforasi usus (berlubang), hepatitis tifosa, pankreatitis tifosa atau bisa juga mengalami pneumonia. Tifoid toksik bisa menyebabkan ensefalopati dengan gejala gangguan mental, penurunan kesadaran, delirium hingga koma.

Tips Kiat Mencegah Demam Tifoid

Demam tifoid biasa ditemukan di tempat dengan sanitasi buruk dan kurang air minum bersih. Cara pencegahan demam tifoid:

  • Akses air bersih
  • Menjaga sanitasi kebersihan lingkungan
  • Edukasi kesehatan dan hygiene pribadi
  • Edukasi kebersihan penyediaan makanan serta minuman kepada orang yang menyajikan
  • Imunisasi memakai vaksin tifoid

Terdapat 3 jenis vaksin tifoid. Ikhtiar vaksinasi memang tidak bisa mencegah penyakit 100% namun setidaknya mampu mengurangi keparahan gejala dan mencegah komplikasi. Pemberian vaksinasi juga diharapkan mampu mencegah keparahan resistensi antibiotik (link). Perlu juga diingat untuk tetap melakukan upaya gaya hidup bersih sehat pencegahan penyakit. Konsultasikan pemberian vaksin lebih lanjut bersama dokter berkompeten.

Demam tifoid berisiko tinggi bagi para turis yang bepergian ke daerah endemis. Lakukan tindakan pencegahan supaya tetap sehat. Saran bagi para traveller saat pergi berwisata:

  • Jika memungkinkan sebaiknya jangan jajan sembarangan. Pastikan makanan dimasak matang dan tersaji masih panas saat jajan.
  • Hindari susu mentah dan produk turunan dari susu mentah. Minum susu pasteurisasi, susu kemasan atau susu yang telah direbus.
  • Hindari minum es kecuali yakin es tersebut dibuat dari air aman.
  • Beli air minum kemasan supaya lebih aman. Bisa juga rebus dulu air minum hingga mendidih sekitar 1 menit.
  • Rajin cuci tangan pakai sabun bilas menggunakan air bersih tiap kali selesai dari toilet, akan makan atau kontak dengan hewan.
  • Cuci buah dan sayur hingga benar-benar bersih. Kupas kulitnya jika memungkinkan. Jika ragu sebaiknya hindari makan mentah.

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.