Kesehatan Anak, Menyusui dan ASI

Bayi Mengalami Gumoh

BAYI GUMOH 

Gumoh adalah merupakan keluarnya sebagian susu saat atau setelah bayi menyusu. Proses pengeluaran sebagian isi lambung begitu saja tanpa disertai rasa mual, peningkatan tekanan dalam perut dan tidak ada usaha pengeluaran. Bayi tetap sehat, tidak ada keluhan gejala penyerta dan tumbuh dengan baik. Menyusui lancar tanpa keluhan. Bayi pun tetap aktif ceria setelah gumoh. Gumoh disebut juga gastroesophageal reflux/GER (spitting up). Pada saat gumoh susu bisa keluar lewat mulut atau hidung bayi.

Supaya tidak mudah panik maka orang tua sebaiknya belajar untuk membedakan antara gastroesophageal reflux (GER) dengan gastroesophageal reflux disease (GERD).

SmartSelectImage_2018-11-30-13-41-39-02

Gumoh ringan tanpa keluhan gejala penyerta merupakan hal normal. Bisa dialami oleh sebagian bayi umur 0 – 12 bulan, bayi Indonesia termasuk yang sering gumoh (link). Gumoh mulai terjadi saat bayi umur 2 – 3 minggu (link). Separuh bayi bisa gumoh beberapa kali dalam sehari di usia 3 bulan. Puncak gumoh terjadi pada bayi umur 4 – 5 bulan. Gumoh jarang terjadi saat umur bayi sudah 9 – 12 bulan dan tidak terjadi setelah umur anak di atas 12 bulan.  Volume susu yang mengalir keluar bervariasi, biasanya hanya sedikit, sekitar 1 – 2 sendok makan (link). Gumoh biasanya terjadi kurang dari 3 menit, berdekatan dengan waktu menyusu (tidak lebih dari 1 jam jarak dengan waktu penyusuan), tidak menimbulkan gejala atau hanya bergejala ringan.

Bayi tetap sehat dengan aktivitas tidak terganggu juga tumbuh berkembang baik sesuai kurva pertumbuhan. Gumoh akan berkurang seiring bertambah besar usia bayi. Gumoh sudah tidak terjadi lagi setelah anak berumur 12 bulan. Bayi prematur bisa lebih sering gumoh dibandingkan bayi cukup bulan. Baca juga: Pintar Membaca Kurva Pertumbuhan Anak 

Penyebab gumoh karena lambung bayi masih berada dalam posisi agak mendatar dibandingkan posisi lambung anak lebih besar, sebagian lambung terletak di rongga dada sehingga isi lambung mudah keluar, serta ukuran lambung bayi masih relatif kecil. Bayi juga masih sering menangis sehingga terdapat lebih banyak udara ikut masuk dalam lambung.  Otot sfingter esophagus bagian bawah yang berfungsi sebagai katup penutup antara kerongkongan dan lambung fungsinya belum sempurna sehingga terjadi proses regurgitasi pengeluaran isi lambung ke kerongkongan. Saat otot sfingter ini telah berkembang sempurna biasanya regurgitasi menghilang. 

Tips mengatasi gumoh:

  • Jika bayi gumoh maka segera bersihkan serta ganti baju bayi sebab muntahan susu bisa menyebabkan kulit bayi iritasi juga bayi berisiko kedinginan
  • Ibu melakukan menyusui responsif dengan melihat tanda tubuh bayi 
  • Frekuensi menyusui sering mengikuti pola menyusu bayi sehingga volume asupan ASI sedikit demi sedikit supaya lebih mudah dicerna dan lebih cepat melewati lambung dengan memastikan jumlah asupan nutrisi adekuat
  • Ibu jangan memindah-mindahkan bayi saat menyusu sebelum bayi sendiri yang memutuskan untuk selesai di satu payudara. Double nursing di 2 payudara dilakukan hanya jika bayi masih lapar/haus setelah selesai menyusu di payudara pertama, kecuali memang bayi yang inisiatif meminta menyusu di 2 payudara.
  • Jangan mengayun, menggoyang-goyang, memijat (terutama bagian perut) atau melakukan senam bayi segera setelah selesai menyusu.
  • Letakkan atau gendong bayi dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki sekitar 30° – 45° setelah selesai menyusu.
  • Bantu bayi bersendawa: posisikan bayi tegak berdiri menghadap dada Ayah/Ibu kemudian tepuk lembut punggungnya selama beberapa saat untuk membuat bersendawa. Terkadang akan terdengar suara khas akibat gerak peristaltik esofagus, tetapi bisa saja tidak terdengar.

1544061531960

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan keluhan gejala penyakit akibat komplikasi GER. Bayi menunjukkan gejala seperti rewel menangis, menolak menyusu, punggung melengkung menjauh seperti tampak kesakitan, muntah bercampur darah, muntah kehijauan, muntah menyemprot serta tampak sakit. Perut menggembung, distensi atau teraba keras. Terdapat keluhan gejala pernafasan: bunyi nafas tidak normal, serak, hidung pilek kronis, hidung seperti tersumbat akibat kongesti mukosa hidung, sering infeksi telinga, suara nafas mengi atau juga batuk kronis tidak membaik. 

GERD mengganggu bayi juga bisa menyebabkan pertumbuhan terganggu. Berat badan naik sedikit atau bahkan bisa BB turun setelah naik dengan baik. Bayi mengalami gagal tumbuh. Bayi sering cegukan, tersedak, batuk-batuk atau sendawa berlebihan setelah disusui. Rewel hingga tidur terganggu. Bawa bayi periksa ke dokter untuk dievaluasi dan ditangani lebih lanjut. Semakin cepat diperiksa oleh dokter, akan semakin mudah ditangani dengan baik.

Tips menyusui bayi dengan GERD:

  • Frekuensi menyusui sering dengan mengikuti pola menyusu bayi, ibu menyusui saat bayi menujukkan tanda awal bayi lapar sehingga volume asupan ASI sedikit demi sedikit supaya lebih mudah dicerna dan lebih cepat melewati lambung dengan memastikan jumlah asupan nutrisi adekuat untuk tumbuh-kembangnya. 
  • Posisi menyusui dengan kepala bayi disangga lebih tegak
  • Gendong bayi dengan posisi disangga tegak
  • Lakukan banyak kontak kulit
  • Biarkan bayi saat menghisap tidak aktif (mengempeng) setiap kali sudah kenyang menyusu bersama ibu. Non-nutritive sucking akan melancarkan peristaltik saluran cerna sehingga mempercepat waktu pengosongan lambung.
  • Angkat bayi dengan lembut. Jangan goyang-goyangkan bayi dengan kasar, gerakan melenting, melambung yang akan merangsang gumoh
  • Saat ganti popok lakukan dengan menyelipkan popok dari posisi samping lalu arahkan ke bawah tubuh bayi sambil agak gulingkan tubuh bayi. Jadi hindari mengangkat bokong bayi ke atas. Supaya isi lambung tidak naik ke esofagus.
  • Hindari asap rokok
  • Ibu menghindari minum kafein

Muntah Pada Bayi

Gumoh berbeda dengan muntah. Saat muntah bayi tampak mengalami usaha untuk mengeluarkan susu. Bayi tampak mengedan, tidak nyaman atau rewel saat muntah. Waspadai muntah. Muntah harus dicari tahu penyebabnya sebab biasanya akibat kondisi gangguan kesehatan. 

Muntah bisa disebabkan oleh infeksi pencernaan seperti infeksi virus, bakteri atau parasit. Gejala infeksi bisa disertai muntah, demam, diare dan sakit perut. Muntah juga bisa disebabkan oleh GERD, penyakit infeksi di organ lain seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kencing atau radang telinga tengah. Beberapa kondisi lebih serius misalnya radang usus, appendicitis, meningitis (link). Baca juga tentang kondisi oversuplai

Bawa bayi periksa ke dokter untuk dilakukan evaluasi dan penanganan penyebab muntah lebih lanjut. Muntah berisiko menyebabkan bayi dehidrasi dan kurang asupan nutrisi. Ibu menyusui bayi lebih sering. Berikan obat sesuai petunjuk dokter. Bayi yang muntah akan mendapat cairan rehidrasi oral untuk meredakan muntah, suplai elektrolit dan mencegah dehidrasi berbahaya. 

Periksa ke Dokter

Terkadang gumoh tidak normal atau ternyata bayi muntah akibat sakit. Sebaiknya bayi segera dibawa periksa ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.

Segera bawa bayi periksa ke dokter jika terjadi salah satu gejala yaitu:

  • gumoh lebih dari 4 kali dalam 24 jam,
  • gumoh dimana susu keluar sangat banyak lebih dari 2 sendok makan,
  • bayi sangat rewel,
  • tidak mau menyusu,
  • tanda dehidrasi: kencing jarang, urin berwarna pekat, mata tampak cekung, tidak ada air mata saat menangis, kulit kering, mulut kering, bayi rewel atau sebaliknya tampak lemas,
  • berat badan bayi tidak naik sesuai kurva pertumbuhannya,
  • terdapat keluhan gejala pernafasan: tersedak, batuk, bunyi nafas tidak seperti biasa
  • gumoh belum menghilang setelah umur 12 bulan,
  • muntah menyemprot,
  • muntah berwarna kuning atau kehijauan,
  • perut bayi distensi, membesar, mengembung, atau teraba keras
  • disertai tanda keluhan lain: demam, diare, mencret, dll

Lakukan penanganan penyebab bayi sakit dengan benar sesuai petunjuk dokter. Jalin komunikasi yang baik bersama tim medis yang menangani anak. Menyusui saat bayi sakit memang tidak mudah. Namun, bayi saat sakit butuh ASI ibu. Bayi biasanya akan menyusu lebih sering saat sakit sebab kontak kulit membuatnya nyaman, meredakan rasa nyeri serta ASI enak mudah dicerna. ASI mengandung banyak cairan, elektrolit, nutrisi bioaktif dan komponen imunitas penting penguat kekebalan tubuh bayi. ASI juga mengandung growth factor serta banyak nutrisi untuk mempercepat pemulihan bayi saat sakit. Anak yang sudah lebih besar diberikan makan MPASI sesuai kondisi klinis. Biasanya nafsu makan akan menurun saat sakit, sehingga orang tua lebih sabar mengajak anak makan.

Memahami tumbuh kembang dan kesehatan anak sangat membantu bagi orang tua. Orang tua bisa mengetahui apa saja bagian normal dari proses tumbuh-kembang, juga deteksi dini jika ada masalah kesehatan. Miliki buku Kesehatan Anak yang berisikan informasi catatan kesehatan anak. Pantau tumbuh-kembangnya, juga lakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan segera periksa konsultasikan bersama tenaga kesehatan dan dokter berkompeten jika ada masalah.

Sejumlah kecil ibu memang tidak bisa menyusui dengan alasan indikasi kesehatan. Namun sebagian besar ibu gagal/tidak bisa menyusui bayi sesuai keinginannya karena tidak tahu caranya dan tidak mendapatkan dukungan menyusui. Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui. Segera periksa konsultasi bersama Konselor Menyusui berkompeten kapan pun mengalami permasalahan menyusui

Dukungan menyusui berkelanjutan sesuai kondisi bisa memfasilitasi banyak ibu mewujudkan keinginan dan berhasil mendapatkan pengalaman menyusui menyenangkan. 

 

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.