ASI

Bayi Hipoglikemia

MENYUSUI BAYI HIPOGLIKEMIA

Hipoglikemia merupakan kondisi dimana kadar gula darah rendah. Hipoglikemia pada bayi baru lahir ada dua macam, yaitu hipoglikemia ringan yang normal terjadi secara fisiologis sebagai fase transisi pasca kelahiran dan hipoglikemia tidak normal akibat kondisi kesehatan lain.

1544163954151

Definisi hipoglikemia hingga saat ini masih kontroversial sebab kurangnya korelasi bermakna antara kadar glukosa plasma, gejala yang tampak dan sisa gejala jangka panjang. Hipoglikemia pada bayi baru lahir memiliki nilai unik pada masing-masing bayi, bervariasi sesuai dengan kematangan fisiologis dan pengaruh patologisnya. Hipoglikemia pada bayi terjadi jika kadar glukosa darah < 45 mg/dL. 

Hipoglikemia Transisional dan Non-Patologis

Semua bayi baru lahir akan mengalami kondisi hipoglikemia transisional dalam 24 – 48 jam pertama jika dibandingkan dengan bayi lebih besar, anak kecil dan bahkan orang dewasa. Namun protokol saat ini menyatakan bahwa tidak semua bayi membutuhkan intervensi suplementasi (link), sebab kadar gula darah tersebut akan segera naik menjadi normal dalam beberapa saat. Hipoglikemia pada bayi baru lahir cukup bulan biasanya ringan, sesaat dan tanpa gejala simptomatis.

Ternyata kondisi hipoglikemia ringan sebagai transisi pasca persalinan sering didapatkan terjadi pada hampir seluruh mamalia. Tubuh bayi sehat cukup bulan telah dipersiapkan untuk menjalani transisi keseimbangan nutrisi ketika baru lahir. Dahulu dalam rahim, tubuh bayi mendapat suplai glukosa stabil dari tubuh ibu melalui plasenta. Bayi kemudian harus mampu membuat glukosa secara mandiri untuk menunjang kebutuhan hidup selanjutnya. Mekanisme homeostasis alami di tubuh bayi akan mencukupi energi bagi otak dan organ tubuh lainnya dengan memanfaatkan badan keton untuk menghemat glukosa bagi otak dan melindungi fungsi persarafan bayi. Kadar gula darah akan meningkat menjadi normal secara otomatis dalam 2 – 3 jam.

Bayi yang mendapat ASI cenderung memiliki kadar gula lebih rendah dibandingkan bayi minum susu formula. Namun, bayi yang disusui tidak menampakkan keluhan gejala dan tetap bisa tumbuh berkembang dengan sehat. Terbukti pemberian ASI memiliki banyak keuntungan kesehatan bagi anak di masa ini dan hingga kelak dewasa. Penelitian pada ribuan bayi di Brazil menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI lebih lama ternyata skor IQ lebih tinggi, mampu sekolah lebih tinggi dan penghasilan per bulannya pun juga lebih tinggi di umur 30 tahun (link).

ASI mengandung alanin, asam lemak rantai panjang dan laktosa yang akan merangsang proses glukoneogenesis secara mandiri oleh tubuh bayi. Kolostrum juga mengandung tinggi protein dan tinggi kalori. Bayi baru lahir yang disusui oleh ibunya memang memiliki kadar glukosa lebih rendah, namun memiliki kadar badan keton lebih tinggi. Badan keton ini akan menjadi sumber nutrisi berharga bagi tubuh bayi. Badan keton dan laktosa akan dipakai juga sebagai sumber metabolisme otak. Glukosa dalam plasma akan kembali meningkat dengan bayi disusui secara teratur.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk ibu menyusui responsif dengan melihat tanda tubuh bayi supaya dipastikan kenyang mendapat asupan ASI adekuat. Disinilah pentingnya menyusui secara responsif. Ibu peka melihat kebutuhan juga tanda tubuh bayi. Frekuensi menyusui 10 – 12 kali dalam 24 jam dengan memastikan bayi menyusu hingga kenyang supaya mendapat asupan ASI adekuat. 

Tips Kiat Menyusui Untuk Mencegah Hipoglikemia

Pemberian ASI eksklusif direkomendasikan bagi bayi. Pada kondisi bayi baru lahir berisiko hipoglikemia maka ibu harus membantunya supaya lebih aktif serta maksimal saat menyusu. Ibu yang berisiko melahirkan bayi hipoglikemia dibantu supaya memaksimalkan produksi ASI sehingga sukses memberikan ASI eksklusif.

Tips kiat menyusui untuk mencegah hipoglikemia:

  • Inisiasi menyusui sedini mungkin supaya memastikan bayi mendapat asupan kolostrum dan kontak kulit bersama akan membuat ibu lebih cepat memproduksi ASI lebih banyak,
  • Fasilitasi ibu untuk melakukan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi,
  • Lakukan rawat gabung dan tidur bersama bayi dengan aman,
  • Keluarga dan tenaga kesehatan membantu ibu menyusui bayi tanpa dibatasi baik siang maupun pada malam hari,
  • Ibu menyusui dengan memastikan posisi pelekatan baik kemudian memantau tanda bayi menelan ASI serta menyusui hingga bayi kenyang,
  • Tidak disarankan memberikan tambahan air, air gula, atau susu formula secara rutin pada bayi cukup bulan yang sehat tanpa ada indikasi medis sebab akan mengganggu proses produksi ASI juga pemantaban menyusui,
  • Jika bayi belum bisa menyusu maka berikan ASI perah memakai cangkir/cawan kecil,

PhotoGrid_1542008886220

Beberapa bayi memiliki risiko mengalami hipoglikemia berbahaya yang lebih berat dengan gejala memanjang lebih lama. Kondisi hipoglikemia ini disebabkan karena faktor risiko tertentu, termasuk sindroma hipoglikemia kongenital. Kondisi ini harus diatasi dengan intervensi medis yang benar. 

Bayi Berisiko Hipoglikemia Tidak Normal

Orang tua harus mengetahui bahwa beberapa bayi memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia patologis yang tidak normal. Gejala hipoglikemia pada bayi baru lahir awalnya tidak spesifik dan bisa tercampur dengan permasalahan bayi baru lahir lainnya. Bayi berisiko tinggi ini akan dipantau ketat oleh dokter dengan pemeriksaan darah untuk skrining glukosa hingga kadar gulanya stabil. Skrining dilakukan memakai strip glukosa. Jika hasilnya positif hipoglikemia akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut kemudian diberikan terapi sesuai kondisi klinis. 

Terdapat 3 kategori bayi berisiko mengalami hipoglikemia, yaitu:

  1. Bayi yang mengalami pemakaian glukosa berlebihan
  2. Bayi yang produksi dan cadangan glukosa tidak memadai
  3. Bayi yang produksi glukosa tidak memadai namun pemakaian glukosa berlebihan

Bayi yang berisiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia patologis:

  • Bayi lahir dari ibu dengan diabetes
  • Bayi lahir besar untuk masa kehamilan (BMK)
  • Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan (KMK)
  • Bayi lahir kurang bulan
  • Bayi lahir lebih bulan
  • Bayi riwayat mengalami asfiksia
  • Bayi mengalami polisitemia
  • Bayi yang mengalami proses dipuasakan, termasuk dimana tidak disusui langsung atau menyusui belum berjalan baik
  • Bayi riwayat mengalami stres di masa kehamilan atau persalinan: ibu mengalami hipertensi, persalinan sulit, persalinan panjang dan lama
  • Bayi sakit: bayi kembar identik dengan twin to twin transfussion, hipotermia, distress pernafasan, suspek sepsis, eritroblastosis fetalis, sindroma Beckwith-Wiederman, mikrosefalus, inborn error of metabolism, defek pada garis tengah tubuh, permasalahan gangguan endokrin atau sakit lainnya
  • Bayi terlahir dari ibu dengan permasalahan khusus: ibu perokok, ibu mendapat infus glukosa saat persalinan, ibu mendapat pengobatan tertentu (terbutalin, propanolol, hipoglikemia oral)

Gejala hipoglikemia pada bayi baru lahir antara lain bisa terjadi gangguan kesadaran, irritabel, tremor, jitteriness, tangisan melengking tinggi, refleks Moro berlebihan, gangguan menyusu (lemah, menghisap tidak kuat, menolak menyusu), gangguan pernafasan (nafas tidak teratur, takipnea, apnea), gangguan kesadaran, hipotermia, suhu tubuh tidak stabil, vasomotor tidak stabil, kejang, koma.

Bayi yang mengalami risiko hipoglikemia ini belum tentu menjadi halangan bagi ibu untuk tetap menyusui bayi. Tenaga kesehatan dan keluarga membantu ibu supaya lancar menyusui bayinya. Beberapa bayi membutuhkan tambahan suplementasi sesuai indikasi medis. Pemberian suplementasi dilakukan sesuai rekomendasi hierarki pemberian makanan bayi dari WHO. Pilihan suplementasi bisa ASIP ibu kandung, ASIP donor yang aman sudah dipasteurisasi, kemudian terakhir baru susu formula dengan mempertimbangkan riwayat toleransi susu dalam keluarga. Jika memungkinkan ibu dibantu tetap meneruskan menyusui selama pemberian suplementasi.

PhotoGrid_1542008705407

Tata laksana secara umum dari IDAI dibagi menjadi 2 yaitu bayi hipoglikemia namun tidak bergejala (asimptomatik) dan bayi hipoglikemia dengan gejala klinis (simptomatis). Bayi hipoglikemia asimptomatis tetap dilakukan pemberian ASI sedini serta sesering mungkin, bila diperlukan akan ditambah suplementasi dengan kadar glukosa dipantau ketat. Terapi glukosa intravena dilakukan sesuai kadar glukosa darah. Bayi dengan hipoglikemia asimptomatik yang tidak bisa mengisap dan tidak bisa mentoleransi asupannya akan dipertimbangkan untuk pemberian infus glukosa intravena. Pemberian ASI diteruskan selama terapi glukosa intravena.

Jika bayi mengalami hipoglikemia ekstrim dan simptomatik maka koreksi glukosa memakai glukosa intravena memakai glucose infusion rate, tidak boleh diberikan melalui oral atau pipa nasogastrik. Terapi glukosa intravena dilakukan sesuai kadar glukosa darah. Ibu dibantu memerah payudara secepatnya jika kondisi ibu stabil, untuk mempertahankan kelancaran produksi ASI. Pemberian ASI diteruskan saat kadar glukosa bayi sudah stabil dimana manifestasi hipoglikemia telah menghilang. Bayi akan terus dipantau ketat hingga dinyatakan stabil oleh dokter (link).

Menjalani masa kehamilan kemudian mengalami cobaan bayi hipoglikemia membuat banyak orang tua trauma. Kondisi ini seringkali menyebabkan rasa percaya diri mampu menyusui menjadi hancur. Ibu merasa bersalah, sedih, dan tertekan. Ibu harus bangkit. Bayi butuh ASI ibu sebab pada sebagian besar kasus, menyusui tetap menjadi pilihan terbaik dalam jangka panjang. Kondisi ini bukan karena kualitas ASI yang jelek. Beberapa kondisi bayi memang memiliki risiko hipoglikemia lebih tinggi sehingga membutuhkan intervensi dan mungkin juga suplementasi sesuai kondisi klinis. Pemberian suplementasi ini hanya sementara. Ibu sebaiknya dibantu memerah ASI supaya produksi ASI tetap terjaga lancar. Pada banyak kasus, bayi membutuhkan ASI perah ibu kandungnya untuk diberikan melalui pipa orogastrik. Setelah kondisi bayi sehat stabil, ibu bisa menyusui bayi secara langsung. Masa-masa berat ini akan terlewati. Tetap semangat jaga kesehatan lahir dan batin.

Perencanaan kehamilan secara matang sangat penting bagi setiap pasangan. Ibu mengontrol faktor risiko sejak perencanaan kehamilan sehingga bisa meminimalisasi risiko gangguan kesehatan pada ibu dan anak. Lakukan keluarga berencana bagi kesejahteraan keluarga.

Semua ibu dan bayi harus sudah diperiksa oleh dokter sebelum pulang dari rumah sakit pasca persalinan. Lakukan pemeriksaan sistematis mengenai risiko hipoglikemia sebelum membawa bayi pulang dari rumah sakit. Pastikan orang tua mendapatkan informasi berimbang mengenai hipoglikemia dan apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi ini. Patuhi jadwal kontrol pemeriksaan ulang sesuai anjuran dokter. Segera periksa konsultasi bersama Konselor Menyusui berkompeten kapan pun mengalami permasalahan menyusui 

Informasi berikut akan membantu ibu:

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan (link)

Sejumlah kecil ibu memang tidak bisa menyusui dengan alasan indikasi kesehatan. Namun sebagian besar ibu gagal/tidak bisa menyusui bayi sesuai keinginannya karena tidak tahu caranya dan tidak mendapatkan dukungan menyusui. Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui.

Dukungan menyusui berkelanjutan sesuai kondisi bisa memfasilitasi banyak ibu mewujudkan keinginan dan berhasil mendapatkan pengalaman menyusui menyenangkan. 

 

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.