ASI, Kesehatan Anak

Bayi Kuning

BAYI KUNING/ IKTERUS/ JAUNDICE

Artikel ini membahas ikterus pada bayi baru lahir yang sehat.

Bayi disebut “kuning” atau jaundice/ikterus jika bayi terlihat kuning pada bagian kulit dan/atau bagian putih pada mata akibat kadar bilirubin meningkat dalam darah bayi. Ikterus ditemukan pada sekitar 60% bayi baru lahir umur kehamilan > 35 minggu dan 80% pada bayi lahir kurang bulan. Ikterus pada bayi baru lahir sehat ada 2 macam yaitu kuning normal (fisiologis) dan kuning tidak normal (patologis).

Jaundice/ikterus pada bayi baru lahir baru tampak ketika serum bilirubin mencapai lebih dari 5 mg/dL. Hiperbilirubinemia umumnya normal, hanya 10% yang berpotensi menjadi patologis. Menurut IDAI (link), hiperbilirubinemia yang bisa mengarah ke kondisi patologis jika antara lain ada salah satu:

  1. timbul pada saat lahir atau pada hari pertama kehidupan,
  2. kenaikan kadar bilirubin berlangsung cepat (> 5 mg/dL per hari),
  3. bayi prematur,
  4. kuning menetap pada usia 2 minggu atau lebih,
  5. peningkatan bilirubin direk > 2 mg/d atau > 20 % dari BST.

Hiperbilirubinemia harus ditangani dengan baik. Namun ketakutan berlebihan dalam menghadapi hiperbilirubinemia dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan, seperti: meningkatnya kecemasan orang tua, ibu berhenti menyusui, terapi tidak perlu, dan biaya berlebihan. 

Mengetahui informasi tentang jaundice fisiologis sebagai bagian normal dari transisi kehidupan bayi, breastfeeding jaundice dan jaundice patologis diharapkan bisa membantu orang tua untuk lebih siap berdaya saat menghadapi permasalahan bayi kuning sehingga bisa mengenali jaundice dengan benar serta bekerja sama  melakukan tata laksana hiperbilirubinemia dengan baik bersama tim tenaga kesehatan supaya tepat dan efektif.

Tipe Ikterus

Hiperbilirubinemia dimana kadar bilirubin meningkat sehingga terjadi ikterus/jaundice bisa disebabkan karena gangguan terjadinya penumpukan bilirubin, pengeluaran bilirubin dan gabungan keduanya. Berikut ini tipe jaundice/ikterus yang sering ditemui pada bayi baru lahir:

1. Ikterus Fisiologis (Normal)

Hampir semua bayi bisa mengalami kuning pada 2 – 7 hari pasca kelahiran. Kadar bilirubin mencapai puncak biasanya pada hari ke 3 – 5. Bayi baru lahir memang rentan mengalami jaundice/ikterus fisiologis ringan (mild, unconjugated hyperbilirubinemia) sebagai proses adaptasi transisi kelahiran. Kadar bilirubin biasanya tidak melebihi 12 mg/dL (link). Gabungan beberapa faktor ini membuat bayi rentan menjadi kuning. :

  • Bayi memproduksi lebih banyak bilirubin. Dulu dalam rahim ibu, bayi memiliki sel darah merah khusus yang setelah lahir akan pecah sehingga kondisi ini membuat bayi memiliki lebih banyak bilirubin.
  • Kondisi hati bayi pun belum berfungsi secara baik untuk mengeluarkan bilirubin uptake bilirubin belum optimal
  • Konjugasi bilirubin oleh hati juga belum optimal
  • Albumin sebagai pengangkut belum banyak
  • Peningkatan sirkulasi enterohepatik sehingga bayi mudah menyerap kembali bilirubin di dalam usus yang semula sudah dikeluarkan 

Beberapa karakteristik ikterus fisiologis antara lain:

  1. Muncul pada hari kedua – ketiga (24 – 72 jam) setelah lahir
  2. Terjadi selama 4 – 5 hari pada bayi lahir normal cukup bulan dan 7 hari pada bayi prematur
  3. Kecepatan peningkatan bilirubin tidak melebihi 5 mg/dL per hari
  4. Menghilang dalam waktu 10 hari pertama kehidupan
  5. Tidak terbukti berhubungan dengan kelainan tertentu

Semua kuning akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab ikterus patologis. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan batas normal maka kemungkinan merupakan ikterus fisiologis. 

SmartSelectImage_2018-12-05-16-07-20-01

Ikterus/jaundice fisiologis ini tidak berbahaya sebab bisa hilang sendiri dan tidak menimbulkan komplikasi. Kuning ringan akan menghilang sendiri dalam waktu 1 – 2 minggu pada bayi lahir sehat cukup bulan. Ibu disarankan melakukan pola menyusui responsif dengan memastikan bayi mendapat kecukupan asupan. Tenaga kesehatan dan keluarga membantu ibu menyusui dengan inisiasi menyusui, rawat gabung dan turut menjaga kelancaran pemberian ASI eksklusif. 

Menyusui membantu bayi mengeluarkan bilirubin. Kolostrum bersifat pencahar sehingga merangsang peristaltik saluran cerna untuk mengeluarkan bilirubin dengan cepat dari tubuh bayi. Pemberian ASI yang optimal juga memberikan kecukupan asupan cairan sehingga pengeluaran bilirubin pun makin lancar.

2. Kuning Prematur (Jaundice of Prematurity)

Bayi prematur lebih rentan mengalami jaundice/ikterus. Tubuh bayi prematur lebih belum siap dalam menghadapi perubahan pasca persalinan sehingga kondisi ini menyebabkan bayi prematur akan diterapi lebih ketat.

3. Kuning Terkait Menyusui

Ada 2 tipe jaundice/ikterus terkait pemberian ASI, yaitu:

  • Breasfeeding jaundice (BFJ)

Breastfeeding jaundice terjadi akibat bayi kekurangan asupan ASI. BFJ terjadi pada 1 dari 10 bayi yang diberi ASI. Penyebabnya bisa karena manajemen menyusui tidak baik, ASI terlambat keluar atau bayi kesulitan menyusu sehingga mengalami kekurangan asupan. Kekurangan asupan mengakibatkan:

  1. Peningkatan sirkulasi enterohepatik bilirubin dan peningkatan penumpukan bilirubin yang tak terkonjugasi di darah.
  2. Bilirubin di usus tidak segera dikeluarkan sehingga semakin banyak yang kembali terserap masuk dalam tubuh bayi.
  3. Gabungan kedua mekanisme di atas

Asupan ASI yang memadai akan bantu bayi mengatasi ikterus akibat BFJ. Segera periksa konsultasi dengan Konselor Menyusui berkompeten supaya dibantu menyusui bayi lancar. Bayi yang disusui dengan baik akan mendapat kolostrum kemudian peristaltik usus meningkat sehingga pengeluaran bilirubin menjadi lebih lancar. Semakin sering dihisap, produksi ASI payudara akan makin meningkat sehingga asupan bayi pun makin bertambah. Kolostrum juga akan bantu menyehatkan usus bayi (link).

  • Breastmilk jaundice (BMJ)

Breastmilk jaundice terjadi karena ada komponen dalam ASI yang menyebabkan bayi kuning. BMJ terjadi pada 1% – 2% atau 1 dari 200 bayi yang disusui, bisa terdapat riwayat keluarga dengan saudara mengalami BMJ. BMJ timbul sekitar hari ke 3 – 5, bilirubin tetap tinggi dalam 5 – 7 hari. Bayi akan dilakukan pemeriksaan untuk melihat kondisi serta faktor risiko. Secara umum, BMJ tidak menimbulkan komplikasi kesehatan lain dan bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI. BMJ bisa terjadi selama 3 – 12 minggu tanpa ditemukan penyebab hiperbilirubinemia yang lain kemudian menghilang sendiri. 

Bayi yang diberi ASI bisa lebih rentan mengalami ikterus/jaundice jika terjadi kekurangan asupan. Bayi diobservasi cermat dengan manajemen laktasi secara baik sejak dini. Pantau BAB, BAK dan pertambahan berat badan bayi. Pemeriksaan komponen ASI dipertimbangkan jika: hiperbilirubinemia menetap lebih dari 6 hari, kadar bilirubin meningkat melebihi 20 mg/dL, riwayat BFJ pada anak sebelumnya. Jika hasil pemeriksaan dokter menunjukkan kadar bilirubin masih dalam batas aman, bayi sehat, tumbuh kembang bayi tidak terganggu, tidak ada tanda mengarah pada patologis dan tidak ada faktor risiko kesehatan lain maka tidak perlu risau untuk meneruskan pemberian ASI. Lakukan kontrol periksa bayi dengan teratur dan manajemen menyusui responsif dengan benar.

4. Inkompatibilitas Golongan Darah (Faktor Rh atau ABO)

Ikterus/jaundice akibat inkompatibilitas kondisi golongan darah akan muncul lebih cepat di hari pertama. Ibu yang memiliki golongan darah berbeda dengan janin bisa memproduksi antibodi yang menyerang sel darah merah janin. Ikterus/jaundice yang berat biasanya akibat inkompatibilitas faktor Rh. Kondisi komplikasi akibat inkompatibitas Rh ini bisa dicegah jika ibu hamil mendapat terapi injeksi Rh immune-globulin. Kisah Nirina Zubir menyusui bayinya yang mengalami inkompatibilitas golongan darah bisa dibaca disini dan bisa dibaca disini

Faktor Risiko Bayi Kuning/Ikterus/Jaundice

Beberapa bayi berisiko mengalami kuning tidak normal. Bayi digolongkan dalam 3 kelompok:

  1. Bayi berisiko rendah: bayi sehat lahir yang lahir di minggu 38 atau lebih
  2. Bayi berisiko sedang: bayi sehat yang lahir umur kehamilan 35 – 37 minggu; bayi lahir umur kehamilan 38 minggu atau lebih namun punya faktor risiko
  3. Bayi berisiko tinggi: bayi lahir umur kehamilan kurang 35 – 37 minggu dengan faktor risiko

Faktor risiko antara lain: bayi kecil (berat lahir kurang 2500 gram), usia kehamilan kurang dari 37 minggu, hemolisis (inkompatibilitas golongan darah ABO dan golongan darah rhesus, defisiensi G6PD), perdarahan hematoma sefal, sepsis, gangguan nafas, lemah, suhu tubuh tidak stabil, ibu riwayat diabetes, bayi makrosomia, ras Asia Timur, kekurangan G6PD, asidosis atau kadar albumin < 3 g/dL.

Kondisi dehidrasi dimana bayi baru lahir mengalami kekurangan asupan hingga BB turun lebih dari 12% dari berat lahir juga bisa memperberat kondisi hiperbilirubinemia. Kurang asupan dan dehidrasi diwaspadai saat bayi mengalami penurunan berat badan 7 – 10% di hari-hari pertama. Baca juga: Tips kiat mengatasi ASI belum keluar dan ASI sedikit

Juga terdapat kondisi lain penyebab bayi kuning patologis seperti cholestasis, kelainan kongenital, gangguan fungsi hati, kelainan genetik, riwayat infeksi dalam rahim, serta komplikasi penyakit lainnya sehingga jaundice/ikterus pada bayi harus dievaluasi dengan cermat bersama dokter berkompeten. 

Gejala Bayi Kuning/Ikterus/Jaundice

Ikterus/jaundice tampak biasanya pada hari ke 2 – 3 pasca kelahiran bayi. Kulit tampak kuning awalnya pada wajah, turun ke dada lalu perut dan terakhir ke kaki. Bagian putih pada mata juga bisa terlihat kuning. Jaundice membuat bayi baru lahir cenderung mengantuk, malas menyusu. Pemeriksaan ikterus/jaundice dengan cara melakukan peregangan kulit secara perlahan memakai 2 jari untuk mengamati warna kulit bayi. Pemeriksaan kulit juga bisa dengan menekan lembut dahi atau hidung bayi. Lakukan pemeriksaan warna kulit bayi dengan cermat di bawah pencahayaan yang baik di siang hari. Jika kulit tampak kekuningan saat pemeriksa mengangkat jari maka bisa jadi bayi mengalami ikterus/jaundice. Sayangnya ikterus/jaundice memang sulit terlihat jika kulit bayi gelap. 

Penanganan Bayi Kuning/Ikterus/Jaundice

Segera bawa bayi untuk periksa ke dokter jika ada salah satu:

  • Ikterus muncul kurang dari 24 jam pasca kelahiran bayi
  • Disertai demam
  • Gejala ikterus/jaundice berat, tampak kuning pada telapak tangan dan telapak kaki
  • Bayi terlihat sakit atau lemah
  • Bayi malas menyusu (ikterus/jaundice membuat bayi sering mengantuk dan malas menghisap aktif)
  • Bayi cenderung mengantuk
  • Ikterus/jaundice berlangsung lebih dari 14 hari pada bayi lahir cukup bulan atau lebih dari 21 hari pada bayi bayi lahir prematur

Kondisi kuning patologis yang tidak normal dimana bilirubin meningkat dalam kadar sangat tinggi harus diwaspadai. Pada kadar bilirubin sangat tinggi dapat bersifat toksik menyebabkan ensefalopati atau kernikterus yang merusak otak, telinga dan jaringan lainnya. Jaundice/ikterus ditangani dengan cara pemantauan cermat secara berkala. Bayi diperiksa dengan pemeriksaan fisik dan mengambil sedikit sampel darah. Nilai kadar bilirubin dijadikan pertimbangan kadar yang perlu diterapi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan bilirubin diinterpretasikan berdasarkan usia bayi dalam hitungan jam. Pada kecurigaan ikterus akibat kondisi lain akan dilakukan pemeriksaan lain seperti tes bilirubin direk dan indirek, pemeriksaan golongan darah, tes darah lengkap, ultrasonografi, Coomb tes, dll (link) diskusikan lebih lanjut bersama dokter.

Pengobatan hiperbilirubinemia berat tanpa kelainan penyerta biasanya dengan cara pemberian ASI, fototerapi (terapi sinar) atau transfusi tukar. Pengobatan hiperbilirubinemia dilakukan seiring sejalan dengan pemberian ASI eksklusif. ASI merupakan “obat” terbaik bagi hiperbilirubinemia sehingga jangan lupakan manajemen optimalisasi pemberian ASI eksklusif bersama pengobatan lainnya sesuai indikasi medis. Bayi harus dipastikan mendapat asupan ASI yang cukup. Asupan ASI membantu bayi lancar kencing, berak dan itu artinya semakin lancar membuang bilirubin keluar dari tubuh. Terapi jaundice/ikterus dengan terapi sinar atau transfusi tukar, bergantung pada jumlah kadar bilirubin dan faktor risiko yang dimiliki oleh bayi. 

F2.large

Grafik nomogram bilirubin dari AAP (baca lebih lanjut disini link)

Gartner dan Auerbach merekomendasikan penurunan bilirubin secepatnya jika kadar bilirubin di atas 20 mg/dL. Bila kadar bilirubin mencapai 20 mg/dL serta tidak menurun dengan terapi lain, maka ada yang merekomendasikan untuk dilakukan fototerapi. Bayi lahir sehat, cukup bulan dan tidak memiliki faktor risiko dilakukan fototerapi jika kadar total bilirubin serum 17 – 18 mg/dL. Jika hanya tersedia fototerapi konvensional maka dilakukan terapi sinar saat BST 14 – 16 mg/dL. Kadar bilirubin total 25 – 30 mg/dL berisiko menyebabkan toksisitas bilirubin pada bayi meskipun lahir sehat cukup bulan tanpa faktor risiko. Jika saudara kandung memiliki riwayat BMJ maka akan diterapi lebih cepat, yaitu kurang dari 12 mg/dL.

Fototerapi bukan halangan pemberian ASI. ASI diberikan setiap 2 – 3 jam bisa dengan cara menyusui langsung atau dengan menggunakan cangkir/cawan. ASI bantu mencegah dehidrasi dengan juga memberikan asupan bergizi tinggi serta anti-infeksi sehingga melindungi bayi yang dirawat di rumah sakit. 

Saat fototerapi, bayi akan ditempatkan di tempat tidur khusus di bawah cahaya dalam spektrum biru-hijau (panjang gelombang antara 430-490 nm). Bayi hanya mengenakan popok dan kacamata pelindung khusus. Fototerapi dapat dihentikan setiap tiga atau empat jam agar Ibu dapat menyusui bayi atau untuk diperiksa apakah bayi mengalami dehidrasi. Secara umum, menghentikan fototerapi selama 30 menit untuk menyusui bayi tidak membuat manfaat terapi berkurang (link). Transfusi tukar dilakukan pada hiperbilirubinemia ekstrim yang berbahaya terjadi ensefalopati. Pada transfusi tukar maka darah bayi akan diambil sedikit kemudian diganti dengan darah lain yang sehat. Proses ini dilakukan secara bertahap hingga sebagian besar darah bayi tertukar sehingga bisa mencegah hemolisis lebih lanjut dan untuk mengatasi anemia.

Kondisi dimana ASI harus dihentikan sangat jarang terjadi, baca tentang rekomendasi pemberian ASI lebih lanjut disini (link)Pemberian dekstrosa, air putih dan susu formula tidak lebih baik dalam menyebabkan penurunan bilirubin jika dibandingkan dengan asupan ASI yang optimal. Pemberian dextrosa dan air putih sebaiknya dihindari sebab berisiko menyebabkan hiponatremia. Pemberian cairan intravena hanya dilakukan sesuai indikasi medis, seperti pada kasus sepsis dan dehidrasi. Pemberian suplementasi cairan tambahan dipertimbangkan pada kondisi dimana: asupan ASI bayi sedikit, bayi tidak mendapat cukup asupan makan sehingga kurang asupan kalori, kondisi kesehatan bayi sangat menurun, penurunan berat badan bayi berlebihan, bayi dehidrasi atau mekonium tidak keluar. Pemilihan suplementasi dilakukan sesuai rekomendasi pemberian makan anak dari WHO.

Ibu sebaiknya dibantu memerah ASI dan memberikan ASIP sebagai suplementasi tambahan bila bilirubin meningkat di atas 15 mg/dL. Pemberian cairan pengganti ASI hanya dilakukan jika ada indikasi medis dimana tidak ada cara lain untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Pada sebagian besar kasus, ibu bisa memerah ASI sehingga suplementasi bisa memakai ASIP ibu sendiri. Pada kondisi tertentu, dokter bisa jadi mempertimbangkan penghentian ASI sementara dengan memantau reaksi tubuh bayi, namun ibu tetap memerah ASI untuk menjaga kelancaran produksi sehingga selanjutnya bisa meneruskan menyusui (link link). Menyusui tetap menjadi pilihan terbaik untuk pemberian makan bayi dalam jangka panjang. Baca juga: Tip memerah ASI

photogrid_1542008705407.jpg

Terapi sinar dihentikan saat kadar bilirubin pada tubuh bayi telah mencapai di bawah cut off point dari setiap kategori. Bayi akan terus dipantau di rumah dengan rawat jalan setelah selesai dilakukan terapi sinar. Ikterus ringan bisa menghilang sendiri dalam waktu 1 – 2 minggu. Ibu hanya perlu menyusui responsif memastikan bayi dapat asupan yang cukup. Ibu disarankan tetap menyusui sebab pemberian ASI eksklusif membawa banyak manfaat kesehatan hingga saat anak tumbuh dewasa kelak.

Baca juga: Manfaat pemberian ASI Eksklusif

Pencegahan Bayi Kuning/Ikterus/Jaundice

Pencegahan terbaik untuk mengatasi jaundice/ikterus yaitu dengan memastikan bayi mendapatkan asupan yang memadai/adekuat. Dukung ibu melanjutkan pemberian ASI eksklusif. Segera lakukan inisiasi menyusui saat bayi lahir. Lakukan menyusui secara responsif 8 – 12 kali sehari dengan peka melihat tanda tubuh bayi. Pastikan bayi mendapat asupan ASI memadai secara adekuat sejak lahir. Pantau BAB, BAK dan kenaikan berat badan bayi. Identifikasi faktor risiko penyebab ikterus/jaundice sejak dini. Lakukan pemeriksaan sistematis mengenai risiko hiperbilirubinemia sebelum membawa bayi pulang dari rumah sakit. Pastikan orang tua mendapatkan informasi berimbang mengenai jaundice dan apa saja yang harus dilakukan untuk mengatasi ini. Patuhi jadwal kontrol pemeriksaan ulang sesuai anjuran dokter.

Informasi berikut akan membantu ibu:

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan (link)

Sejumlah kecil ibu memang tidak bisa menyusui dengan alasan indikasi kesehatan. Namun sebagian besar ibu gagal/tidak bisa menyusui bayi sesuai keinginannya karena tidak tahu caranya dan tidak mendapatkan dukungan menyusui. Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui.

Dukungan menyusui berkelanjutan sesuai kondisi bisa memfasilitasi banyak ibu mewujudkan keinginan dan berhasil mendapatkan pengalaman menyusui menyenangkan. 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.