ASI, Kesehatan Wanita

ASI Belum Keluar

ASI BELUM KELUAR

Mengurai Antara Mitos dan Fakta

Pada hari-hari pertama pasca melahirkan ini, payudara memproduksi kolostrum sebagai ASI pertama. Kolostrum sudah diproduksi sejak ibu hamil. Wujudnya bening kekuningan, lengket dan sangat sedikit. Wujudnya berbeda dengan “susu” yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Kolostrum begitu berharga. Kolostrum mengandung tinggi karbohidrat, tinggi protein, tinggi antibodi, kaya sel darah putih dan rendah lemak (link)

WHO universally recommends colostrum, a mother’s first milk or the ‘very first food’, as the perfect food for every newborn (link). 

Secara umum, ASI merupakan makanan alami pertama juga menjadi standard baku emas pemberian makan bagi bayi. Jika ibu dan bayi lahir sehat bugar tanpa penyulit maka bantu untuk melakukan Inisiasi Menyusui. Berikan kolostrum sebagai pengisi pertama saluran cerna bayi yang masih sangat lemah itu. ASI eksklusif terbukti secara ilmiah memberikan banyak manfaat.

1543376536992

Banyak ibu belum tahu tentang wujud kolostrum ini. Mereka berpikir setelah persalinan, ASI akan mengalir deras bagai air mancur. Padahal kolostrum memiliki wujud berbeda jauh, namun manfaatnya bagi bayi sungguh luar biasa (link). Kolostrum ini akan berubah jadi ASI peralihan dalam waktu 3 hari. Berikut ini foto ASI peralihan:

photogrid_1518575685513.jpg

Laktogenesis I dimana mulai terjadi produksi ASI terjadi sejak pertengahan masa kehamilan dengan maturasi kelenjar payudara. Bahkan beberapa ibu kolostrumnya sudah keluar saat masih hamil. Di 24 jam pertama, payudara akan menghasilkan kolostrum yang meskipun jumlahnya hanya sekitar 37 mL (7 – 123 mL). Di hari 3 – 14 ASI berubah menjadi ASI peralihan. Pada 24 – 48 jam produksi ASI sekitar 84 mL (44 – 335 mL), 48 – 72 jam sekitar 408 mL (98 – 775 mL) dan di 72 -96 jam sekitar 625 mL (378 – 876 mL) dalam 24 jam. ASI peralihan akan menjadi ASI matang di hari 14 pasca persalinan. Pada minggu ke-4 produksi ASI sekitar 750 – 1050 mL. 

Secara umum kondisi “ASI belum keluar” ini ada 3 : 

  1. ASI sebenarnya sudah keluar yaitu kolostrum
  2. ASI terlambat keluar
  3. ASI tidak keluar

Baca juga: 10 Tip Berhasil Menyusui

Mitos ASI Belum Keluar

Pembahasan kondisi ini ibu merasa “ASI belum keluar” padahal sudah ada kolostrum di payudara.

Pada sebagian besar ibu yang sehat tanpa faktor risiko biasanya ASI sudah ada sejak masa tengah akhir kehamilan yaitu kolostrum. Ibu kemudian akan melewati proses persalinan dengan segala kejutannya. Jika persalinan lancar dimana ibu dan bayi baru lahir sehat bugar maka segera menyusui sangatlah penting. Tujuan inisiasi menyusui salah satunya supaya payudara mendapat rangsangan stimulus untuk memproduksi lebih banyak ASI. Baca lebih lanjut tentang Inisiasi Menyusui

Berikutnya lakukan praktek menyusui responsif. Pola menyusui responsif sangat penting untuk memastikan bayi mendapat kecukupan asupan ASI. Pastikan ibu menyusui bayi dengan benar. Ibu peka melihat tanda bayi lapar kemudian menyusui di saat awal tanda bayi lapar. Proaktif mengawasi posisi dan pelekatan menyusui supaya baik, hisapan bayi aktif, tanda bayi menelan ASI dan tanda bayi menyusu hingga kenyang. Orang tua dan keluarga memantau tanda kecukupan asupan ASI sejak bayi umur 24 jam pertama. Buat catatan penyusuan jam dan lama waktu bayi menyusu, BAK dan kondisi urin serta BAB dan kondisi feses di buku catatan kesehatan anak.

Informasi berikut akan membantu ibu:

Semua ibu dan bayi harus sudah diperiksa oleh tenaga kesehatan sebelum pulang ke rumah. Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan (link). Wajib melakukan periksa kontrol kesehatan sesuai anjuran tenaga kesehatan sebelum pulang dari fasilitas kesehatan tempat bersalin. Segera hubungi Konselor Menyusui kapan pun ada masalah menyusui dan periksa kontrol ke tenaga kesehatan saat ada permasalahan kesehatan.

Menyusui dalam 2 minggu pertama pasca persalinan ini merupakan fase kalibrasi kemampuan produksi ASI oleh payudara. Pemberian susu formula tanpa indikasi medis akan mempengaruhi pembentukan koloni flora normal di usus, berisiko alergi, bayi kenyang malas menyusu, bayi menolak menyusu di payudara, payudara bengkak, puting lecet, mastitis, produksi ASI sedikit dan terjadilah “lingkaran setan” rentetan permasalahan menyusui sehingga ibu jadi menyapih dini.

Jika ibu memang ingin menyusui maka segera cari bantuan. Ibu tidak sendiri. Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui supaya sukses lancar menyenangkan.

 

ASI Terlambat Keluar

Laktogenesis II dimana produksi ASI bertambah pesat terjadi pada 30 – 40 jam pasca persalinan. ASI terlambat keluar merupakan kondisi dimana ASI belum keluar atau belum bertambah banyak dalam 72 jam atau lebih pasca persalinan. Kondisi ini disebut sebagai delayed onset of lactogenesis II.

Penyebab gangguan pengeluaran ASI antara lain: penyebab primer dimana ibu tidak bisa memproduksi banyak ASI dan penyebab sekunder (faktor kondisi bayi dan faktor manajemen menyusui tidak baik) 

Beberapa kondisi berikut bisa menyebabkan keterlambatan produksi ASI dan hingga menyebabkan ASI tidak keluar:

  • Penggunaan susu formula atau suplementasi tanpa indikasi medis,
  • Pemakaian empeng tanpa indikasi medis,
  • Membuat jadwal menyusui dengan pembatasan menyusui, 
  • Bayi tidak menyusu dengan baik sehingga ASI banyak tersisa di payudara menyebabkan produksi selanjutnya terganggu: bayi prematur, bayi sakit, bayi memiliki kelainan kongenital, bayi cenderung mengantuk, bayi terpisah dari ibu, dll,
  • Terjadi retensi plasenta,
  • Riwayat operasi payudara,
  • Riwayat radiasi pada payudara,
  • Ibu terdapat diabetes mellitus tipe I,
  • Ibu obesitas,
  • Permasalahan hormon pada ibu yang mengalami defisiensi prolaktin,
  • Ibu memiliki insufisiensi kelenjar payudara (link),
  • Kondisi hipertensi tidak terkontrol
  • Hipoandrogenisme
  • Ibu mendapat penambahan sangat banyak infus hingga mengalami edema,
  • Ibu mengalami proses persalinan sulit, panjang dan lama,
  • Ibu melahirkan dengan bedah caesar kemudian tidak dibantu menyusui,
  • Ibu dengan perdarahan pasca persalinan,
  • Proses pembiusan saat persalinan,
  • Penggunaan obat/hormon tertentu,
  • Ibu tidak mendapatkan dukungan dan bantuan menyusui

Keterlambatan produksi ASI harus segera dicari tahu penyebabnya dan ditangani dengan baik. Jika tidak ditangani maka berisiko menyebabkan kegagalan menyusui. Tenaga kesehatan, konselor menyusui dan keluarga lebih proaktif membantu ibu. Bantuan praktis menyusui seperti memastikan posisi pelekatan baik, ibu menyusui bayi lebih sering dengan tetap peka melihat tanda tubuh bayi, ekstra memerah ASI selesai menyusu diharapkan bantu bayi mendapat asupan dan merangsang payudara memproduksi lebih banyak ASI. Baca tip memerah ASI disini.

fb_img_1542683933190.jpg

Foto ini tampak dr. Astri Pramarini, IBCLC memerah kolostrumnya karena terpisah dengan bayi di ruang rawat intensif. 

Lakukan kontak kulit sesering mungkin, praktek tidur satu ruangan dan satu tempat tidur secara aman nyaman bersama bayi. Rangsang bayi untuk lebih sering menyusu dengan memastikan bayi kenyang. Gendong bayi dengan kain saat ibu beraktivitas supaya lebih mudah menyusui. Pijat payudara sebelum, saat dan sesudah menyusui. Minta bantuan suami untuk melakukan pijat punggung. Pastikan ibu makan bergizi seimbang, minum dan istirahat dengan cukup supaya produksi ASI makin prima. Hindari orang-orang yang membawa energi negatif. Lakukan babymoon bersama bayi. Buat jadwal untuk istirahat di rumah, batalkan semua acara, utamakan menyusui bayi. Fokus untuk pulih sehat bersama bayi. 

Ibu memerlukan dukungan tenaga kesehatan, keluarga dan sahabat yang positif. Semakin cepat untuk mencari tahu penyebabnya akan semakin baik. Jika ASI belum keluar akibat permasalahan medis maka akan diperlukan penanganan sesuai penyebabnya. Penanganan retensi plasenta dengan dilatasi dan kuretase sisa jaringan plasenta. Ibu dengan diabetes serta berbagai gangguan kesehatan lain sebaiknya mengontrol sakitnya sejak masa kehamilan. Ibu dengan bayi belum bisa menyusu langsung dibantu untuk menstimulasi payudara, mengeluarkan ASI serta memberikan suplementasi menggunakan ASIP-nya sendiri.

ASI Tidak Keluar

ASI tidak keluar disebabkan oleh permasalahan pre-glandular, glandular dan post-glandular. Pada sejumlah kecil kasus, ASI memang bisa tidak keluar. ASI sama sekali tidak keluar biasanya disebabkan karena kondisi kesehatan ibu (primer) dan kesalahan manajemen menyusui. Penyebab kegagalan laktogenesis primer (primary lactation failure) karena abnormalitas kondisi anatomi payudara dan faktor kelainan hormonal. Insufisiensi kelenjar payudara, perdarahan postpartum dengan Sheehan syndrome, beberapa prosedur pembedahan payudara seperti reduksi mammoplasty menjadi beberapa contoh kasus penyebab primer ASI tidak keluar. 

Kondisi laktogenesis normal bisa berbalik menjadi ASI tidak keluar jika manajemen menyusui buruk. Ibu mengeluarkan ASI dengan dua cara yaitu menyusui bayi dan memerah payudara. Memerah payudara dilakukan jika tidak bisa menyusui bayi secara langsung. Pengeluaran ASI harus tuntas supaya proses produksi berlangsung lancar. Jika proses pengeluaran ASI tidak tuntas maka sisa ASI dalam payudara akan menyebabkan produksi ASI berikutnya makin berkurang. Jika ASI tidak dikeluarkan sama sekali maka sel-sel kelenjar payudara akan mengalami involusi dalam hitungan hari hingga beberapa minggu dimana kondisi payudara ibu akan kembali seperti sedia kala dan ASI sama sekali tidak keluar.

Tata Laksana 

Kondisi ketidaktahuan tentang laktogenesis berpotensi menggagalkan menyusui. Banyak kasus dimana kolostrum dibuang sebab kurangnya pengetahuan. Tentu hal ini sangat merugikan bayi. Keterlambatan produksi ASI sekunder bisa dicegah dengan bantuan praktis menyusui sehingga ibu lancar memberikan ASI eksklusif. Kondisi keterlambatan dan kegagalan produksi ASI harus ditangani sebaik mungkin. 

  1. Konseling menyusui dan pemeriksaan payudara pada masa kehamilan
  2. Memberikan bantuan praktis menyusui sejak persalinan untuk mencegah kegagalan menyusui yang merugikan bayi dan ibu 
  3. Memantau kondisi bayi: nomogram berat badan, proses menyusui, tanda kecukupan ASI
  4. Memastikan asupan nutrisi bayi tercukupi supaya sehat dengan pemberian suplementasi yang aman jika diperlukan
  5. Terapi tata laksana penyebab gangguan kesehatan yang menjadi faktor risiko gangguan produksi ASI

Ketiga kondisi ini bisa dikenali dan ditangani dengan tepat jika ibu, keluarga dan tenaga kesehatan sudah teredukasi tentang menyusui sejak masa kehamilan. Bayi akan dipantau pertambahan BB dengan nomogram berat badan sehingga bisa dikawal kecukupan asupan ASI dan untuk mempertimbangkan pemberian suplementasi. Keluarga, konselor menyusui dan tenaga kesehatan sebaiknya memberikan bantuan praktis menyusui kepada ibu yang masih lemah kondisinya sehingga awalan menyusui berjalan lancar.

PhotoGrid_1542008705407

Pemberian suplementasi tambahan dilakukan sesuai indikasi medis berdasarkan hierarki makanan bayi rekomendasi WHO. Penggunaan suplementasi tambahan ini hanya sementara serta tidak menggantikan proses menyusui secara langsung selama ibu tetap ingin menyusui bayi. Berikan suplementasi menggunakan sendok, cangkir atau alat bantu laktasi di payudara. ASI ibu dengan segala manfaat jangka panjang dan jangka pendek tetap menjadi pilihan terbaik, selama tidak ada kontraindikasi menyusui.

Sejumlah kecil ibu memang tidak bisa menyusui dengan alasan indikasi kesehatan. Namun sebagian besar ibu gagal/tidak bisa menyusui bayi sesuai keinginannya karena tidak tahu caranya dan tidak mendapatkan dukungan menyusui. Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui.

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.