ASI, Kesehatan Wanita

Abses Payudara

ABSES PAYUDARA

Abses payudara yang akan dibahas dalam artikel ini adalah lactational breast abscess. 

Abses payudara merupakan komplikasi paling berat dari manajemen menyusui yang kurang baik. Abses payudara sering terjadi sebagai komplikasi pada  mastitis. Pada 3% mastitis bisa berkembang menjadi abses. Insidensi abses payudara berkisar antara 0,4% hingga 11% pada ibu menyusui. Abses payudara merupakan sekumpulan nanah dalam payudara yang disebabkan oleh infeksi. 

Tanda dan Gejala Abses Payudara

Beberapa ibu mengeluhkan payudara sakit, terasa berat seperti membawa batu dan badan panas meriang. Payudara tampak merah, jika dipegang nyeri dan teraba lebih panas. Terdapat daerah kemerahan, berbatas tegas, atau teraba benjolan meradang di payudara. Teraba keras dan terasa sakit pada bagian yang terkena. Suhu tubuh ibu bisa meningkat saat diukur dengan termometer.

Kapan Periksa

Ibu harus segera periksa ke dokter saat payudara kemerahan dan sakit yang tidak membaik dalam 8 – 12 jam. Ibu harus periksa ke dokter secepatnya jika curiga abses payudara. Baca juga: Mastitis

Terapi Tata Laksana Abses Payudara

Pemeriksaan dengan USG payudara menunjukkan pengumpulan cairan. Cairan tersebut merupakan sekumpulan nanah jaringan tubuh yang rusak akibat infeksi. Nanah pada abses payudara harus dikeluarkan dan ibu diresepkan antibiotik. Biasanya nanah dikeluarkan menggunakan aspirasi memakai jarum secara serial ataupun tindakan pembedahan insisi drainase sesuai keadaan abses (link). Nanah dikultur jika dicurigai resistensi bakteri untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Ibu yang ingin menyusui sebenarnya tetap boleh setelah pengobatan antibiotik dan tindakan pembedahan untuk drainase membuang nanah, tentunya selama tidak ada kontraindikasi medis lainnya (link, link, link). Menurut WHO menyusui tetap diteruskan pada payudara sehat, menyusui pada payudara sakit dilakukan setelah terapi dimulai. Protokol ABM #4 terbaru, menyarankan ibu tetap meneruskan menyusui pada kedua payudara (link). Menghentikan menyusui membuat banyak ibu lebih kesakitan dan tentunya berpotensi merugikan kesehatan bayi, baca manfaat ASI The Golden Liquid disini. 

Terapi aspirasi menggunakan jarum biasanya lebih cepat sembuh dan lebih nyaman untuk meneruskan menyusui. Tapi jika abses banyak maka bisa diperlukan pembedahan (insisi dan drainase). Jika memungkinkan, dokter akan melakukan insisi jauh dari areola sehingga akan semakin memudahkan ibu menyusui. Beberapa ibu tetap bisa menyusui secara langsung, terlebih jika posisi luka insisi jauh dari tempat pelekatan mulut bayi. Beberapa ibu mengeluh kesakitan saat menyusui langsung. Ibu bisa memerah payudara dengan teratur supaya aliran ASI tetap lancar dan bayi tetap disusui secara langsung pada payudara yang sehat. Banyak ibu bisa sukses menyusui eksklusif, bahkan menyapih dengan cinta setelah menyusui lebih dari 2 tahun pasca tindakan operasi abses payudara.

Penyembuhan luka pada ibu dengan abses payudara yang memutuskan terus menyusui memang lebih membutuhkan waktu, contohnya ibu ini sembuh dalam waktu 2 – 3 minggu. Namun sisi baiknya adalah ibu bisa meneruskan untuk menyusui bayi hingga 2 tahun lebih. Manfaat menyusui bagi kesehatan payudara jangka panjang sangatlah besar. Menyusui terbukti menurunkan risiko kanker payudara pada ibu maupun bayi yang disusui. Pengobatan secara tepat dengan perawatan luka yang baik akan membantu pemulihan.
Baca juga: Manfaat Menyusui

Dokter akan meresepkan obat antibiotik, antinyeri dan melatih tata cara perawatan luka. ASI yang keluar dari luka insisi mengandung antiinfeksi serta faktor pertumbuhan sehingga membantu perbaikan jaringan payudara. Ganti perban, rawat luka dan kontrol periksa luka dengan rutin sesuai anjuran dokter. Minta Konselor Menyusui dan bidan untuk mendampingi proses menyusui sehingga lebih lancar. Konsultasikan keinginan ibu dan pilihan terapi bersama dokter beserta tim tenaga kesehatan yang menangani anda.

Pencegahan Abses Payudara

Pencegahan supaya tidak mengalami abses merupakan tindakan terbaik. Abses sering terjadi sebagai komplikasi mastitis, sehingga lakukan pencegahan mastitis. Lakukan beberapa kiat berikut ini:

  • Menyusui responsif tanpa dibatasi dengan manajemen menyusui secara benar  
  • Ibu bekerja dan ibu exclusive pumping sebaiknya rutin memerah ASI
  • Lakukan gaya hidup bersih sehat, rajin cuci tangan pakai sabun hingga bersih, serta hindari faktor risiko mastitis
  • Pastikan ibu meluangkan waktu untuk makan, minum dan istirahat cukup
  • Bangun sistem pendukung yang baik dengan meminta bantuan keluarga, teman, rekan kerja, konselor menyusui dan tenaga kesehatan berkompeten untuk mendampingi proses menyusui.

Awali menyusui dengan benar melancarkan pemberian ASI serta terlindungi dari komplikasi menyusui. Informasi berikut akan membantu ibu:

  • Posisi Menyusui Bayi (link).
  • Cara Menopang Payudara (link).
  • Pelekatan Menyusui Bayi (link).
  • Pola Menyusui Bayi (link)
  • Mengetahui Tanda Bayi Lapar (link).
  • Mengetahui Tanda Bayi Menelan ASI (link).
  • Mengetahui Tanda Bayi Kenyang (link).
  • Mengetahui Tanda Kecukupan Asupan ASI (link).

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan supaya menyusui berjalan lancar (link)

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.