ASI, Kesehatan Wanita

Mastitis

MASTITIS

Mastitis adalah peradangan pada payudara. Mastitis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada ibu menyusui dengan angka kejadian 2% – 20%. Paling banyak pada minggu ke-6 pasca melahirkan. Namun mastitis bisa terjadi kapan saja.

Baca juga:

Pentingnya pemberian ASI Eksklusif

Gejala Mastitis

Ibu bisa saja mengalami salah satu atau lebih gejala berikut ini:

  • Payudara sakit,
  • Payudara nyeri saat dipegang,
  • Payudara bengkak,
  • Payudara teraba panas,
  • Bisa terdapat area kemerahan, bisa terasa lebih keras saat dipegang
  • Bisa disertai gejala tidak enak badan: tubuh terasa sakit, meriang, demam menggigil dengan suhu 38,5 °C atau lebih,
  • Ibu sering menggambarkan sebagai gejala seperti sakit flu.

mastitis

Penyebab Mastitis

Penyebab mastitis ada banyak. Paling sering disebabkan stasis ASI dan infeksi.

Stasis ASI bisa terjadi akibat sumbatan saluran ductus payudara. Sumbatan menyebabkan payudara bengkak akibat aliran ASI terhenti. Kemudian menjadi mastitis tanpa infeksi. Jika tidak segera teratasi bisa terjadi infeksi bakteri sekunder menjadi mastitis terinfeksi. Sulit membedakan antara stasis ASI, mastitis akibat non-infeksi dan akibat infeksi hanya dengan melihat tanda dan gejala fisik (link).

Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:

  • puting lecet sehinga terjadi infeksi bakteri (paling sering Staphylococcus aureus),
  • payudara bengkak yang tidak teratasi
  • jarang menyusui,
  • membatasi waktu menyusui,
  • membuat jadwal menyusui,
  • terlalu lama melewatkan waktu menyusui/memerah payudara,
  • pengeluaran ASI kurang maksimal akibat bayi yang kesulitan menyusu,
  • produksi ASI terlalu banyak hingga terjadi oversuplai,
  • menyapih mendadak,
  • tekanan pada payudara (bra ketat/kawat/berbusa tebal, pemakaian sabuk pengaman yang kurang tepat posisi, gendongan yang salah, tidur tengkurap)
  • sumbatan saluran ASI (bleb, milk blister) yang dibiarkan
  • pemakaian salep, krim, lotion,
  • ibu stress,
  • kecapekan,

Terapi Mastitis

Pengobatan utama pada mastitis yaitu dengan mengosongkan payudara dan istirahat. Pemberian obat pereda rasa sakit membantu meredakan radang sehingga ibu lebih nyaman dan aliran ASI lancar lancar. Istirahat dengan sering menyusui bayi memakai payudara yang sakit. Mastitis akibat infeksi bakteri harus diobati dengan antibiotik sesuai petunjuk dokter.

Kiat menyusui saat mengalami mastitis:

  • Sebelum menyusui: Kompres hangat di punggung, bahu, dada bagian-atas payudara atau mandi air hangat sebelum menyusui. 
  • Saat menyusui: Posisikan sehingga hidung/dagu mengarah ke posisi mastitis. Jika mastitis merata maka lakukan posisi menyusui di berbagai arah supaya ASI bisa keluar tuntas di seluruh bagian payudara. Jika LDR sulit, mulai dengan payudara sehat kemudian setelah ASI keluar segera pindahkan bayi ke payudara sakit. Upayakan mengosongkan payudara dengan baik.
  • Setelah menyusui: Kompres dingin setelah menyusui sehingga nyeri reda.

Lakukan kompres sebelum menyusui, sesudah menyusui atau diantara waktu menyusui dengan memperhatikan kenyamanan ibu. Kompres hangat ini bisa pakai handuk kecil atau kain yang dibasahi air hangat. Letakkan kompres hangatnya jangan tepat di area peradangan pada payudara, sebab rangsangan panas bisa memperparah peradangan sehingga ada ibu yang kurang nyaman. Kompres dingin bisa menggunakan handuk kecil atau kain yang dibasahi air dingin atau es diremukkan dalam plastik kemudian dibungkus handuk kecil. Tidak boleh pakai kompres panas dan tidak boleh langsung menempelkan es di kulit. 

Pemijatan bisa membantu proses penyembuhan mastitis. Pemijatan payudara pada mastitis tidak boleh sembarangan. Pemijatan salah hanya akan memperburuk kondisi ibu. Lakukan pemijatan secara lembut sehingga ibu justru merasa nyaman. Pemijatan melancarkan aliran darah, aliran getah bening serta memancing refleks oksitosin sehingga aliran ASI lancar. Minta Konselor Menyusui mengajarkan pijat lembut memakai ujung jari dengan gerakan memutar mengarah ke puting ketika ibu menyusui serta pemijatan untuk memperlancar aliran peradaran getah bening dari areola ke arah limfonodi ketiak memakai Therapeutic Breast Massage of Lactation. Pijat punggung juga bisa membantu melancarkan aliran ASI.

Istirahat sangat penting. Ibu sebaiknya melakukan tirah baring bersama bayi supaya mendapatkan istirahat cukup serta bisa sering menyusui. Ibu harus tetap minum air putih dengan cukup. Membatasi asupan cairan tanpa indikasi medis hanya akan memperparah kondisi sakit ibu. Jadi keluarga bantu pastikan ibu dapat makan, minum dan istirahat yang baik. Ibu sehat dan bayi yang lahir sehat cukup bulan tanpa kontraindikasi medis boleh meneruskan menyusui selama mastitis (baca di bagian kontraindikasi menyusui). Ibu yang tidak bisa menyusui saat mastitis harus memerah payudara secara teratur (baca pembahasan exclusive pumping).

Baca juga:

Tips memerah ASI

Periksa ke Dokter

Mastitis akibat sumbatan ASI dengan penanganan tepat biasanya membaik dalam 24 jam. TETAPI sebaiknya ibu segera periksa ke dokter jika ada salah satu hal berikut: lecet puting, mastitis pada kedua payudara, gejala makin memberat dalam 8 – 12 jam atau ibu merasa sangat kesakitan . 

Ibu bisa periksa ke Puskesmas atau Rumah Sakit. Mastitis ringan akan diberikan resep obat dengan terapi rawat jalan. Lakukan kontrol dan pengobatan sesuai petunjuk dokter. Mastitis berat dimana ibu sangat kesakitan, tidak ada yang merawat di rumah atau membutuhkan pengobatan antibiotik intravena akan dilakukan rawat inap di rumah sakit. 

Rujuk ke dokter spesialis serta dilakukan tes lab uji kultur dan sensitivitas lebih lanjut jika terdapat salah satu hal berikut: mastitis tidak membaik dalam 2 hari setelah terapi antibiotik, mastitis berulang, mastitis dengan kasus tidak biasa, riwayat ibu alergi antibiotik dan mastitis akibat infeksi di rumah sakit.

Komplikasi Mastitis

Komplikasi mastitis bisa menyebabkan penyapihan dini, abses dan infeksi (jamur maupun bakteri).

Baca juga: Abses payudara

Pencegahan Mastitis

Lakukan beberapa kiat berikut ini:

  • Menyusui responsif tanpa dibatasi dengan manajemen menyusui secara benar 
  • Biasakan mencoba berbagai posisi menyusui supaya ASI terus mengalir lancar dari seluruh bagian payudara 
  • Ibu bekerja dan ibu exclusive pumping sebaiknya rutin memerah ASI
  • Lakukan gaya hidup bersih sehat, rajin cuci tangan pakai sabun hingga bersih, serta hindari faktor risiko mastitis
  • Pastikan ibu meluangkan waktu untuk makan, minum dan istirahat cukup
  • Bangun sistem pendukung yang baik dengan meminta bantuan keluarga, teman, rekan kerja, konselor menyusui dan tenaga kesehatan berkompeten untuk mendampingi proses menyusui.

Awali menyusui dengan benar melancarkan pemberian ASI serta terlindungi dari komplikasi menyusui. Informasi berikut akan membantu ibu:

  • Posisi Menyusui Bayi (link).
  • Cara Menopang Payudara (link).
  • Pelekatan Menyusui Bayi (link).
  • Pola Menyusui Bayi (link)
  • Mengetahui Tanda Bayi Lapar (link).
  • Mengetahui Tanda Bayi Menelan ASI (link).
  • Mengetahui Tanda Bayi Kenyang (link).
  • Mengetahui Tanda Kecukupan Asupan ASI (link).

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan supaya menyusui berjalan lancar (link)

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.