ASI, Kesehatan Anak, MPASI

Responsive Feeding

PROSES PEMBERIAN MAKAN ANAK SECARA RESPONSIF

Banyak orang tua mengeluhkan anak sulit makan. Sebenarnya: anak memang sulit makan atau orang tua yang tidak paham pola makan anak?

Banyak kesalahan dalam proses pemberian makan anak. Akibat kesalahan pola pemberian makan akhirnya ada anak yang kurang gizi (hingga stunting) dan sebaliknya juga ada yang obesitas. Keadaan malnutrisi pada anak akan mempengaruhi kehidupannya saat dewasa jika tidak ditangani dengan benar.

Bayi lahir dengan kemampuan makan sehat. Makan saat lapar hingga berhenti ketika sudah cukup kenyang. Makan secukupnya sesuai kebutuhan merupakan pola makan yang benar. Makan benar bawa banyak manfaat jika mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya. Namun, masing-masing anak bisa jadi memiliki pola makan unik berbeda dari yang lain. Ada anak yang frekuensi makan 3 kali sehari dengan jumlah makanan banyak sekali makan, ada pula anak frekuensi makan 5 kali sehari dengan jumlah makanan sedikit sekali makan. Pola pengasuhan responsif diharapkan mampu mengatasi berbagai kondisi, termasuk dalam hal pemberian makan sesuai kebutuhan anak.

Menyusui Responsif

Payudara tidak transparan, volume produksi ASI total tentu saja sulit diukur secara pasti dan pola menyusu bayi bervariasi. Wajar jika ibu menjadi bimbang meragu. Solusinya lakukan manajemen menyusui yang baik dengan responsif melihat kebutuhan bayi. 

Ibu bisa responsif melihat tanda bahasa tubuh yang bayi berikan. Pantau kurva tumbuh kembang, kesehatan dan tanda kecukupan asupan ASI. Ibu harus proaktif pastikan bayi sudah kenyang, jika belum tampak tanda kenyang maka rangsang supaya kembali aktif menghisap dengan teknik breast compressiondouble nursing dan teknik lain (link) hingga bayi kenyang. Proaktif bangunkan bayi jika malas menyusu serta cenderung tidur sepanjang waktu.

Informasi berikut akan membantu ibu:

  • Posisi Menyusui Bayi (link). 
  • Cara Menopang Payudara (link). 
  • Pelekatan Menyusui Bayi (link). 
  • Pola Menyusui Bayi (link)
  • Mengetahui Tanda Bayi Lapar (link). 
  • Mengetahui Tanda Bayi Menelan ASI (link). 
  • Mengetahui Tanda Bayi Kenyang (link). 
  • Mengetahui Tanda Kecukupan Asupan ASI (link). 

Menyusui secara responsif menjadi bagian dari langkah pertama proses pemberian makan responsif yang penting bagi pondasi nutrisi anak. Ibu menyusui tanpa dibatasi siang dan malam mengikuti keinginan bayi. Ibu proaktif membantu bayi  supaya lancar menyusu sejak kali pertama. Mulai dengan Inisiasi Menyusui lanjutkan dengan Pemberian ASI Eksklusif kemudian saat umur 6 bulan berikan makanan pendamping ASI MPASI WHO akhiri menyusui saat anak berumur 2 tahun atau lebih pakai Menyapih dengan Cinta.

 

1542773328748

Sumber gambar instagram @lalecheleagueusa

Pemberian Makan Aktif Responsif

Pada umur 6 bulan anak siap belajar makan solid secara bertahap sesuai tahapan perkembangan juga kebutuhan bayi. Gunakan metode pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) rekomendasi WHO/UNICEF. Selama proses makan MPASI  tetap diteruskan menyusui hingga setidaknya umur anak 2 tahun. ASI tetap memberikan banyak manfaat. Orang tua harus proaktif rutin pantau tumbuh kembang kesehatan anak secara teratur sebagai bagian dalam pola pengasuhan responsif.

Baca juga:

Pemberian makan active responsive feeding MPASI WHO

1541992280692

Baca juga:

Pintar membaca kurva pertumbuhan anak

Manfaat pemberian makan responsif:

  • Membangun pola kebiasaan makan baik yang sehat
  • Pertumbuhan anak baik sebab kebutuhan asupan tercukupi
  • Produksi ASI lancar sehingga payudara sehat sejak awal hingga akhir proses menyusui 
  • Mencegah kurang gizi dan obesitas sebab asupan makan tepat sesuai kebutuhan anak
  • Anak belajar makan sesuai dengan tahapan perkembangan
  • Waktu makan lebih mudah
  • Waktu makan menyenangkan sehingga mempererat hubungan kasih sayang dalam keluarga  

Ciptakan Pengalaman Makan Positif dengan Pemberian Makan Responsif

Pola pengasuhan responsif menunjukkan orang tua memegang kontrol secara aktif namun juga memberikan ruang bagi anak untuk mendapat pengalaman positif bagi tumbuh kembang yang sehat. Bayi memang belum bisa bicara, namun dia bisa menunjukkan tanda kepada orang tuanya saat lapar dan saat kenyang sejak baru lahir;. Tugas orang tua untuk responsif mengenali bahasa tubuh bayi.

Bayi bisa makan dengan baik di payudara sejak baru lahir, bisa lihat di  video breast crawl saat inisiasi menyusu dini (link). Bayi bisa menunjukkan tanda lapar (link). Bayi bisa menunjukkan tanda kenyang (linkmeski belum bisa bicara. Bayi butuh bantuan orang lain di lingkungan sekitarnya supaya bisa makan benar sejak awal kehidupan. Jadi, ayah ibu dan keluarga harus proaktif sensitif merespons kebutuhan bayi, termasuk kebutuhan akan pemenuhan nutrisi.

Bagi anak, waktu makan juga waktu untuk belajar tentang kehidupan. MPASI bukan hanya sekedar makanan. Namun juga saatnya anak belajar cara makan, kapan waktu makan, tempat makan, dan interaksi bersama para pemberi makanan sehingga dalam MPASI WHO ini juga diperhatikan faktor psikososial anak. WHO/UNICEF merekomendasikan pemberian MPASI bergizi seimbang sesuai kebutuhan anak secara aktif responsif. Orang tua responsif terhadap kebutuhan anak, orang tua juga proaktif mengajari anak makan sehat sesuai tahapan tumbuh-kembang anak. 

Anak kecil apalagi bayi belum bisa dibiarkan makan sendiri sebab dia belum mampu makan mandiri juga belum tahu makanan apa yang dibutuhkan tubuhnya. Anak saya bahkan pernah hampir makan tanah, kerikil, daun rumput, kabel, serangga, sabun cuci dan bahkan racun tikus saat kecil. Anak kecil belum paham benda apa yang aman dimakan dan benda apa yang bahaya dimakan. Tidak semua benda yang dimakan (masuk mulut) anak kecil ini berarti sebagai makanan yang dibutuhkan tubuhnya. Anak kecil pun akan suka-suka-dia menolak makanan tertentu padahal makanan tersebut menyehatkan tubuh. Wajib pantau kebutuhan nutrisi makro maupun mikro anak. Itulah kenapa memilih cara pemberian makan aktif responsif menjadi solusi tepat pemberian makan anak.

MPASI rekomendasi WHO/UNICEF menggunakan aneka ragam bahan makanan lokal bergizi seimbang yang mudah terjangkau dengan memperhatikan frequency (frekuensi MPASI), amount (jumlah takaran MPASI), thickness (tekstur makanan MPASI), variety (jenis), active/responsive feeding (makan responsif) dan kebersihan. Penggunaan suplementasi dan makanan fortifikasi diberikan sesuai indikasi kesehatan. Makan menggunakan bahan makanan lokal penting bagi ketahanan pangan keluarga, komunitas setempat dan negara. MPASI berbahan dasar pangan lokal bergizi seimbang memudahkan adaptasi bayi menerima menu meja keluarga.  Pola makan ini berkelanjutan serta tidak membebani keluarga. 

Pemberian Makan Secara Responsif

Pemberian makan responsif memfasilitasi orang tua untuk memberikan pengalaman makan sehat secara menyenangkan pada anak. Anak difasilitasi otonomi untuk makan dalam pengawasan aman oleh orang tua. Orang tua memegang kontrol namun juga tidak memaksa. Orang tua memegang kontrol kendali makan sehat namun ada ruang bagi anak untuk memutuskan sehingga terjadi internalisasi pola makan secara menyenangkan. Proses ini diharapkan akan berkelanjutan membentuk kebiasaan makan baik hingga anak tumbuh dewasa. 

Pemberian makan anak secara responsif diterapkan saat masa ASI eksklusif, pemberian MPASI dan pemberian pengganti ASI sesuai indikasi kesehatan. Orang tua peduli, namun juga tidak memaksakan kehendak.

Anak yang dipaksa terus-menerus menghabiskan susu dalam botol tanpa memperhatikan tanda makan bisa mengalami overfeeding. Kelebihan asupan makan bisa menyebabkan obesitas. Anak saat dipaksa makan akan merasa ketakutan, marah, tidak nyaman, bahkan hingga trauma. Anak yang tidak diberi makan saat lapar atau diberi makan namun tidak tepat mencukupi kebutuhannya maka bisa jadi kurang gizi. Orang tua juga jadi ikut stres tertekan saat anak susah makan atau anak sakit akibat malnutrisi. Anak akan belajar bahwa proses makan itu tidak menyenangkan. Efeknya saat dewasa pola makan jadi tidak baik sehingga meningkatkan risiko terjadi banyak penyakit berbahaya.

Jika anak sulit makan maka orang tua proaktif segera cari penyebabnya dan diatasi dengan baik. Ciptakan rutinitas jadwal makan yang baik. Jangan sampai anak mengalami kekurangan asupan gizi. Baca juga: Mengatasi anak susah makan

Pemberian makan secara responsif jadi pengalaman makan sehat menyenangkan untuk anak tumbuh berkembang dengan baik.

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan (link)

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.