Kesehatan Umum

Konsumen Kesehatan

Menjadi Konsumen Kesehatan Cerdas

Pasien sebagai konsumen punya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara layak. Gunakan hak tersebut dengan baik. 

Jangan jadikan tenaga kesehatan sebagai musuh. Jadikan tenaga kesehatan sebagai mitra sejajar dalam menjaga kesehatan diri juga keluarga. Nah, sayangnya terdapat jurang perbedaan pengetahuan lebar antara tenaga kesehatan bersama pasien. Waktu konsultasi pun juga terbatas. Banyak faktor menjadi kendala komunikasi bersama tenaga kesehatan. Mari lakukan inisiatif menjadi konsumen kesehatan cerdas.

 

 

1542890120524

 

Berikut ini tip menjadi konsumen kesehatan cerdas:

  1. Lakukan gaya hidup bersih sehat dengan praktek pencegahan penyakit.
  2. Miliki buku berisi informasi kesehatan pribadi berisi riwayat penyakit dahulu,  catatan vaksinasi, hasil pemeriksaan cek kesehatan rutin, catatan obat, catatan alergi, riwayat singkat penyakit keluarga,serta catatan riwayat kesehatan lainnya.
  3. Persiapkan sesi konsultasi dengan membuat catatan tentang keluhan gejala, apa saja gejala sakit, tanda, perubahan fisik, keluhan spesifik, memberat saat, membaik saat, usaha yang telah dilakukan, obat yang telah diminum, dll.
  4. Persiapkan sesi konsultasi dengan membuat catatan pertanyaan tentang: diagnosis penyakit, prognosis, pemeriksaan yang dibutuhkan, tata laksana terapi yang harus dijalani, efek terapi (dilakukan dan jika tidak dilakukan), obat (jenis, efek, efek samping, petunjuk cara penggunaan, interaksi obat), modifikasi rutinitas gaya hidup yang diperlukan, hal-hal yang ingin diketahui. Tiga pertanyaan penting: diagnosis, tata laksana terapi dan tanda perhatian/bahaya.
  5. Pastikan sudah jelas memahami informasi  kondisi kesehatan saat keluar dari tempat praktik, tanda yang harus diperhatikan dan waktu untuk kontrol pemeriksaan ulang. Catat hasil konsultasi dalam buku kesehatan pribadi dan turuti instruksi dokter. 

Persiapkan pembiayaan kesehatan dengan alokasi pengaturan finansial secara tepat. Jika memakai asuransi sebaiknya pelajari tata cara pemakaian dan prosedur perujukan yang berlaku. 

Pahami bahwa periksa konsultasi datang ke dokter/ahli lainnya untuk mencari tahu penyebab permasalahan dan mendapatkan solusi atas situasi yang dikeluhkan.

Keberhasilan terapi butuh kerjasama kepatuhan pasien.

Ilustrasi contoh kasus:
  • Ada orang tua begitu sedih saat seorang anaknya terdiagnosis mengalami kanker yaitu leukemia. Dokter menyatakan persentase keberhasilan pengobatan 80%. Meski bimbang dan ragu sebab dokter tidak bisa menjanjikan kesembuhan 100%, mereka tetap setuju dengan tatalaksana terapi yang akan dilakukan. Alhamdulillah kanker yang diderita oleh anak berhasil sembuh hingga kini.
  • Seorang pria terdiagnosis mengalami katarak sehingga dokter menyarankan untuk operasi. Alih-alih setuju dengan saran dokter, dia memilih terapi pemijatan mata di pengobatan alternatif. Akibatnya lensa mata lepas, matanya mengalami radang hebat dan akhirnya salah satu mata mengalami kebutaan. 
  • Seorang bapak memutuskan untuk tidak memberikan anaknya vaksinasi. Akhirnya saat wabah difteri 4 orang anaknya tertular dan salah seorang meninggal akibat komplikasi infeksi difteri. 
  • Seorang ibu dengan diabetes berhenti meminum obat yang dokter penyakit dalamnya resepkan sebab ragu setelah mencari tahu di internet. Dia tertarik dengan ramuan obat alami yang dikatakan bisa menyembuhkan diabetes. Beberapa waktu kemudian kakinya harus diamputasi akibat membusuk.
  • Seorang ibu hamil tidak meminum suplemen yang diresepkan oleh dokter spesialis kandungan dengan alasan menghindari zat kimia. Pada saat persalinan hemoglobinnya sangat rendah sehingga terjadi perdarahan, butuh transfusi berkantong-kantong darah dan harus masuk ICU saat pemulihan. Bayinya pun mengalami anemia defisiensi besi.
  • Seorang pemuda mengalami patah tulang di betis kaki. Dokter bedah menyarankan untuk operasi namun dia menolak serta memilih pengobatan alternatif. Beberapa bulan kemudian datang kembali ke rumah sakit akibat keluhan nyeri yang tak kunjung hilang. Pemeriksaan dokter mendapatkan kakinya berbeda panjang akibat proses penyembuhan tidak sempurna. 
  • Seorang bapak terdiagnosis diabetes mellitus. Dokter menyarankan serangkaian terapi meliputi obat rutin setiap hari, diet khusus diabetes, olahraga ringan secara rutin, modifikasi perilaku, merawat kaki, berhenti merokok dan periksa kontrol teratur setiap bulan. bapak tersebut kooperatif mengikuti saran dokter, bahkan untuk olahraga dia bergabung dengan klub olahraga di daerahnya. Kini sepuluh tahun berlalu dan beliau tetap bisa menikmati hidup aktif.

Setiap keputusan dalam hidup memang memiliki konsekuensi. Tugas manusia mengupayakan ikhtiar memilih keputusan terbaik. Ilmu kedokteran modern sendiri merupakan sistem dimana dokter dan tenaga kesehatan lainnya mengobati keluhan dan gejala penyakit menggunakan metode pengobatan ilmiah.

Ilmu kesehatan merupakan ilmu terapan dimana pengetahuan dalam keilmuan tersebut akan diterapkan untuk penyelesaian masalah secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Diperlukan pendekatan pengambilan keputusan yang aman sehingga dalam dunia kedokteran kita mengenal konsep EBM. Evidence-based medicine (EBM) is the conscientious, explicit, judicious and reasonable use of modern, best evidence in making decisions about the care of individual patients. EBM menggunakan informasi ilmiah terbaik dengan menggabungkan pengalaman klinis dan mempertimbangkan nilai hidup yang dianut pasien dalam pendekatan pengambilan keputusan.

Selalu ada ruang untuk berdiskusi

Jika diberikan resep obat maka tanyakan apa saja obat yang diberikan, efek yang ditimbulkan, cara penggunaan. Menjadi konsumen kesehatan cerdas jangan hanya berpatokan pada obat. Tata laksana terapi penyakit tidak harus selalu dengan obat. Jika diberikan obat tetap saja harus melaksanakan instruksi tata laksana lainnya (modifikasi gaya hidup, pola makan, aktivitas fisik, dll) sembari meminum obat sesuai petunjuk dokter. Diskusikan apa manfaat, proses tindakan, efek yang mungkin timbul atau sebaliknya efek jika tidak melakukan rencana terapi tersebut. Jika masih ragu maka cari second opinion.

Menjadi konsumen kesehatan cerdas bukan berarti anti-obat dan anti-medis

Gunakan obat secara rasional. Gunakan obat secara tepat, baca petunjuk informasinya secara cermat. Minum obat sendiri jika tidak tepat maka bisa menyebabkan kesalahan pengobatan. Penggunaan obat secara rasional jika pasien menerima obat sesuai dengan kondisi klinisnya, dalam dosis sesuai kebutuhannya dan dalam periode waktu yang adekuat. Pemakaian obat alami, obat herbal, suplemen, jamu, dll juga harus rasional. Konsultasikan penggunaan obat bersama dokter dan apoteker profesional yang berkompeten.

Jalin komunikasi pengobatan efektif dilandasi dengan rasa saling percaya dan saling menghormati bersama tenaga kesehatan. Ketahui dasar cara berpikir ilmiah sehingga bisa mencari tahu sumber bacaan akurat. Tanya ke dokter apabila ada hal yang belum dimengerti, ikuti instruksi dokter dan kembali ke dokter jika mengalami keluhan gejala lebih lanjut (atau sesuai kesepakatan waktu kontrol ulang).

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.