ASI

Mengetahui Tanda Bayi Lapar

MENGETAHUI TANDA BAYI LAPAR

Lihat bayi, bukan lihat jam

Gaya pengasuhan responsif sangat baik bagi keluarga. Menyusui merupakan bagian dari gaya pengasuhan responsif untuk memenuhi kebutuhan anak. Ibu responsif melihat kebutuhan bayi. Lalu apa yang harus dilakukan, sementara bayi baru lahir belum bisa bicara? 

Bayi sebenarnya sudah bisa berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya sejak hari pertama kelahiran. Bayi berkomunikasi memakai bahasa tubuh. Jangan khawatir, semakin bertambah umurnya, bayi akan mulai belajar bicara -tidak hanya menangis saja- serta mampu memakai bahasa tubuh lebih jelas lagi. Hingga saat itu tiba, ibu beserta keluarga tetap bisa belajar memahaminya.

Baca juga:

Inisiasi Menyusui

 

Tanda Bayi Lapar

Tanda awal bayi lapar antara lain: “Aku mulai merasa lapar

  • Bola mata bergerak-gerak di bawah kelopak mata yang mulai sedikit terbuka.
  • Menggerakkan kepala dari kanan ke kiri, bayi gelisah, mulai bersuara.
  • Membuka-buka mulutnya.
  • Lidah terjulur keluar seperti menjilat-jilat.
  • Bibir menghisap-hisap dan bayi membuat suara mendecap-decap seperti menghisap.
  • Memperlihatkan refleks mencari puting (rooting reflex) saat disentuh pipinya.

 

Tanda bayi lapar: “Aku lapar

  • Mulai bangun, mulai bergerak
  • Tubuh meregang bahkan hingga bisa membuka bedongnya sendiri
  • Badan bergerak seperti gelisah
  • Mulai menghisap benda yang dekat pipinya.
  • Menghisap tangan atau genggaman tangannya.
  • Menggusek-usek payudara ibunya saat didekap.

 

Tanda bayi sudah sangat lapar: “Aku sangat kelaparan dan sengsara dengan rasa ini!

  • Bayi menangis
  • Bayi rewel.
  • Bayi mengamuk.
  • Bayi yang tadinya mengamuk rewel akhirnya kehabisan tenaga hingga tertidur lagi.

Jika tanda lapar bayi tidak direspons oleh orang di sekitarnya, bayi akan tidur kelaparan. Bayi dan ibu kehilangan kesempatan menyusui. Akibatnya bayi kurang asupan ASI dan payudara ibu mengalami masalah (bengkak, sakit hingga produksi ASI menurun). Jika sering dibiarkan maka bayi yang kurang asupan menjadi kurang gizi dan ibu yang jarang menyusui produksi ASI menjadi sedikit. ASI eksklusif terancam gagal.

Baca juga:

Berikan ASI eksklusif 

Segera respons tanda awal lapar yang diberikan oleh bayi. Menyusui akan lebih mudah ketika bayi belum begitu kelaparan. Bayi yang lapar akan mengamuk sehingga ibu harus menenangkan bayi karena dia tidak akan mau menyusu saat menangis marah. 

Tenangkan dahulu saat bayi menangis karena lidahnya akan terangkat menutup rongga mulut. Kondisi ini menyulitkan ibu untuk memasukkan payudara. Puting akan terblokade oleh lidah, akibatnya pelekatan dangkal sehingga puting dikunyah gusi. Akibatnya ibu kesakitan, puting lecet dan bayi hanya dapat sedikit ASI. Cara menenangkan bayi dengan menggendong, menimang-nimang atau memasukkan jari bersih untuk dihisap hingga tenang kembali. Masukkan payudara setelah bayi tenang sehingga pelekatan baik. Biasakan mencuci tangan dengan sabun dan dibilas menggunakan air mengalir setiap kali akan memegang serta menyusui bayi.

Pola menyusui disarankan responsive feeding dimana ibu mengikuti bahasa tubuh yang diberikan oleh bayi. Menyusui secara responsif diharapkan mampu memenuhi kebutuhan asupan nutrisi bayi, produksi ASI lancar dan payudara ibu sehat.

Pada awalnya memang membingungkan sebab bayi belum bisa bicara. Lambat laun ibu akan memahami keinginan bayi. Jangan khawatir, bayi tidak selamanya akan kecil. Bayi pun akan makin lancar belajar menyusui. 

Baca juga:

Tanda bayi kenyang

Breastfeeding on demand – that is as often as the child wants, day and night (WHO). Frekuensi menyusui memang disarankan tidak dibatasi sesuai kehendak bayi. Namun ibu juga disarankan untuk proaktif, apalagi pada kasus bayi malas menyusu. IDAI menyarankan frekuensi ibu menyusui minimal 8 – 12 kali dalam sehari. Ibu sebaiknya proaktif terutama pada masa-masa awal belajar pemantaban menyusui, utamanya dengan melihat tanda yang diberikan oleh tubuh bayi, disinilah pentingnya pola menyusui secara responsif. 

Baca juga:

Berikan ASI eksklusif 

Minta bantuan konselor menyusui, tenaga kesehatan juga keluarga untuk mendampingi proses menyusui.

Informasi berikut akan membantu ibu:

Pastikan ibu dan keluarga harus mengetahui tentang beberapa poin berikut saat pulang dari tempat melahirkan (link)

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.