Diagnosis dan Pemeriksaan Hipertensi

Diagnosis dan Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik

Pengukuran tekanan darah yang akurat menjadi kunci penting untuk mendiagnosis hipertensi. Beberapa pengukuran yang terpisah selama periode beberapa minggu akan digunakan sebagai penentuan diagnosis. Pasien akan diukur tekanan darahnya menggunakan sfigmomanometer dengan 2-3 kali pengukuran terpisah berjeda 2 menit untuk setiap kunjungan.

Anda sebaiknya duduk istirahat tenang setidaknya 5 menit sebelum pengukuran tekanan darah. Tidak disarankan melakukan pengukuran tekanan darah segera setelah beraktivitas fisik semisal berlari atau naik tangga atau aktivitas lainnya sebab bisa mempengaruhi hasil pengukuran. Pengukuran tekanan darah dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring telentang. Pada pengukuran tekanan darah yang pertama kali, bisa diukur di kedua lengan dan salah satu tungkai untuk menghindari terlewatnya diagnosis koarktasio aorta atau stenosis arteri subklavia.

Tekanan darah dibaca sebagai dua angka yang merupakan kombinasi pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik sebagai berikut:

Tekanan darah sistolik merupakan tekanan tertinggi terhadap dinding arteri saat jantung memompa darah (jantung berdetak). Ditulis di depan. Tekanan darah sistolik normal biasanya sekitar 110 – 120 mmHg (kurang dari 120 mmHg).

Tekanan darah diastolik merupakan tekanan terendah terhadap dinding arteri saat jantung relaksasi dan terisi darah (jantung istirahat diantara detakan jantung). Tekanan darah diastolik normal biasanya 70 dan 80 mmHg (kurang dari 80 mmHg).

Tekanan darah diukur menggunakan sfigmomanometer. Ada 3 jenis tensimeter, yaitu tensimeter yang menggunakan air raksa, digital dan aneroid. Sekilas cara pengukuran tekanan darah sebagai berikut:

  • Manset pengukur tekanan akan diliitkan di lengan atas kemudian petugas akan memompa udara hingga batas dimana tekanan arteri utama lengan mengalami interupsi.
  • Tekanan udara akan dilepaskan perlahan hingga sama dengan tekanan sistolik arteri yang ditimbulkan oleh aliran darah melalui pembuluh arteri. Proses aliran darah akan menimbulkan suara debaran yang ditunjukkan sebagai tekanan sistolik oleh sphygmomanometer. Angka akan dicatat oleh petugas sebagai angka sistolik. Skala hasil pengukuran darah menggunakan millimeter merkuri (mmHg).
  • Tekanan darah dalam arteri utama lengan akan turun menjadi sama dengan tekanan terendah diastolic. Pada saat ini suara debaran tidak terdengar. Angka ini akan dicatat oleh petugas sebagai angka diastolic.
  • Petugas akan mengambil pencatatan tekanan darah beberapa kali untuk mendapatkan angka yang paling tepat sebab banyak orang akan merasa tegang saat diukur tekanan darahnya sehingga ketegangan saraf ini akan meningkatkan angka pengukuran tekanan darah dan dikhawatirkan bisa rancu.
  • Jika hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah sistolik 120 dan diastolik 80 maka akan ditulis 120/80 mmHg.

Tekanan darah biasanya naik perlahan dari 90/60 mmHg saat lahir menjadi 120/80 mmHg saat dewasa. Tekanan darah dibawah 120/80 mmHg dikatakan normal. Tekanan darah rendah jika kurang dari sama dengan 90/60 mmHg. Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih menunjukkan hasil tinggi. Orang dengan tekanan darah antara 120/80 mmHg dan 139/89 mmHg memiliki kondisi “prehipertensi” yang artinya berisiko tinggi mengalami hipertensi. Tekanan darah sistolik antara 140 – 159 mmHg dan tekanan darah diastolik antara 90 – 99 mmHg disebut hipertensi stadium I. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik antara 100 mmHg atau lebih disebut hipertensi stadium II. Orang berumur di atas 60 tahun bisa mengalami tekanan darah sistolik tinggi namun diastolik normal, kondisi ini disebut isolated systolic hypertension. Pada orang tua, tekanan darah sistolik yang dijadikan patokan untuk memulai terapi.

Denyut nadi dari kedua tangan dan kaki akan periksa. Nadi femoralis yang lemah, lambat atau bahkan menghilang sama sekali bisa menjadi tanda koarktasio aorta atau penyakit pembuluh darah tepi yang berat. Pemeriksaan leher dilakukan untuk menilai kondisi pembuluh darah karotis, distensi vena dan pembesaran kelenjar tiroid. pemeriksaan perut dilakukan untuk mencari suara tidak normal akibat kelainan pembuluh darah arto abdominalis dan arteri renalis di ginjal. Pemeriksaan dada dilakukan untuk menilai kondisi jantung seperti pembesaran jantung dan dilatasi aorta.

Pemeriksaan mata mungkin diperlukan jika dicurigai adanya tanda khusus hypertensive retinopathy (seperti perdarahan retina, mikroaneurisma, cotton-wool spot) bisa berhubungan dengan peningkatah risiko gangguan kardiovaskuler (seperti stroke, atau kematian akibat stroke). Dokter akan melakukan pemeriksaan funduskopi untuk menemukan gejala awal atau lambat, akut atau kronis dari hipertensi retinopati seperti takik arteriovenosa atau perubahan di dinding pembuluh darah (seperti copper wiring, silver wiring, SOT, hard exudates, flame-shaped hemorrhages, papilledema). Pasien dengan keluhan pandangan harus dirujuk ke dokter spesialis mata untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Demikian juga penemuan tanda gejala perubahan mata bisa menjadi tanda awal penyakit hipertensi pada kasus yang asimptomatik (tidak bergejala) sehingga pasien bisa segera dirujuk ke dokter terkait.  

Dokter akan menanyakan riwayat gejala, kebiasaan tertentu (merokok, minum alkohol, pola makan, kebiasaan olahraga), pemakaian obat/jamu/suplemen rutin, riwayat penyakit, riwayat keluarga. Persiapkan informasi terkait riwayat pribadi, riwayat penyakit dalam keluarga, riwayat pengobatan, riwayat gaya hidup, riwayat kesehatan secara detail sebab ini akan membantu dalam pemeriksaan. Beberapa pemeriksaan penunjang seperti tes urin, tes darah, tes kolesterol juga rekam jantung mungkin saja akan dibutuhkan sesuai dengan hasil pemeriksaan klinis oleh dokter. Selama proses pemeriksaan dokter sebaiknya diskusikan apa yang perlu dilakukan selama proses pengobatan. Terbuka dengan kemungkinan arahan modifikasi gaya hidup.

Proses pengukuran tekanan darah ini mudah, murah dan tidak sakit sehingga selalu cek tekanan darah anda secara teratur.

Pemeriksaan Penunjang

Penilaian hipertensi pada pasien meliputi pengukuran tekanan darah yang akurat, fokus menggali riwayat kesehatan yang lengkap dan pemeriksaan fisik, juga pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai kondisi klinis.

Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai rekomendasi dokter pada pemeriksaan klinis atau pada individu yang dicurigai memiliki hipertensi sekunder. Semua langkah ini dapat membantu untuk menentukan:

  • Adanya kerusakan organ-akhir
  • Penyebab hipertensi
  • Faktor risiko kardiovaskuler
  • Nilai-nilai dasar fungsi organ untuk menentukan efek biokimia terhadap respons terapi.

Tes laboratorium yang bisa dikerjakan untuk proses diagnosis antara lain urinalisis, kadar glukosa darah puasa atau A1c, hematokrit; kadar natrium serum, kalium, kreatinin dan kalsium; profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL dan trigliserida) setelah 9 hingga 12 jam puasa. Pengukuran glomerular filtration rate (GFR) yang menurun dengan atau tanpa albuminuria dikaitkan dengan peningkatan risiko intrakardiovaskuler.

Pemeriksaan echocardiography kemungkinan bisa mendeteksi dilatasi atrium sinistra, hipertrofi ventricular sinistra dan disfungsi sistolik atau diastolik ventricular sinistra dibanding dengan pemeriksaan EKG (electrocardiography). Indikasi utama terutama untuk evalusia kerusakan organ pada pasien dengan tekanan darah tinggi borderline. Keberadaan hipertrofi ventrikel sinistra membutuhkan terapi antihipertensi meskipun tekanan darah normal atau borderline hipertensi. Pada orang dengan usia lebih dari sama dengan 50 tahun, the 2010 Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI) guideline pada diagnosis dan pengobatan hipertensi mengindikasikan bahwa tekanan darah sistolik menjadi faktor utama untuk menentukan, mengevaluasi dan mengobati hipertensi.

Pemeriksaan Untuk Hipertensi Sekunder

Pemeriksaan lain akan diperlukan pada kasus adanya kecurigaan ke hipertensi sekunder baik dari hasil pemeriksaan dokter maupun dari keluhan pasien. The Seventh Report of the Joint National Committee of Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) menyarankan untuk melakukan tes penyaringan jika dicurigai hipertensi sekunder sesuai tanda dan gejala yang ada pada pasien.

  • Penyakit ginjal kronis : pengukuran GFR
  • Koarktasio aorta : CT angiografi
  • Sindroma Cushing; kondisi dimana terdapat kecurigaan kelebihan glukokortikoid : tes supresi dexamethasone
  • Hipertensi terkait pengobatan: screening obat terkait
  • Phaeochromocytoma : metanephrinephrine dan normetanephrinephrine urin 24 jam
  • Aldosteronisme primer: tes kadar aldosterone urin 24 jam
  • Sleep apnea : tes uji tidur dengan saturasi oksigen dan skala Epworth Sleepiness Scale
  • Hipertensi renovaskuler : USG Doppler, MRA, CT angiografi
  • Gangguan tiroid : uji kadar hormon tiroid seperti TSH, paratiroid

Ambulatory blood pressure monitoring

Ambulatory blood pressure monitoring (ABPM) digunakan untuk monitor tekanan darah harian dan nokturnal, menyediakan informasi seperti persentase pembacaan tekanan darah, load tekanan darah secara umum dan rentang tekanan darah ketika tidur. Secara umum, pembacaan tekanan darah memang lebih rendah dibanding saat berkunjung ke dokter dan bisa memberikan korelasi lebih baik terkait kerusakan organ target. Biasanya terjadi penurunan tekanan darah sebesar 10-20% saat malam. Jika tidak terdapat penurunan tekanan darah maka risiko terjadi serangan kardiovaskuler lebih tinggi. Pasien dengan tekanan darah 24 jam lebih dari 135/85 mm Hg menunjukkan kemungkinan terjadi serangan kardiovaskuler hampir dua kali lipat.

Indikasi ABPM termasuk tekanan darah yang labil; perbedaan tekanan darah saat di dalam dan di luar ruang dokter dan kontrol tekanan darah yang jelek. ABPM ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan sindrom yang disebut white-coat hypertension, dimana hasil pengukuran tekanan darah pasien berbeda sangat jauh antara saat di rumah dengan di rumah sakit.

Diagnosis Hipertensi

Tekanan darah akan meningkat secara alami ketika seseorang berolahraga atau melakukan aktivitas berat kemudian kembali lagi menjadi normal ketika tubuh beristirahat. Tekanan darah tinggi menjadi perhatian ketika seseorang tetap memiliki tekanan darah yang tinggi saat beristirahat. Ini menandakan jantung bekerja terlalu keras dan pembuluh darah arteri menerima tekanan yang berlebih sehingga bisa membahayakan organ tubuh dan bahkan mematikan penderitanya.

Diagnosis Hipertensi:

  1. Hasil rata-rata pengukuran tekanan darah yang dilakukan minimal 2 kali pada 2 kali kunjungan atau lebih dengan menggunakan cutt off minimal 80% lengan atas pada pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahat 5 menit sebelum tekanan darah diperiksa.
  2. Tekanan sistolik = suara fase I dan tekanan diastolik = suara fase 5.
  3. Pengukuran pertama sebaiknya dilakukan di kedua lengan
  4. Pengukuran tekanan darah dengan posisi berdiri bisa dilakukan jika pasien ada indikasi risiko hipotensi postural: usia lanjut, penderita diabetes mellitus, dll
  5. Riwayat faktor risiko kardiovaskuler antara lain: hipertensi; merokok; obesitas; inaktivitas fisik; dislipidemia; diabetes mellitus; mikroalbuminuria atau laju filtrasi glomerulus < 60 mL/menit; usia (pria > 55 tahun atau wanita > 65 tahun); riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskuler dini (pria > 55 tahun atau wanita > 65)
  6. Kerusakan organ target: otak; jantung; mata; ginjal; penyakit arteri perifer
  7. Kemungkinan penyebab hipertensi sekunder

Diagnosis Banding

Diagnosis banding peningkatan tekanan darah bisa disebabkan white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan di kepala, stroke, ensefalitsi, efek obat/jamu/suplemen, dan lain-lain.

Hipertensi memang bisa berbahaya, namun bisa dicegah dengan memantau tekanan darah dan gaya hidup sehat. Cek dengan teratur tekanan darah setelah umur 18 tahun terurama pada individu dengan risiko tinggi atau riwayat keluarga dengan hipertensi. Pada anak-anak juga seharusnya dicek saat pemeriksaan kesehatan rutin di dokter anak. Kerja sama dan terbuka dengan tim dokter yang merawat. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting dalam pengelolaan hipertensi.

Baca selanjutnya: Pengobatan Hipertensi

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Categories: Kesehatan Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s