Menyusui dan ASI

Saya Gagal Menyusui dan Saya Merayakan World Breastfeeding Week

Kisah Menyusui Faiz

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana perjalanan menyusui yang saya jalani karena saya jarang “pamer” prestASI. Kisah saya adalah sebuah kisah panjang yang berawal dari kegagalan menyusui.

Faiz lahir dengan proses persalinan sulit. Induksi selama tiga hari, lanjut divakum dan berakhir di meja operasi untuk menjalani bedah caesar emergency. Bayi saya biru (cyanosis) sehingga harus dirawat di NICU.

Saat itu saya dan suami benar-benar buta-ASI. Hanya tahu tentang ASI eksklusif 6 bulan dan ingin menyusui bayi. Sejak sebelum menikah saya sudah merencanakan untuk menyusui jika punya bayi. Rencana ini pun sudah disetujui oleh calon suami jauh-jauh hari sebelum pernikahan kami. Saya tidak tahu cara menyusui, tidak paham bagaimana memerah payudara dan asing tentang ASI perah.

Keterlambatan memulai menyusui (tanpa IMD) membuat payudara bengkak secara tidak normal. Kesulitan melekat pada payudara bengkak merusak puting hingga tidak hanya lecet berdarah tapi juga cuil “krowak”. Prolonged mastitis, lecet puting grade 4, abses puting, bayi kuning, bayi slow weight gain. Datang ke Poli Laktasi, dokter kaget melihat kondisi saya. Saya hanya disuruh berhenti menyusui, bayi harus ditambah susu formula karena terancam masuk NICU (lagi) dan tanpa instruksi memerah yang jelas.

Instruksi dokter laktasi saya ikuti. Berhenti menyusui. Faiz minum susu dengan sendok sebagai harapan kelak bisa menyusui lagi. Namun sayangnya orang melihat aneh bayi minum pakai sendok. Akhirnya Faiz diberi dot sebab saya sendiri pun kelelahan, kesakitan dan tidak berdaya menolaknya. Tiga minggu kemudian mastitis teratasi, puting masih rusak dan ASI kering. Panik. Mulailah buka internet dan belajar memompa. Satu bulan kemudian ASI makin kering, bayi tidak bisa menyusu dan puting MASIH juga krowak. Faiz kemudian mengalami hernia! 

Susu formula terlalu sulit dicerna membebani ususnya menyebabkan peningkatan tekanan abdomen hingga tumbuh hernia di perut bayi mungil saya. Menangis hingga kering air mata membayangkan bayi harus tidur di atas meja bedah. Saat itu saya harus mengganti susu formula Faiz. Cari tahu di internet susu apa yang terbaik hanya membuat hati makin teriris, saya hanya mendapati penelitian-penelitian tentang keistimewaan ASI.

Kenapa dulu dokter tidak memberitahu saya? (saat itu tampaknya saya lupa jika diri ini juga dokter -yang meski cumlaude- ternyata buta ASI!)

Saya datang ke dokter anak yang terbaik di kampung. Saya pikir seorang ahli anak pasti tahu tentang ASI melebihi dokter umum. Di depan ruang prakteknya ada wanita muda sedang membagi-bagikan sekaleng susu formula bagi semua ibu yang membawa bayi. Saya bertanya pada dokter bagaimana cara untuk menyusui bayi kembali dan meningkatkan produksi ASI. Dia hanya tertawa renyah dan berkata,

“JADI, SEKARANG ANAKMU SUDAH JADI ANAK SAPI?”

Long distance marriage, pathological labour, prolonged bilateral mastitis, lecet puting grade 4, demam, infeksi payudara hingga abses, bahkan saat datang itu puting saya belum sembuh krowaknya, bayi sianosis di NICU, bayi kuning, slow weight gain, bingung puting yang membuat menyusui seperti berperang, hernia yang terancam menjalani proses pembedahan dan sekarang bayi saya dikatai menjadi anak sapi.

Jangan ditanya bagaimana sakit dan perih yang saya rasakan…

Menyadari saat itu tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk membantu saya bisa menyusui, akhirnya menggunakan kemampuan terbaik menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Dulu saya buta social media. Jika membuka internet hanya untuk cari jurnal karena pekerjaan mengajar, praktek dokter juga asisten dosen dan asisten peneliti di Bagian Biologi Molekuler menyita waktu saya. Dunia saya jauh dari dunia ibu-ibu. Teman di facebook pun teman sekolah, teman kerja dan keluarga. Tidak pernah ada orang yang mengunggah foto sekulkas ASI perah atau sertifikat lulus menyusui.

Akhirnya saya bergabung dengan AIMI di facebook. AIMI adalah pintu gerbang saya memasuki ilmu laktasi. Saya kemudian meluaskan pencarian. Kaget bahwa di luar negri dunia kedokteran laktasi sudah maju. Jurnalnya sudah banyak! Pada tahun itu saya benar-benar ngesot belajar tentang ASI dari molekuler, biokimia, fisiologi , pathologi dan cara membantu ibu menyusui dengan berbagai masalah, mulai permasalahan anatomi hingga penyakit. Saya membuat rangkuman setebal 600 halaman, beberapa tulisan terbit di web ini.

Usaha mencari penerangan ilmu ASI membuat saya bisa kembali menyusui Faiz. Yaa, dengan cara istimewa yaitu RELAKTASI, saya bisa menyusui Faiz meskipun payudara sudah kering-kerontang. Payudara kanan hanya keluar 5 mili dan kiri hanya keluar setetes di ujung puting! Saya menyusui dengan memakai alat bantu laktasi berisi suplemen susu. Perlahan ASI kembali keluar. Faiz tumbuh sehat dengan sempurna hingga kemudian dia menyapih dirinya sendiri.

Saya kemudian jatuh cinta dengan dunia laktasi beserta ilmunya. Pada tahun 2013 akhirnya saya menjadi seorang Konselor Menyusui lalu bekerja di Poli Laktasi 2 RS swasta. Saya kemudian melengkapi persyaratan untuk mendaftar beasiswa MILCC di tahun 2014. Alhamdulillah pada tahun 2015 saya berhasil menjadi salah seorang IBCLC setelah lulus tes yang diadakan oleh IBCLE. 

World Breastfeeding Week

Selain bekerja sebagai praktisi laktasi di rumah sakit, saya juga menjadi aktivis menyusui di dunia maya. Saya mendapatkan fakta menyedihkan bahwa saat ini banyak ibu yang malu menyusui. Mereka menanyakan bagaimana cara memberikan dot ketika bepergian jauh, main ke mall, hadir di acara perhelatan seperti resepsi, dsb (dan saya pun bingung).

Mereka pergi bersama bayi, kenapa mereka bingung bagaimana cara memberi susu ke bayinya yang juga lancar menyusu?

Menyusui sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan sebuah spesies yang mendapatkan namanya karena menyusui: mammalia. Menyusui bayi seharusnya menjadi aktivitas normal yang dilakukan karena merupakan cara alamiah untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi yang terbaik, membantunya tumbuh berkembang, melindunginya dari keparahan infeksi, mencerdaskan otaknya dan menciptakan ikatan batin yang kokoh antara ibu-anak.

Bagaimana mungkin suatu hal yang normal, alamiah dan terbaik saat ini dianggap sebagai hal yang memalukan?????

Pada tahun 2002, World Health Assembly mengesahkan rekomendasi pemberian ASI eksklusif (ASIX) selama enam bulan dilanjutkan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dengan terus meneruskan pemberian ASI hingga dua tahun atau lebih.

Saat ini hanya 38% bayi di seluruh dunia yang mendapat ASI eksklusif hingga mengakibatkan 45% kematian bayi baru lahir, 30% kematian akibat diare dan 18% kematian akibat infeksi saluran pernafasan akut pada balita. Tidak hanya sampai disini, sekitar 101 juta anak di bawah lima tahun mengalami kurang gizi dan 165 juta kuntet (stunted). Sekitar 6.9 juta anak di bawah umur 5 tahun mati akibat penyakit yang bisa dicegah dengan pemberian ASI seperti pneumonia, diare, malaria dan permasalahan bayi baru lahir. Sementara itu, sekitar 53 juta anak balita obesitas.

Kegagalan menyusui menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi public health dunia.

Sebagai amanah dari The Innocenti Declaration yang ditandatangani pada bulan Agustus 1990, WHO beserta UNICEF serta berbagai organisasi dunia menyelenggarakan WORLD BREASTFEEDING WEEK yang diperingati pada tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya.

World Breastfeeding Week ini diperingati oleh 170 negara di dunia, salah satunya Indonesia.

Dunia memanggil semua pihak untuk berpartisipasi melakukan aksi mendukung ibu untuk menyusui. Tema World Breastfeeding Week tahun ini adalah mendukung ibu bekerja untuk menyusui. Aksi serempak oleh semua pihak diharapkan mampu menciptakan kebijakan ramah-ASI di tempat kerja. Manfaat menyusui bagi dunia kerja:

  • Karyawati akan lebih bugar karena bisa beristirahat dengan baik di rumah sehingga produktivitas meningkat.
  • Karyawati dan anaknya lebih sehat sehingga absensi berkurang (absensi menurun 2x lipat).
  • Kepuasan, moralitas dan kesetiaan karyawati terjaga lebih baik sehingga SDM perusahaan stabil
  • Sebanyak 86 – 92% karyawati tetap kembali bekerja setelah melahirkan sehingga perusahaan tidak kehilangan karyawan yang sudah terampil bekerja.
  • Biaya kesehatan bisa ditekan karena menyusui itu menyehatkan (biaya kesehatan menurun 3x lipat).
  • Memberikan citra baik bagi nama perusahaan di mata pemerintah, klien, rekan bisnis dan masyarakat.

Kenapa Indonesia Butuh Kampanye World Breastfeeding Week?

Situasi menyusui di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data World Breastfeeding Trends Initiative 2012 tentang kondisi menyusui di 51 negara berdasarkan pengukuran indikator yang telah ditetapkan, Indonesia urutan ke 49 dari 51 negara dengan angka menyusui hanya sebesar 27,5%.

Setiap tahun ada sekitar 4 juta bayi baru lahir di Indonesia. Hanya separuh bayi yang mendapat kesempatan menyusu dalam satu jam pasca persalinan. Hanya 27,1% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga umur 6 bulan. Lebih dari sepertiga anak Indonesia mengalami kuntet (stunted), 18% memiliki berat badan rendah dan 14% mengalami kurang gizi. Jumlah bayi yang mati setiap tahunnya mencapai 125.000 dan jumlah balita mati setiap tahunnya mencapai 152.000. Angka kematian ibu bukannya menurun namun ternyata semakin meningkat!

Menyusui terbukti MAMPU membantu menurunkan angka kematian bayi dan ibu. Menyusui mampu membantu anak hidup lebih baik. Kondisi ini semakin positif dirasakan manfaatnya di negara-negara miskin dan berkembang.

Profesor Cesar G. Victora, Ph.D melakukan sebuah penelitian di Brazil yang diterbitkan di jurnal berkelas yaitu The Lancet pada April 2015 mendapatkan hasil bahwa bayi yang disusui selama setidaknya satu tahun akan mampu bersekolah lebih lama, memiliki skor intelegensia lebih tinggi dan mendapatkan penghasilan lebih baik ketika sudah dewasa dibandingkan yang hanya disusui selama sebulan.

Indonesia membutuhkan usaha promosi menyusui yang terstruktur, masif dan sistematis.

World Breastfeeding Week menjadi momentum tepat untuk mengajak semua pihak mempromosikan, menjaga dan melindungi menyusui. Jumlah angkatan kerja di Indonesia sekitar 125,3 juta (2014) dengan jumlah tenaga kerja wanita mencapai 42% dengan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita mencapai 53,4% dibanding laki-laki. Sebanyak 57,9% tenaga kerja wanita berkerja di sektor perekonomian informal.

“Breastfeeding is a natural ‘safety net’ against the worst effects of poverty.” James P. Grant (1922 – 1995), Former UNICEF’s Executive Director.

Promosi menyusui adalah sebuah usaha untuk edukasi. Ketika ada kegiatan promosi menyusui, ini bukanlah sebuah “bressure” yang menyerang para ibu yang gagal menyusui.

Promosi menyusui dilakukan sebagai upaya kesehatan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Setiap ibu memiliki kebebasan untuk memilih cara memberi bayinya makan, apakah mau memberi bayinya ASI atau sebotol susu formula. Namun, bukan berarti promosi kesehatan masyarakat harus berhenti hanya supaya tidak ada yang merasa terluka.

Kampanye World Breastfeeding Week adalah murni untuk memperjuangkan tentang pemberian makan bayi, bukan untuk melukai atau mendiskriminasikan para ibu yang memberi bayinya susu formula. Public health bertanggung jawab terhadap pemberdayaan kesehatan masyarakat di semua lini, termasuk golongan masyarakat yang tidak mampu dan kurang berdaya.

The World Health Assembly menargetkan angka pemberian ASI eksklusif meningkat hingga mencakup 50% di tahun 2015. Sebuah target yang besar. Kita perlu kampanye advokasi menyusui untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, menciptakan pemahaman di masyarakat dan membuka ruang lebih lebar bagi kebijakan politik untuk mendukung menyusui.

Semua ibu tidak perlu malu untuk pamer prestASI. Tunjukkan jika ibu menyusui. Tunjukkan sertifikat ASI eksklusif. Tunjukkan bagaimana cara ibu menyimpan ASI. Sebagai dokter laktasi yang bertemu banyak ibu di rumah sakit, saya ingin mengabarkan, bahwa hingga detik ini juga banyak orang yang tidak tahu ASI eksklusif! Kampanye pamer prestASI kita bertujuan untuk mengedukasi, mengabarkan pada masyarakat yang awam tentang cara menyusui.

Saya memang memiliki cerita kegagalan menyusui. Saya tahu rasa sakit ketika gagal menyusui sehingga ini memanggil diri saya dalam aksi nyata mendukung menyusui. Saya tidak ingin para ibu merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dulu saya alami.

Pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat merupakan kunci untuk mencegah kematian hingga 20% seluruh kematian anak di bawah 5 tahun. Lebih dari 500.000 anak setiap tahun. Lebih dari 1.500 anak setiap hari. Jadi, mari perjuangkan pemberian ASI kepada bayi untuk hidup yang lebih baik. Mari bersama bergandengan tangan untuk mendukung ibu menyusui! 🙂

SAYA GAGAL MENYUSUI DAN SAYA MERAYAKAN WORLD BREASTFEEDING WEEK!

Dengan bahagia…

2015-08-11_16.02.51

🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s