Saya Gagal Menyusui dan Saya Merayakan World Breastfeeding Week

Kisah Menyusui Faiz

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana perjalanan menyusui yang saya jalani karena saya jarang “pamer” prestASI. Kisah saya adalah sebuah kisah panjang yang berawal dari kegagalan menyusui.

Faiz lahir dengan proses persalinan sulit. Induksi selama tiga hari, lanjut divakum dan berakhir di meja operasi untuk menjalani bedah caesar emergency. Bayi saya biru (cyanosis) sehingga harus dirawat di NICU.

Saat itu saya dan suami benar-benar buta-ASI. Hanya tahu tentang ASI eksklusif 6 bulan dan ingin menyusui bayi. Sejak sebelum menikah saya sudah merencanakan untuk menyusui jika punya bayi. Rencana ini pun sudah disetujui oleh calon suami jauh-jauh hari sebelum pernikahan kami. Saya tidak tahu cara menyusui, tidak paham bagaimana memerah payudara dan asing tentang ASI perah.

Keterlambatan memulai menyusui (tanpa IMD) membuat payudara bengkak secara tidak normal. Kesulitan melekat pada payudara bengkak merusak puting hingga tidak hanya lecet berdarah tapi juga cuil “krowak”. Prolonged mastitis, lecet puting grade 4, abses puting, bayi kuning, bayi slow weight gain. Datang ke Poli Laktasi, dokter kaget melihat kondisi saya. Saya hanya disuruh berhenti menyusui, bayi harus ditambah susu formula karena terancam masuk NICU (lagi) dan tanpa instruksi memerah yang jelas.

Instruksi dokter laktasi saya ikuti. Berhenti menyusui. Faiz minum susu dengan sendok sebagai harapan kelak bisa menyusui lagi. Tiga minggu kemudian mastitis teratasi, puting masih rusak dan ASI kering. Panik. Mulailah buka internet dan belajar memompa. Satu bulan kemudian ASI makin kering, bayi tidak bisa menyusu dan puting MASIH juga krowak. Faiz kemudian mengalami hernia!

Susu formula terlalu sulit dicerna membebani ususnya menyebabkan peningkatan tekanan abdomen hingga tumbuh hernia di perut bayi mungil saya. Menangis hingga kering air mata membayangkan bayi harus tidur di atas meja bedah. Saat itu saya harus mengganti susu formula Faiz. Cari tahu di internet susu apa yang terbaik hanya membuat hati makin teriris, saya hanya mendapati penelitian-penelitian tentang keistimewaan ASI.

Kenapa dulu dokter tidak memberitahu saya? (saat itu tampaknya saya lupa jika diri ini juga dokter -yang meski cumlaude- ternyata buta ASI!)

Saya datang ke dokter anak yang terbaik di kampung. Saya pikir seorang ahli anak pasti tahu tentang ASI melebihi dokter umum. Di depan ruang prakteknya ada wanita muda sedang membagi-bagikan sekaleng susu formula bagi semua ibu yang membawa bayi. Saya bertanya pada dokter bagaimana cara untuk menyusui bayi kembali dan meningkatkan produksi ASI. Dia hanya tertawa renyah dan berkata,

“JADI, SEKARANG ANAKMU SUDAH JADI ANAK SAPI?”

Long distance marriage, pathological labour, prolonged bilateral mastitis, lecet puting grade 4, demam, infeksi payudara hingga abses, bahkan saat datang itu puting saya belum sembuh krowaknya, bayi sianosis di NICU, bayi kuning, slow weight gain, bingung puting yang membuat menyusui seperti berperang, hernia yang terancam menjalani proses pembedahan dan sekarang bayi saya dikatai menjadi anak sapi.

Jangan ditanya bagaimana sakit dan perih yang saya rasakan…

Menyadari saat itu tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk membantu saya bisa menyusui, akhirnya menggunakan kemampuan terbaik menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Dulu saya buta social media. Jika membuka internet hanya untuk cari jurnal karena pekerjaan mengajar, praktek dokter juga asisten dosen dan asisten peneliti di Bagian Biologi Molekuler menyita waktu saya. Dunia saya jauh dari dunia ibu-ibu. Teman di facebook pun teman sekolah, teman kerja dan keluarga. Tidak pernah ada orang yang mengunggah foto sekulkas ASI perah atau sertifikat lulus menyusui.

Akhirnya saya bergabung dengan AIMI di facebook. AIMI adalah pintu gerbang saya memasuki ilmu laktasi. Saya kemudian meluaskan pencarian. Kaget bahwa di luar negri dunia kedokteran laktasi sudah maju. Jurnalnya sudah banyak! Pada tahun itu saya benar-benar ngesot belajar tentang ASI dari molekuler, biokimia, fisiologi , pathologi dan cara membantu ibu menyusui dengan berbagai masalah, mulai permasalahan anatomi hingga penyakit. Saya membuat rangkuman setebal 600 halaman, beberapa tulisan terbit di web ini.

Usaha mencari penerangan ilmu ASI membuat saya bisa kembali menyusui Faiz. Yaa, dengan cara istimewa, saya bisa menyusui Faiz meskipun payudara sudah kering-kerontang. Payudara kanan hanya keluar 5 mili dan kiri hanya keluar setetes di ujung puting! Faiz tumbuh sehat dengan sempurna hingga kemudian dia menyapih dirinya sendiri.

World Breastfeeding Week

Selain bekerja sebagai praktisi laktasi di rumah sakit, saya juga menjadi aktivis menyusui di dunia maya. Saya mendapatkan fakta menyedihkan bahwa saat ini banyak ibu yang malu menyusui. Mereka menanyakan bagaimana cara memberikan dot ketika bepergian jauh, main ke mall, hadir di acara perhelatan seperti resepsi, dsb (dan saya pun bingung).

Mereka pergi bersama bayi, kenapa mereka bingung bagaimana cara memberi susu ke bayinya yang juga lancar menyusu?

Menyusui sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan sebuah spesies yang mendapatkan namanya karena menyusui: mammalia. Menyusui bayi seharusnya menjadi aktivitas normal yang dilakukan karena merupakan cara alamiah untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi yang terbaik, membantunya tumbuh berkembang, melindunginya dari keparahan infeksi, mencerdaskan otaknya dan menciptakan ikatan batin yang kokoh antara ibu-anak.

Bagaimana mungkin suatu hal yang normal, alamiah dan terbaik saat ini dianggap sebagai hal yang memalukan?????

Pada tahun 2002, World Health Assembly mengesahkan rekomendasi pemberian ASI eksklusif (ASIX) selama enam bulan dilanjutkan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat dengan terus meneruskan pemberian ASI hingga dua tahun atau lebih.

Saat ini hanya 38% bayi di seluruh dunia yang mendapat ASI eksklusif hingga mengakibatkan 45% kematian bayi baru lahir, 30% kematian akibat diare dan 18% kematian akibat infeksi saluran pernafasan akut pada balita. Tidak hanya sampai disini, sekitar 101 juta anak di bawah lima tahun mengalami kurang gizi dan 165 juta kuntet (stunted). Sekitar 6.9 juta anak di bawah umur 5 tahun mati akibat penyakit yang bisa dicegah dengan pemberian ASI seperti pneumonia, diare, malaria dan permasalahan bayi baru lahir. Sementara itu, sekitar 53 juta anak balita obesitas.

Kegagalan menyusui menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi public health dunia.

Sebagai amanah dari The Innocenti Declaration yang ditandatangani pada bulan Agustus 1990, WHO beserta UNICEF serta berbagai organisasi dunia menyelenggarakan WORLD BREASTFEEDING WEEK yang diperingati pada tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya.

World Breastfeeding Week ini diperingati oleh 170 negara di dunia, salah satunya Indonesia.

Dunia memanggil semua pihak untuk berpartisipasi melakukan aksi mendukung ibu untuk menyusui. Tema World Breastfeeding Week tahun ini adalah mendukung ibu bekerja untuk menyusui. Aksi serempak oleh semua pihak diharapkan mampu menciptakan kebijakan ramah-ASI di tempat kerja. Manfaat menyusui bagi dunia kerja:

  • Karyawati akan lebih bugar karena bisa beristirahat dengan baik di rumah sehingga produktivitas meningkat.
  • Karyawati dan anaknya lebih sehat sehingga absensi berkurang (absensi menurun 2x lipat).
  • Kepuasan, moralitas dan kesetiaan karyawati terjaga lebih baik sehingga SDM perusahaan stabil
  • Sebanyak 86 – 92% karyawati tetap kembali bekerja setelah melahirkan sehingga perusahaan tidak kehilangan karyawan yang sudah terampil bekerja.
  • Biaya kesehatan bisa ditekan karena menyusui itu menyehatkan (biaya kesehatan menurun 3x lipat).
  • Memberikan citra baik bagi nama perusahaan di mata pemerintah, klien, rekan bisnis dan masyarakat.

Kenapa Indonesia Butuh Kampanye World Breastfeeding Week?

Situasi menyusui di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data World Breastfeeding Trends Initiative 2012 tentang kondisi menyusui di 51 negara berdasarkan pengukuran indikator yang telah ditetapkan, Indonesia urutan ke 49 dari 51 negara dengan angka menyusui hanya sebesar 27,5%.

Setiap tahun ada sekitar 4 juta bayi baru lahir di Indonesia. Hanya separuh bayi yang mendapat kesempatan menyusu dalam satu jam pasca persalinan. Hanya 27,1% bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga umur 6 bulan. Lebih dari sepertiga anak Indonesia mengalami kuntet (stunted), 18% memiliki berat badan rendah dan 14% mengalami kurang gizi. Jumlah bayi yang mati setiap tahunnya mencapai 125.000 dan jumlah balita mati setiap tahunnya mencapai 152.000. Angka kematian ibu bukannya menurun namun ternyata semakin meningkat!

Menyusui terbukti MAMPU membantu menurunkan angka kematian bayi dan ibu. Menyusui mampu membantu anak hidup lebih baik. Kondisi ini semakin positif dirasakan manfaatnya di negara-negara miskin dan berkembang.

Profesor Cesar G. Victora, Ph.D melakukan sebuah penelitian di Brazil yang diterbitkan di jurnal berkelas yaitu The Lancet pada April 2015 mendapatkan hasil bahwa bayi yang disusui selama setidaknya satu tahun akan mampu bersekolah lebih lama, memiliki skor intelegensia lebih tinggi dan mendapatkan penghasilan lebih baik ketika sudah dewasa dibandingkan yang hanya disusui selama sebulan.

Indonesia membutuhkan usaha promosi menyusui yang terstruktur, masif dan sistematis.

World Breastfeeding Week menjadi momentum tepat untuk mengajak semua pihak mempromosikan, menjaga dan melindungi menyusui. Jumlah angkatan kerja di Indonesia sekitar 125,3 juta (2014) dengan jumlah tenaga kerja wanita mencapai 42% dengan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita mencapai 53,4% dibanding laki-laki. Sebanyak 57,9% tenaga kerja wanita berkerja di sektor perekonomian informal.

“Breastfeeding is a natural ‘safety net’ against the worst effects of poverty.” James P. Grant (1922 – 1995), Former UNICEF’s Executive Director.

Promosi menyusui adalah sebuah usaha untuk edukasi. Ketika ada kegiatan promosi menyusui, ini bukanlah sebuah “bressure” yang menyerang para ibu yang gagal menyusui.

Promosi menyusui dilakukan sebagai upaya kesehatan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Setiap ibu memiliki kebebasan untuk memilih cara memberi bayinya makan, apakah mau memberi bayinya ASI atau sebotol susu formula. Namun, bukan berarti promosi kesehatan masyarakat harus berhenti hanya supaya tidak ada yang merasa terluka.

Kampanye World Breastfeeding Week adalah murni untuk memperjuangkan tentang pemberian makan bayi, bukan untuk melukai atau mendiskriminasikan para ibu yang memberi bayinya susu formula. Public health bertanggung jawab terhadap pemberdayaan kesehatan masyarakat di semua lini, termasuk golongan masyarakat yang tidak mampu dan kurang berdaya.

The World Health Assembly menargetkan angka pemberian ASI eksklusif meningkat hingga mencakup 50% di tahun 2015. Sebuah target yang besar. Kita perlu kampanye advokasi menyusui untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, menciptakan pemahaman di masyarakat dan membuka ruang lebih lebar bagi kebijakan politik untuk mendukung menyusui.

Semua ibu tidak perlu malu untuk pamer prestASI. Tunjukkan jika ibu menyusui. Tunjukkan sertifikat ASI eksklusif. Tunjukkan bagaimana cara ibu menyimpan ASI. Sebagai dokter laktasi yang bertemu banyak ibu di rumah sakit, saya ingin mengabarkan, bahwa hingga detik ini juga banyak orang yang tidak tahu ASI eksklusif! Kampanye pamer prestASI kita bertujuan untuk mengedukasi, mengabarkan pada masyarakat yang awam tentang cara menyusui.

Saya memang memiliki cerita kegagalan menyusui. Saya tahu rasa sakit ketika gagal menyusui sehingga ini memanggil diri saya dalam aksi nyata mendukung menyusui. Saya tidak ingin para ibu merasakan rasa sakit yang sama seperti yang dulu saya alami.

Pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat merupakan kunci untuk mencegah kematian hingga 20% seluruh kematian anak di bawah 5 tahun. Lebih dari 500.000 anak setiap tahun. Lebih dari 1.500 anak setiap hari. Jadi, mari perjuangkan pemberian ASI kepada bayi untuk hidup yang lebih baik. Mari bersama bergandengan tangan untuk mendukung ibu menyusui! 🙂

SAYA GAGAL MENYUSUI DAN SAYA MERAYAKAN WORLD BREASTFEEDING WEEK!

Dengan bahagia…

2015-08-11_16.02.51

🙂

33 replies

  1. duh mba, berat banget perjuangannya buat nge ASI ya..
    emang banyak masyarakat yang masih belom sadar betapa pentingnya ASI
    aku juga ga bisa ASI eksklusif, tapi aku tetap berusaha buat ngeASI trus..
    happy breastfeeding week mba.. 🙂

  2. Artikel yang bagus mba…

    Saya seorang ibu yang menyusui dan sering “pamer” prestASI di akun sosial media saya.
    Tujuan saya juga untuk menyemangati sesama ibu pejuang ASI dan mengedukASI lingkungan saya agar lebih peduli dengan ibu menyusui, saya juga tidak berniat mengecilkan hati teman-teman saya yang tidak menyusui.

  3. Reblogged this on @kenes_ and commented:
    Beberapa hari lalu saya mendapatkan link tulisan yang sedikit membuat saya bersedih, dimana ditulisan tersebut ibu penulis seperti menyudutkan ibu-ibu yang sering berbagi prestASI menyusuinya seperti hasil perahan, sertifikat lulus ASI, atau persediaan asi perah sampai satu kulkas penuh di akun sosial media seperti tidak menghargai atau bisa dibilang melukai ibu yang tidak menyusui.

    Saya sendiri sering mengabadikan hasil prestASI mempompa ASI dikantor, sebagai ibu bekerja yang menyusui bayinya pasti tidak ingin melewatkan momen-momen yang dilalui dengan perjuangan. Saya pun beberapakali menguggah foto-foto ke akun sosial media milik saya, tujuannya saat itu tidak lebih dari sedekar berbagi pengalaman, berbagi semangat dengan sesama pejuang ASI, mengingatkan ke lingkungan sekitar saya agar lebih peduli dengan ibu menyusui dan saya ingin berbagi kebahagiaan saya yang bisa menyusui eksklusif bayi saya walaupun harus bekerja dengan banyak perjuangan yang harus dilalui. Sama sekali tidak terlintas niatan untuk menyudutkan ibu yang tidak menyusui bayinya.

    Artikel ini seperti jawaban dari artikel sebelumnya yang saya baca. Membuat hati saya menjadi tenang dan seperti memiliki teman yang berpandangan sama.

    Semoga saya, anda, kita dapat selalu melihat sesuatu dari sisi positif. 🙂

  4. Terimakasih sekali bu walaupum ibu gagal menyusui secara eksklusif tp ibu tidak mau ibu2 lain ikut gagal. Saya adalah salah 1 seorang ibu bekerja yang puji Tuhan berhasil memberikan asi eksklusif kepada anak saya selama 2tahun. Sekarang anak saya sudah berusia 2tahun 1bulan dan kami berhasil menjalani apa yg namanya menyapih dengan cinta. Sungguh moment menyusui yang sangat indah. Semoga nantinya ibu bisa berhasil menyusui anak yang kedua ya bu dan mari kita teruskan menyebarkan virus asi dimanapun dan kapanpun

    saya juga bersedia bu jika ada yang berkenan sharing masalah asi

  5. Saya lulus ASI eksklusif .. sekarang anak saya umur 2th .. saya bingung untuk memberikan susu lanjutan .. sebaiknya susu UHT atau formula? Anak saya lebih suka susu UHT dari pada formula .. tolong beri informasinya yaaa terimakasih

  6. Saya jg gagal menyusui, bukan krn malu tp bodoh, dan penyesalan itu terus menyakitiku, sampe dulu sempat stres berat & dminta menjumpai psikiater, tolong bgmn caranya agar bs bangkit dr keterpurukan sprt Anda?

    • Saya turut prihatin dengan pengalaman ibu 😦 Apakah sekarang anak masih bayi? Atau anak sudah besar? Jika anak masih bayi, ibu bisa melakukan relaktasi dengan bantuan konselor laktasi yang berpengalaman. Jika anak sudah besar maka ibu jangan bersedih, masih banyak cara untuk menjaga kesehatan anak. Jangan sampai berlarut-larut dalam penyesalan. Masa depan anak juga ibu masih sangaaaaaaat panjang 🙂 Mari rayakan hidup sebagai ibu dengan penuh kegembiraan 🙂 Ibu bisa bergabung dengan AIMI atau Kelompok Pendukung ASI lain untuk saling memberikan dukungan dan membantu para ibu. Tetap semangat yaahh… 🙂

  7. Selamat siang bu.. saya kagum sekali melihat perjuangan ibu untuk ingin menyusui anak ibu. Kebetulan saya seorang ibu menyusui mau tanya, apa yg ibu lakukan untuk bisa kembali menyusui anak ibu pdhl waktu itu dgn kondisi PD hanya menyeluarkan ASI 5ml? Apa dgn metode relaktasi?

  8. Wah pejuang ASI nih judulnya.
    Beruntungnya sy bisa jd Ibu dengn memberikan ASI Eksklusif (full 6 bulan tanpa tersentuh sapi). Setelah itu mulai MPASI dan tetap memberikan ASI sebelum dan sesudah makan, dan kapan pun anak sy mau minum ASI.
    Untung nya suami mendukung dengan mengijinkan sy resign dari tempat kerja demi sepenuhnya bersama anak sy.

    Puji Tuhan, ASI mah ngucur sampai skrng (skrng anak sy sdh 8bln), bahkan kadang agak rewel mkn nya krn maunya ASI doank. Puji Tuhan gak gampang sakit meskipun Ayahnya ohok2 di sampingnya (krn kami tdr bareng bertiga).

    Kendalanya hanya payudra besar sebelah krn anak sy maunya nyedot payudara yg putingnya besar, sementara yg puting kecil hanya sebentar2 dia sedot. Alhasil skrng Bundany ini pny payudara yg besar kecil 😁

    Semangat untuk semua Ibu dengan perjuangan ASI nya. Jangan jadi anak sapi.

  9. salut, bu dokter!

    saya termasuk yang gagal IMD dan tidak bisa memberi full ASI di 2 minggu pertama bayi saya, padahal sudah mempersenjatai diri dengan ilmu tentang ASI ekslusif. Kirain saya dan si bayi bakal langsung attached dengan damai sentosa, tapi ternyata dua-duanya sama-sama bingung.

    jadi bayi saya minum susu sapi dan asi yang cuma basahin pantat botol selama 2 minggu, sampai akhirnya saya bisa menghasilkan lebih banyak asi, dan si bayi mulai bisa belajar menyusu.. singkat cerita saya bisa memberi asi sampai si bocah berumur 3 tahun dan menyapih dirinya sendiri 🙂

    saya juga sempat mendonorkan asip untuk anak sepupu saya, dan seorang anak lagi. tentunya setelah konsultasi dengan ahli agama.

    daaaan… saya gak merayakan world breastfeeding week 😀

    tapi untuk yang merayakan, silakan saja.. karena masih banyak ibu-ibu di wilayah indonesia ini, yang masih ‘buta’ tentang tata cara pemberian asip.. bahkan adik ipar saya pun, yang setelah diperlihatkan foto kulkas penuh asip, sama sekali gak berminat memberi anaknya asip.. karena lebih mudah dan lebih umum memberi anak susu sapi..

  10. Dr Annisa, apakah yg anda maksud dg menyusui Faiz dg cara istimewa..? Krn kejadiannya hampir mirip dg saya (bayi saya sempat kuning dan kencing berdarah krn kurang ASI, hingga sekarang ASI keluar tapi semakin berkurang, jk diperah yg kanan cuma sktr 10 ml, kiri 20 ml, kdng bs sdkt lebih), dan hingga sekarang saya masih berusaha “memaksa” bayi saya (1,5 bln) utk tetap menyusu ke payudara saya, tp kadang mau kadang tidak hingga menangis keras. Sedangkan kalau malam pun, bayi tetap jarang mau menyusu ke saya. Ingin mengganti dotnya dg yang menyerupai puting/PD ibu, yg lebar. Tapi juga terhambat krn udh tlanjur pke dot yg biasa.

    • Saya masi tidak percaya adanya istilah bingung puting bun..saya memiliki 2 putra beda 1,5th..keduanya saya susui tandem hingga sekarang usia baby 10 bulan..
      Kenapa sy tidak percaya?karna ketika putra pertama sy divonis alergi..asi blm keluar…depresi melihat kondisi bayi super sensitif..akhirnya sufor soya mjd solusi..
      Tidak menyerah tetap memberikan asi…tiba saat yg ditunggu-tunggu asi lebih diinginkan diusia 6 bulannya..sangat menolak botol dot nya..
      Terharu akhirnya perjuangan diteruskan hingga sekarang
      Bun jangan terlalu terpengaruh dengan bingung puting…yg terpenting kita sabar..tidak menyerah..berpikir positif..dipenuhi aura kasih sayang…buatlah bayi nyaman posisi menyusuinya..apa tiduran atau digendong
      Jangan panik atau setress itu akan mempengaruhi bayi
      Menyusui sambil bersenandung diayun pelan pelan senyuum yang lebar hehe itu agar kita terhibur
      Atau
      ajak menari hingga bayi tertawa tergelak gelak..begitu terlihat lelah..bunda coba berikan puting yg bunda rasa penuh
      Rajin memijat payudara bun…sy punya tip ketika bunda malam hari hendak tidur…bunda mandikan kedua payudara..dicuci dan bilas bersih..tidak perlu mandi bun…tp itu membuat saya segar,rileks dan asi lancar penuh..
      insyaallah asi akan keluar dan lancar
      Ohya bun cek pada lidah bayi apa ada jamur..segera dibersihkan dgn kasa steril dan air hangat..
      Semoga sukses ya bun 😉

  11. Hai mbak, bolehkah saya bertanya lebih jauh? Bagaimana caranya kembali menyusui ketika payudara sudah kering? Bagaimana menghadapi anak yang sudah menolak payudara ibunya? Lalu, apakah ASI mbak kembali keluar dengan lancar? Usia berapa anak mbak kembali menyusu pada payudara ibunya? Terimakasih banyak ya sebelumnya?

  12. Terharu sekali membaca perjuangan mbak. Sbg ibu yg juga mengalami awal menyusui yg berat (sempat jadi pemicu kena baby blue) saya bisa membayangkan situasi dan perasaan mbak.
    Semoga semakin banyak ibu yg mau berbagi pengalaman dan ilmu mengenai dunia ASI. Sehingga bs membantu ibu2 lainnya yg perlu informasi penting seperti ini.
    Thanks for sharing.

  13. semangat mbak nisa. ga kebayang perasaan mbak nisa kyk apa. anak saya sempat saya beri sufor di 3 hari pertama pasca persalinan. saya sedih, karena ga bisa asi eksklusif.

    saya suka blog ini. informatif sekali. semoga semakin menyemangati para ibu indonesia dalam membentuk generasi sehat 😀

  14. Hallow dokter

    Tak terasa berlinang air mata saya membaca tulisan ini. Saya malu, padahal saya merasa tahu lebih banyak tentang asi dibanding dokter pada saat dokter awal2 menjadi ibu. Sudah banyak buku yang saya baca, dan saya pun melahirkan di RS yang pro asi… Tapi dalam wktu 1 bulan yang lalu, saya gagal memberikan asix untuk bayi saya pada usianya 8 bulan. Saya tergoda menambahkan sufor untuk bayi saya, karena saya mengeluhkan berat badan bayi saya yang dibawah milestone, pada saat itu usia 8 bulan bb nya 6,5 kg dan smpai sekarang usia 9 bulan bb nya 6,6 kg (lahir 3,15 kg). Tergoda dengan sufor yg pda awalanya sya mengeluhkan bb bayi saya yg kurang, dokter yang menyarankan sufor karena menyatakan asi diatas usia 6 bulan kandungannya berkurang, asi saya yg dari hari kehari makin berkurang, dorongan keluarga dan tman2 kantor yang menyarankan sufor. Dan akhirnya saya menyerah tepat diusianya 8 bulan, saya malu dan sangat merasa bersalah, bertumpuk buku yang saya baca jauh sebelum melahirkan, hanya saya bisa baca dan pahami secara teoritis, tapi prakteknya gagal total. Sampai terbesit dalam hati, “alah asix mlah g bikin prtmbhan anak stabil, ne lihat 2 anak di dkat rumah yang g asix sejak 4 bulan malah badannya montok2″… Saya jadi pesimis dan sinis, saya merasa gagal dok dan sekarang saya merasa menjadi orang yang benar2 tidak tahu mengenai ilmu laktasi”
    Dok dari lubuk hati saya yang paling dalam saya ingin sekali menyusui anak saya lagi pure asi, tapi saya takut klo mlakukan hal trsbut mmbuat anak sya kkurangan nutrisi. Ada sedikit pmbangkit semangat yang berarti dari bayi saya sendiri, dia lebih senang dan tenang ketika menyusu langsung dari saya.. Mohon saran2 nya dan semangatnya dok

  15. Assalamualaikum.. mba mau tanya.. dulu pasca melahirkan saya terkena baby blues dan mastitis jg.. sampai agak ‘trauma’ untuk menyusui bayi.. kondisi mental saya jg drop krn suasana dirumah yg kurang harmonis dgn mertua #salah 1 faktor saya jg ngga bs relax dan stres yg bikin asi saya smakin drop.. saya sudah 3 bulan tdk menyusui bayi saya.. bulan depan bayi saya menginjak usia 6 bulan.. apakah masih bs saya mencoba relaktasi?

    • Wa’alaikumsalam,

      Secara teori, jika ibu mau, tentu bisa mencoba untuk melakukan relaktasi. Ibu bisa periksa ke dokter laktasi di Poli Laktasi atau bertemu konselor laktasi yang profesional untuk dibantu relaktasi. Belum terlambat untuk mencoba menyusui bayi kembali, tentu sebaiknya dengan pendampingan tenaga kesehatan yang paham tentang ASI supaya bayi juga tetap terpantau sehat. Saat ini dokter anak yang juga konselor menyusui dan bahkan IBCLC juga mulai banyak jumlahnya. Paling penting tetap percaya diri dan minta dukungan suami.

      Seorang ibu yang tidak hamil saja bisa melakukan induksi laktasi untuk menyusui, apalagi ibu yang pernah baru saja menyusui bayinya kan? Semoga berhasil yaa. Aamiin

  16. Sungguh menginspirASI artikelnya bu dokter..bacanya sampai nangis antara senang dan terharu..saat ini pun saya sedang semangat mengASIhi putri kedua saya,semoga bisa lulus ASiX S1,S2,S3 dan diakhiri dengan WWL,Amin YRA..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s