Teman Imajinasi Anak

Teman Imajinasi Anak

Sedang heboh foto mengerikan tentang teman khayalan seorang anak yang dibumbui cerita magic mistik terutama karena si teman khayalan digambarkan sebagai cewek berambut panjang dan berbaju panjang. Berbeda dengan kebanyakan orang tua yang menangkap kisah tersebut sebagai kisah horor semata, saya justru menangkap pesan parenting yang bagus dibelakang kisah itu. Interpretasi parenting dalam kisah horor creepy Lisa versi-saya akan saya bahas di bawah….

Imaginary friends atau teman imajinasi atau teman khayalan ini dalam batas wajar memang menjadi bagian dari perkembangan anak. Saya jadi ingat dulu sering berimajinasi punya kakak cewek (tampaknya gara-gara sindroma anak pertama dan terispirasi dari kakak sepupu yang sangat saya idolakan sejak kecil). Teman imajinasi ini bisa muncul dari inspirasi sosok nyata orang yang dikagumi anak di dunia nyata, tokoh idola dari film/buku kesayangan atau benar-benar tokoh rekayasa imajinasi anak.

Teman imajinasi ini bisa datang dan pergi kapan saja dan dimana saja, atau bisa juga muncul di tempat-tempat tertentu. Anak tampak bermain sendiri bahkan bicara sendiri seolah-olah bicara dengan temannya. Teman imajinasi ini bisa muncul ketika anak umur sekitar dua setengah tahun hingga tujuh tahun dimana daya imajinasinya mulai berkembang.

Mary L. Gavin, MD mengatakan bahwa masa-masa prasekolah adalah “magic years” dengan aneka permainan imajinasi yang penting bagi tahapan tumbuh kembang anak. The magic of play. Menurut Marjorie Taylor dari University of Oregon, sebanyak 37% anak memiliki teman khayalan ketika bermain imajinasi. Menurut Patrick J. McGrath, OC, PhD, FRSC sebanyak 65% anak memiliki teman imajinasi. Bahkan menurut AAP, siap-siap saja ketika preschool anda akan mengenalkan satu teman imajinasinya. Teman imajinasi ini bisa menetap beberapa waktu hingga berbulan-bulan lalu menghilang sendiri ketika anak siap untuk move on. Menurut dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ gejala ini akan mulai menghilang sekitar anak berumur 7 tahun, namun ada yang berlanjut hingga umur 9 tahun.

teman imajinasi sumber gambar

Kenapa anak punya teman imajinasi?

Teman imajinasi ini digambarkan sebagai sosok yang mendengarkan dan mendukung anak, menemani anak main, bisa melakukan hal yang anak tidak bisa, hadir spesial hanya untuknya dan tidak pernah menyalahkan anak. Pada kenyataannya teman khayalan ini membantu anak mengeksplorasi dunia khayalan sehingga daya imajinasi anak lebih bagus. Anak yang tidak terpapar televisi lebih sering mengalami, hal ini menunjukkan kehadiran teman khayalan memerlukan situasi dimana anak melakukan permainan tidak terstruktur. Teman imajinasi juga bisa muncul sebagai usaha anak menyembuhkan dirinya dari kejadian traumatik atau kesulitan hidup yang dia alami.

Terkadang anak juga akan meminta ibu atau orang lain untuk terlibat dalam permainan imajinasinya bersama teman imajinasi tersebut, misalnya anak minta ibu memotongkan kue untuk temannya, menyediakan tempat kosong untuk temannya, dll.

Ada tips yang menarik dari Parents Indonesia.

Jangan ragu mengakui keberadaan si teman khayalan. Hal itu mengasah imajinasi anak. Dan jangan khawatir, anak tidak akan kehilangan kontak dengan dunia nyata karena teman khayalan. Jika Anda bertanya seputar si sahabat dan membiarkan anak menjawab, Anda memastikan bahwa sang sahabat berada di dalam kendali anak.

Namun bukan berarti Anda harus membuatkan makan malam ekstra atau membiarkan anak melimpahkan kesalahan kepada teman khayalan saat dia memecahkan vas bunga. Anak perlu tahu bahwa si sahabat hanya ada di dalam khayalan. Anda bisa “mengembalikan” anak ke dunia nyata saat diperlukan. Selebihnya, nikmati keajaiban yang dilakukan anak bersama “si sahabat setia” dan petik berbagai manfaat.

Kondisi ini bermanfaat ketika:

  • Memberi kesempatan anak mengembangkan kreativitas melalui berbagai jenis permainan dan mencoba banyak hal baru berdasarkan imajinasi.
  • Sebagai media untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi.
  • Mengembangkan emosi dan tindakan, seperti rasa takut atau marah berikut cara mengekspresikan perasaan tersebut dengan aman.
  • Memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur dan mengontrol si sahabat (misalnya teman imajinasinya adalah hewan kesayangan), karena dalam keseharian balita terbiasa diatur oleh orang-orang di sekitarnya.
  • Memberi ruang bagi kehidupan pribadi anak.

Dari raisingchildren:

There’s no evidence that children with imaginary friends lack social skills or have emotional problems. Children with imaginary friends can be more social and less shy, and show more empathy in their play with other children. In fact, one study found that adults who had imaginary friends as children were more tuned in to the needs of others than adults who did not.

Anak yang memiliki teman imajinasi ternyata juga sosok anak yang tidak pemalu dalam kehidupan sosial, lebih sering tertawa serta bersenang-senang dengan teman sebaya dan bisa melakukan tugas memahami pikiran orang lain dengan lebih baik.

Peran Orang Tua

Cara mengatasinya jangan biarkan anak bermain sendiri. Seiring pertambahan usia anak, kenalkan anak dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa dia lakukan bersama teman sebaya, kerabat, atau tetangga dekat. Dengan demikian, ia bisa merasakan kesenangan dalam pergaulan yang nyata dan perlahan ia akan meninggalkan teman khayalannya.

Anak umur 2 tahun sudah memiliki keinginan yang kuat untuk terlibat dalam dunia sosial yang lebih luas. Anak umur 2 tahun mulai gemar terlibat bermain interaktif bersama anak/orang lain. Carikan lingkungan kondusif dengan teman-teman sebaya untuk bergaul dengan anak.

Masukkan anak ke PAUD yang memiliki program sesuai tahapan perkembangan anak. Di PAUD yang baik, anak akan memiliki lingkungan sosial bermain dengan teman sebaya yang kondusif. Anak umur 2 tahun mulai memiliki daya imajinasi yang bagus sehingga harus disalurkan dengan baik. Anak umur 3 tahun sudah bisa menjalin relasi pertemanan yang dekat dengan teman sebayanya. Di PAUD mereka akan ada sesi bermain bersama, bermain peran juga bermain drama sehingga daya imajinasi anak tersalurkan. Di PAUD bisa dapat teman dekat yang aman.

Orang tua sebaiknya responsif dan mau terlibat dalam permainan imajinasi anak sehingga dia bahagia secara nyata. Otak anak sedang sangat berkembang. Aksi permainan imajinasi ini akan membantu anak mengembangkan ketrampilan bahasa, berpikir dan sosial. Anak akan mampu mengembangkan ide dan kisahnya sendiri.

Kapan Harus Mencari Pertolongan

Kondisi ini menjadi masalah ketika membuat anak makin jauh dari dunia nyata. Teman imajinasi menjadi maslaah ketika dia menjadi satu-satunya teman anak sehingga anak kesulitan mendapatkan teman atau tidak tertarik untuk bersosialisasi. Teman imajinasi terkadang menjadi pelarian dari kenyataan atas rasa kesepian, ketakutan atau kecemasan anak. Teman imajinasi menjadi masalah ketika anak lari dari tanggung jawab atau si teman menjadi kambing hitam ketika anak melakukan kesalahan, misalnya memecahkan vas bunga eh si anak menyalahkan temannya itu. Ibu harus tetap konsisten menangani perilaku anak, terutama dalam bertanggung jawab dan disiplin. Kembalikan anak ke dunia nyata dengan cara yang baik, tunjukkan bahwa dia yang salah dan harus bertanggung jawab.

Contoh: anak menumpahkan susu.

“Wah, susunya tumpah…”

“Iya, bu, ini Lisa yang menumpahkan susuku!”

“Sayang lain kali berhati-hati yaa saat minum susu. Ini ibu ambilkan kain lapnya, tumpahan susunya dibersihkan yuk..”

Segera cari pertolongan jika ibu khawatir ini merupakan gejala dari sebuah permasalahan lain, curiga terkait dengan trauma serta ini sangat mengganggu misalnya karena anak bersikap nakal atau mesum. Ibu bisa konsultasi ke psikolog, dokter anak atau psikiater untuk penanganan lebih lanjut.

Belajar Menjadi Orang Tua Dari Kisah Teman Imajinasi Lisa

Ini interpretasi-bebas-versi-saya-pribadi yaa. Tentu saja anda boleh menginterpretasikannya secara berbeda. Saya pun belum menemukan fakta dibalik kisah diari ini. Ketika banyak orang hanya melihat dari sisi horor dan magic mistik, saya justru menangkap pembelajaran parenting yang menarik 🙂

Creepy-Diary-Imgur

Gambarnya mengerikan bukan? Wajar. Ini konon adalah diari milik anak kecil. Gambar anak kecil kan memang begitu. Ketika kita melihat Lisa tampak mengerikan, sesungguhnya gambaran tokoh lain (dirinya sendiri, ibu, ayah, guru) juga menakutkan kok 🙂

Gambar 1: Gadis kecil menceritakan teman imaginasinya, yaitu Lisa.

Gambar 2: Lisa menunjukkan dimana ayahnya tidur di  sebuah kotak pasir ketika Gadis kecil akan menanam bunga di kotak tersebut dengan ditemani Lisa. Menarik: Lisa dipilih sebagai anak yang sama sepertinya, tidak ada sosok ayah karena ayahnya tidur di sandbox.

Gambar 3: Lisa ikut ke sekolah. Gadis kecil mengenalkan Lisa ke Mrs. Monroe (gurunya) tapi justru dia DIMARAHI ketika mengenalkan teman imajinasinya.

Gambar 4: Gadis kecil berulang tahun dan ibunya membeli pizza untuk merayakannya, TAPI TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DATANG. Lisa menghiburnya dengan mengatakan ada beberapa orang yang datang tapi mereka langsung pergi dan meninggalkan kado 3 boneka barbie, sepatu dan uang 5 dollar.

Gambar 5: Guru Mrs. Monroe tidak hadir digantikan Mrs. Digman yang baik hati sehingga Gadis kecil berharap Mrs. Digman akan menjadi guru tetap di kelasnya. Gambar 6 menunjukkan Mrs. Digman PERCAYA LISA ADA meskipun dia tidak bisa melihatnya.

Gambar 7: Gadis kecil pergi keluar rumah sampai malam hari hingga dimarahi ayahnya. Gadis kecil bilang dia tidak pergi sendiri namun ditemani Lisa. Ayah marah dan mengatakan bahwa temannya itu fiktif juga dia bodoh. Lisa sedih dan menghilang. Lisa tidak datang ke sekolah, begitu juga Mrs. Monroe.

Gambar 8, 9, 10: Ayah bekerja sepanjang hari bahkan tidak pulang saat jam makan malam. Ayah bekerja terus dan tidak pulang bahkan ketika akhir pekan. Ibu marah pada ayah. Gadis kecil kesepian hingga menulis surat supaya Lisa kembali datang menemaninya.

Gambar 11: Lisa kembali datang dan minta maaf telah meninggalkannya. Gadis kecil mengatakan bahwa AYAHNYA TIDAK AKAN PULANG KE RUMAH LAGI. Lisa menghiburnya dengan mengatakan ayahnya dan Mrs. Monroe sedang tidur seperti ayah Lisa di sandbox.

Banyak pihak yang berpikir Lisa adalah makhluk halus yang membunuh ayah dan guru yang jahat 🙂

Gurunya mungkin saja pindah lalu tidak mengajar lagi kan? Sedangkan ayahnya, mungkin saja keluarga Gadis kecil ini saya tangkap memiliki keluarga yang tidak harmonis. Tumbuh tanpa ayah. Diganggu teman di sekolah. Ayah selalu bekerja, bahkan tidak pulang saat jam makan malam juga akhir pekan. Ibu marah pada ayah (Anak kecil sampai tahu ibunya marah pada ayahnya? Bisa terbayang keributan di keluarga tersebut). Gadis kecil ini pun tidak punya teman, digambarkan pesta ulang tahunnya tidak ada siapa-siapa padahal sudah disiapkan pizza untuk jamuan pesta. Kehadiran Lisa menghiburkan ketika dimarahi guru, dimarahi ayah, kesepian dan kecewa ketika ayahnya tidak hadir lagi di rumah.

Bagi saya kisah di atas lebih ke kisah sedih, bukan kisah horor. Dalam situasi teman imajinasi ini timbul akibat luka hati. Teman imajinasi terkadang menjadi pelarian dari kenyataan atas rasa kesepian, ketakutan atau kecemasan anak. Jangan hanya berfokus pada rasa takut horornya, namun petik juga makna parenting di kisah itu. Jangan sampai anak kita merasakan kesepian yang sama dengan Gadis ini…

APAKAH MASIH KETAKUTAN DENGAN KISAH CREEPY IMAGINARY FRIEND DI ATAS? Faktanya creepy Lisa itu adalah kisah fiktif. Kisah ini diciptakan oleh seorang seniman dewasa penggemar kisah horor ketika sedang merasa bosan. Sunny Schreiner menerbitkan diary The Story of Lisa di blognya ocularfracture.devianart.com lalu menjadi viral dengan banyak interpretasi bebas. Sebagian besar memiliki interpretasi horor dan negatif 😀 Padahal kita bisa belajar tentang parenting dalam kisah tersebut.

Ketika anak mengenalkan teman khayalan pada orang tua maka tindakan pertama adalah jangan marah. Tanyakan bagaimana gambaran wujud, kesukaan, perilaku, dan aktivitasnya. Teman khayalan ini bisa memberikan kita informasi tentang kesukaan, keinginan, pikiran ataupun perasaan anak. Teman imajinasi ini bisa berwujud manusia, hewan atau makhluk fantasi. Wujud teman khayalan bisa merupakan sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan anak atau keluarga. Makhluk fantasi yang berwujud mengerikan bisa saja dipengaruhi oleh media (film, game, buku) yang dilihat anak serta menimbulkan trauma.

Jika takut dan merasa terganggu, maka selain berdoa dengan cara yang benar juga bisa bawa anak bertemu psikolog atau psikiater. Bukan dengan memarahi anak, apalagi membawa anak ke dukun 🙂

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

2 replies

  1. ya kalo itu mungkin hoax, tapi emang anak kecil kadang melihat sosok yang ga dilihat orang dewasa dan itu mungkin sekali, pengalaman ponakan masih kecil manggil kakek2 di langit2 kamar sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s