Kesehatan Anak, Menyusui dan ASI

Alergi Pada Bayi ASI

ALERGI PADA BAYI ASI

Alergi merupakan suatu reaksi tubuh yang muncul ketika mendapat paparan zat pencetus yang disebut allergen. Atopik merupakan istilah untuk menunjukkan bakat tubuhnya. Jadi alergi ini merupakan penyakit yang hanya muncul pada anak berbakat alergi (atopik). Alergi bisa diturunkan melalui genetik (riwayat keluarga) serta dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Allergen bisa masuk ke dalam tubuh melalui proses menelan, sentuhan kulit, gigitan hewan dan juga saluran pernapasan. Allergen bisa berupa tungau yang tinggal di debu rumah, jamur di dinding, bulu binatang, serpihan kulit, air liur binatang peliharaan, serbuk sari, makanan, obat, kosmetik hingga gigitan serangga. Jenis alergi dibagi menjadi alergi makanan, asma, dermatitis atopi (eksim), dermatitis kontak, biduran/urtikaria dan hay fever. 

Ada banyak penyebab alergi. Alergi makanan angka kejadiannya sekitar 5,6% pada tahun 2012. Statistik perkiraan alergi makanan sebanyak 6% pada anak 0 – 2 tahun dari 8% anak yang mengalami alergi makanan umur 0 – 18 tahun (link). Produk perawatan (minyak, krim, lotion, sabun, bedak, dll) bahkan deterjen pencuci baju yang menempel di kulit juga bisa menimbulkan reaksi alergi.

Jadi jangan hanya menyalahkan ASI.

Pemberian ASI terbukti melindungi bayi dari alergi. Bayi yang disusui selama enam bulan atau lebih akan lebih terlindungi dari alergi seperti alergi makanan, asma, rhinitis atopik, dermatitis atopik, alergi makanan dan alergi di saluran pernafasan (link). Langkah pertama sebagai awalan pondasi nutrisi terbaik dalam pengasuhan anak.

Tanda Alergi pada Bayi

Tanda bayi alergi bisa terlihat dari gejala pada kulit, pada saluran pencernaan, pada saluran pernafasan atau mata. Gejala alergi  yang paling sering dialami oleh bayi biasanya gangguan pencernaan dan kulit. 

benefits-15

Breast milk is the ideal way to nourish your infant. It is least likely to trigger an allergic reaction, it is easy to digest and it strengthens the infant’s immune system. (American Academy of Asthma Allergy and Immunology

Tidak ada bayi yang alergi terhadap komponen ASI asli dari tubuh ibunya sendiri. Bayi yang tidak bisa mencerna ASI biasanya karena ada kelainan gangguan metabolisme tubuh. Tapi memang protein-asing yang masuk ke dalam ASI akan bisa menimbulkan gejala reaksi. 

Saripati bahan makanan-ibu bisa masuk ke dalam ASI. Para ahli menganggap kondisi ini sangat menguntungkan bagi bayi. Bayi yang terpapar banyak allergen di awal kehidupan ternyata bisa lebih terlindungi dari reaksi sensitisasi makanan. Alergi juga bisa diturunkan secara genetik. Anak yang terlahir dari ayah dan ibu yang memiliki riwayat alergi  berisiko lebih tinggi mengalami alergi. 

Bahan makanan yang sering menyebabkan alergi pada bayi dan anak antara lain:

  • susu sapi,
  • telur,
  • kacang tanah,
  • tree nut seperti walnut,
  • kedelai,
  • gandum,
  • ikan,
  • kerang

Bayi yang memang memiliki bakat alergi kuat memang tetap bisa menunjukkan reaksi gejala. Reaksi alergi yang muncul biasanya ringan dan membaik sendiri. Ibu kadang merasa bersalah. Sebaiknya ibu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Keputusan ibu menyusui pada bayi berbakat alergi merupakan salah satu keputusan terbaik yang bisa dipilih.

Pada kasus bayi memiliki bakat kuat alergi seperti demikian, seandainya bayi tidak minum ASI, diperkirakan gejala alergi yang muncul akan lebih berat. ASI tetap menjadi rekomendasi pemilihan makanan bayi yang pertama.

Penanganan Alergi Pada Bayi

Jika memang benar anak mengalami alergi makanan, segera bawa bayi ke dokter saat gejala alergi tidak menghilang atau mengganggu bayi. Orang tua dengan anak memiliki riwayat alergi sebaiknya selalu sedia obat pereda gejala alergi yang diperlukan anak. Gunakan obat sesuai anjuran petunjuk dari dokter. Gejala alergi berat harus segera dibawa ke UGD.

Ibu meneruskan menyusui dengan mengobati bayi. Lakukan pola menyusui responsif dengan peka melihat tanda tubuh bayi. Bisa mencoba mengurangi satu demi satu makanan untuk dilihat reaksi bayi. Jangan sekaligus mengurangi banyak jenis bahan makanan karena justru membuat ibu rentan mengalami kekurangan asupan nutrisi. Tetap konsumsi aneka ragam bahan makanan dari seluruh kelas bahan pangan menggunakan kaidah gizi seimbang.

Pastikan diagnosis alergi makanan tegak dengan benar sebab jika ternyata salah maka justru merugikan, bahkan berisiko kurang gizi. Diagnosis akan ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan tes alergi. Konsultasikan bersama dokter ahli profesional yang berkompeten serta mendukung pemberian makan sesuai rekomendasi WHO. Memiliki buku catatan makanan atau food diary saat menyusui akan sangat membantu. Gejala alergi biasanya membaik dalam waktu 72 – 96 jam setelah ibu menghindari makanan pencetus. Ada juga yang membaik setelah 2 – 4 minggu.

Penanganan Alergi

Penanganan alergi dengan pengobatan gejala yang muncul, mengenali allergen pencetus, menghindari allergen pencetus gejala alergi dan modifikasi gaya hidup serta lingkungan untuk menghindari kekambuhan. Pada alergi makanan, bahan makanan yang dihindari harus diganti dengan bahan makanan yang mengandung nilai nutrisi setara. Alergi makanan harus ditangani dengan baik supaya kesehatan, tumbuh kembang juga kualitas hidup anak lebih baik. 

Atasi gejala alergi yang timbul dengan obat sesuai petunjuk dokter. Secara umum, ibu tetap disarankan terus menyusui anak. Stop menyusui kemudian mendadak ganti susu formula ketika sedang dalam kondisi serangan alergi bisa menimbulkan banyak masalah. Pemberian susu formula justru berisiko bisa memperparah alergi. Apalagi jika bayi ternyata tidak cocok dengan susu formula tersebut. Bayi dengan kecenderungan bakat alergi sangat tinggi pun juga bisa jadi memiliki risiko memberikan reaksi alergi terhadap susu formula. 

Pencegahan Alergi 

Ibu menyusui tetap dimotivasi untuk menyusui bayi. Pemberian ASI eksklusif menurunkan angka risiko terjadinya reaksi alergi terhadap eksim, asma, seasonal allergy dan alergi susu sapi pada usia dini. Pemberian susu hydrolised formula juga tidak bisa mencegah penyakit alergi atau autoimun (link). 

Pada kasus anak belum memiliki riwayat alergi, saat MPASI kenalkan bertahap aneka ragam jenis bahan makanan secara hati-hati. Bahan makanan yang lolos bisa masuk dalam daftar pilihan bahan makanan anak. Pada ibu menyusui dan bayi sehat tanpa riwayat gejala alergi tidak perlu melakukan pembatasan makan (diet restriktif), justru pengenalan aneka ragam jenis bahan makanan saat ibu menyusui terbukti bawa manfaat positif.

Berikut ini yang bisa dilakukan supaya menurunkan risiko anak mengalami alergi:

  1. Pemberian ASI eksklusif (link).
  2. Ibu makan aneka ragam jenis bahan makanan bergizi seimbang di masa kehamilan dan menyusui selama tidak ada riwayat keluhan alergi.
  3. Mengenalkan aneka ragam jenis bahan makanan bergizi seimbang secara bertahap dengan peka melihat tanda tubuh bayi saat masa MPASI. Disarankan konsultasi pemilihan MPASI kepada dokter ahli jika dalam keluarga (orang tua dan saudara kandung) pernah ada riwayat alergi yang jelas.
  4. Jauhi asap rokok selama masa kehamilan, setelah persalinan dan lindungi anak dari paparan rokok.
  5. Hindari paparan alergen seperti dust mite (kutu debu).

Gejala intoleransi makanan berbeda dengan alergi makanan sebab tidak terbentuk antibodi yang spesifik. Contohnya reaksi intoleransi bayi ketika ibu menyusui memakan makanan pedas (cabe), berbumbu tajam, bersantan, berpasta bawang, dll. Kondisi intoleransi makanan bisa membaik ketika sistem pencernaan sudah berkembang saat anak semakin besar.

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s