Kesehatan Anak, Menyusui dan ASI

Diare Pada Bayi ASI

DIARE CAIR AKUT

Ada 3 jenis diare secara umum:

  • Diare cair akut – diare selama beberapa jam atau beberapa hari;
  • Acute bloody diarrhoea – diare akut tinja bercampur darah, disentri; dan
  • Diare persistent diarrhoea – diare selama 14 hari atau lebih.

Kita akan membahas diare cair akut. Diare yaitu buang air besar dengan konsistensi cair dan frekuensi lebih sering.

Pengertian diare pada anak adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair.

Diare pada bayi ASI eksklusif (ASIX) memiliki definisi yang agak berbeda karena bayi ASIX kotorannya memang lembek dan bisa BAB lebih dari tiga kali dalam sehari. Hal ini sering membuat para ibu jadi galau bimbang meragu. Baca lebih lanjut di artikel serba-serbi feses bayi.

 Feses bayi asix normal

Diare pada bayi yang hanya diberi ASI itu bentuk tinja tidak seperti biasanya dan frekuensi berak lebih sering dari biasanya.

Tanda diare pada bayi ASI eksklusif:

  • Kotoran sangat encer, kadang air saja.
  • Bayi berak dengan frekuensi lebih sering dari biasanya, kotoran lebih cair dari biasanya dan kotoran lebih banyak dari biasanya dengan gejala menetap hingga pada tiga kali berak atau lebih.
  • Bayi membuang kotoran menyemprot, sering kentut sehingga menimbulkan suara eksplosif.
  • Bayi tampak sakit, demam dan malas makan pada bayi yang sudah makan.

Bayi yang tumbuh gigi atau ibu berpuasa kadang kotorannya memang bisa lebih lembek dari biasanya, namun tidak sampai menimbulkan gejala diare (pembahasan terkait ini bisa dibaca di artikel lain).

Jika bayi mengalami diare, maka kemungkinannya antara lain:

  • Infeksi seperti infeksi saluran cerna. Penyebab diare terbanyak pada umur 0 – 2 tahun adalah virus yaitu ROTAVIRUS. Penyebab bakteri bisa Escherichia coli, Shigella, Vibrio cholerae, dll. Bisa juga karena infeksi virus, bakteri atau parasit lainnya.
  • Terlalu banyak meminum sari buah atau jus pada bayi yang sudah MPASI.
  • Efek samping pengobatan (baik obat yang diminum bayi atau ibu dan ini termasuk obat herbal/jamu serta suplemen).
  • Sensitif atau alergi makanan (baik makanan bayi atau makanan ibu).
  • Faktor lainnya: malnutrisi, paparan kontaminasi pada sumber air/makanan, higienitas buruk, sanitasi lingkungan kurang baik. Bayi dan anak kecil kadang pun suka ngemut tangan, ngemut tangan orang lain, ngemut mainan, ngemut benda-benda di sekitar dan bahkan ngemut kakinya sendiri. Kebiasaan memasukkan banyak benda ke mulutnya ini tentulah berisiko tinggi terhadap diare:

IMG00954-20110920-1049

SmartSelectImage_2018-11-30-13-32-56-01

SmartSelectImage_2018-12-03-08-57-03-01

Pada saat diare terjadi pengeluaran cairan dan elektrolit pada feses bayi yang cair. Apapun penyebab diare maka penting bagi orang tua untuk selalu memantau status dehidrasi dan mengatasi diare dengan benar. Dehidrasi terjadi ketika kehilangan cairan dan elektrolit ini tidak digantikan.

1. Dehidrasi berat.Ditandai dengan lesu/lunglai, mata cekung, malas minum, turgor kembali sangat lambat > 2 detik, dan kehilangan cairan >10% dari berat badan. Waspada apabila terdapat dua atau lebih:

  • Lemah atau tidak sadarkan diri.
  • Mata cowong.
  • Malas minum, tidak mau minum atau tidak bisa minum.
  • Cubitan kulit kembali sangat lambat (lebih dari 2 detik)

2. Dehidrasi sedang. Balita mengalami gelisah atau rewel, mata cekung, rasa haus meningkat, turgor kembali lambat, dan kehilangan cairan 5-10% dari berat badan. Waspada apabila terdapat dua atau lebih:

  • Sulit beristirahat, rewel
  • Mata cowong atau cekung.
  • Haus dan mau minum.
  • Cubitan kulit kembali dengan lambat.

3. Tanpa dehidrasi: anak tidak menunjukkan tanda dehidrasi sedang maupun dehidrasi berat. Jika pada Balita, ia tetap aktif, memiliki keinginan untuk minum seperti biasa, mata tidak cekung, dan turgor kembali segera. Namun, Balita akan kehilangan cairan <5% dari berat badan.

Penanganan Diare Pada Bayi dan Anak di Rumah

Lakukan 5 langkah penanganan sederhana ini:

1. Berikan cairan rehidrasi oral (oralit).

Cairan oralit diminumkan dengan cangkir atau sendok secara perlahan sesuai dosis yang dianjurkan dokter atau tenaga kesehatan. Jika anak muntah, tunggu hingga 10 menit kemudian coba diminumkan lagi secara perlahan. Anak harus minum cairan tambahan ini hingga diare berhenti. Pada bayi yang masih ASI eksklusif teruskan pemberian ASI yang lebih sering dan lebih lama dari biasanya. Pada bayi yang sudah tidak ASI eksklusif bisa diberikan oralit, cairan rumah tangga dari makanan (kuah sayur, air tajin) atau air minum matang setiap kali berak. Berikan juga oralit untuk mencegah dehidrasi sampai diare berhenti. Oralit dengan formula baru (new oral rehydration solution atau new-ORS) dimana kadar natrium dan glukosanya lebih rendah ternyata ampuh untuk mengurangi volume diare juga muntah serta anak menjadi lebih sedikit membutuhkan terapi infus.

Oralit saat ini mudah dijangkau, banyak tersedia di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Rasa dan mereknya pun sudah banyak pilihan. Tidak dianjurkan membuat larutan racikan gula-garam dibuat sendiri di rumah, takaran gula dan garam jika tidak pas justru bisa menambah risiko. Memberikan cairan rumah tangga yang berasal dari kuah masakan bisa membantu.

Manfaat ORS/oralit bagi penyembuhan diare sungguh luar biasa. Sejak tahun 1978, Oralit atau larutan rehidrasi oral ini menjadi kunci pokok bagi pengobatan diare. Oralit bisa menurunkan angka kematian akibat diare dari 5 juta menjadi 1,3 juta anak setiap tahun. Keampuhan new-ORS ini semakin bertambah dengan konsentrasi natrium 75 mEq/L, glukosa 75 mmol/L dan total osmolaritas menjadi 245 mOsm/L. Kebutuhan terapi infus menurun hingga 33%, volume tinja menurun hingga 20% dan kejadian muntah menurun hingga 30%.

2. Berikan tablet zinc selama 10 – 14 hari berturut-turut.

Zinc adalah mikronutrien yang penting bagi kekebalan tubuh, perkembangan dan kesehatan anak. Pemberian zinc selama 10 – 14 hari akan mempercepat penyembuhan diare, mengurangi keparahan diare dan melindungi anak dari kejadian diare hingga 2 – 3 bulan ke depan. Pemberian zinc bisa mengurangi 300.000 kematian akibat diare pada anak. Pemberian zinc harus diteruskan hingga tuntas sesuai petunjuk dokter.

3. Teruskan pemberian ASI ( juga makanan jika bayi telah MPASI).

  • Teruskan pemberian ASI. Pada bayi yang tidak mendapat ASI maka bisa tambahkan oralit, cairan rumahan atau air minum disamping susu yang biasa dia minum.
  • Pada bayi umur diatas 6 bulan yang telah makan MPASI bisa lebih sering disusui. Berikan minuman matang yang bersih dan mudah diperoleh di rumah. Ajak anak supaya mau minum agar tidak dehidrasi.
  • Bayi yang sudah makan MPASI diberikan makan 6 kali sehari untuk mencapai asupan kalori hingga 110 kkal/kg/hari. Anak yang sulit makan mungkin membutuhkan intervensi pemberian makan melalui selang nasogastrik.
  • Anak dengan diare yang berat akan kehilangan selera makan, namun biasanya akan mulai kembali berselera makan setelah 24 – 48 jam mendapatkan terapi.

4. Antibiotik secara selektif hanya bagi diare yang disebabkan oleh bakteri contohnya seperti disentri, diare disertai darah (curiga Shigellosis) atau pasien yang dicurigai kolera serta infeksi berat lain.

5. Periksa ke tenaga kesehatan untuk mendapat nasehat tentang perawatan diare yang benar. Tenaga kesehatan harus memberikan nasehat bagi ibu dan keluarga tentang perawatan diare, tanda dehidrasi dan kapan membawa bayi kembali untuk periksa ke tenaga kesehatan lagi.

Penanganan diare di atas disebut juga LINTAS (Lima Tuntas) Diare. Pemberian oralit dan zinc adalah pengobatan utama untuk semua kasus diare. Oralit diberikan hingga diare berhenti. Zinc harus diberikan minimal 10 hari meskipun diare sudah membaik. Jadi, pastikan ibu meminta dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mengajarkan bagaimana cara memberikan oralit dan zinc kepada bayi yang diare.

Tanda Diare Sembuh

Tidak perlu mengganti ASI dengan susu formula saat bayi diare akibat infeksi saluran pencernaan. Tanda diare mengalami perbaikan adalah kotoran bayi berangsur-angsur kembali seperti semula.

ASI bukan penyebab DIARE. Pemberian ASI justru melindungi anak dari diare, meringankan gejala saat anak sakit dan mempercepat penyembuhan dari diare.

Lalu apa saja cara mencegah diare:
1. Akses air bersih
2. Jaga lingkungan bersih sehat
3. Rajin cuci tangan pakai sabun dan air mengalir
4. Memberikan ASI
5. Jaga kebersihan diri dan makanan dengan benar
6. Edukasi tentang cara penyebaran kuman penyebab penyakit secara benar sehingga kita pun mampu melakukan pencegahan dengan benar
7. Imunisasi menggunakan vaksin yang terbukti secara ilmiah bermanfaat mencegah diare

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s