Donor ASI dan Hukum Persusuan

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)

 “Susuilah ia, sehingga engkau menjadi mahram baginya.” (HR. Muslim no. 1453)

Menyusui adalah perintah Allah yang tercantum dalam ayat qur’an dan hadith. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari menyusui sehingga dalam kitab suci, Allah dan Rasululloh memerintahkan untuk “menyusui” tidak hanya sekedar “memberi ASI”.

Jika seorang ibu mengalami kesulitan dalam menyusui anaknya maka ibu dan ayah bisa mencarikan ibu susuan sebagai donor ASI. Donor ASI aman jika ASIP dipasteurisasi terlebih dahulu sebelum diberikan kepada bayi. Pasteurisasi akan mematikan kuman penyakit dalam ASI sehingga ASI tetap aman dikonsumsi bayi.

Namun, bagi umat Muslim jangan lupa untuk mematuhi hukum mahram. Mahrom di sini terbagi menjadi dua macam: [1] Mahrom muabbad, artinya tidak boleh dinikahi selamanya; dan [2] Mahrom muaqqot, artinya tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal. Mahrom muabbad dibagi menjadi tiga: [1] Karena nasab, [2] Karena ikatan perkawinan (mushoharoh), [3] Karena persusuan (rodho’ah).

Mahrom muabbad karena persusuan (rodho’ah):

  1. Wanita yang menyusui dan ibunya.
  2. Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara persusuan).
  3. Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan).
  4. Anak perempuan dari anak perempuan dari wanita yang menysusui (anak dari saudara persusuan).
  5. Ibu dari suami dari wanita yang menyusui.
  6. Saudara perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  7. Anak perempuan dari anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anak dari saudara persusuan).
  8. Anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui.
  9. Istri lain dari suami dari wanita yang menyesui.

Adapun jumlah persusuan yang menyebabkan mahrom adalah lima persusuan atau lebih. Inilah pendapat Imam Asy Syafi’i, pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad, Ibnu Hazm, Atho’ dan Thowus. Pendapat ini juga adalah pendapat Aisyah, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Zubair.

Radha’ah, radha’, irdha’ penyusuan/menyusui (bahasa Arab, رضاعة) adalah sampainya [masuknya] air susu manusia [perempuan] selain ibu kandung ke dalam perut seorang anak [bayi] yang belum berusia dua tahun, atau 24 bulan.

Syarat persusuan yang menjadikan anak persusuan menjadi mahram adalah:

  • Adanya air susu manusia (ASI).
  • ASI masuk ke dalam perut bayi.
  • Persusuan sebanyak minimal lima kali.
  • Anak yang disusui adalah anak yang umurnya masih dalam masa penyusuan yaitu dua tahun.

Menyusui anak di atas dua tahun hanya sebagai tambahan karena ASI sudah tidak lagi mengenyangkan. Suami yang tidak sengaja menelan ASI istri juga tidak menjadi anak persusuan.

Picture1

Tidak boleh menerima ASI dari bank ASI karena tidak jelas asal-usul donor sehingga dikhawatirkan akan terjadi kekacauan dalam menetapkan mahrom. Sementara syariat islam menjadikan hubungan susuan sebagaimana hubungan nasab.

Pendapat terkuat bahwa kemahraman karena persusuan terjadi juga walaupun tidak menyusu langsung. Karena yang yang menyebabkan kemahraman adalah persusuan yang menumbuhkan daging dan tulang, ASI dalam gelas atau bank ASI juga bisa termasuk dalam hal ini.

“Tidak termasuk menyusui kecuali susu yang membentuk tulang dan menumbuhkan daging” (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Fatwa MUI terkait donor ASI: download fatwa MUI

Pendonor ASI tidak boleh sembarangan. Menurut IDAI, para ibu yang ingin mendonorkan ASI harus melalui beberapa tahap penapisan, yaitu:

Penapisan I

  1. Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  2. Sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui
  3. Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  4. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  5. Tidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi. Obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASI
  6. Tidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  7. Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol

Penapisan II

  1. Harus menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV (bila akan diberikan pada bayi prematur)
  2. Apabila ada keraguan terhadap status pendonor, tes dapat dilakukan setiap 3 bulan
  3. Setelah melalui tahapan penapisan, ASI harus diyakini bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan

Cara pasteurisasi ASI donor:

Pasteurisasi di rumah sakit besar juga bank ASI biasanya menggunakan alat dan teknik pasteurisasi Holder. Terdapat teknik pasteurisasi lain, yaitu:

Pasteurisasi Pretoria

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca (sisa selai) 450 ml.
  2. Tutup wadah kaca dan letakkan ke dalam panci aluminium 1 liter
  3. Tuangkan air mendidih 450ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  4. Dapat diletakkan pemberat diatas wadah kaca, kemudian tunggu selama 30 menit
  5. Pindahkan susu, dinginkan, dan berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

 Flash Heating

  1. Tempatkan ASI sebanyak 50-150 ml kedalam wadah kaca 450 ml
  2. Wadah kaca ditutup sampai saat dilakukan flash heating
  3. Untuk melakukan flash heating, buka tutup wadah dan letakkan dalam 1 liter Hart Pot (pemanas susu)
  4. Tuangkan air 450 ml atau hingga permukaan air mencapai 2 cm dari bibir panci
  5. Didihkan air, bila telah timbul gelembung pindahkan wadah dengan cepat dari air dan sumber panas
  6. Dinginkan ASI, berikan kepada bayi atau simpan di lemari pendingin

Mutu dan keamanan ASI meliputi kebersihan, cara penyimpanan, pemberian, dan pemerahan ASI:

  1. Calon pendonor ASI harus mendapatkan pelatihan tentang kebersihan, cara memerah, dan menyimpan ASI
  2. Sebelum memerah ASI, cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, kemudian keringkan dengan handuk bersih
  3. ASI diperah di tempat bersih. Bila menggunakan pompa, gunakan yang bagiannya mudah dibersihkan. Pompa ASI tipe balon karet berisiko terkontaminasi.
  4. ASI perah harus disimpan pada tempat tertutup, botol kaca, kontainer plastik dari bahan polypropylene atau polycarbonate, botol bayi gelas atau plastik standar (perhatikan tata cara penyimpanan ASI)

Unit Donor ASI

  1. Unit Donor ASI mutlak ada untuk mempermudah akses pendonor dan penerima, menjamin keamanan, etik dan terjaminnya kesehatan yang optimal.
  2. Sesuai prosedur dan protokol standar internasional pengelolaan ASI donor.
  3. Memiliki Tim konsultan yang mencakup bidang ilmu terkait dan staf yang terlatih

 Pencatatan

Pencatatan menjadikan bagian penting dalam proses donor ASI, yang mencakup identitas pendonor, lembar persetujuan, kuesioner dan hasil tes skrining penyakit, keterangan resipien, data pelengkap administrasi, dsb.

Peran pemerintah melalui Kementerian terkait atau badan khusus sangat diperlukan untuk pelaksanaan dan pengawasan kegiatan donor ASI. Kebijakan pemerintah diperlukan untuk penggunaan ASI donor.

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s