Depresi Post Partum

Depresi Post Partum

Depresi adalah kondisi dimana seseorang merasa lebih dari sekedar sedih, “blues” atau kesedihan yang berlarut-larut hingga selama beberapa hari. Depresi setelah melahirkan disebut depresi post partum. Depresi merupakan penyakit otak yang serius. Rasa sedih, ketakutan atau merasa kosong tanpa akhir ketika sedang depresi dan mengganggu kehidupan sehari-hari serta rutinitas harian. Perasaan ini bisa ringan hingga berat. Namun, depresi bisa diobati dengan terapi bicara dan pengobatan lainnya.

Gejala Depresi Post Partum

Kehadiran bayi akan membawa banyak perubahan dan kebahagiaan dalam hidup ibu. Saat hamil atau setelah melahirkan, ibu mungkin saja tertekan dan tidak menyadarinya. Beberapa perubahan normal selama dan setelah kehamilan dapat menimbulkan gejala menyerupai gejala depresi seperti ibu merasa tertekan, takut, sedih, khawatir dan kalut. Bukan perasaan bahagia, namun justru hal-hal negatif yang terjadi.

Namun perasaan negatif ini biasanya akan segera menghilang. Jika ibu mengalami salah satu gejala berikut ini selama lebih dari 2 minggu segera periksakan diri ke dokter:

  • Merasa labil atau lelah.
  • Merasa sedih, putus asa atau kewalahan tanpa jelas
  • Sering menangis tanpa sebab
  • Tidak memiliki tenaga atau motivasi
  • Terlalu banyak makan atau sebaliknya tidak nafsu makan
  • Terlalu banyak tidur atau sebaliknya sulit tidur
  • Sulit fokus, berkonsentrasi atau membuat keputusan
  • Memiliki masalah mengingat
  • Merasa tidak berharga dan berdosa
  • Kehilangan semangat, kegemaran atau tidak bisa menikmati aktivitas yang sebelumnya disukai.
  • Menarik diri dari lingkungan keluarga dan sahabat
  • Mengalami keluhan sakit kepala, nyeri, pegal linu atau gangguan pencernaan yang tdiak kunjung sembuh.

Depresi post partum ini bisa terjadi kapan saja dalam waktu setahun pasca persalinan. Penyebabnya tidak diketahui. Sekitar 13% ibu hamil dan ibu baru mengalami depresi. Beberapa kemungkinan berikut ini bisa menyebabkan depresi post partum:

  • Depresi adalah penyakit jiwa yang bisa diturunkan dalam satu keluarga. Wanita dengan riwayat keluarga ada kasus depresi akan lebih berisiko depresi.
  • Perubahan lingkungan kimiawi otak dipercaya sebagai faktor risiko paling besar.
  • Kejadian hidup yang berat seperti kematian seseorang yang disayangi, merawat orang lanjut usia, tindak kekerasan dan kemiskinan juga bisa memicu depresi.
  • Faktor hormonal secara unik dipercaya dapat memicu depresi pada wanita. Hormon dapat mempengaruhi lingkungan kimiawi otak pada regio otak yang mengatur kejiwaan dan perasaan secara langsung. Wanita memiliki risiko tinggi depresi di beberapa waktu seperti saat pubertas, selama dan setelah kehamilan dan selama masa perimenopause. Beberapa wanita juga rentan depresi ketika menstruasi.

Perubahan hormon, fisik atau stress merawat bayi dipercaya memiliki peran hingga mempengaruhi kestabilan jiwa ibu. Wanita yang pernah mengalami depresi memiliki risiko terjadi depresi post partum lebih tinggi.

Kadar estrogen dan progesteron akan meningkat tajam selama ibu hamil. Kadar kedua hormon tersebut akan menurun drastis dalam waktu 24 jam setelah melahirkan. Para peneliti percaya bahwa perubahan besar secara mendadak ini berisiko memicu gejala depresi. Yah, ketika sedang menstruasi dengan perubahan hormonal yang cukup kecil saja seorang wanita bisa berubah apalagi dengan perubahan besar-besaran setelah melahirkan. Kadar hormon tiroid juga menurun segera setelah melahirkan. Kadar hormon tiroid yang rendah dapat menyebabkan gejala depresi.

Faktor Risiko Depresi Post Partum

Beberapa faktor bisa mempengaruhi terjadinya depresi post partum ini, seperti ketika ibu merasa:

  • Lelah setelah melahirkan.
  • Lelah akibat kurang tidur atau tidur yang terganggu ketika bayi bangun minta susu
  • Terlalu berlebihan memikirkan bayi.
  • Ragu akan kemampuan menjadi ibu yang baik.
  • Tertekan akibat perubahan ketika beraktivitas sehari-hari atau dalam pekerjaan.
  • Keinginan menjadi ibu sempurna yang tidak realistis.
  • Mendadak merasa kehilangan jati diri setelah memiliki bayi.
  • Tidak ada rasa tertarik pada berbagai hal, termasuk kesukaan sebelum hamil.
  • Tidak memiliki waktu senggang untuk “me time”

Risiko depresi semakin tinggi jika ibu memiliki salah satu faktor risiko berikut ini:

  • riwayat depresi
  • riwayat keluarga dengan depresi,
  • tidak mendapat dukungan dari keluarga serta karib kerabat,
  • tidak mengharapkan kehamilan,
  • memiliki riwayat kehamilan atau persalinan yang traumatik,
  • terdapat permasalahan keluarga,
  • terdapat permasalahan keuangan,
  • sedang mengalami tekanan hidup yang berat,
  • umur terlalu muda, atau
  • merupakan pengguna zat terlarang.

Banyak wanita mengalami baby blues setelah melahirkan. Tanda ibu mengalami baby blues ketika:

  • merasa labil,
  • sedih,
  • takut berlebihan,
  • mendadak menangis berderai-derai,
  • kehilangan nafsu makan atau
  • sulit tidur.

Baby blues ini sebagian besar akan menghilang dalam beberapa hari atau seminggu. Gejala biasanya ringan sehingga tidak perlu diobati.

Sedangkan depresi post partum gejalanya berlangsung lebih lama dan lebih berat. Ibu merasa putus asa dan tidak berharga, juga tidak perhatian kepada bayinya. Ibu  segera ke dokter ketika ibu memiliki gejala antara lain:

  1. keinginan untuk menyakiti bayi,
  2. keinginan untuk menyakiti diri sendiri,
  3. tidak tertarik kepada bayi.

Pada kasus yang lebih jarang bisa terjadi psikosis post partum. Psikosis ini terjadi pada 1 – 4 dari 1000 kelahiran. Kasus berat ini harus segera ditangani di rumah sakit. Gejala bisa lebih berat dimana ibu mengalami:

  1. halusinasi, ibu seperti melihat sesuatu padahal tidak ada
  2. merasa kebingungan
  3. perubahan perasaan begitu cepat
  4. ibu mencoba untuk menyakiti diri atau bayi.

 2014-08-01-05-29-22

Sebaiknya segera periksa ke dokter ketika:

  • Baby blues tidak menghilang dalam 2 minggu.
  • Gejala depresi semakin memberat.
  • Gejala depresi yang muncul kapan pun setelah melahirkan.
  • Kondisi ini mengganggu aktivitas serta pekerjaan ibu di rumah maupun tempat kerja.
  • Kondisi ini membuat ibu tidak bisa merawat bayi serta tubuh ibu sendiri.
  • Ibu memiliki pikiran takut akan membahayakan diri sendiri atau bayi.

Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan dan memberikan pertanyaan. Kemudian ibu akan dirujuk ke tenaga kesehatan yang khusus mengatasi depresi.

Ibu sering merasa bingung, malu, atau berdosa ketika menyadari dirinya merasa depresi sehingga ibu berpura-pura bahagia dan tidak terjadi apa-apa karena ingin dianggap sebagai orang tua yang sempurna. Setiap wanita bisa mengalami depresi ketika hamil atau setelah melahirkan. Depresi bukan berarti bahwa ibu adalah orang tua yang buruk atau tidak layak. Ibu dan bayi tidak perlu menderita. Ada pertolongan tersedia bagi ibu, dan ibu hanya butuh mencari di tempat yang tepat. Depresi bisa diobati dengan terapi bicara dan pengobatan.

Mencegah Depresi Post Partum

Berikut ini tips yang bisa membantu ibu untuk mencegah depresi post partum ini, yaitu:

  • Istirahat yang cukup.
  • Jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi sempurna.
  • Minta bantuan suami, keluarga dan karib kerabat untuk meringankan pekerjaan ibu.
  • Luangkan waktu untuk bepergian seperti berkunjung ke rumah karib kerabat atau berkencan dengan suami.
  • Curahkan isi hati kepada suami, keluarga dan karib kerabat untuk meringankan beban ibu
  • Berbincang-bincang dengan ibu yang lebih senior untuk belajar dari pengalaman mereka.
  • Ikut bergabung dengan kelompok pendukung ibu menyusui atau kelompok ibu-ibu di lingkungan setempat.
  • Jangan melakukan perubahan besar ketika sedang hamil atau segera setelah melahirkan seperti pindah rumah, pindah kerja, dan hal-hal besar lainnya. Beberapa perubahan besar memang tidak bisa dihindari. Jika terjadi segera minta bantuan dan dukungan dari keluarga serta karib kerabat.

Pengobatan Depresi Post Partum

Depresi bisa diatasi dan diobati. Jika tidak diobati maka kasihan bayi karena depresi akan menjadikan ibu sulit menjadi ibu yang baik. Ibu yang depresi akan kurang energi, sulit fokus, perasaan sangat mudah berubah dan tidak mampu memenuhi kebutuhan anak. Akibatnya ibu akan makin merasa bersalah dan berdosa sehingga semakin emrasa menjadi ibu yang buruk dan memperparah depresi.

Jika Depresi Tidak Diobati

Anak yang diasuh oleh ibu depresi yang tidak diobati akan mengalami gangguan perkembangan seperti keterlambatan bicara, gangguan ikatan ibu – anak, gangguan perilaku dan cengeng sering menangis. Minta bantuan suami dan pengasuh untuk membantu merawat anak-anak ketika ibu sedang tertekan.

Semua anak berhak mendapatkan kesempatan untuk memiliki ibu yang sehat. Semua ibu layak mendapat kesempatan untuk menikmati hidup dan anak-anak mereka. Jika Anda merasa tertekan saat masa kehamilan atau setelah melahirkan segera beritahu orang-orang tercinta dan periksakan diri ke dokter segera.

Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang ingin menyusui bayinya lalu dipaksa/terpaksa menyapih menyusui terlalu dini lebih berisiko terkena depresi post partum sehingga ketika ibu dibantu untuk bisa menyusui bayi lebih lama maka akan jadi lebih terlindungi dari depresi.

 

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s