Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

Hari Pencegahan Bunuh Diri SeduniaBunuh diri adalah permasalahan kesehatan masyarakat yang besar namun bisa dicegah. WHO menyatakan bahwa usaha bunuh diri berkontribusi terhadap separuh kematian tragis dan mengakibatkan hampir satu juta kejadian fatal  yang menghabiskan dana hingga milyaran dollar setiap tahun. Diperkirakan ada sekitar 1,5 juta kasus bunuh diri fatal hingga tahun 2020.

Tanggal 10 September ini diperingati sebagai World Suicide Prevention Day, kolaborasi antara WHO dan the International Association for Suicide Prevention (IASP), untuk mendapatkan perhatian serta kontribusi aksi global terkait pencegahan bunuh diri. Tema Hari Pencegahan Bunuh Diri 2014:

Satu Dunia yang Terhubungkan

Bunuh diri adalah permasalahan kesehatan masyarakat yang tragis. Setiap aksi bunuh diri seseorang akan berdampak buruk bagi keluarga dan kerabat dengan membawa kerugian materi, sosial dan kejiwaan yang hancur.

Bunuh diri berkonstrobusi memberi dampak beban global penyakit hingga sebesar 1,4% di seluruh dunia, namun kehilangannya melebihi jumlah yang diperkirakan. Di Regio Pasifik Barat, bunuh diri berkontribusi mengakibatkan kerugian ekonomi hingga 2,5%. Lebih dari 800.000 orang mati dengan cara bunuh diri – sekitar 1 orang setiap 40 detik. Pada tahun 2001, korban kematian akibatkan bunuh diri jumlahnya melebihi korban pembunuhan (500.000) dan kematian akibat peperangan (230.000).

Sebanyak 70% kasus bunuh diri terjadi di negara dengan pendapatan menengah ke bawah. Negara dengan angka bunuh diri tertinggi adalah Eropa Timur. Negara dengan angka bunuh diri terendah adalah Amerika Latin, negara-negara Muslim dan beberapa negara Asia. Angka korban terluka akibat bunuh diri bisa 10 – 20 kali lipat lebih banyak, gagal mati namun membutuhkan perawatan di rumah sakit dan trauma fisik maupun mental.

Menurut WHO pada 2010, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100.000 jiwa.

Bunuh diri bisa terjadi di umur berapa pun. Paling sering dilakukan oleh orang berusia 70 tahun ke atas. Bunuh diri memang paling sering terjadi pada umur yang lebih tua namun dewasa ini perlu diwaspadai karena kejadian bunuh diri mulai meningkat pada umur yang lebih muda sekitar umur 15 – 25 tahun. Wanita yang mencoba bunuh diri lebih banyak daripada pria, kecuali di China. Di negara maju pria yang bunuh diri lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan wanita.

pria yang bunuh diri lebih banyak dibandingkan wanita, namun keinginan untuk bunuh diri lebih banyak pada wanita

Keinginan bunuh diri dilatarbelakangi oleh banyak faktor risiko yang kompleks. Faktor risiko adalah hal-hal yang dipercaya meningkatkan kejadian atas suatu hal. Faktor risiko bunuh diri antara lain:

  • kemiskinan,
  • pengangguran,
  • kehilangan orang yang dicintai,
  • pertengkaran,
  • kehilangan sebuah hubungan (misalnya ditinggal kekasih, perceraian),
  • permasalahan hukum,
  • permasalahan pekerjaan.

 Faktor risiko lain adalah

  • riwayat keluarga bunuh diri,
  • paparan orang lain bunuh diri (rekan kerja, sahabat atau bahkan artis idola),
  • ketergantungan obat dan alkohol,
  • penyiksaan di masa kanak-kanak termasuk tindak kekerasan seksual,
  • isolasi sosial,
  • beberapa gangguan kejiwaan seperti depresi, skizofrenia,
  • terdapat senjata api di rumah.

Rasa sakit dan kecacatan juga bisa meningkatkan risiko bunuh diri.

Metode bunuh diri yang sering digunakan adalah meminum pestisida, menembak diri sendiri dan meminum obat dengan dosis tinggi. Oleh sebab itu, pabrik obat memasarkan obatnya dalam bentuk strip supaya lebih sulit untuk disalahgunakan dibandingkan obat dalam botol. Usaha lebih lanjut sedang dipikirkan untuk membatasi penggunaan pestisida serta akses memiliki senjata api.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko untuk bunuh diri berhubungan dengan perubahan neurotransmiter (suatu zat kimia di otak yang berfungsi dalam kerja persarafan) seperti serotonin. kadar serotonin rendah ditemukan pada orang dengan depresi, gangguan impulsif, orang dengan riwayat usaha bunuh diri serta di otak korban bunuh diri.

Faktor pelindung yang bisa mencegah seseorang untuk bunuh diri adalah:

  • kepercayaan diri yang tinggi,
  • kedekatan dengan karib kerabat serta lingkungan sosial,
  • memiliki komunitas pendukung di lingkungan sosial,
  • memiliki hubungan yang stabil,
  • kehidupan beragama yang baik,
  • kualitas spiritual seseorang.

Indentifikasi dini dan penanganan yang tepat pada gangguan kejiwaan dapat mencegah tindakan bunuh diri. Identifikasi dan penanganan gangguan suasana hati (mood) bisa juga mengurangi usaha bunuh diri. Sebaiknya dilakukan sosialisasi pengenalan dan pencegahan bunuh diri kepada tenaga kesehatan, guru, petugas penjara, awak media dan korban usaha bunuh diri yang selamat.

Mencegah Usaha Bunuh Diri

Mendapatkan pertolongan untuk mengatasi penyakit jiwa yang diderita dapat membantu mencegah bunuh diri. Depresi dan penyalahgunaan zat sering berhubungan dengan bunuh diri, mendapat terapi penanganan yang tepat bisa mencegah bunuh diri. Jika merasa “ingin mati” segera cari pertolongan. Bicarakan dengan keluarga, sahabat, rekan kerja dan jika tidak ada maka cari pertolongan ke tenaga kesehatan terdekat.

Jika anda mengenal seseorang yang tampaknya berisiko mau bunuh diri, maka lakukan:

  • Dengarkan curahan hatinya dengan tulus. Jangan memberikan nasihat yang menggurui tapi hadirlah untuk memberitahu bahwa dalam hidup ini dia tidak sendiri.
  • Berbagi perasaan dengannya. Jika anda berpikir dia akan melakukan keputusan yang sembrono maka sampaikan kepadanya bahwa anda peduli dengannya. Dia perlu tahu bahwa kehadirannya itu berharga dan dia penting bagi anda.
  • Tanyakan dengan penuh hati-hati apakah dia punya rencana untuk bunuh diri. Jika anda bingung dan takut untuk bertanya maka cari orang lain yang bisa membantu.
  • Hubungi call center terkait pencegahan bunuh diri.
  • Jika perlu ajak untuk berkonsultasi dengan ahli yang profesional untuk mencari pertolongan.

Tanda Bahaya Keinginan Bunuh Diri:

  1. Memiliki konsep ke arah bunuh diri (pikiran, pembicaraan atau berharap untuk mati saja)
  2. Ketergantungan zat atau obat (terlihat tampak lebih parah penggunaannya)
  3. Merasa tidak berguna (merasa tidak berharga atau tidak memiliki tujuan hidup)
  4. Kemarahan.
  5. Merasa terjebak dalam belitan masalah yang tidak memiliki jalan keluar.
  6. Merasa tidak memiliki harapan.
  7. Menarik diri dari lingkungan (keluarga, pertemanan, kerja, sekolah, aktivitas, hobi)
  8. Menunjukkan gejala anxietas  (ketakutan, kecemasan, gangguan istirahat, sensitif, mudah menyerang).
  9. Nekat (menunjukkan perilaku berisiko tinggi yang nekat)
  10. Gangguan suasana hati (perubahan suasana hati terjadi secara dramatis)

Tanda lain:

  • Membicarakan atau menulis tentang bunuh diri, ingin mati, dll.
  • Mencari cara untuk mati (mencari cara di internet, mencari cara memiliki akses ke senjata api, membeli obat, dll).
  • Membicarakan tentang tidak adanya harapan hidup, merasa tidak tertolong, merasa tidak berguna.
  • Sering berpikir untuk mati.
  • Tiba-tiba bertingkah laku “sok-bahagia” atau “lebih kalem”.
  • Kehilangan minat untuk peduli pada hal-hal seperti biasa.
  • Tiba-tiba berkunjung atau menelpon seseorang yang sudah lama tidak bertemu.
  • Membuat rencana untuk seseorang yang tidak biasanya dilakukan.
  • Tiba-tiba membagi-bagikan harta benda yang berharga.

Ingat: seseorang yang ingin bunuh diri sebaiknya segera mendapat pertolongan dokter atau tenaga kesehatan jiwa secepatnya.

Saat ini hanya 28 negara yang memiliki strategi nasional pencegahan bunuh diri. Sebaiknya pemerintah menyediakan help line yang bisa mudah diakses oleh masyarakat. Media juga bisa berperan dalam mengurangi angka bunuh diri dengan cara tidak terlalu vulgar dalam pemberitaan seperti metode atau cara bunuh diri yang dilakukan. Media juga bisa berperan untuk menghilangkan diskriminasi dan perlakuan buruk serta memunculkan kesadaran untuk mendeteksi adanya gangguan kejiwaan atau penyakit jiwa di masyarakat.

Bunuh diri adalah cara mati yang paling tragis. Bunuh diri bisa dicegah. Percayalah… meski tampak tidak ada harapan namun pertolongan itu selalu ada. 🙂

2014-09-09-14-39-15

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s