Cara Menyapih Anak: Menyapih Dengan Cinta

Beberapa hari ini berseliweran artikel saran menyapih anak, salah satunya dengan memberikan dot dan sufor. Oh nooo..

Menyapih dot

Menyapih adalah kondisi dimana ibu mengurangi menyusui secara perlahan hingga anak tidak menyusu lagi. Menyapih sebaiknya dilakukan secara bertahap supaya anak dan ibu tetap nyaman. Menyapih ini dimulai ketika ibu mengenalkan makanan lain sebagai pendamping ASI, yaitu ketika umur bayi 6 bulan yang prosesnya sangat perlahan penuh dengan cinta dan tanpa paksaan. Frekuensi menetek akan berkurang setelah anak makan tapi tetap menyusui dituruti semau bayi hingga anak berumur 2 tahun.

Prinsip dalam menyapih adalah:

“Jangan menolak dan jangan menawarkan.”

Idealnya menyapih dilakukan ketika ibu, bayi dan ayah siap secara jiwa raga berdasarkan ilmu kesehatan, gizi dan kebutuhan perkembangan bayi.

Secara alami menyapih biasanya terjadi ketika rentang umur anak 2 hingga 4 tahun. Anak mulai tidak tertarik untuk menetek hingga memutuskan tidak menetek lagi. Periode proses penyapihan bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Menyapih ini harus dipastikan bukan karena anak menolak menetek akibat nursing strike. Nursing strike terjadi pada bayi yang sebelumnya sering menetek tanpa keluhan kemudian mendadak menolak menetek. Ini hanya sementara dan ibu bisa mengusahakan bayi untuk kembali menetek. Jadi, jangan buru-buru menganggap sebagai anak siap disapih.

 Ada tiga tipe penyapihan:

1. Menyapih partial

Menyapih sebagian dilakukan dengan cara menggantikan beberapa sesi penyusuan dengan memberikan sumber makanan lain. Ibu masih bisa kembali menyusui seperti sedia kala kapan pun ibu inginkan.

 2. Menyapih total

Semua sesi penyusuan digantikan oleh sumber makanan lain.

 3. Menyapih sementara

Menyapih sementara ini merupakan kondisi dimana ibu tidak bisa menyusui bayi untuk sementara waktu misalnya ketika terpisah jauh dari bayi yang sedang sakit. Ibu tetap memerah ASI supaya pasokan produksi ASI tetap lancar. ASIP bisa diberikan kepada bayi melalui media lain, namun jika proses menyapih sementara dilakukan karena ibu sedang menjalani prosedur pengobatan yang tidak boleh menyusui maka ASIP harus dibuang. Setelah prosedur selesai dan ibu kembali bersama bayi maka ibu bisa menyusui bayi lagi.

Ada dua metode penyapihan:

  1. Menyapih secara bertahap.

Proses penyapihan dilakukan secara bertahap memakan waktu yang panjang (beberapa minggu, bulan hingga tahun). Proses ini lebih nyaman bagi ibu dan bayi. Payudara ibu akan lebih sehat dan tidak mengalami komplikasi yang menyakitkan. Cara menyapih bertahap:

  • Eliminasi jadwal menetek sedikit demi sedikit.
  • Jika payudara terasa nyaman maka tidak perlu diperah. Jika payudara terasa kencang ibu bisa memerah sebentar (satu atau dua menit) sekedar hanya untuk bikin enteng. Jangan memerah terlalu lama karena justru ASI makin banyak.
  • Observasi tanda komplikasi payudara: payudara radang atau sumbatan saluran ductus. Segera atasi tanda payudara sakit dan periksa ke dokter jika tidak teratasi.
  1. Menyapih secara mendadak.

Menyapih secara mendadak dilakukan tiba-tiba dalam waktu yang singkat. Proses ini lebih membuat trauma bagi anak dan ibu. Ibu yang menyapih mendadak akan lebih sering mengalami komplikasi seperti payudara bengkak, radang, sumbatan saluran ductus. Menyapih secara mendadak sebaiknya hanya dilakukan atas indikasi medis.

Cara mengatasi komplikasi payudara bengkak dan tidak nyaman setelah menyapih:

  • Perah payudara sebentar ketika terasa kencang.
  • Kompres dingin setelah memerah untuk mengurangi bengkak dan membuat nyaman. Segera periksa ke dokter jika keluhan tidak teratasi.
  • Gunakan breast pad untuk mengatasi payudara bocor.
  • Gunakan bra yang nyaman dan menyangga dengan baik. Hindari bra dengan kawat atau busa

WHO menyarankan untuk memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan dan meneruskan menyusui hingga dua tahun (atau lebih) sembari memberikan MPASI gizi seimbang yang aman. Bagi umat muslim banyak yang memilih untuk menyapih anak ketika umurnya sudah 2 tahun sesuai dengan perintah menggenapkan penyusuan dalam Al-Qur’an. Ibu bisa berdiskusi dengan suami mengenai saat yang tepat untuk menyapih anak.

Saya pribadi lebih memilih untuk memulai menyapih secara bertahap setelah anak berumur genap 2 tahun. Pada umur 2 tahun secara kesehatan tubuh anak telah siap dan asupan nutrisi bisa dari makanan lain. Ibu bisa mengkondisikan anak secara perlahan. Saat anak genap berumur dua tahun sampaikan bahwa dia sekarang sudah besar dan ibu bangga dia sudah bisa melakukan banyak hal sendiri.

Tips Menyapih

Kemudian cara menyapih anak bisa dilakukan dengan:

  • Tidak menawarkan dan tidak menolak ketika anak meminta untuk menetek.

Lakukan dengan halus dan perlahan sehingga anak tidak merasa ditolak. Balita adalah manusia yang sangat sibuk. Terkadang mereka sibuk bermain hingga lupa menetek. Biarkan saja dan ibu juga bisa menikmati aktivitas lainnya.

  • Tunda untuk menyusui.

Anak memiliki jadwal menetek yang teratur. Sebisa mungkin tunda satu demi satu jadwal sehingga jarak antar penyusuan semakin panjang dan frekuensi penyusuan lambat laun menjadi semakin jarang. Ibu juga bisa menunda memakai sisi payudara yang lain. Eliminasi jadwal menyusui satu per satu secara perlahan.

  • Persingkat waktu menyusui.

Berikan dan turuti anak ketika anak meminta untuk menetek. Jika memungkinkan ibu bisa mempersingkat waktu penyusuan.

  • Rubah aktivitas harian.

Hindari mengingatkan anak akan kegiatan menyusui. Hindari aktivitas yang memancing anak untuk meminta menetek. Contohnya: hindari sofa yang biasa digunakan untuk menyusui.

  • Tawarkan pengganti lain.

Pada saat anak seharusnya menetek ibu bisa mengalihkan perhatian anak dengan mengajaknya bermain, mendongeng, membaca buku, jalan-jalan, pergi ke taman. Ibu juga bisa meminta bantuan orang lain untuk menemani anak di jam-jam jadwal menetek sehingga anak terlena, lupa sejenak dan tidak meminta menetek.

Selama proses penyapihan, pastikan:

  • Ibu tetap mengkonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Ibu tetap minum yang cukup. Mengurangi konsumsi air minum tidak mempengaruhi produksi ASI dan justru akan membuat ibu dehidrasi.
  • Jangan mengikat payudara karena ini hanya mitos. Tindakan mengikat payudara justru berisiko mengakibatkan komplikasi sumbatan saluran ductus payudara.

Menyapih Dengan Cinta (Weaning With Love)

Menyapih dengan cinta ini adalah kondisi dimana anak dan ibu mengakhiri proses menyusui dengan penuh keikhlasan, secara perlahan namun pasti dan berakhir bahagia. Banyak ibu mengeluh gagal melakukan penyapihan dengan cinta karena yang ibu lakukan justru mengingatkan anak tentang indahnya menetek. Banyak ibu selalu bilang ke anak:

“Kakak sekarang udah besar loh, jadi udahan yaa nenennya.”

Akibat frustasi akhirnya ibu justru memilih jalan pintas melakukan tindakan yang traumatik bagi anak seperti mengoleskan ramuan pahit. Sayang sekali jika indahnya menyusui diakhiri oleh kepahitan. Traumatik bagi anak bisa menyebabkan anak sakit dan ibu pun juga akan kesakitan akibat pembengkakan payudara.

Kunci menyapih dengan cinta adalah tidak menawarkan, tidak menolak dan tidak mengingatkan anak untuk menetek. Jika selalu dibicarakan “udahan yaa nenennya” otomatis anak selalu diingatkan untuk menetek. Ucapan ini bagi anak adalah ancaman. Ancaman yang membuatnya merasa tidak aman karena akan kehilangan momen-momen indah menetek. Bagi anak menetek adalah sumber kepuasan lahir batin (kenyang dan nyaman), jadi mana mau anak stop menetek dengan ancaman kan?

 “Breastfeeding is warmth, nutrition and mother’s love all rolled into one.”

Pilih kalimat lain yang lebih positif dan tidak membuat anak ingat kegiatan menetek seperti:

“Faiz udah besar yaa, hebat loh udah bisa ngapa-ngapain sendiri gak dibantu Ummi.”

“Wah, Faiz udah pinter minum pakai gelas yaa.. “

Jadi anak disugesti bahwa dia sudah besar dan jika minum bisa pakai gelas 🙂

Pada waktu yang tepat anak pasti akan tidak menetek kok. Semakin jarang menyusui, payudara akan membuat semakin sedikit ASI. Rasa ASI akan semakin asin sehingga anak tidak suka dan memutuskan tidak mau menetek sendiri. Payudara ibu akan mengalami remodelling kembali ke sebelum hamil.

Ibu juga tidak perlu memberikan botol dot untuk menggantikan payudara. Dengan dot ibu justru menyelesaikan masalah dengan bencana yang lain: ketagihan dot.

Anak tetap bisa meminum susu selama tidak alergi, ibu bisa memilih susu hewan lain seperti susu sapi, kambing, domba, onta, dll. Pilih susu segar yang telah dipasteurisasi atau susu UHT (ultra high temperature). Jangan pernah memberikan susu segar langsung kepada anak karena rentan kontaminasi. Batasi konsumsi maksimal 2 cangkir (500 mL) dalam sehari.

Cara pasteurisasi susu: panaskan susu pada suhu 63° C selama 30 menit kemudian simpan dalam suhu 5 – 6 ° C.

Jika anak tidak mau minum susu maka ibu bisa mengoptimalkan asupan makanan menu gizi seimbang. Ibu bisa mencampur susu atau produk susu ke masakan atau camilan anak. Susu adalah sumber protein, mineral dan vitamin yang bagus. Susu nabati seperti susu kedelai, susu almond, susu kelapa, susu beras tidak bisa menggantikan susu hewan karena kandungannya jauh berbeda meski sama-sama berwarna putih.

Satu hal yang pasti: jangan pakai dot!

Menyapih dot

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

 

 

1 reply

  1. Bu dokter anak sy 21 bln. srkarang nyusunya kalo pas ngantuk aja dan bangun tidur. jd memang sdh berkurang intensitas menyusui gk setiap saat. oya sy menyusui sdgn satu payudara kanan saja sejak lama dan kalo sy tawarkan pd yg kiri dia gk mau gak enak katanya. kalo misal sy pake metode wwl gitu tp caranya sy terus tawarkan pd yg kiri biar dia gk doyan gitu boleh gk y itu seperti bohongin anak ya heehe. trus nanti kalo pas udah disapih boboknya gimana ya selama ini bobok selalu nenen dulu sambil dikeloni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s