Tips Puasa Saat Menyusui

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Menyambut bulan suci Ramadhan yang penuh kemuliaan ini ada banyak pertanyaan dari para ibu yang sedang menyusui boleh berpuasa atau tidak. Jika berpuasa akankah mempengaruhi ASI yang dikonsumsi bayi. Jika tidak berpuasa bagaimana cara menggantinya, dengan qadha (nyaur) atau fidyah.

2014-06-26-10-39-30

Apakah ibu menyusui harus berpuasa?

Di antara kemudahan dalam syar’at Islam adalah memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita hamil takut terhadap janin yang berada dalam kandungannya dan wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih –misalnya takut kurangnya susu- karena sebab keduanya berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.

HR. An Nasai no. 2275, Ibnu Majah no. 1667, dan Ahmad 4/347. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Status wanita hamil dan menyusui adalah seperti orang yang sakit. Jika ia sulit jalani puasa, maka ia boleh tidak puasa, namun tetap dirinya harus meng-qodho (nyaur) puasanya ketika ia mampu nantinya, statusnya seperti orang sakit. Sebagian ulama berpendapat cukup bagi wanita hamil dan menyusui mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu memberi makan pada orang miskin bagi hari yang tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang tepat, tetap baginya menunaikan qodho puasa seperti musafir dan orang sakit. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ نِصْفَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمَ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ

Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.” (Diriwayatkan oleh yang lima)

[Tuhfatul Ikhwan bi Ajwibah Muhimmah Tata’alluq bi Arkanil Islam, hal. 171]

Jadi hukum kewajiban puasa Ramadhan bagi ibu menyusui pada tetap wajib, meski ibu sedang menyusui, dengan keringanan dalam menjalankannya:

  1. Jika ibu sehat dan bayi juga sehat maka ibu menyusui boleh untuk mencoba berpuasa.
  2. Jika ibu merasa lemah dan puasa mempengaruhi pasokan ASI-nya, maka ibu menyusui boleh berbuka dan kemudian meng-qadha (nyaur atau mengganti puasa).

Memang terdapat perselisihan antara meng-qadha dan membayar fidyah, namun pendapat terkuat adalah qadha. Ketika ibu tidak berpuasa 2 kali Ramadhan (2 tahun), maka ibu bisa meng-qadha-nya ketika selesai menyusui meski sudah 2 kali Ramadhan terewatkan.

Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan,

“Keringanan separuh shalat tentu saja khusus bagi musafir. Para ulama tidak ada beda pendapat mengenai wanita hamil dan menyusui bahwa mereka tidak dibolehkan mengqoshor shalat. … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui. Dari sini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara wanita hamil dan menyusui jika keduanya khawatir membahayakan dirinya atau anaknya (ketika mereka berpuasa) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak merinci hal ini.”

Selain alasan di atas, ulama yang berpendapat cukup mengqodho’ saja (tanpa fidyah) menganggap bahwa wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit. Sebagaimana orang sakit boleh tidak puasa, ia pun harus mengqodho’ di hari lain. Ini pula yang berlaku pada wanita hamil dan menyusui. Karena dianggap seperti orang sakit, maka mereka cukup mengqodho’ sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 184)

Pendapat ini didukung pula oleh ulama belakangan semacam Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

“Hukum wanita hamil dan menyusui jika keduanya merasa berat untuk berpuasa, maka keduanya boleh berbuka (tidak puasa). Namun mereka punya kewajiban untuk mengqodho (mengganti puasa) di saat mampu karena mereka dianggap seperti orang yang sakit. Sebagian ulama berpendapat bahwa cukup baginya untuk menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar, mereka berdua punya kewajiban qodho’ (mengganti puasa) karena keadaan mereka seperti musafir atau orang yang sakit (yaitu diharuskan untuk mengqodho’ ketika tidak berpuasa, -pen). Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 184)

3. Pada kasus ibu menyusui yang tubuhnya menjadi lemah hingga tidak sanggup berpuasa lagi untuk seterusnya, maka ibu boleh membayar fidyah.

Apabila ibu tidak mampu untuk mengqodho’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya.

Penjelasan ini didukung oleh fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah.

Beliau ditanya,  “Ada seorang wanita di mana ia mengalami nifas di bulan Ramadhan, atau dia mengalami hamil atau dia sedang menyusui ketika itu. Apakah wajib baginya qodho’ ataukah dia menunaikan fidyah (memberi makan bagi setiap hari yang ditinggalkan)? Karena memang ada yang mengatakan pada kami bahwa mereka tidak perlu mengqodho’, namun cukup menunaikan fidyah saja. Kami mohon jawaban dalam masalah ini dengan disertai dalil.”

Beliau rahimahullah menjawab,

“Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan bagi hamba-Nya puasa Ramadhan dan puasa ini adalah bagian dari rukun Islam. Allah telah mewajibkan bagi orang yang memiliki udzur tidak berpuasa untuk mengqodho’nya ketika udzurnya tersebut hilang.

Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya),

 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa yang menyaksikan hilal, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya mengqodho’ puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa siapa saja yang tidak berpuasa karena ada udzur maka hendaklah ia mengqodho’ (mengganti) puasanya di hari yang lain. Wanita hamil, wanita menyusui, wanita nifas, wanita haidh, kesemuanya meninggalkan puasa Ramadhan karena ada udzur. Jika keadaan mereka seperti ini, maka wajib bagi mereka mengqodho’ puasa karena diqiyaskan dengan orang sakit dan musafir.

Adapun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan wanita hamil dan menyusui (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi makan) dan tidak perlu mengqodho’, maka yang dimaksudkan di sini adalah untuk mereka yang tidak mampu berpuasa selamanya.

Dan bagi orang yang tidak dapat berpuasa selamanya seperti pada orang yang sudah tua dan orang yang sakit di mana sakitnya tidak diharapkan sembuhnya, maka wajib baginya menunaikan fidyah. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan satu orang miskin (bagi satu hari yang ditinggalkan). Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 184)

Sumber http://www.muslim.or.id (link)

Berpuasa pada ibu menyusui di pandang dari segi kesehatan:

1. Ibu menyusui yang sehat lahir-batin tentu diperbolehkan berpuasa.

Banyak ibu yang berpuasa dan tetap sukses memberi ASI bahkan ketika masa bayi masih ASI eksklusif. Ibu hanya perlu menjaga supaya asupan makanan dan minuman tetap baik sehingga ibu dan bayi tetap sehat ketika menyusui.

2. ASI yang dihasilkan saat ibu berpuasa tetap berkualitas.

Payudara ibu adalah mesin produksi susu yang paling efisien di dunia. Payudara akan mengambil bahan-bahan terbaik dari tubuh ibu untuk membuat ASI yang bermutu bagus bagi bayi. Namun ASI bisa menurun produksinya secara kuantitas atau zat-zat penyusun, jika asupan makanan ibu berkurang.

3. Ibu harus makan aneka ragam makanan bergizi seimbang (link) dalam porsi yang sama dengan saat ketika tidak berpuasa

Ibu tetap menjaga makan dalam jumlah sama seperti ketika tidak berpuasa dan jenis makanan yang beraneka ragam ketika ibu sahur, berbuka dan di malam hari. Usahakan makan sahur ketika mendekati imsak dan segerakan untuk berbuka ketika waktu berbuka telah tiba. Pastikan ibu makan makanan bergizi seimbang. Perbanyak konsumsi serat seperti sayur dan buah supaya tidak mudah lapar. Dengan menjaga keberagaman asupan makanan dan jumlah kalori yang masuk diharapkan kualitas dan kuantitas ASI tetap sama seperti saat ibu tidak berpuasa.

4. Pastikan ibu tetap minum air putih yang banyak ketika sahur, berbuka dan di malam hari.

Jangan sampai ibu dehidrasi karena dehidrasi membuat produksi ASI berkurang. Menyusui bayi memang akan membuat ibu merasa lebih haus sehingga berpuasa saat menyusui memang terasa lebih berat.

5. Perhatian! Pada beberapa ibu, pasokan ASI yang diproduksi menjadi berkurang sehingga bayi rewel saat menyusu.

Cara mengatasinya: perah ASI sebelum Ramadhan tiba untuk dijadikan sebagai cadangan jika ASI menurun. Tapi ingat jangan memberikan ASIP dengan botol dot.

6. Tetap utamakan untuk sering menyusui bayi secara langsung saat ibu bersama bayi.

Hisapan bayi adalah cara terbaik untuk memproduksi banyak ASI. Menyusui langsung akan merangsang payudara untuk membuat ASI yang makin banyak. Jadi, meski punya banyak stok ASIP sebaiknya ibu juga tetap menyusui bayi secara langsung, terutama jika tidak ada masalah.

7. Cek selalu tanda kecukupan asupan ASI pada bayi (link) dan kesehatan bayi, terutama jika bayi masih masa ASI eksklusif.

Jangan sampai ketika ibu puasa bayi menjadi dehidrasi dan kekurangan asupan ASI. Tanda bayi dehidrasi adalah BAK kurang dari 6 kali dalam sehari dengan jumlah urin sedikit serta berwarna kuning pekat. Bayi juga bisa BAB dengan feses keras (konstipasi). Dehidrasi bisa membuat bibir bayi kering, kulit bayi kering, bayi lemas, demam kadang tangan kaki pucat dingin, ubun-ubun cekung, air mata kering, nafas cepat dan bayi lemah. Dehidrasi sangat berbahaya bagi bayi. Segera bawa ke dokter saat bayi mengalami tanda dehidrasi.

Banyak ibu memberikan testimoni saat berpuasa membuat bayi BAB lebih encer. Kebetulan saja bayi mencret/diare terjadi bersamaan dengan ibu saat berpuasa. Jika bayi sakit diare atau mencret maka segera cari penyebabnya apakah infeksi atau alergi makanan, pastikan bayi tidak mengalami dehidrasi dan segera periksakan ke dokter. Baca juga tentang serba-serbi feses bayi berikut ini (link).

8. Kurangi aktivitas fisik yang tidak perlu untuk menghemat tenaga

Saat berpuasa ibu sebaiknya menghemat tenaga. Lakukan aktivitas fisik yang ringan dan banyak beristirahat di saat berpuasa.

Contohnya aktivitas yang bisa ditunda:

Saat berpuasa banyak ibu yang sibuk berbelanja, baik kebutuhan puasa maupun lebaran. Aktivitas fisik berbelanja ini akan membuat tubuh ibu capek dan merasa sangat kehausan. Sebaiknya berbelanjanya sebelum puasa saja supaya saat puasa lebih khusyuk.

9. Jaga suhu lingkungan supaya tetap sejuk sehingga mengurangi penguapan cairan tubuh.

11. Konsumsi suplemen dan multivitamin tambahan sesuai petunjuk dokter.

Niat berpuasa dan persiapan yang baik akan memudahkan ibu untuk menjalani aktivitas puasa di bulan suci Ramadhan. Ibu bisa berkonsultasi dengan dokter laktasi, konselor menyusui dan dokter anak menjelang bulan Ramadhan untuk mempersiapkan diri beribadah di bulan yang penuh berkah ini.

 

Al Jashshosh rahimahullah mengatakan,

“Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.”

Wanita hamil dan menyusui diberi keringanan boleh tidak berpuasa Ramadhan jika memang ia merasa kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya.

 

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

1 reply

  1. Alhamdulillah, ku masih mampu berpuasa meskipon menyusukan. Tapi andai kata tak bangun sahur, maka memang terpaksa ku berbuka puasa. Hampir pitam jika menyusukan dan berpuasa tanpa sahur.

    Artikel terkini….Tips Banyakkan Susu Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s