Toilet Training: Melatih Anak BAB dan BAK di Toilet

Kemandirian mengendalikan hajat buang air besar dan buang air kecil merupakan tugas perkembangan yang harus dikuasai oleh semua anak. Anak dikatakan lulus menguasai ketrampilan toilet training ini ketika anak bisa jalan sendiri ke toilet kemudian membuka celana untuk buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) dan kembali memakai celananya lagi. Dan, seluruh ketrampilan ini tentu saja harus kita perkenalkan secara bertahap. 

Syarat mengajari anak BAB dan BAK adalah kesiapan diri anak dan ibu. Anak pasti akan bisa mengontrol keinginan BAB dan BAK ketika secara fisik anak telah siap, ketika anak telah ingin tetap bersih dan kering. Tanda-tanda ini mulai ditunjukkan ketika anak berumur 18 – 24 bulan, terkadang lebih cepat dan bisa juga lebih lambat.

Kita tidak boleh memaksa anak. Anak yang dipaksa justru akan ketakutan. Masa-masa training toilet ini adalah termasuk dalam masa dimana anak rentan mengalami tindak kekerasan (dibentak, dicubit, dimarahi, dll) karena harapan orang tua melampaui kemampuan anak 😦 Anak yang dipaksa dan anak yang terlambat diajari training toilet ini akan cenderung lebih sulit untuk diajari BAB dan BAK di toilet. 

Beberapa hal tentang toilet training ini antara lain:

  • Sebagian besar anak akan mampu untuk mengontrol BAB lebih dahulu dibandingkan mengontrol BAK.
  • Di umur 2 tahun, anak biasanya sudah kering di siang hari (jadi sudah bisa minta ke toilet).
  • Di umur 3 tahun,9 dari 10 anak bisa  kering sepanjang hari. Namun, terkadang masih sering juga kecolongan di celana, terutama ketika mereka sedang terlalu asik atau kecewa atau senang melakukan sesuatu.
  • Di umur 4 tahun, sebagian besar anak sudah bisa tetap kering sepanjang hari.

Anak butuh waktu belajar yang panjang untuk tidak mengompol di malam hari. Masing-masing anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda, namun sebagian besar anak belajar untuk tidak mengompol di malam hari di rentang umur 3 hingga 5 tahun. Sepertiga anak umur 3 tahun dan 1 dari enam anak umur 5 tahun terkadang masih mengompol di malam hari.

Memulai mengajari anak untuk toilet training 

Ibu harus ingat bahwa ibu tidak boleh memaksakan anak untuk BAB dan BAK di toilet. Hal yang bisa kita lakukan adalah mengajak anak untuk mau melakukan BAB dan BAK di toilet seperti keinginan kita. 

Training toilet ini bisa terjadi jika kemampuan fisik, berbahasa dan pengenalan diri pada anak telah berkembang. Anak harus mengintergrasikan antara harapan orang tua dan lingkungan dengan kebutuhannya untuk mandiri dan aktualisasi diri. Semua anak sehat akan bisa menguasai ketrampilan ini, dengan bantuan orang tua dan daycare di beberapa tahapannya.

Ibu bisa memulai toilet training ketika anak menunjukkan tanda bisa menahan kencing, seperti:

  • Anak tahu saat popok mereka telah basah (BAK) atau kotor (BAB).
  • Anak mampu mengontrol otot yang bertanggung jawab dalam menahan hasrat BAB dan BAK
  • Mereka tahu dan terkadang melapor ke ibu bahwa sedang kencing: anak mampu mendeteksi sedang kebelet BAB/BAK, anak mampu mengenali bahwa dia sedang buang hajat.
  • Jarak antar-waktu BAK setidaknya 1 jam.
  • Anak tahu dan melapor jika dia akan kencing.
  • Anak mampu menahan pospak tetap kering selama 2 jam

Biasanya mengajarkan toilet training akan lebih cepat ketika anak sudah menunjukkan salah satu tanda di atas. Ketika ibu memutuskan untuk toilet training lebih cepat sebelum anak menunjukkan tanda kesiapan mengatur hasrat membuang hajat, maka ibu harus siap ketika terjadi banyak hal yang tidak sesuai harapan seperti anak mengompol kapan saja dan dimana saja.

Anak mampu menahan hasrat untuk tidak buang hajat sepanjang malam di sekitar umur 22 bulan (cewek) dan 25 bulan (cowok). Kemampuan anak kembali memakai celana (menarik celana ke atas) adalah ketrampilan bertoilet yang paling akhir bisa dikuasai, pada anak cewek di sekitar umur 29,5 bulan dan cowok di umur 33,5 bulan. Anak cewek biasanya lebih cepat belajar menguasai ketrampilan menggunakan toilet dibandingkan anak cowok.

Tanda lain yang bisa membantu ibu lebih mudah melakukan toilet training:

  • Anak telah mampu memahami perintah sederhana
  • Anak mampu memahami keterangan tentang proses membuang hajat di toilet
  • Anak sudah mampu mengungkapkan keinginan dengan berbicara
  • Anak tertarik untuk menggunakan toilet
  • Anak bisa menurunkan celana atau popok yang dia pakai
  • Anak bisa menggunakan potty, naik – duduk – turun lagi (jika memakai WC duduk) atau jongkok dan berdiri lagi jika memakai WC jongkok.

happy TT

Cara mengajarkan anak menggunakan toilet

Ada berbagai cara untuk mengajarkan toilet training pada anak. Setiap anak berbeda sehingga ibu bisa mencoba dan memilih cara yang sesuai dengan anak serta keluarga ibu. Ketika anak sudah menunjukkan tanda siap belajar maka segera ajari anak toilet training ini. Cara yang bisa kita lakukan antara lain:

  • Luangkan waktu untuk melatih anak toilet training.
  • Jangan memaksa anak duduk di atas WC tanpa mengikuti kemauannya.
  • Ciptakan rutinitas ke toilet

Ibu bisa menciptakan rutinitas yang sama dari hari ke hari. Misalnya coba ajak anak ke toilet ketika bangun pagi atau sebelum tidur atau 45 menit setelah banyak minum. Cukup ajak beberapa menit selama beberapa kali dalam sehari dan turuti kemauan anak jika dia sudah memutuskan untuk turun dari WC.

  • Seluruh orang yang terlibat dalam mengasuh anak harus konsisten melakukan toilet training ini.

Pastikan ayah, ibu, pengasuh, asisten rumah tangga, kakek nenek, dll melakukan hal yang sejalan dengan yang dilakukan oleh ibu. Menggunakan istilah yang sama dan cara yang konsisten.

  • Memberi contoh cara memakai toilet.

Orang tua memberikan contoh cara menggunakan toilet. Jika ada anak yang lebih besar maka kakak juga bisa memberikan contoh ke adiknya cara menggunakan toilet.

Terangkan pada anak apa yang sedang orang tua lakukan dan bagaimana cara melakukannya. Anak mencontoh apa yang orang tua lakukan.

  • Meletakkan training potty di tempat yang mudah dijangkau anak.

Saat ini di pasaran terdapat banyak alat yang bisa digunakan untuk melatih anak menggunakan WC. Ibu bisa membeli yang dirasakan sesuai dengan kebutuhan anak. Pastikan juga alatnya sama dengan WC yang ibu gunakan. Letakkan alat ini ditempat yang mudah dijangkau anak.

Awalnya latih anak duduk diatasnya menggunakan popok. Ketika anak sudah terbiasa, mulai latih anak duduk di atasnya dengan melepaskan popok. Bisa juga membawa alat ini di toilet ketika ibu sedang menggunakan WC sehingga anak bisa mencontoh dengan mempraktekkannya.

  • Mengajarkan istilah pertoiletan: kencing, berak, siram WC, cebok, dll yang familiar di keluarga ibu

Tujuannya supaya anak bisa mengungkapkan keinginannya kepada orang lain.

  • Mengamati pola buang hajat anak

Pola buang hajat anak yang sehat biasanya sudah teratur. Nah, pada “jam berhajat” tawarkan anak untuk BAB atau BAK. Ajak anak ke toilet, lepaskan popoknya. Jangan dipaksa dan jangan dimarahi.

  • Tanyakan ke anak apakah popoknya telah basah atau telah kotor 

Supaya anak bisa mengenali ketika popoknya basah atau kotor sehingga tahu bahwa kondisi ini adalah hal yang harus tidak dibiarkan.

  • Ajarkan anak mengenali bahasa tubuhnya.

Anak biasanya terlihat ketika akan BAB atau BAK. Biasanya mukanya memerah atau tampak mengejan atau kentut. Ajak anak ke toilet dan tawarkan untuk BAB atau BAK di toilet. 

Ketika ibu melihat anak mau BAB atau BAK ibu tanyakan, “kamu mau BAB?”
Saat anak sudah mulai mengerti tanda tubuhnya mau membuang hajat, ajak anak untuk BAK atau BAB di toilet setiap kali dia menunjukkan tanda atau setiap kali dia meminta ke toilet. Awalnya sering meleset dan gagalnya. Jangan marahi atau hukum anak jika gagal.

  • Ajak anak ke toilet 15 atau 30 menit setelah makan untuk memanfaatkan refleks gastrokolik tubuh. 

Ajak anak ke toilet sebelum tidur di malam hari dan sesaat ketika bangun tidur di pagi hari. Kadang setelah makan di pagi hari juga waktu yang sering untuk BAB.

  • Puji jika anak berhasil dan bila perlu berikan hadiah seperti sticker untuk ditempel di papan harian

Apapun itu, selalu puji anak. Ketika anak mau memakai WC dan tidak mengeluarkan apa-apa sekalipun, kita tetap harus menghargai usahanya untuk belajar.

  • Pilih pakaian yang mudah dilepas saat anak mau BAB atau BAK
  • Jangan marahi apalagi menghukum ketika anak kecolongan mengompol

Jangan pernah menghukum dan memarahi anak yang sedang dilatih menggunakan toilet dan mengendalikan hasrat buang hajatnya. Jangan tampak kecewa atau marah ketika anak kecolongan mengompol. Anak yang dimarahi atau merasa kecewa justru akan takut, trauma atau marah sehingga bisa mengalami kemunduran prestasi dalam toilet trainingnya.

Saat anak BAB di popoknya ajak anak membuang fesesnya ke dalam WC dan menyiramnya. Ibu bisa bilang,
“Nah, lihat tuh fesesnya masuk ke WC yah..”

  • Ketika anak sudah mulai menguasai ketrampilan menggunakan toilet sebaiknya segera ganti pospak/clodi dengan celana dalam
  • Jangan mundur ke belakang ketika anak sudah menguasai ketrampilan ini, ibu dan pengasuh harus konsisten. 

Saat mau bepergian jauh ajak anak untuk ke toilet dan berhenti untuk ke toilet setiap 2 jam. Ibu harus konsisten jangan memakaikan pospak ke anak yang sudah pintar BAB/BAK di toilet.

Banyak orang tua (di Amerika Serikat) memulai mengajari anak untuk toilet training di umur 18 bulan hingga rentang umur 21 sampai 36 bulan, namun sebenarnya tidak ada patokan waktu yang paling sempurna. Para orang tua jaman dahulu memulai toilet training ketika umur anak masih sangat kecil. Penelitian terbaru menunjukkan mengajarkan training toilet secara intensif di bawah umur 27 bulan dikatakan tidak begitu membuahkan hasil. Di umur 24 – 30 bulan kontrol otot untuk mengatur BAB dan BAK lebih baik (link). Anak bisa menggunakan toilet sendiri di umur 3 – 4 tahun (link). 

Anak bisa menguasai ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses toilet training di umur di atas 24 bulan. Namun demikian, ada penelitian yang menunjukkan ketika orang tua memulai toilet training sebelum anak berumur 24 bulan menghasilkan 68% balita sudah bisa menguasai ketrampilan tersebut di umur 36 bulan. Sedangkan anak yang dilatih di atas umur 24 bulan yang sudah menguasai ketrampilan tersebut di umur 36 bulan sekitar 54%. 

Dalam proses mengajari anak menggunakan toilet ini pasti akan terjadi “kecolongan” anak mengompol. Orang tua harus sabar, jangan menghukum anak. Hibur anak bahwa dia pasti akan bisa tidak mengompol lagi. Jangan terganggu dengan komentar orang lain. Anak akan menunjukkan pada orang tua bahwa dia akan siap untuk diajari toilet training. Jika perlu orang tua bisa mendiskusikan dengan dokter anak tentang kesiapan anak dan proses belajar toilet training ini 🙂

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

5 replies

  1. aduh saya stres dech liat anak saya udah 3 thun tpi klo liat toilet suka nangis pernah saya ajarin dia nangis ngmuk gtu saya bingung padahal balita yg lain seumuran dia sdh pintar gunain toilet

    • Mungkin pernah trauma? Bisa diajarin lagi pelan-pelan, selama di toilet ditemani dan dipegangi. Anak saya juga setahun ngajarin BAK+BAB di toilet. Kuncinya anak tidak boleh dimarahi karena justru saat kita marah kemampuan toilet trainingnya akan mundur lagi..

  2. anal sy usia 29 bln bln Bs BAK Dan Baby d toilet stiap sy ajak k toilet pd saat ank terlihat mau BAB dia malah tdk jd BAB nya.bgtu pun BAK msh sk kecolongan.bagaimana yaaa cara nya

  3. Anak saya kalo pipis mau di wc tp kl pup tdk mau di wc maunya pake pampers. Setiap kali sy ajarkan toilet training selalu menolak. Gimana caranya supaya mau diajarkan toilet training ya pdhl sdh mau tk.

  4. mungkin bisa dicoba hypnoparenting..
    caranya pas anak lagi lelap tidurnya, bisikin kata-kata sugestif yg lembut..
    misal: “keeen, ngken besok kalo mpup bilang ma papap yak, ntar papap temenin mpupnya di kamar mandi.. ngken kan pinteer, pasti besok ngken bisa..” or something like that..

    yg ane bingung, ada gak sih pijakan buat potty training toilet jongkok..?
    soalnya ane gak pake toilet duduk, dan belum mau ngajarin toilet duduk juga supaya ulcer & bowel movementnya gak terbebani kalo ngejan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s