10 Fakta Tentang Transfusi dan Donor Darah

Transfusi darah bisa menyelamatkan nyawa dan meringankan kesakitan seseorang, namun demikian banyak pasien yang membutuhkan transfusi darah tidak memiliki kesematan mendapatkan darah aman yang dia butuhkan. Kebutuhan akan transfusi darah meningkat di seluruh tempat. Ketidaktersediaan unit darah menyebabkan kematian dan tambah parahnya tingkat kesakitan banyak pasien.

Setiap tahun ada sekitar 108 juta unit darah telah didonorkan di seluruh penjuru dunia. Sayangnya 50% unit darah ini berada di negara-negara maju dan kaya yang merupakan tanah tempat tinggal 20% manusia. Bagaimana dengan ketersediaan unit darah bagi 80% manusia yang kebetulan berada di negara-negara berkembang? Ketersediaan darah yang aman dan cukup bisa diperoleh dengan mengkampanyekan pendonor darah yang mau mendonorkan darahnya secara teratur, sukarela dan tidak dibayar. Pendonor darah yang mendonorkan darah secara reguler, sukarela dan gratis ini biasanya merupakan kelompok pemasok unit darah yang paling aman karena kejadian penyakit infeksi di darah relatif jarang.

Sabtu, 14 Juni 2014 mendatang adalah “World Blood Donor Day”. Tema “Hari Donor Darah Sedunia”  kali ini adalah “safe blood for saving mothers”. Setiap hari sebanyak 800 ibu meninggal di seluruh penjuru dunia akibat komplikasi kehamilan dan melahirkan. Di Indonesia angka kematian ibu (AKI) tercatat mencapai 359 per 100 ribu kelahiran hidup (SDKI, 2012). Pendarahan hebat saat dan setelah melahirkan merupakan penyebab utama kematian, kesakitan dan kecacatan. Oleh sebab itu kampanye ketersediaan darah yang aman (kuantitas dan kualitas) diharapkan dapat berpartisipasi untuk menekan angka kematian ibu.

donor darah

Ada 10 fakta tentang transfusi darah (WHO), yaitu:

1. Tranfusi darah bisa menyelamatkan nyawa dan meringankan sakit orang lain

Banyak pasien membutuhkan transfusi darah, namun terkadang tidak memiliki waktu untuk mengakses darah serta produk darah yang aman secara cepat. Ketersediaan unit darah dan produk darah ini sering tidak stabil. Sedangkan negara juga butuh memastikan darah serta produk darah yang didonorkan aman dari keberadaan HIV, virus hepatitis serta infeksi lain yang bisa ditularkan melalui darah. 

2. Banyak pengobatan berbagai penyakit yang membutuhkan darah dari hasil donor darah

Di negara-negara kaya, pasien yang membutuhkan transfusi darah biasanya berasal dari kelompok lanjut usia yang berumur di atas 65 tahun (sebesar 75%). Transfusi diperlukan sebagai terapi suportif bagi penanganan operasi penyakit jantung pembuluh darah, operasi transplantasi, kecelakaan hebat dan pengobatan kanker ganas. Di negara miskin dan berkembang, transfusi darah diperlukan untuk penanganan komplikasi terkait kehamilan, malaria pada anak yang disertai anemia berat serta kecelakaan. Di negara miskin dan berkembang, 65% transfusi darah diberikan kepada anak-anak.

3. Pasokan darah yang mencukupi hanya bisa diperoleh dari adanya para pendonor darah sukarela yang mendonorkan darahnya secara teratur.

Pasokan unit adarh yang mencukupi dan terjangkau hanya bisa diperoleh dengan adanya para sukarelawan pendonor darah yang bersedia mendonorkan darahnya secara teratur. Para sukarelawan pendonor darah yang teratur ini merupakan kelompok paling aman karena penyakit infeksi yang mereka miliki relatif rendah. WHO menyarankan negara membuat sistem yang mencakup keberadaan pendonor darah sukarela ini supaya pasokan darah suatu negara aman.

4. Pendonor darah sukarela telah mensuplai 100% kebutuhan darah di 60 negara

Pada tahun 2012, 73 negara melaporkan bahwa 90% kebutuhan darah mereka disuplai oleh pendonor darah sukarela. Sebanyak 60% negara melaporkan bahwa suplai darah mereka dipenuhi dari para pendonor darah sukarela. Sayangnya masih banyak negara yang melaporkan bahwa 50% kebutuhan darah mereka hanya bisa didapatkan dari keluarga/kenalan pasien serta orang yang dibayar untuk mendonorkan darahnya.

5. Setiap tahun terdapat sebanyak 108 juta darah diperoleh dari donor darah di seluruh dunia

Budaya mendonorkan darah lebih banyak terjadi di negara kaya dan maju. Sekitar 50% dari 108 juta darah ini berada di negara miskin dan berkembang yang memiliki 80% populasi dunia. Angka pendonor darah 9 kali lipat lebih banyak di negara kaya dan maju.

6. Pengambilan darah di unit donor darah bergantung pada kelompok penghasilan

Terdapat sekitar 10.000 unit donor darah di 168 negara yang berhasil mengumpulkan sebanyak 83 juta donor darah. Angka pengambilan darah paling sering terjadi di negara kaya, yaitu sekitar 15.000 per tahun dibandingkan negara miskin yang hanya sekitar 3.100 per tahun.

7. Rakyat di negara-negara kaya lebih banyak yang bersedia mendonorkan darahnya dibandingkan dengan negara-negara lain

Budaya mendonorkan darah lebih subur di negara kaya. Donor darah di negara kaya rata-rata sebanyak 36,8 dari 1000 penduduk, di negara kelas menengah sebanyak 11,7 dari 1000 penduduk dan di negara miskin hanya sekitar 3,9 dari 1000 penduduk. 

8. Darah yang didonorkan harus selalu dilakukan uji tapis (screening)

Darah yang telah didonorkan harus darah yang sehat. Sebaiknya dilakukan screening hepatitis B, hepatitis C, HIV dan sifilis sebelum transfusi darah. Sayang belum semua negara bisa melakukan akibat keterbatasan alat, laboratorium dan staf. WHO mengharapkan negara tidak hanya memastikan ketersediaan darah dari segi kuantitas, namun juga bebas dari infeksi virus HIV, hepatitis dan infeksi berbahaya lainnya.

PMI menginisiasi program kerja sama dengan Novartis menggunakan alat rangkaian teknologi penapisan darah untuk meningkatkan standar keamanan suplai darah sesuai standar internasional. PMI ingin menjamin darah donor adalah darah yang bebas dari HIV-1, hepatitis B dan hepatitis C. Semoga alat ini bisa tersedia di seluruh unit donor darah di Indonesia.

9. Satu kantong darah bisa digunakan untuk banyak orang yang membutuhkan

Darah yang anda donorkan akan dipisahkan menjadi beberapa bagian sesuai komponen penyusun darah sehingga 1 kantong darah anda akan bisa dimanfaatkan untuk banyak orang dan setiap pasien bisa mendapatkan komponen darah yang tepat dibutuhkannya. Tidak mubadzir. Sebanyak 95% unit donor darah di negara kaya, 80% unit donor darah di negara menengah dan 45% unit donor darah di negara miskin melakukan kegiatan pemisahan komponen darah.

10. Transfusi yang tidak sesuai indikasi medis berisiko merugikan pasien

Transfusi darah sebaiknya hanya diberikan sesuai indikasi medis. Jika ada terapi lain yang lebih aman, mudah dan bisa dilakukan maka sebaiknya hindari transfusi. Transfusi pada pasien yang tidak membutuhkan hanya meningkatkan risiko terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.

Donor darah adalah perbuatan yang terpuji. Kebutuhan darah di Indonesia mencapai 4,3 juta per tahun. Saat ini kebutuhan tersebut baru bisa dipenuhi sebanyak 1,2 juta kantong per tahun. Saat ini kebutuhan darah terus meningkat. Banyak dari darah kita diperlukan untuk menolong korban kecelakaan, pendarahan pada ibu hamil dan pasien bedah.

donor darah

Donor darah tidak hanya bisa menyelamatkan nyawa orang lain, namun juga membantu orang lain untuk hidup lebih lama serta hidup lebih produktif. Cara menjadi pendonor darah dapat anda ketahui di link berikut ini: cara menjadi pendonor darah di PMI.

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s