Efek Media Terhadap Anak

Penelitian lebih dari 50 tahun oleh ribuan peneliti telah dilakukan untuk mengetahui efek media terhadap anak serta remaja. Termasuk dari penelitian ini adalah media kuno (televisi, film, majalah) serta media baru (internet, social network, video/computer games, telepon genggam) terhadap kualitas kesehatan yang meliputi perilaku agresif, perilaku seksual yang berisiko tinggi, penyalahgunaan zat serta gangguan makan pada anak dan remaja. Media elektronik saat ini ada di mana saja mengelilingi anak jaman sekarang. Ada televisi (TV), internet, radio, komputer, telepon seluler dan video games.

Pada tahun 1971 (di Eropa) rata-rata anak baru menonton TV di umur 4 tahun, pada masa ini mereka sudah mulai menonton TV di umur 5 bulan. Anak jaman sekarang menghabiskan sekitar 7 jam dalam sehari di depan layar kaca (televisi, telepon seluler, komputer dan aneka produk elektronik lainnya). Jika ini terjadi hingga umurnya 70 tahun berarti dia menghabiskan 7 hingga 10 tahun hanya untuk di depan layar kaca. Media ini memang bisa menjadi kawan bagi pengasuhan anak, namun juga bisa menjadi lawan yang sangat berbahaya.

Survey menunjukkan saat ini anak di bawah umur 2 tahun telah biasa menonton tayangan di media elektronik. Rata-rata anak menonton televisi selama 1 hingga 2 jam sehari. Di Amerika, sepertiga anak umur 3 tahun memiliki unit televisi di kamar tidurnya. Orang tua yang beranggapan bahwa televisi baik bagi sarana edukasi akan menyalakan TV sepanjang hari.

Tindak kekerasan dalam kehidupan nyata 10 – 20%-nya terjadi akibat pengaruh tindak kekerasan yang diltonton dalam media. Banyak pahlawan “good guy” di tayangan yang anak tonton melakukan tindak kekerasan untuk menyelesaikan  masalah. Banyak pula penjahat “bad guy” yang tidak mendapatkan hukuman untuk perilaku jahatnya. Anak akan bingung dengan pengajaran nilai baik dan buruk. Tontonan ini juga merupakan contoh yang tidak baik bagi anak. Anak belajar dengan mengamati dan meniru apa yang dia tonton. Kekerasan yang ditonton akan menjadi hal yang wajar dan biasa diterima oleh anak. Televisi mengajarkan bahwa “gakpapa” dan “boleh” untuk menggigit, memukul dan menendang jika kamu adalah anak baik, sama seperti si superhero di TV. Anak bahkan akan menganggap tindak kekerasan adalah hal baik dan sebagai jalan keluar untuk mengatasi konflik yang dia hadapi.

Gambaran seksualitas serta konten pornografi dalam video klip musik dan tayangan televisi akan mempengaruhi perkembangan seksual anak ketika masuk sekolah dan memasuki masa remaja. Anak akan terbiasa menganggap perilaku romantisme yang tidak wajar sebagai sesuatu yang biasa. Tayangan ini membuat anak makin terbuka terhadap kehidupan seks bebas dan menganggap biasa hubungan seksual di luar pernikahan. Akibatnya coitus yang terjadi di umur semakin muda, kehamilan di luar nikah dan tersebarnya penyakit menular seksual di kalangan anak makin marak ditemui.

Tontonan di media juga mempengaruhi anak terhadap konsumsi zat berbahaya yang membuat kecanduan. Penggunaan rokok, alkohol bahkan penyalahgunaan obat menjadi hal biasa pada tayangan film serta video klip di media. Saat ini umur anak sudah merokok menjadi jauh lebih muda. Contoh perilaku tokoh idola yg tidak baik ini memberikan gambaran rasa kagum, image diri dan sarana pewujudan kepercayaan diri yang salah pada anak. Anak akan menganggap perilaku berisiko tinggi seperti merokok, minum alkohol, penyalahgunaan zat serta seks bebas sebagai hal yang normal, biasa, wajar, menyenangkan dan menarik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Media menjadi risiko munculnya obesitas di seluruh penjuru dunia. Tayangan iklan makanan membuat anak semakin konsumtif terhadap makanan cepat saji serta camilan yang tidak sehat. Menonton televisi sambil ngemil ditambah semakin hilangnya kebiasaan gerak badan membuat kondisi ini memburuk. Menonton televisi hingga larut malam juga menjadi risiko makan makanan tidak sehat semakin besar sehingga kalori yang tertimbun makin banyak. Ada keasyikan tersendiri ketika menonton sambil mengemil sehingga hasilnya berat badan makin tidak terkontrol dan terjadilah obesitas beserta penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan sindroma metabolik.

Media juga memberikan gambaran tubuh yang salah. Gambaran yang membuat anak mendapat persepsi yang tidak tepat tentang “kecantikan”, “keren” dan kepercayaan diri. Banyak anak mengalami penyakit gangguan makan karena ingin memiliki tubuh kurus. Efek ini terutama terjadi pada para remaja wanita.

Selama 15 tahun AAP telah mensosialisasikan tentang jumlah waktu untuk menonton televisi dan mewanti-wanti isi acara yang mereka tonton. Rekomendasi American Academy of Pediatrics bagi para orang tua terkait penggunaan TV bagi anak antara lain:

1. Batasi waktu yang dihabiskan di depan layar kaca media elektronik hanya sekitar 1 – 2 jam sehari.

Dengan membatasi waktu di depan layar serta menawarkan media edukasi dan non-elektronik seperti kertas, krayon, permainan papan, buku, majalah serta mendampingi anak ketika melihat televisi akan membantu anak mendapatkan manfaat dari pemanfaatan media edukasi. Menjawab pertanyaan anak menjadi konteks yang mereka pahami serta mengajarkan anak menyikapi iklan akan menjadi sarana pembelajaran media bagi anak.

2. Jangan taruh TV di kamar tidur anak

Televisi di dalam kamar tidur akan menyebabkan anak melihat 1 – 2 jam lebih banyak dengan risiko obesitas meningkat 31% dan kecenderungan merokok meningkat dua kali lipat. Televisi di dalam kamar tidur akan menyebabkan anak sulit dimonitor tontonannya, jarang berpartisipasi pada kegiatan lain seperti membaca dan menekuni hobi juga waktu tidurnya jadi lebih pendek. Oleh sebab itu, AAP menyarankan  zona bebas layar di beberapa tempat di rumah antara lain di kamar tidur serta ruang makan. Anak dan remaja sebaiknya hanya melihat acara hiburan di media selama satu hingga dua jam dalam sehari, itupun sebaiknya merupakan acara yang berkualitas tinggi. Penting bagi anak untuk tetap bermain di luar rumah, di lapangan, membaca, menekuni kegemaranannya dan bermain permainan bebas menggunakan daya imajinasinya.

3. AAP tidak menyarankan penggunaan media elektronik bagi anak di bawah umur 2 tahun.

Sebisa mungkin bebaskan anak umur 2 tahun dari paparan media elektronik dan layar kaca. Ajak anak bermain lebih interaktif supaya tumbuh kembang otaknya bisa optimal. Ajak anak bermain seperti permainan tepuk tangan, bernyanyi, berbicara dan bercerita bersama. Hindari penggunaan media hiburan dan TV bagi anak di bawah umur 2 tahun. Otak anak umur 2 tahun sedang berkembang pesat dan anak harus belajar dengan berinteraksi dengan orang bukan layar kaca. Anak akan terpesona pada gemerlap tarian cahaya dan warna yang  ditunjukkan oleh media layar kaca tanpa mereka mengerti akan nilai edukasinya.

4. Awasi program yang ditonton oleh anak dan remaja.

Program yang sebaiknya dipilih adalah program yang informative, edukatif dan tidak mengandung tindak kekerasan. Orang tua sebaiknya menyeleksi dan memblok tayangan yang mengandung unsur tindak kekerasan, eksploitasi seksual, penyalahgunaan zat berbahaya-kecanduan, percakapan yang tidak baik dan penggunaan bahasa dewasa yang tidak tepat dikonsumsi anak.

5. Dampingi anak menonton TV dan ajak anak mendiskusikan isi tayangannya.

Survey pada 1500 orang tua mengatakan hanya separuh orang tua yang mendampingi anaknya ketika menonton TV. AAP menyadari bahwa dewasa ini paparan media sangat lumrah sehingga ketika orang tua mengenalkan media elektronik ke pada anak sebaiknya harus memiliki strategi untuk mengaturnya. Idealnya orang tua mengetahui isi program yang ditonton anak dan mendampingi anak menontonnya. Ajak anak mengungkapkan dan mendiskusikan cerita/acara yang telah ditonton.

6. Gunakan tayangan kontroversial yang terlihat sebagai sarana masuknya edukasi tentang nilai-nilai yang dianut dalam keluarga, pendidikan seks bagi anak dan edukasi penyalahgunaan NAPZA.

Jika anak melihat tayangan yang kontroversial, ajak anak membicarakannya dan mendiskusikannya sesuai dengan nilai dan norma yang dianut dalam keluarga. Juga bisa digunakan sebagai pintu masuk untuk edukasi tentang pendidikan seks, penyalahgunaan zat dan kecanduan yang berbahaya.

7. Rekam acara favorit

Rekam program-program yang bermanfaat untuk kemudian ditonton di lain waktu. Dengan merekam maka orang tua bisa memotong penayangan iklan sehingga anak menjadi terlindungi dari pengaruh buruk iklan. Tanpa penayangan iklan akan membuat waktu menonton TV menjadi lebih singat.

8. Dukung pemberian program edukasi media di sekolah

9. Berikan kegiatan alternatif yang menyenangkan selain menonton TV

Ajak anak melakukan kegiatan lain yang bermanfaat seperti membaca, berolahraga, bermain di luar rumah, menekuni hobi dan bermain kreatif untuk mengalihkan anak dari televisi.

Dengan membatasi waktu di depan layar serta menawarkan media edukasi dan non-elektronik seperti kertas, krayon, permainan papan, buku, majalah serta mendampingi anak ketika melihat televisi akan membantu anak mendapatkan manfaat dari pemanfaatan media edukasi. Menjawab pertanyaan anak menjadi konteks yang mereka pahami serta mengajarkan anak menyikapi iklan akan menjadi sarana pembelajaran media bagi anak.

Tayangan TV serta media lainnya juga bisa menjadi sarana edukasi bagi anak. Banyak pengetahuan umum serta sosialisasi perilaku positif seperti berbagi, bekerja sama dan sopan santun dapat dipelajari dari program tertentu. Namun, karena menonton TV juga bisa menimbulkan efek yang negatif bagi kesehatan maka orang tua harus membantu anak membuat pilihan media yang akan mereka konsumsi untuk mengoptimalkan penggunaannya.

Orang tua dapat menggunakan sistem rating bagi tayangan televisi, film dan games untuk mengetahui isi yang tidak layak dilihat anak seperti tindak kekerasan, konten pornografi/seksualitas atau tayangan penggunaan rokok serta minuman keras. Apalagi saat ini kita hidup di negara yang membebaskan penayangan TV sehingga orang tua harus lebih proaktif untuk bijak membuat peraturan menonton TV dan layar kaca bagi anak.

Berikutnya: Efek Media Bagi Anak Batita

TV untuk anak

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s