Waspada Efek Tayangan Berita Bagi Anak

Selain acara sinetron, lawak geje dan gosip murahan ternyata kita juga harus waspada dengan tayangan berita di media massa. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai orang tua juga bisa menjadikan tayangan pemberitaan di media massa sebagai sarana edukasi bagi anak. Anak jadi bisa mengenal belahan dunia alain, berbagai kejadian, gambaran situasi serta kondisi yang mungkin berbeda dengan yang ada di sekitarnya.

Tinggal di Indonesia tapi jadi kebayang bagaimana indahnya aurora di kutub, hujan salju di Eropa, royal wedding kerajaan Inggris atau festifal tulip di Belanda

Nah, sebagaimana kita para orang tua, anak sering terpapar dengan tayangan berita. Baik tayangan berita melalui televisi, radio, internet juga majalah serta koran. Berita-berita hadir membawakan berbagai tayangan seperti bencana alam, acara-acara besar, berita kriminal, peperangan, tawuran, juga berbagai sisi negatif kehidupan yang rawan menimbulkan rasa takut, anxietas serta stress bagi anak.

Masalahnya berbeda dengan film, acara yang ditampilkan di program berita adalah kejadian nyata. Sehingga ketika tayangan yang disampaikan adalah kejadian kekerasan atau kisah yang negatif maka topik tersebut bisa menimbulkan gangguan dan masalah bagi anak. Bayangkan saja bagaimana menjadi anak ketika mengetahui ada peperangan hebat yang disertai bom, api dan tubuh-tubuh terluka penuh darah.

Tayangan tentang kejahatan pada anak, peristiwa tawuran, perang dan bencana akan membuat anak bingung terhadap dunia yang ditinggalinya ini. Secara alami melihat tayangan seperti ini akan membuat anak takut serta khawatir jika kejadian tersebut terjadi juga dalam hidup mereka.  Anak akan melihat bahwa dunia ini tempat yang membingungkan, menakutkan juga tidak aman.

Dewasa ini telah terjadi perubahan tentang bagaimana pemberitaan disampaikan sehingga bisa membawa dampak negatif bagi anak. Perubahan tersebut antara lain:

  • TV dan internet yang bisa menghadirkan pemberitaan dalam 24 jam seharian penuh. Apalagi saat ini banyak bermunculan statiun TV berita yang memang khusus menayangkan pemberitaan dalam berbagai kemasan.
  • Cara TV menayangkan kejadian secara langsung sehingga membawa kesan seolah-olah kejadian tersebut terjadi secara nyata di hidup anak.

Saat melihat musibah hilangnya MH370 anak jadi takut naik pesawat karena dia berpikir “jangan-jangan nanti aku juga seperti itu?”

Pemberitaan peristiwa yang sensasional ini bisa membuat anak mengalami internalisasi dan mengalami transformasi yang mengakibatkan kejadian ini seolah-olah terjadi pada mereka.

Terkadang tayangan berita membuat mereka menjadi takut terhadap hal yang semula tidak menakutkan. Misalnya setelah melihat badai hujan petir serta tornado yang memporakporandakan rumah-rumah di Amerika akan membuat anak ketakutan saat terjadi hujan petir biasa.

  • Banyaknya acara yang mengupas tuntas kehidupan pribadi seseorang, baik itu tokoh masyarakat maupun artis hingga akhirnya menjadi tokoh tempat berkiblat masyarakat.

(Iya kalau contoh yang diberikannya itu baik, kalau buruk?)

  • Tekanan untuk membuat tayangan berita bisa diterima oleh masyarakat, bersaing dengan berbagai acara lain seperti serial lawakan dan gossip.
  • Penayangan secara detail dan berulang pada peliputan bencana alam maupun tindak kejahatan.

anak dan pemberitaan media massa

Masalahnya di negri ini rating dan labeling terhadap tayangan televisi (misalnya terkait penayangan tindak kekerasan dan seksual) masih buruk. Tayangan komedi sering disertai kekerasan fisik. Tayangan televisi jarang yang diberi label apakah layak tonton oleh anak. Nah, sementara itu tayangan berita ini sulit untuk diberi label apakah layak ditonton anak atau tidak.

Penelitian membuktikan bahwa anak-anak ternyata juga rentan meniru perilaku yang didengar, dilihat serta diberitakan di tayangan berita tersebut. Paparan berulang secara kronis dan terus-menerus terhadap tindak kekerasan ternyata bisa membuat anak mengalami ketakutan serta desentisisasi (kebal) dan pada anak-anak tertentu kejadian ini membuatnya tumbuh menjadi lebih agresif dan kasar.

Penelitian menunjukkan bahwa tayangan pemberitaan ternyata juga tidak selalu memilih hal-hal yang merefleksikan trend lokal maupun nasional. Contohnya di Amerika, statistik menunjukkan kejadian kejahatan menurun namun pemberitaan tentang kejahatan meningkat 240%.

Oleh sebab itu, sebagai orang tua kita juga patut waspada terhadap tayangan pemberitaan yang dikonsumsi oleh anak. Hal ini termasuk tentang pembicaraan terkait tayangan pemberitaan tersebut di rumah. Orang tua harus melihat umur, tingkat perkembangan, pengalaman hidup serta “kerentanan” anak dalam mempertimbangkan jenis pemberitaan serta seberapa banyak anak boleh melihat tayangan berita.

Ingat anak-anak yang masih sangat kecil belum bisa membedakan mana kejadian nyata dan mana yang khayalan. Sehingga ketakutan yang mereka rasakan akan terasa nyata.

Efek TV membuat dunia serasa kecil dan kita bisa mengetahui berbagai kejadian dari seluruh penjuru dunia hanya dari ruang keluarga. Penayangan kejadian kekerasan membuat tayangan berita TV menghadirkan “mean-world” syndrome yang membuat anak mendapatkan gambaran yang keliru tentang dunia dan kehidupan bermasyarakat di sekitarnya. Dalam acara berita seolah-olah tidak ada hal baik serta kebaikan di dunia. “Bad news is a good news” katanya 😦

Dunia tidak seluruhnya buruk seperti sepanjang penayangan acara pemberitaan di televisi. Masih ada orang baik, hal baik dan kebaikan yang hadir di dunia ini. Anak harus mendapatkan kepastian akan keamanan ini.

American Academy of Child & Adolescent Psychiatry membuat guideline untuk membantu meminimalisasikan efek negatif dari melihat tayangan pemberitaan. Guideline tersebut antara lain:

  • Awasi jumlah waktu yang diluangkan anak melihat tayangan pemberitaan
  • Pastikan orang tua memiliki waktu dan tempat yang tenang untuk mengantisipasi jika tayangan pemberitaan ternyata membuat anak takut, bingung atau terganggu.

Mendiskusikan hal-hal yang sedang terjadi dan menjadi pemberitaan hangat akan membantu orang tua mendapatkan persepsi anak terkait berbagai peristiwa yang sedang terjadi.

Anak akan merasa lebih terkontrol dan lebih aman jika orang tua membantu mereka menemukan cara untuk menetralkan informasi.

Bisa juga mengajak anak berpartisipasi melakukan hal kecil untuk mengurangi dampak negatif misal anak sedih setelah melihat korban bencana alam. Jadi setelah melihat bencana alam dengan banyak korban yang meninggal maka orang tua bisa mengajak anak untuk shalat ghaib, mendoakan para korban atau menyumbangkan sesuatu meringankan penderitaan korban.

Tayangan bencana alam bisa juga menjadi sarana edukasi bagi anak untuk meningkatkan rasa iman dan takwa, menolong sesama dan bekerja sama dengan orang lain.

  • Damping anak saat melihat tayangan pemberitaan.

Dengan mendampingi anak maka orang tua bisa menyaring informasi yang menakutkan atau tidak patut. Jika orang tua tidak nyaman dengan pemberitaan yang disampaikan, matikan saja televisi/radio-nya.

  • Tanyakan ke anak tentang tayangan yang mereka lihat dan tanyakan apakah anak memiliki pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.

Orang tua harus jujur mengatakan kebenaran saat anak menanyakan pada orang tua. Namun, sampaikan saja secara garis besar sesuai dengan pemahaman anak.  Tidak perlu terlalu detail. Berikan informasi yang cukup memenuhi rasa penasaran anak.

  • Sampaikan ke anak bahwa mereka akan baik-baik saja.

Pada kenyataannya kita memang tidak bisa menghindari berbagai hal, seperti bencana. Namun, orang tua harus mampu meredamkan ketakutan mereka. Ajak mereka membicarakan ketakutan yang dirasakan. Jangan sampai anak memendam rasa takutnya sendiri.

Pada anak yang lebih besar dan remaja terkadang kemauan orang tua untuk meluangkan mendengarkan ketakutan atau kekhawatiran mereka bisa cukup membantu.

  • Cari tanda tentang pemberitaan yang mungkin membuat anak ketakutan atau menimbulkan anxietas pada anak seperti tidak bisa tidur, takut, mengompol, menangis atau bicara bahwa dia takut.

Hal ini memungkinkan orang tua untuk mengetahui bagaimana reaksi anak terhadap pemberitaan tersebut, apakah tayangan itu membuat mereka takut dan diskusikan seperti apa ide atau nilai yang mereka peroleh dari tayangan tersebut. Saat anak merasa takut dan tidak terlindungi, orang tua bisa membicarakan tentang dunia dan “kita punya Allah”.

Kuncinya adalah luangkan waktu berdiskusi, jujur dan buat anak tetap merasa aman.

Mengajak anak mendiskusikan ketakutannya akan mengurangi ketakutan yang tidak perlu setelah anak melihat tayangan berita di media massa.

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s