Kesehatan Anak

Temper Tantrum

TEMPER TANTRUM

“Temper tantrum: a normal part of growing up”

Pengertian Temper Tantrum

Temper tantrum merupakan ledakan kemarahan atau perasaan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa terencana. Sulit bagi seorang anak untuk memendam suatu perasaan emosi yang kuat. Ketika merasa frustasi atau marah, anak biasanya akan menangis, berteriak, menendang, memukul, melompat-lompat hingga menahan nafas. Ini disebut sebagai temper tantrum.

Temper tantrum biasa terjadi pada masa kanak-kanak sekitar umur 1 – 3 tahun. Anak laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tabiat temper tantrum ini. Temper tantrum biasanya dimulai pada umur 12 – 18 bulan, memburuk pada rentang umur 2 hingga 3 tahun dan kemudian semakin membaik ketika anak telah bisa menggunakan kalimat sebagai alat untuk mengungkaokan keinginan dan kebutuhannya. Setelah umur 4 tahun biasanya anak sudah jarang kambuh tantrum lagi. Kecapekan, kelaparan atau sakit membuat episode tantrum menjadi semakin sering atau semakin berat.

Tantrum sering terjadi di tahun kedua umur anak dimana anak sedang belajar kemampuan berkomunikasi dengan bahasa. Balita memiliki kemampuan untuk memahami yang jauh lebih baik daripada kemampuan untuk mengekspresikan diri. Bayangkan kita ingin mengkomunikasikan keinginan kita ke orang lain namun tidak bisa – inilah pengalaman yang membuat frustasi yang mungkin mengakibatkan tantrum. Ketika ketrampilan berbahasa meningkat lebih baik, biasanya tantrum juga menurun.

Menghadapi anak dengan temper tantrum sangat sulit bahkan terkadang membuat orang tua frustasi. Namun, jika ditangani dengan baik, bencana tantrum ini bisa menjadi sarana edukasi anak.

temper tantrum

Penyebab Temper Tantrum

Anak-anak adalah manusia yang sibuk mempelajari dunianya. Mereka ingin mengambil kendali. Anak ingin menguasai seluruh hal dalam dunianya dan ketika mereka gagal menyelesaikan target pekerjaan mereka, maka mereka akan melampiaskan kekesalannya dalam bentuk ledakan emosi: tantrum.

Anak memiliki tabiat berbeda-beda, ada yang sering tantrum dan ada yang jarang tantrum. Selama dalam batas wajar, kejadian temper tantrum ini merupakan bagian normal dari proses perkembangan anak. Anak tidak seperti orang dewasa yang telah memiliki kontrol atau telah memahami aturan pelarangan tertentu. Belajar untuk mengendalikan emosi merupakan salah satu hal paling sulit untuk mereka pelajari.

Banyak hal yang bisa membuat anak merasa frustasi dan mengakibatkan temper tantrum, contohnya:

  • Anak tidak memahami apa yang ibu bicarakan atau perintahkan
  • Anak kecewa ketika orang lain tidak mampu memahaminya
  • Anak tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukan apa yang dia rasakan atau inginkan
  • Anak tidak tahu bagaimana cara mencari penyelesaian suatu permasalahan
  • Anak sedang merasa kesakitan atau mengalami suatu permasalahan namun tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya
  • Anak merasa lapar
  • Anak merasa kecapekan
  • Anak merasa tidak nyaman atau tidak aman (ketakutan)
  • Anak bereaksi atas tekanan atau perubahan di rumah
  • Anak merasa cemburu, ingin memiliki apa yang dimiliki anak lain atau ingin mendapatkan perhatian yang diperoleh oleh orang lain
  • Anak merasa mampu namun ternyata tidak mampu untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan seperti dalam pikirannya seperti jalan, lari, memanjat, menggambar atau membuat permainan yang dia inginkan

Salah satu tugas perkembangan yang anak hadapi di masa kanak-kanak adalah peningkatan kebutuhan untuk bisa otonom. Balita menginginkan untuk mandiri dan mampu mengendalikan lingkungannya – lebih dari kemampuan yang dimilikinya. Hal ini menciptakan kondisi sempurna bagi pergolakan kekuatan saat anak berpikir “aku bisa sendiri” atau “aku ingin itu, berikan itu padaku.”

Dan, ketika anak mendapati bahwa dia tidak mampu atau tidak bisa memiliki semua hal yang diinginkannya, maka ini memicu terjadinya tantrum.

Mencegah Temper Tantrum

Meskipun tidak semua tantrum bisa dicegah, beberapa hal berikut ini bisa membantu menghindari temper tantrum, yaitu:

  • Anjurkan anak menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Ibu bisa menawarkan pilihan kata-kata untuk dia gunakan dalam menerangkan perasaannya jika anak bingung harus bicara apa.
  • Buat batasan yang masuk akal dan jangan mengharapkan anak menjadi sosok yang sempurna.
Berikan alasan-alasan yang sederhana ketika membuat aturan bagi anak dan jangan merubahnya.
  • Ciptakan rutinitas harian yang konsisten sehingga anak mengetahui apa yang bisa dia harapkan.
Misalnya buat jadwal jam bermain, jam makan, jam tidur dan jam jalan-jalan dengan tertib sehingga anak menjadi terbiasa. Anak tidak akan tantrum mengajak jalan-jalan ketika jadwal tidur.
  • Hindari situasi yang akan membuat anak frustasi.
Mmisalnya jangan memilihkan mainan atau memberikan penugasan yang di atas umurnya sehingga terlalu tinggi tingkat kesulitannya. Pilih mainan yang sesuai umur anak. Mulai pendelegasian tugas dari hal yang sederhana terlebih dahulu.
  • Hindari kegiatan yang membuat anak terlalu lama duduk atau tidak bisa bermain.
Saat bepergian jauh jangan lupa membawa mainan atau buku favoritnya. Saat mengajak anak menghadiri acara resmi pastikan anak sepakat dan berikan mainan yang dipilih anak untuk dibawa.
  • Sediakan makanan ringan yang sehat untuk berjaga-jaga ketika anak tiba-tiba lapar di luar jam makan.
  • Pastikan anak mendapat cukup istirahat.
Kenali batasan kemampuan fisik anak. Pastikan anak cukup tidur. Tidur sangat penting bagi kesehatan anak supaya badannya terasa enak dan dapat mengurangi tantrum. Anak yang kurang tidur akan cenderung hiper, sulit akur dan berperilaku ekstrim.
  • Jauhkan benda-benda yang mungkin bisa memicu tantrum dari jangkauan anak misalnya gunting, pisau, palu, pecah-belah, dll.
  • Pertimbangkan masak-masak ketika anak menginginkan sesuatu.
Berikan pilihan lain ketika mengatakan “tidak”. Anak akan merasa sangat frustasi saat tidak boleh melakukan apapun dan selalu dibilang “tidak boleh” atau “jangan”. Tentu saja pastikan anak tetap aman ya. Jangan sampai anak melakukan hal membahayakan. Puji anak saat dia melakukan hal yang baik. Jadi jangan sampai kesannya ibu selalu bereaksi pada hal-hal negatif yang anak lakukan. Pujian atas perilaku yang baik juga mengajarkan anak tentang ada perilaku-perilaku yang positif dan baik, sehingga anak akan semakin banyak melakukan perilaku positif ini.
  •  Berikan pilihan.
Ibu bisa memberikan anak kendali atas beberapa hal sederhana. Ketika meminta anak melakukan hal yang tidak dia sukai maka ibu juga bisa memberikan pilihan hal yang dia sukai. Ketika memberikan perintah kepada anak gunakan nada suara yang lembut seolah-olah mengajak untuk melakukan sesuatu bukan memerintahnya.
“Mandi yuk, nanti kita jalan kepiting ke kamar mandinya.” Jadi, kaki Faiz naik di atas kaki Ummi dan Ummi akan jalan miring ke kamar mandi. Prosesnya lebih asyik, padahal perintahnya sama-sama supaya anak mau mandi tanpa drama.
“Faiz mau sikat giginya sehabis sabunan atau sebelum sabunan nih?”
“Mau makan brokoli atau buncis?”
“Mau makan abon sapi atau abon tuna? Telur dadar atau telur ceplok?”
Pastikan pilihannya juga sesuatu yang ibu bisa terima.
  • Jadilah contoh yang baik.
Orang tua hindari berdebat atau saling berteriak di depan anak.

Menangani Tantrum

Hal pertama untuk meredakan tantrum adalah memastikan anak sehat dan emosi ibu terkontrol dengan baik. Keadaan tidak akan membaik jika ibu dan anak sama-sama saling berteriak. Melabrak anak juga bukan merupakan pilihan yang bagus dan ini hanya akan membuat tantrum memburuk. Tarik nafas panjang, kendalikan emosi ibu dan disiplinkan anak dengan tegas namun lembut sehingga anak tahu bahwa tantrum bukan perilaku terpuji. Ingat bahwa ibu telah dewasa.

Berikut ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menangani anak yang sedang tantrum:

  • Tetap tenang
Jika orang tua berteriak atau marah maka biasanya keadaan akan bertambah parah. Jika sulit untuk tetap tenang, maka tinggalkan ruangan sebentar (pastikan anak aman). Tunggu semenit-dua menit atau hingga anak lebih tenang, sebelum kembali ke sisi anak.
  • Alihkan perhatian anak
Coba tawarkan permainan lain, buku lain atau mainan lain. Pindahkan anak ke tempat lain seperti ajak keluar sebentar jika posisi sedang di dalam ruangan. Hal sederhana seperti mengalihkan perhatian dengan perpindahan tempat kadang membuat tantrum membaik.
  • Berikan waktu jeda untuk istirahat sebentar
Jauhkan anak dari sumber pemicu dan berikan waktu untuk menenangkan diri. Pilih tempat khusus untuk anak menenangkan diri. Tempat yang bisa dipilih adalah tempat yang membosankan seperti pojokan ruang atau kursi di lorong. Pastikan kondisi anak tetap aman.
Faiz biasanya akan ditaruh di pojokan ruang tamu sendirian (pilih tempat yang aman ya buat jeda anak). Menurut AAP waktu jeda bisa sekitar 1 menit untuk setiap tahun umur anak, contohnya berikan waktu jeda 4 menit untuk anak berumur 4 tahun. Jangan terlalu sering digunakan karena akan menjadi tidak efektif. Jika anak mencoba kabur sebelum waktu habis, kembalikan anak ke tempat semula. Ingatkan bahwa dia sedang menjalani waktu jeda. Setelah waktu jeda, ajak anak berbicara dan sampaikan kenapa dia mendapatkan waktu jeda. Berikan anak pelukan yang hangat setelah anak mampu menguasai ledakan emosinya. Tunjukkan bahwa ibu mencintainya.
  •  Abaikan perilaku marah minor seperti menangis, berteriak atau gerakan menendang-nendang selama tidak membahayakan diri, orang lain serta lingkungan sekitarnya.
Coba sentuh anak atau peluk anak untuk menenangkannya. Atau berada di sisinya tanpa bicara sepatah kata hingga anak tenang.
Saat anak tantrum di tempat umum, coba tetap tenang dan abaikan perilaku minor selama tidak membahayakan diri, orang lain serta lingkungan sekitarnya. Jika tantrumnya sulit diatasi segera bawa anak ke tempat yang privat di rest area atau masuk ke mobil untuk diberikan waktu jeda. Setelah anak tenang coba ajak bicara dan meminta kesepakatan anak untuk tidak mengulangi perilaku tersebut jika anak tetap ingin di tempat umum (misal belanja di supermarket) atau tawarkan untuk pulang.
  • Perilaku berikut tidak boleh diabaikan:
  • Melukai dirinya sendiri: memukul kepala, menjatuhkan diri
  • Memukul atau menendang orang
  • Melempar benda yang mungkin bisa melukai orang lain atau merusakkan sesuatu
  • Berteriak atau menjerit lama

Jika ini terjadi maka segera amankan anak. Segera jauhkan anak dari sumber penyebab tantrum, bawa anak ke tempat tenang dan aman untuk menenangkan diri. Katakan dengan tegas, “jangan memukul” atau “jangan melempar-lempar” saat mengangkat anak untuk menjauh supaya anak paham bahwa perilaku ini tidak baik.

  • Jangan hukum anak untuk tantrumnya
 “Hayo berhenti nangis! Nanti ibu cubit kalo masih nangis, berhenti gak nih nangisnya?!?!”
Menghukum seperti dengan pukulan atau cubitan akan membuat anak ketakutan dan menjadikan anak menyimpan luapan emosi seperti kemarahan atau rasa frustasi di dalam dirinya yang mana akan membuatnya menjadi pribadi yang tidak sehat.
Selalu camkan dalam pikiran bahwa ini hanya sementara, saat anak makin besar maka anak akan semakin baik dalam mengatasi luapan emosinya.
  • Jangan memberikan iming-iming hadiah (makanan atau barang yang dia inginkan) untuk menghentikan tantrum
Hal yang paling mudah menghentikan anak tantrum adalah memberikan apa yang anak minta. Namun, tentu saja ini bukanlah hal yang bagus karena anak akan menggunakan tantrum sebagai strategi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Anak-anak (terutama anak prasekolah dan anak lebih besar) terkadang menggunakan tantrum sebagai taktik untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Anak akan belajar apakah taktiknya akan berhasil atau gagal. Jika taktiknya berhasil maka dia akan memakai cara serupa setiap kali ingin sesuatu. Pada anak yang lebih besar (usia sekolah) anak bisa diminta tinggal di kamarnya untuk menenangkan diri hingga dia bisa mengendalikan dirinya. Jika perilakunya negatif (memukul) maka berikan batas waktu menenangkan diri.

 

Periksa Konsultasi ke Dokter

Menurut AAP sebaiknya bawa anak ke dokter jika:

  1. Tantrum memburuk setelah umur 4 tahun. Atau tantrum memburuk dalam frekuensi, durasi atau intensitas keparahan.
  2. Anak tantrum hingga melukai dirinya atau orang lain atau merusak barang ketika tantrum meledak. Anak destruktif atau cenderung menjadi perusak.
  3. Anak menahan nafas ketika tantrum (breath holding spells), terutama jika anak hingga pingsan.
Beberapa anak menahan nafas ketika kecewa dan menangis sangat kencang. Mereka  seperti “lupa” bernafas. Hal ini terjadi tanpa tujuan tertentu, biasanya juga menyertai temper tantrum. Kadang anak akan menjadi pucat, biru, pingsan bahkan melakukan gerakan seperti kejang. Anak biasanya akan kembali bernafas normal setelah sadar. Konsultasikan dengan dokter jika ibu khawatir. Breath holding spell bisa terjadi pada anak dengan kelainan genetik (Riley-Day syndrome dan Rett syndrome), anemia defisiensi besi atau juga riwayat keluarga.

4. Anak mengalami mimpi buruk, kemunduran toilet training (tiba-tiba mengompol lagi), sakit kepala, sakit perut, ketakutan, menolak makan, menolak tidur dan terus bergantung/menempel pada ibu.

Ayah dan Ibu bisa ke dokter kapan pun ketika ingin bertanya tentang keadaan anak, merasa tidak nyaman atau merasa tidak bisa mengendalikan hal yang terjadi. Ayah/Ibu bisa segera mencari pertolongan ahli ketika anak berubah menjadi negatif, tidak percaya diri dan tidak mandiri.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang mungkin diperlukan untuk menyingkirkan gangguan fisik pemicu temper tantrum seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penyakit kronis, keterlambatan bahasa atau gangguan belajar.

Selalu pastikan anak aman. Pastikan rumah dalam kondisi yang aman bagi anak dan benda-benda berbahaya jauh dari jangkauan anak. Pastikan anak selalu dalam pengawasan ibu. Jangan pernah tinggalkan anak sendiri dalam situasi yang bisa membahayakannya. Jauhkan benda-benda berbahaya dan gantikan dengan benda lain yang aman.

Situasi Ini Akan Berlalu

Temper tantrum akan berlalu selama dikendalikan dengan tepat oleh lingkungan sekitarnya. Ledakan tantrum akan berhenti dengan sendirinya jika ditangani dengan baik seiring bertambah umur anak. Penanganan tantrum yang baik sejak dini akan sangat membantu. Penanganan tantrum yang baik akan membawa pengaruh yang sangat bermanfaat bagi anak, ibu dan keluarga.

Semakin matang perkembangannya, anak akan makin mampu menangani dirinya dan penguasaan perbendaharaan kata semakin meningkat sehingga tingkat frustasinya dalam menyampaikan keinginan semakin menurun. Semakin jarang anak menjadi frustasi akan semakin jarang merasa kesal dan pengendalian diri akan semakin baik. Semua akan berakhir bahagia ketika tantrum mereda.

Episode tantrum memang penuh tantangan. Hari demi hari memang terkadang berjalan begitu lambat, namun waktu berlari cepat hingga tak terasa berlalu begitu saja. Masa-masa ini akan menjadi kenangan indah. Lakukan pilihan terbaik untuk orang tua jalani

 

 

 

 

PERHATIAN!

WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s