Anak Bermoral Luhur: Tanggung Jawab Siapa?

Dunia social media terguncang -lagi- dengan beredarnya gambar path seorang gadis muda yang memaki seorang ibu hamil yang meminta diberi tempat duduk di kereta. Gadis ini merasa dia berhak duduk karena dia yang terlebih dahulu memperoleh kesempatan menggunakan tempat duduk ini. Gadis ini telah berkorban bangun lebih pagi supaya bisa datang lebih pagi sehingga bisa duduk.

Rasa empati (atau simpati?) kita kepada ibu hamil itu terusik dan kemudian terjadilah caci-maki meletup di dunia maya.

Saat ini kita memang sedang hidup di dunia yang mengalami krisis moral? Bagaimana menurut anda tentang peristiwa berikut ini:

  • Seseorang membuang sampah di sungai kemudian menyumbat bagian hilir hingga banjir.
  • Seseorang membuang sampah plastik yang kemudian terhanyut hingga Samudra Hindia dimakan oleh penyu, ikan dan burung hingga binatang-binatang ini sakit kanker.
  • Seorang perokok merokok di tempat umum dimana ada anak-anak, ibu hamil dan orang lain yang punya riwayat sakit asma.
  • Seorang ibu membiarkan anaknya yang sakit cacar air pergi sekolah, naik pesawat, diajak ke mall bahkan berenang bersama anak-anak lain.
  • Seorang ayah memutuskan tidak memvaksin anaknya dan memilih memberikan kekebalan-alami hingga anaknya merasa sakit-alami dengan cacat-alami atau mati-muda-alami.
  • Seorang koruptor, manipulator, tukang contek.
  • Tawuran antar-sekolah/remaja.
  • Perilaku seks bebas tidak bertanggung jawab, aborsi, menjebak teman.
  • Seseorang menyerobot rambu lalu-lintas hingga mencelakai diri dan orang lain.
  • dll

passive-smoking

Ah, bahkan jangan-jangan saya sendiri pun juga tidak bermoral baik? Yuuk, ngaca rame-rame yuuukk, hiks… πŸ˜₯ πŸ˜₯ πŸ˜₯ πŸ˜₯ πŸ˜₯

Pendidikan moral lebih dari sekedar pendidikan sopan santun, etika, sikap hormat dan saling menghargai.

Moral dalam arti yang luas mencakup bagaimana hubungan seorang manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam semesta. Menurut Syahrin (2005:
45) orang yang memiliki moral yang baik adalah yang mampu menyeimbangkan ketiga hubungan di atas pada setiap tempat dan setiap waktu. Moral juga harus dipandang sebagai suatu yang memiliki nilai otonom dan universal sehingga ia dapat berlaku pada lintas waktu, lintas aktivitas dan lintas tempat.

Runtuhnya kualitas moral dewasa ini membuat banyak pihak saling menyalahkan, namun sejatinya pendidikan moral yang pertama dan utama adalah di RUMAH. Pendidikan moral merupakan prioritas utama karena memang tujuan pendidikan itu adalah untuk memanusiakan manusia dan menjadikannya manusia yang memiliki kepribadian utuh.

Anak yang dipuji saat berproses melakukan hal yang baik akan termotivasi untuk berprestasi dan dia akan memiliki pencapaian prestasi yang membanggakan. Saat ini kita melihat banyak orang sukses namun tidak memiliki moral yang baik. Mereka tumbuh dengan etos kerja yang baik namun tidak peduli dengan orang lain, egois dan bahkan rela melakukan segala cara untuk memuaskan pencapaian dirinya.

Nah, saya sendiri sedang penasaran dengan bagaimanakah cara menumbuhkan seorang anak yang bermoral dan berbudi pekerti luhur? Bagaimana supaya nanti anak-anak saya menjadi manusia yang baik dan manusiawi?

Di umur 2 tahun, anak mulai mengalami pengalaman-pengalaman terkait sisi moralitas yang dipicu oleh hal yang baik dan buruk. Banyak sifat dalam diri anak yang diwariskan secara genetik. Seperempat hingga separuh kemampuan anak untuk peduli dan berbagi dengan sesama pun diatur oleh genetik, sehingga orang tua memiliki banyak ruang kosong untuk mengangkat sifat-sifat serta ketrampilan emosional yang baik.

Tunjukkan Rasa Cinta Kasih Kepada Anak

Curahan cinta kasih dari kedekatan pada orang tua akan membuat anak merasa berharga dan dia akan tumbuh menjadi manusia-terbaik-yang dia mampu. Anak yang diberikan cinta kasih sayang yang cukup akan merasa baik serta tercukupi sehingga akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, lebih perhatian dan lebih kooperatif.

Caranya: berikan waktu untuk anak.

Ajak anak yang masih kecil untuk main bersama, membaca buku cerita atau berdongeng untuknya, meski hanya setengah jam. Anak yang sudah usia sekolah bisa dilibatkan dalam aktivitas memasak, makan bersama, pergi bersama, berpetualang bersama atau diajak berkunjung saat ada undangan pesta (pernikahan, kelahiran, perayaan, dll) atau mengunjungi kerabat yang berduka cita.

Anak yang terhubung dengan kedekatan emosional saat bermain bola dan ada temannya yang terjatuh lalu menangis akan mengatakan, “Kakimu sakit?” sambil mengusap kaki temannya. Sedangkan anak yang tidak memiliki hubungan emosional akan mengatakan, “Dasar anak cengeng!” sambil menertawakan temannya.

Buat Komitmen

Setiap kesuksesan dimulai dengan komitmen yang kuat untuk sukses. Begitu juga dengan mengasuh anak yang bermoral dan berbudi pekerti yang luhur. Ini tidak bisa terjadi begitu saja. Orang tua harus menjadikannya sebagai prioritas dan melaksanakannya dalam kegiatan nyata di kehidupan sehari-hari.

Kenali Nilai-Nilai Yang Orang Tua Anut

Nah, bagaimana mungkin kita mau mengasuh anak menjadi anak yang bermoral dan menganut nilai-nilai hidup yang luhur disaat kita sendiri pun tidak mengenali apa itu moral dan budi pekerti?

Pikirkan kembali tentang nilai-nilai seperti rasa belas kasih, kejujuran, rasa hormat-menghormati, tanggung jawab dan integritas. Kemudian terjemahkan nilai-nilai ini kepada anak dalam bahasa yang tentu saja mereka mengerti. Anak-anak yang lebih besar akan mendengar banyak pesan yang bertentangan dengan nilai yang orang tua anut, sehingga tentu saja akan menjadi hal yang penting untuk terus-menerus meningkatkan standard setiap hari.

Beri Contoh Nyata

Orang tua sebaiknya memberikan contoh nyata semua yang dinasehatkan kepada anak. Anak melihat dan belajar tentang bagaimana kita mengendalikan emosi, memperlakukan dan bergaul dengan orang lain serta menyelesaikan permasalahan. Tindakan harian nyata memberikan pembelajaran yang lebih baik daripada sekedar omongan semata. Seperti: Apakah orang tua mau membantu orang lain? Apakah ibu terbiasa mengucapkan terima kasih atas bantuan orang lain?

Saat akan melakukan sesuatu mulai sekarang sebaiknya orang tua juga berpikir: “Kira-kira aku ingin anakku seperti apa ya dalam situasi seperti ini?”

mendidik empati

Kenali Tahapan Perkembangan Anak

Anak memiliki tahapan perkembangan dengan kemampuan tertentu. Anak yang lebih muda membutuhkan pembelajaran faktual, contoh nyata. Saat makin besar dia akan makin mampu memahami penjelasan tentang konsep nilai, peraturan dan konsekuensinya. Sebagian besar anak mulai memiliki dasar kesadaran diri, rasa bersalah dan kemampuan membedakan benar-salah di umur 5 atau 6 tahun.

Enam tahun pertama umur anak merupakan jendela-kesempatan dimana anak menerima begitu saja tanpa mempertanyakan hal-hal yang dicontohkan oleh orang tua. Pembelajaran moral sudah bisa diberikan setiap hari kepada anak sejak dini.

Mengkoreksi perilaku yang salah memang merupakan salah satu bagian pendisiplinan. Anak membutuhkan tidak sekedar mengetahui bahwa hal ini salah, namun juga proses berpikir tentang solusi yang harus dilakukan secara berbeda di kemudian hari.

Jadi perkembangan moral itu tidak hanya meliputi perilaku yang bermoral namun juga kesadaran untuk menghindari hal-hal buruk.

Cara mendisiplinkan anak dengan memarahi, berteriak menakutkan dan hukuman mungkin bisa membuat anak bersikap baik, namun mereka tidak menginternalisasikan ke dalam dirinya dan tidak mampu memiliki motivasi berbuat baik dari dalam dirinya sendiri.

Mendisiplinkan anak dengan cara yang lebih positif seperti memberikan penjelasan dan bukannya tuntutan, terutama saat sedang mengajarkan tentang kesadaran baik dan buruk yang sehat.

Bantu Anak Mengenali Perasaan/Emosinya

Memahami perasaan diri sendiri merupakan inti dari kecerdasan emosional (EQ). Anak yang mengenali rasa marahnya akan lebih mampu mengatasi dan bahkan meredakan amarahnya dengan lebih baik. Mengenali perasaan terdengar gampang, namun pada situasi tertentu akan sulit bahkan bagi orang dewasa.

Contohnya: ibu bisa berteriak marah atau memukul justru saat ibu merasa khawatir terhadap anak, misal saat melihat anak main api (merasa takut tapi kok justru bertindak marah, tidak sesuai kan?).

Anak yang berhasil mengenali perasaannya biasanya juga akan lebih baik untuk mengenali perasaan orang lain dan kemudian berempati kepada orang lain. Ibu bisa mulai mengajak anak berbicara mengungkapkan perasaannya misal anak mengamuk menendang-nendang lantai, maka:

Ibu: “Sayang kenapa kamu menendang-nendang seperti itu, adakah yang membuatmu kecewa?”

Jangan bilang, “Nak, itu kamu apa enggak capek menendang-nendang kayak gitu?” –> Ini akan membuat perasaan (marahnya) disangkal sehingga dia akan sulit menginterpretasikan apa yang sebenarnya dia rasakan.

Juga jangan bilang, “Kenapa kamu seperti itu? Enggak… Mama enggak marah kok!” –> Padahal sebenarnya si Mama juga sebel sama anak yang lagi mengamuk kan? Pilihan kalimat ini akan membuatnya sulit menginterpretasikan perasaan orang lain.

Lingkaran emosi dengan gambar-gambar lucu bisa membantu:

circle of emotions

Puji Perilaku Baik

Puji anak saat dia berbuat baik. Memuji pada karakter ternyata lebih ampuh daripada memuji sekedar tindakan saja. Misalnya sekelompok anak mau berbagi kue ke anak lain yang kurang beruntung kemudian mendapat berbagai tipe pujian:

1: “Wah, kamu mau berbagi sedikit kue dengannya yaa..”

2: “Wah, kamu mau berbagi kue itu dengannya. Yaa, ini perbuatan yang baik dan membantu orang lain.”

3: “Wah, bagus sekali kamu mau berbagi kuemu. Kamu pasti anak baik hati yang senang membantu orang lain yaa… Ya, kamu anak yang baik dan membantu orang lain.”

Ternyata disaat ada kesempatan berbagi lagi anak yang mendapat pujian nomer 3 akan cenderung mau berbagi lebih banyak. Memuji karakter akan membuat karakter-yang-dipujikan masuk ke dalam diri anak (internalisasi) dan anak menjadikan itu sebagai identitas dirinya.

Biasakan memuji perilaku baik anak, meski hanya sekedar meminjamkan mainan atau mau bermain bersama. Tunjukkan bahwa ibu bangga pada perbuatannya di depan orang lain. Hal ini juga akan membuatnya bangga pada kebaikan dirinya sehingga dia memiliki motivasi untuk terus berbuat baik.

Bacakan Kisah Cerita Heroik

Cara mengajarkan ketrampilan sosial dan emosional yang lain adalah melalui cerita atau kisah dongeng. Kisah-kisah sejarah dalam agama bisa menjadi rujukan contoh yang baik tentang manusia-manusia bermoral dan berbudi pekerti yang luhur.

Banyak buku-buku anak yang bagus yang akan mengulang-ulang kisah-kisah kebaikan dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami anak. Ibu bisa juga membacakan cerita dengan bermain boneka untuk membantu anak mengungkapkan perasaannya. Dari kisah-kisah heroik yang dibacakan pada anak juga akan bisa mengajarkan anak yang lebih besar menghadapi kesulitan yang saat ini dialaminya.

buku jendela dunia

Membantu Si Kecil Tumbuh

Empati

Kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain sebenarnya alamiah akan dimiliki oleh sebagian besar anak. Anak kecil sekalipun dia mengerti saat ada anak lain yang sedang tidak enak-hati. Namun, anak balita belum memiliki kemampuan penuh untuk mengerti sudut pandang orang lain. Nah, tugas orang tua untuk mengasuh bakat ini supaya berkembang (bukannya malah hilang).

“Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.”

Caranya: respon dengan cepat kebutuhan bayi. Segera tenangkan saat dia menangis. Segera susui saat dia lapar. Bayi yang tumbuh dalam kehangatan dekapan, cinta dan perhatian akan terpenuhi kebutuhan emosionalnya secara terus-menerus sehingga dia akan tumbuh menjadi manusia yang perhatian kepada lainnya. Anak akan memiliki sensitivitas dan kepercayaan. Anak belajar bahwa membantu dan menolong adalah hal yang baik.

Anak yang sering dipukul dan dimarahi saat menangis akan memukul anak lain yang sedang menangis. Anak belajar bahwa jika ada anak yang menangis cara membantu menghentikan tangisannya adalah dengan memukul-si-anak-yang-menangis itu.

Saat bayi sudah bisa berbicara, perkaya koleksi kosakata yang menggambarkan perasaannya. Contoh: anak menangis saat diajak pulang dari taman bermain. Ibu bisa mengatakan padanya, “Ibu tahu kamu sedih karena kita harus pulang. Tapi nanti kita akan bersenang-senang mewarnai di rumah.”

Saat anak memukul temannya dan sang teman menangis, maka ibu bisa mengajak anak membicarakan perasaan temannya dan mengarahkan kira-kira bagaimana perasaannya saat berada di posisi teman yang dipukul.

Kenalkan anak dengan gambar-gambar yang menggambarkan ekspresi perasaan dan jelaskan dalam kalimat sederhana yang mudah dia mengerti:

“Bahagia seperti kelinci di kebun wortel” “Marah seperti banteng yang mengamuk” “Lucu seperti badut sirkus”

Ibu juga bisa bermain tebak-tebakan mimik muka dan ekspresi tubuh: wajah menangis, wajah senyum, wajah bahagia, wajah marah, dll. Ajak anak berbicara tentang perasaannya saat situasi tertentu seperti: “Kalau Deni tidak mengajakmu main gimana perasaan Faiz?” “Kalau Ummi kerja gimana perasaan Faiz?” “Kalau mainanmu direbut bagaimana perasaanmu?”

fun learning4

Baik dan Murah Hati

Secara alamiah manusia berbakat untuk egosentris karena terdorong oleh pikiran keinginan dan aktivitas memenuhi kebutuhan hidupnya untuk bertahan diri.

Sentuhan kecil dalam aktivitas harian bisa mengajarkan tentang indahnya berbagi dengan sesama. Ibu bisa memberikan contoh berbagi makanan kepada orang yang tidak mampu. Anak akan melihat reaksi penerima bantuan yang bahagia dan dari situ belajar untuk peduli serta berbagi dengan orang lain yang kurang beruntung.

Bergotong royong membantu tetangga yang hajatan juga akan mengajarkan pada anak contoh yang lebih nyata tentang nilai kebaikan. Kegiatan gotong royong di komunitas memberikan contoh pada anak bahwa “membantu orang lain” itu tidak hanya secara materi namun bisa juga memberikan waktu dan tenaga.

Anak siap belajar menjadi orang baik dan murah hati sejak dia masih kecil. Anak 3 tahun bisa ibu minta bantuan untuk menyortir pakaian pantas pakai dan mainan yang bisa dia sumbangkan ke panti asuhan. Puji anak saat dia mau berbagi atau meminjamkan mainannya ke anak lain atau saat dia terlibat dalam kegiatan amal di sekolah.

Melibatkan anak mengerjakan tugas harian di rumah seperti membantu menyapu, mencuci piring, menjemur pakaian akan membuatnya belajar rasa puas bisa mengerjakan sesuatu untuk keluarganya.

libatkan anak

Ketrampilan Menyelesaikan Masalah

Belajar menyelesaikan masalah merupakan bagian yang penting dalam proses tumbuh kembang anak untuk menjadi seseorang yang puas dengan dirinya. Orang tua memiliki kecenderungan dan insting untuk terlibat dan membantu anak saat kesulitan, dan jika proporsi campur-tangan orang tua ini berlebihan hasilnya tidak bagus bagi anak.

Anak saat bayi sekalipun dia mampu menghadapi tantangan seperti berusaha sendiri meraih mainannya dan hal-hal kecil ini membuatnya belajar nilai-nilai luhur yang penting bagi hidupnya.

Balok susun, puzzle dan mainan-mainan merupakan merupakan sarana bagi anak untuk belajar mencari solusi. Saat melihat anak frustasi memasang puzzle jangan langsung diinterupsi, tunggu sebentar dan minta ijin menawarkan bantuan menyelesaikan bersama.

Melibatkan anak untuk terlibat dalam diskusi keluarga misalnya liburan mau pergi kemana atau cara menyelesaikan masalah yang keluarga hadapi memungkinkan anak belajar tahap-demi-tahap memperoleh keputusan bersama. Minta dia menyampaikan rekomendasi dan ajak mengevaluasi dengan prokontra dari masing-masing pihak sebelum memilih pilihan terbaik.

balok susun

Optimis

Cara pandang terhadap kegagalan atau kesulitan merupakan ketrampilan hidup yang penting. Optimis menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang bisa diubah, bukan sebagai sesuatu yang diluar kemampuan, dan anak yang optimis akan mencari jawaban jalan keluar ketimbang larut dalam permasalahan. Anak yang optimis merasa mampu mengkontrol hidupnya sehingga tidak rentan terhadap depresi dan lebih sering sukses di tempat kerja atau sekolah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa optimis ini diturunkan, tidak dibuat, namun orang tua dapat mempengaruhi watak anak. Meskipun orang tua merasa sebagai orang yang paling muram, coba budayakan untuk mencari sisi positif dalam setiap situasi. Hindari menggunakan kata “tidak mungkin” “selalu” seperti “kita tidak mungkin akan berhasil” “pasti akan selalu hujan setiap kali kita rekreasi.”

Salah satu cara untuk mencerahkan sudut pandang anak adalah dengan mengajaknya melihat humor misalnya dalam menghadapi situasi sulit di keseharian. Coba hindari tekanan situasi yang tidak menyenangkan seperti bertengkar dengan anak atau pasangan diganti dengan diskusi yang baik atau saling bercanda.

Tabah dan Teguh Hati

Kemampuan untuk tidak putus asa atau patah semangat ketika menghadapi tantangan-tantangan sulit merupakan ketrampilan yang berhubungan dengan peningkatan kepercayaan diri, tanggung jawab dan mengambil risiko yang sehat.

Untuk menciptakan anak yang tidak mudah putus asa ini orang tua harus bisa menempatkan harapan yang masuk akal kepada anak. Harapan yang terlalu tinggi justru akan membuat anak rendah diri karena dia sering tidak bisa memenuhi harapan orang tua.

Terkadang anak salah dan tidak semua yang anak lakukan sempurna. Jangan terlalu cepat mengkritik anak saat dia salah, dengarkan alasan anak sebelum mengomel. Jika anak gagal dan dia merasa sedih setelah kegiatan yang dia lakukan gagal, bantu anak untuk mengevaluasi hal-hal baik yang telah dia lakukan (fokus pada prestasi baik anak).

Kesabaran memberi peran penting dalam sikap tidak mudah putus asa ini dan hanya bisa ditanamkan melalui kebiasaan hidup sehari-hari sejak masa kanak-kanak. Orang tua bisa mengajarkan kesabaran dengan hal-hal sederhana seperti, “Nanti hari Sabtu kita main layangan di lapangan ya.” –> anak akan belajar bersabar menunggu hari Sabtu untuk bersenang-senang bersama ayah.

Orang tua juga bisa memberikan hadiah setelah anak berhasil bersabar misalnya saat ibu sedang bicara ditelpon dan anak ribut,

“Nak, tenang sebentar ya, nanti mama temanin main setelah selesai bicara ditelpon”

atau

“Duduk tenang di mobil yaa, nanti setelah sampai kamu bisa main perosotan.”

anak dan ibu

Menghormati Orang Lain

Anak belajar dari cara orang tua memperlakukan orang lain. Dia melihat, mendengar, merasakan dan contoh nyata dari orang tua merupakan pembelajaran yang terbaik. Jadi, orang tua harus bisa menghormati diri sendiri dan orang lain di depan anaknya. Hindari menggunakan kata-kata buruk untuk mengatakan orang lain, misal “Ah, bodoh sekali dia, harusnya kan bolanya ditendang ke kiri!” –> Nah, direkam deh sama anak

Jangan menggunakan kata-kata yang buruk merendahkan, berteriak, meremehkan, mengecilkan, mengkritik pedas bahkan menjuluki anak dengan nama binatang seperti “dasar keledai” “dasar siput lamban”.

Anak yang dihormati oleh orang tuanya akan belajar untuk menghormati orang lain, termasuk orang tuanya sendiri. Ibu bisa mendengarkan dengan penuh perhatian saat anak menyampaikan pendapatnya meskipun ini bukan sesuatu yang ibu setujui. Biarkan anak mengekspresikan pendapatnya, jangan hanya sekedar memerintah dengan saklek.

Jangan mentoleransi anak-anak yang saling memberikan julukan buruk atau menjelek-jelekkan satu sama lain. Terkadang anak merendahkan anak lain supaya tampak dominan. Minta anak terlibat membantu mengerjakan sesuatu jangan hanya memerintahkan anak melakukan ini-itu. Ajak anak ikut mengucapkan “terima kasih”, “tolong” dan “permisi” sejak dia masih sangat bayi.

Kejujuran

Anak batita masih sulit membedakan antara khayalan dan kenyataan, mereka sennag menceritakan khayalannya tanpa bermaksud menipu. Di umur 5 – 7 tahun mereka mulai bisa memahami konsep bahwa berbohong itu salah. Mereka mungkin berbohong untuk menghindar dari hukuman atau tanggung jawab atau hanya karena mereka ingin tampak menjadi anak yang baik.

Hindari menempatkan dan memojokkan anak pada situasi yang membuat mereka memilih untuk berbohong. Contoh ibu melihat wajah anak cemong-cemong belepotan kue yang tadi diperingatkan untuk tidak dimakan maka jangan ucapkan,

“Ibu melihat kamu makan kue padahal tadi udah ibu larang!”

Tapi sampaikan saja, “Karena kuenya udah dimakan maka nanti kamu tidak boleh makan kue setelah makan malam ya.”

Ketika anak jujur tentang kesalahan yang telah dilakukannya maka ibu sebaiknya memuji dia, jangan langsung memarahinya karena dia akan belajar menyembunyikan kesalahan atau justru berbohong. Bagi anak kecil sekalipun berani mengakui kesalahan kepada orang tuanya membutuhkan perjuangan.

Saat ibu mengetahui anak berbohong, coba untuk tetap tenang. Reaksi berlebihan seperti marah dan dihukum akan membuatnya untuk berbohong lagi untuk menghindari dari kemarahan ibu. Dan jangan sebut dia sebagai “pembohong”, karena label ini akan mendorongnya melakukan tindakan berbohong dan menjadi seorang pembohong untuk memenuhi harapan ibu.

Dalam situasi ibu mengetahui anak berbohong yang harus dilakukan adalah memaafkan anak dan mengatakan bahwa ibu percaya dia akan melakukan lebih baik lagi di lain waktu.

Berikan contoh kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Saat anak melihat orang tua melakukan kebohongan “white lie” untuk menghindar dari undangan tetangga atau tugas ronda maka anak akan belajar bahwa jujur itu tidak berharga.

“Tolong dong bilang Papa sedang masuk angin…”

Biarkan anak belajar dari kejujuran orang tua:

“Wah, kasir toko memberikan kembalian yang lebih banyak, yuk kita kembalikan kepadanya.”

Lakukan yang terbaik untuk menghindari penipuan terhadap anak. Misalnya, “Ayo nyanyikan lagu buat tante, nanti dikasih kue loh”, eh ternyata setelah anak menurut kuenya tidak ada dan anak akan kecewa meski hanya dibohongi-bercanda.

Memang terkadang tidak perlu terlalu jujur mengatakan fakta seperti saat orang tua dipecat dari pekerjaan.

Hindari tipu-muslihat sekecil apapun dalam percakapan sehari-hari. Contohnya saat terjebak macet dan perjalanan masih panjang maka jangan bilang, “Tenang aja… udah dekat kok” tapi bilang saja “Sepertinya kita masih lama lagi sampainya, tapi kita bisa berhenti dan makan sebentar jika kamu mau.”

Delapan langkah menumbuhkan anak yang bermoral baik:

  1. Tumbuhkan anak yang memiliki kepedulian
  2. Buat hubungan moral dengan anak
  3. Menjadi suri tauladan bermoral
  4. Minimalisasi kesan buruk
  5. Ajarkan anak berpikir bermoral
  6. Kenali anak
  7. Kenali teman-teman anak
  8. Sekolahkan anak di sekolah yang mengajarkan nilai-nilai moral

Seringkali monem-momen mengajarkan tentang moral adalah kejadian-kejadian tidak terencana dalam kehidupan sehari-hari. Sambil melihat televisi, membaca buku dan bercerita aktivitas harian merupakan kesempatan berharga untuk meneruskan nilai-nilai moral yang keluarga anut kepada anak-anak.

Tujuan utama pembelajaran moral adalah supaya anak-anak mengadaptasi nilai-nilai yang positif dan berbuat baik meskipun tidak ada orang tua. Pembelajaran moral ini bertahap dan berkelanjutan sehingga jangan berharap langsung secara instan. Pembelajaran moral ini juga menyatu dengan pembelajaran keimanan dan keagamaan sehingga anak tetap menjadi individu yang baik meski tidak ada orang lain karena dia tahu dirinya sedang dalam pengawasan Allah.

Penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan besar dalam kesuksesan juga kepuasan hidup seseorang. Anak memiliki bakat yang dianugerahkan oleh Allah untuk menjadi orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Sehingga sebagai orang tua mari kita bantu anak membangun tabiat yang positif dan manusiawi karena orang tua adalah guru dan keluarga merupakan sekolah pertama yang utama untuk mendidik anak bermoral.

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s