PENDIDIKAN SEKS DINI BAGI ANAK

Pendidikan Seks Dini Bagi Anak

Artikel ini saya tulis sebagai pedoman bagi diri sendiri untuk memberikan pemahaman pendidikan seks dini pada anak-anak. Sebagai orang timur, saya tumbuh dalam lingkungan dimana orang tua tidak pernah membicarakan tentang pengetahuan seks pada anak, karena ini adalah ranah pribadi dan tabu untuk dibicarakan.

Banyaknya tindak kekerasan seksual serta pergaulan bebas saat ini membuat orang tua tidak bisa melepaskan tugas tanggung jawab sebagai pihak pertama yang memberikan edukasi pendidikan seks dini pada anak-anak.

Mungkin cerita ini bisa mengilhami (saya lupa sumber kisah menarik ini, setting kisah di negara berbahasa inggris)

Pada suatu hari ada seorang ibu mengajak putrinya yang berumur sekitar 7 tahun untuk periksa ke dokter. Di klinik sudah ada banyak sekali orang yang duduk menunggu di ruang tunggu. Ruang tunggu sangat ramai dengan para pasien yang saling mengobrol, tiba-tiba…

Gadis kecil: “Mama, sex itu apa sih?”

Mendadak ruangan menjadi hening dan semua mata memandang ke arah sang ibu serta si gadis kecil. Semua orang penasaran dengan apa yang akan ibu jelaskan kepada sang anak. Tapi justru sang ibu menjawab:

Mama gadis kecil: “Apa maksudmu, Nak?” (sang ibu menjawab dengan ekspresi biasa, nada datar, tenang dan pandangan mata yang lembut ke arah anaknya)

Gadis kecil: “Itu loh Ma, di pintu sebelah sana ada tulisan ‘sex’ kan? Yang ada gambarnya merah dan biru itu loh…” (sang anak menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang mana ada tulisan ‘sex’ plus gambar lambang pria dan wanita).

Mama gadis kecil: “Oh, itu…. itu adalah kedua ruang kamar mandi. Gambar merah di bawah tulisan sex itu adalah lambang yang menunjukkan kamar mandi untuk wanita dan lambang sebelahnya untuk pria.”

Dan… semua orang di dalam ruangan ikut tersenyum lega

Nah, bagaimana jika kita berada di posisi sang ibu? Saat mendadak anak kita yang baru kelas 1 SD bertanya “sex itu apa?” di tengah keramaian ruang tunggu, kira-kira apa yang akan kita jawab? Apakah kita bisa seperti sang ibu yang tetap bersikap tenang dan lembut atau marah-marah atau malah menjawab ngelantur hingga ke ujung dunia? Terkadang pola pikir kita sudah terlalu jauh sehingga membuat pendidikan seks dini menjadi tabu dan salah arah.

Seks (jenis kelamin) merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Seks merupakan perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin (Ing: sex). Contohnya jelas terlihat, seperti laki-laki memiliki penis, scrotum, memproduksi sperma. Sedangkan perempuan memiliki vagina, rahim, memproduksi sel telur. Alat-alat biologis tersebut tidak dapat dipertukarkan sehingga sering dikatakan sebagai kodrat atau ketentuan dari Tuhan (nature). Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas terkait jenis kelamin ditinjau dari berbagai sisi yaitu dimensi biologis, sosial, psikologis, dan kultural. Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Misalnya, laki-laki itu kuat, rasional, perkasa. Sedangkan perempuan itu lembut, lebih berperasaan, dan keibuan. (Sumber: PKBI DIY1, dan 2). Konsep gender ini bisa dipertukarkan misalnya ada juga perempuan kuat yang rasional serta laki-laki lembut penuh perasaan.

Pada kenyataannya anak adalah makhluk seksual. Kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa anak juga memiliki pengalaman dan berperilaku terkait jenis kelaminnya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini pun senantiasa berkembang seiring-sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Jadi, proses belajar tentang mengenal jenis kelamin dan gender ini tidak bisa dipisahkan dari proses belajar anak, karena alamiah menyatu dalam dirinya.

Semakin bertambah usianya, anak akan mendapat banyak pengaruh dari berbagai sumber disekitar. Orang tua merupakan guru pertama yang utama bagi anak. Rumah menjadi sekolah pertama bagi anak. Orang tua tidak bisa melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab pendidikan seks dini yang baik bagi anak-anaknya. Keterbukaan komunikasi akan membantu orang tua menjalankan fungsinya memberikan pendidikan seks bagi anak.

Anak akan mulai aktif bertanya tentang jenis kelamin dan gender pada umur 2,5 tahun. Mereka mungkin akan menanyakan hal yang sama dan diulang-ulang di umur 3, 4 serta 5 tahun. Semakin bertambah usianya, anak akan semakin matang dalam memahami konsep serta informasi secara umum. Orang tua sebaiknya:

  1. Mengetahui sumber mencari informasi yang akurat
  2. Mengetahui tentang tahapan perkembangan seksual anak yang normal
  3. Menentukan tahapan anak bisa mencerna tingkat dan jenis informasi yang bisa dipahamai sesuai umur anak
  4. Siap memberikan jawaban dalam kalimat yang sederhana dan mudah dipahami anak
  5. Memberikan informasi secara bertahap dan membangun pengetahuan bagi anak

Tahapan Perkembangan Seksual Pada Anak

Umur 0 – 2 Tahun

Pada masa bayi merupakan periode penting untuk membangun pondasi kedekatan dan ikatan kasih sayang bersama orang tua. Mereka menikmati untuk dibuai dalam dekapan, dibelai dengan sentuhan kasih sayang, dicium, dipeluk dan senang digelitiki sebagai pengalaman yang menyenangkan dan sensasi fisik positif yang diasosiasikan dengan perasaan disayangi oleh orang-orang terkasih disekitarnya. Pada umur ini:

  • Anak saat ini mempelajari sikap, perilaku, dan aktivitas terkait-gender dari keluarga serta orang-orang terdekat anak.
  • Perkembangan tumbuhnya kepercayaan anak di dalam keluarga.
  • Perkembangan tumbuhnya harga diri anak di dalam keluarga.
  • Anak masih bergantung sepenuhnya pada orang tua dan pengasuh lainnya
  • Anak mendapatkan sensasi pengalaman yang menyenangkan saat BAK dan BAB. Anak mulai menyadari pengalaman menyenangkan terkait organ genitalnya, misalnya merasa “senang dan lega” saat berhasil kencing dan berak (sejak lahir penis anak laki-laki sudah bisa ereksi sedangkan anak perempuan mengalami rubrikasi vagina yang merupakan proses normal fisiologis tubuh bukan karena orgasme seksual)
  • Anak mulai menyadari perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan
  • Anak mulai menyadari adanya pemisahan atau mungkin perbedaan peran terkait jenis kelamin dalam berperilaku: ada tugas-laki-laki yang dicontohkan oleh ayah dan tugas-wanita yang dicontohkan oleh ibu.
  • Anak mulai bisa mendapati dan mengeksplorasi anggota-anggota tubuhnya termasuk terkadang area genital.
  • Anak usia balita terkadang tampak memegang organ genitalnya saat BAB/BAK, mandi atau dipakaikan popok. Ini bisa merupakan aktivitas normal terkait tahapan perkembangan yaitu merasa penasaran, bukan seperti aktivitas seksual orang dewasa yang sedang masturbasi. Pada mulanya kejadian ini merupakan ketidaksengajaan ketika anak belajar mengenal bagian-bagian tubuhnya. Jangan sampai ekspresi, suara dan perilaku ibu/orang tua menjadikan anak salah persepsi.  Pada kondisi ini biasanya dengan mudah orang tua bisa mengalihkan perhatian bayi/anak ke aktivitas lain.

    Ajarkan anak untuk tidak melakukan aktivitas ini di depan umum. Jika anak dimarahi atau dipermalukan ketika belajar mengeksplorasi “rasa penasaran” (dan pada kondisi ini dia sedang belajar mengenal tubuhnya) maka anak justru akan makin fokus ke aktivitas tersebut, atau sebaliknya akan menimbulkan rasa malu/sungkan pada orang tua. Tanamkan konsep malu tanpa mempermalukannya sehingga anak bisa belajar namun tetap terbuka kepada orang tua. Hal ini penting bagi tahapan komunikasi berikutnya.

    Namun jika kejadian ini tampak aneh dimana anak terlihat tidak seperti biasa, ketagihan atau tidak bisa dialihkan sebaiknya segera bawa periksa konsultasi ke dokter/psikolog lebih lanjut.

happy TT

Umur 2 – 3 Tahun

Pada umur 2 tahun anak mulai menyadari dirinya sebagai anak perempuan atau anak laki-laki sesuai jenis kelaminnya. Kesadaran atas identitas gender. Identitas gender sendiri merupakan anugrah Allah yang juga dipengaruhi oleh lingkungan. Anak belajar untuk memerankan peran gendernya sesuai budaya setempat.

Pada masa ini:

  • Anak mempelajari perlakuan dalam keluarga terkait pemisahan identitas sesuai jenis kelamin laki-laki dan perempuan, misalnya: perlakuan, pakaian, mainan
  • Identitas terkait jenis kelamin dalam diri anak telah stabil dan mereka tahu jenis kelaminnya apa. Anak telah bisa membedakan antara pria dan wanita.
  • Anak berharap memiliki relasi dekat yang spesial dengan orang tua yang berbeda jenis kelamin dengannya. Bahkan berkompetisi berebutan perhatian dengan orang tua yang sama jenis kelaminnya. Misal: anak perempuan suka main sama Papa, marah jika melihat Papa berduaan sama Mama atau anak laki-laki cemburu jika melihat ayah dekat dengan ibunya.
  • Anak telah lebih mandiri sehingga menjadi saat yang tepat mulai mengajarkan dia melakukan aktivitas privat seperti mandi, pakai baju, buang air besar, buang air kecil, tidur, dll
  • Anak pada usia dini bisa saja tanpa sengaja mengalami masturbasi, bahkan terkadang bisa orgasme secara tidak sengaja. Atasi kondisi ini dengan bijak. Pada mulanya kejadian ini merupakan ketidaksengajaan ketika anak belajar mengenal tubuhnya. Jangan sampai ekspresi, suara dan perilaku ibu/orang tua menjadikan anak salah persepsi.  Alihkan anak pada aktivitas lain yang menyenangkan. Biasanya dengan mudah fokus anak teralihkan dan lupa pada aktivitas tersebut. Jika orang tua merasa tidak nyaman atau curiga terhadap perilaku anak yang tidak biasa sebaiknya segera konsultasikan bersama dokter/ahli yang berkompeten.
  • Anak mulai suka bermain “dokter-dokteran” dan “rumah-rumahan” karena penasaran dengan tubuhnya. Ajarkan tentang konsep aurat terkait bagian tubuh privat, perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama bermain.
  • Anak mulai penasaran dengan anggota tubuhnya dan anggota tubuh milik orang lain. Ajarkan anak nama-nama anggota tubuh dalam bahasa ilmiah.

Anak umur di bawah 4 tahun kadang suka memegang payudara ibu atau wanita lain terutama yang dekat dengannya. Belum tentu kejadian ini berkaitan dengan aktivitas seksual sehingga harus disikapi dengan bijak. Bisa jadi dia sedang penasaran dengan anggota tubuh orang lain. Ibu bisa menjelaskan tentang bagian tubuh privat juga bahwa anak tidak boleh memegang bagian tubuh yang bersifat privat milik orang lain. Jelaskan tentang konsep aurat dan sentuhan yang boleh/tidak boleh. Ibu bisa bawa periksa untuk konsultasi ke dokter/ahli jika merasa khawatir.

playing doctorPlaying house

Umur 3 – 5 Tahun (Masa Pra-Sekolah)

Anak mulai menyadari terkait jenis kelamin dan peranannya. Anak masih terus belajar mengenal tubuhnya dengan lebih spesifik. Pertanyaannya semakin berkembang. Pada saat ini orang tua harus lebih bijaksana lagi dalam pembelajaran edukasi seks dini sebab jika hanya dimarahi saat justru membuat anak malu, bersalah dan menjauh dari orang tua. Orang tua bisa mulai mengajarkan tentang cara menjaga diri yang sesuai dengan tahapan tumbuh-kembangnya yaitu mengenalkan bagian diri yang pribadi, privasi juga sentuhan nyaman/tidak nyaman.

Pada masa ini:

  • Identitas jenis kelamin pada anak telah menetap
  • Anak mulai menyadari dan penasaran dengan hubungan kedua orang tuanya (termasuk penasaran bagaimana bayi lahir, apa itu menikah, cinta terhadap lawan jenis, dll)
  • Anak mulai memiliki hubungan lebih dekat yang kuat dengan orang tua yang berjenis kelamin yang sama. Dia sudah melepas harapan tentang hubungan kedekatan spesial dengan orang tua yang berjenis kelamin berbeda.
  • Mulai suka berfantasi dan melamun yang berkaitan dengan identitas sesuai jenis kelamin (misalnya anak perempuan membayangkan menjadi seorang putri dalam kisah dongeng atau anak laki-laki berkhayal menjadi pahlawan super)
  • Anak mungkin mulai merasa bingung, bahkan merasa bermusuhan, dengan anak lain yang berbeda jenis kelaminnya. Anak tidak mau main bersama antara grup laki-laki dan perempuan.
  • Anak masih suka main “dokter-dokteran” atau “rumah-rumahan”. Terus tanamkan konsep privasi, aurat dan perilaku yang baik.

Terkadang anak membuka bajunya atau baju temannya saat bermain “dokter-dokteran”. Saat orang tua mengetahui hal ini sebaiknya jangan langsung bereaksi marah atau memukul anak. Duduk bersama anak. Ajak mereka berbicara bahwa ada bagian-bagian tubuh yang harus ditutup dan tidak boleh diperlihatkan apalagi dipegang oleh orang lain. Ajarkan konsep sentuhan baik, sentuhan mencurigakan/membingungkan dan sentuhan tidak baik. Ajarkan anak cara melindungi diri sesuai tahapan tumbuh-kembangnya.

Suatu hari mungkin anak akan bilang ke ibu/ayah jika dia suka seseorang, berencana kelak akan menikah dengan seorang teman atau mengatakan temannya sebagai pacar. Orang tua mungkin akan kaget dan khawatir. Sebenarnya apa yang dimaksud anak sekecil ini tidak seperti pada orang dewasa. Hal yang terbaik yaitu meresponsnya dengan netral dengan tidak mendukung perilaku tersebut namun juga tidak mengamuk memarahi anak. Ibu bisa mengalihkan pembicaraan dengan cerita atau aktivitas menarik lainnya. Pastikan keamanan media tontonan dan buku sesuai umur anak.  Ibu bisa berkonsultasi ke dokter/ahli jika merasa khawatir.

Umur 7 – 12 Tahun (Masa Sekolah Dasar)

Anak tertarik tentang kehamilan, kelahiran bayi dan peran terkait gender. Media dan teman sebaya mulai memberi pengaruh pada anak termasuk terhadap seksualitas. Pada saat ini jika orang tua tidak bisa menyediakan sumber informasi yang memuaskan maka anak akan cenderung akan beralih kepada teman-teman sebayanya. Ini justru harus diwaspadai oleh orang tua.

Pada masa ini:

  • Kelompok teman sebaya telah mulai meningkat dalam mempengaruhi  persepsi gambaran terkait jenis kelamin diri anak.
  • Anak mulai menjauh dari orang tua dan sering menghabiskan waktunya bersama teman-teman sebayanya
  • Anak mulai mengalami perubahan bentuk tubuh akibat pubertas
  • Anak perempuan mulai ada yang menstruasi (antara umur 9 – 10 tahun)
  • Anak merasa aneh dengan perubahan tubuhnya, terkadang muncul rasa malu bahkan rendah diri terhadap badannya. Ini menjadi saat yang penting untuk mengajarkan tentang konsep tubuh yang benar.
  • Anak mungkin mengalami masturbasi, bahkan orgasme.
  • Anak menyembunyikan informasi berkaitan dengan perilaku seksual (baik sendiri atau bersama teman-temannya) dari orang tuanya.

Contoh: Sekelompok anak laki-laki saling berbagi informasi tentang masturbasi, sembunyi-sembunyi melihat film/majalah dewasa, atau seorang remaja yang mengeksplorasi dirinya. Orang tua sampaikan pada anak bahwa ayah dan ibu terbuka untuk berbagai pertanyaan/hal yang ingin disampaikan oleh anak. Sampaikan bahwwa anak boleh bercerita hal yang rahasia pada orang tua. Jika anak terbuka untuk bertanya/bercerita sebaiknya jangan dimarahi. Ajarkan anak nilai hidup juga perilaku yang baik dengan bijak. Jika dimarahi justru berisiko anak menjadi tertutup tidak mau bercerita pada orang tua.

Pada masa sekolah ini anak mulai belajar lebih banyak termasuk membawa pulang pengaruh dari luar seperti perilaku buruk, bahasa kasar atau lelucon yang tidak baik. Respons yang tepat yaitu orang tua dengan tetap tenang memberitahukan kepada anak bahwa perilaku tersebut tidak baik dan tunjukkan pada anak perilaku/bahasa yang baik. Introspeksi diri jangan sampai perilaku buruk orang tua dicontoh oleh anak.

Anak akan bertanya banyak hal dan membutuhkan jawaban lebih rumit misalnya saat dia melihat aktivitas seksual hewan disekitar, seperti jika dia melihat kucing kawin atau ayam kawin di sekitar rumah. Tetap tenang dan jangan berpikiran buruk. Jawaban yang bisa diberikan misalnya menjelaskan bahwa begitulah proses reproduksi hewan untuk mencegah kepunahan di alam. Dengan demikian informasi yang diberikan tetap akurat dan rasa penasaran anak terhadap alam sekitar tetap terpelihara.

Saat ini tantangan dunia anak lebih jauh menantang akibat derasnya arus informasi dan eksplorasi media. Orang tua bisa membuat perubahan yang bermakna saat memutuskan memberikan edukasi tentang pendidikan seks dini dengan baik sesuai tahapan perkembangan anak. Orang tua sebaiknya membekali diri dengan informasi dan bahan bacaan yang sesuai untuk bahan pendidikan seks anak. Berikan jawaban atas pertanyaan anak dengan kalimat yang sederhana dan mudah dipahami sesuai umurnya.

Bagaimana memulai mengedukasi pendidikan seks bagi anak?

Tidak ada batas waktu, namun sejak dini itu lebih baik. Kesempatan bisa muncul kapan saja secara tidak terduga dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua harus bisa merespons dengan jawaban singkat, padat dan jelas hingga anak puas.
Jangan menertawakan saat anak bertanya. Usahakan orang tua tetap tenang dan nyaman dengan pertanyaan anak.

Sesuaikan informasi pendidikan seks dengan pemahaman tahap perkembangan anak. Tidak ada kata terlambat untuk memulai mengedukasi anak.  Orang tua bisa melakukan sambil beraktivitas seperti biasa, misalnya sambil melihat televisi, jalan-jalan, mengunjungi kerabat yang melahirkan, datang ke pengajian ibu hamil, saat melihat anak muda pacaran, dll.

Kapan memulai mengedukasi pendidikan seks bagi anak?

Pendidikan seks bisa dimulai sejak anak masih kecil yang tentu saja disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembangnya. Ibu bisa memulainya dengan mengenalkan nama-nama anggota tubuh anak dengan nama ilmiah. Ajarkan konsep privasi, sentuhan baik, bahaya orang asing, hubungan dengan sesama dan kemandirian.

Anak yang lebih besar akan penasaran dengan perbedaan antara tubuh laki-laki dan perempuan. Rasa penasaran anak dan manajemen orang tua terhadap “rasa penasaran” pada anak ini akan membantu memulai percakapan edukasi pendidikan seks. Proses ini juga menjadi sebagai sarana membangun keterbukaan komunikasi dan kepercayaan dengan anak.

Pendidikan seks bukan tentang mengajarkan tentang hal porno yang tabu namun untuk menjelaskan terkait tubuhnya dan peran serta fungsi sesuai nilai hidup yang dianut oleh orang tua.

Perlu diingat bahwa pendidikan seks ini berkelanjutan dan usahakan memberikan informasi sesuai tahapan usia anak, misalnya: “Bagaimana adek bayi lahir?”
Anak 5 tahun: “Adek bayi lahir dari tubuh mama.”
Anak 10 tahun: “Adek bayi lahir setelah 9 bulan tumbuh di rahim mama dan kemudian dia akan keluar lewat jalan spesial yang bernama vagina.”

Pemahaman informasi pendidikan seks sesuai umur memungkinkan anak memahami dengan lebih mudah serta menerima bahwa jenis kelamin dan gender merupakan bagian yang alamiah dari tubuh serta perkembangan emosionalnya. Juga akan memudahkan orang tua menyampaikan informasi lebih rumit kelak saat anak sudah makin beranjak besar dengan pertanyaan yang lebih kompleks lagi.

Kesempatan pembelajaran pun bisa datang kapan saja sebab jenis kelamin dan gender ini tidak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Anak belajar dari intonasi suara, mimik wajah juga respons pembelajaran yang diajarkan oleh orang tua. Orang tua bisa memulai kapan saja, namun jangan sampaikan langsung dalam sekali waktu karena akan membuat anak kebingungan. Satu hal yang pasti, orang tua harus senantiasa terbuka dan tersedia saat anak membutuhkan informasi. Jadi persiapkan diri dengan bekal ilmu yang benar.

Apa saja yang harus disampaikan ke anak?

Sampaikan informasi pendidikan seks dengan ilmu yang benar, bermanfaat dan akurat sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang tua (keluarga) terkait jenis kelamin, seksualitas dan gender sesuai tingkatan tumbuh-kembang anak.

Informasi yang diberikan oleh orang tua ini sangat penting karena akan membantu anak membuat pilihan hidup disaat mereka sudah memasuki usia reproduksi aktif (aktif secara seksual). Bicarakan tentang nilai-nilai relasi dan cinta kasih antara pria dan wanita, kesucian hubungan pernikahan, risiko kehamilan, hak-tanggung jawab dan penyakit seksual saat anak menginjak remaja. Didik anak untuk bereproduksi dengan bertanggung jawab demi generasi penerus yang sholeh, sehat, dan kuat.

Pada anak yang lebih kecil mereka masih penasaran dengan perbedaan antara pria dan wanita, baik perbedaan secara fisik maupun dalam hal yang lebih luas. Beberapa orang tua menyampaikan bahwa pria dan wanita itu setara, yang membedakan hanyalah fisiknya. Namun, orang tua yang lain menyampaikan bahwa dalam banyak hal pria dan wanita itu berbeda (terutama bagi muslim sebaiknya juga disampaikan perbedaan antara pria dan wanita dari sisi agama).

Bagaimana cara merasa nyaman membicarakan seks dengan anak?

Normal jika orang tua merasa kaget, kemudian malu dan timbul rasa tidak nyaman saat muncul pertanyaan terkait seks dan seksualitas dari anak. Namun sebaiknya orang tua bersikap terbuka karena jika orang tua menutup diri maka anak akan lari mencari sumber informasi lain yang bisa jadi membahayakan mereka. Ingat juga bahwa intonasi suara, mimik muka dan tingkah orang tua saat memberikan pembelajaran akan dipelajari oleh anak.

Apa yang harus dilakukan jika pertanyaan ini terlalu mendadak dan orang tua tidak siap? Saat mereka melontarkan pertanyaan akan lebih mudah untuk:

  1. mendengarkan pertanyaan mereka sampai tuntas
  2. bertanya kembali supaya tidak salah persepsi jadi mengeksplorasi maksud pertanyaan anak terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan itu

Seperti contoh kasus di atas yang saat anak bertanya tentang “sex” ternyata dia hanya bertanya tentang tulisan SEX di pintu toilet.

Setelah kita mengetahui “ide” yang ada di pikiran anak, baru kemudian kita jawab. Jawab pertanyaan dengan jawaban yang singkat, padat dan jelas. Berikan informasi singkat cukup sesuai inti pertanyaan yang mereka butuhkan.

Saat anak yang lebih besar mengungkapkan atau menanyakan tentang sesuatu terkait apa yang dia rasakan. Misalnya: anak curhat sedang naksir seseorang atau diajak berkencan dengan teman, maka sebaiknya orang tua menunjukkan keterbukaan dengan mau mendengarkan curhat anak. Baru kemudian memasukkan nilai-nilai yang dianut dalam keluarga dengan harapan anak sepakat.

Orang tua juga harus siap ketika anak laki-laki mengalami mimpi basah dan anak perempuan menstruasi. Orangtua harus siap dengan kondisi ini dan memberikan informasi yang baik karena kejadian ini sering membuat anak merasa bingung dan tidak nyaman. Anak membutuhkan perasaan untuk dimengerti, dipahami dan dihormati pikiran serta perasaannya oleh orang tua.

Apa jawaban yang tepat tentang pertanyaan terkait seks dan seksualitas?

Anak bertanya karena secara alamiah mereka merupakan manusia yang sedang dalam tahapan merasa penasaran terhadap berbagai hal. Sekaget apapun orang tua terhadap pertanyaan mereka, tetap saja anak membutuhkan jawaban yang jujur dan faktual. Tipsnya:

  • Cari tahu apakah inti pertanyaan yang ingin anak ketahui.

Meskipun terkesan spontan, terkadang pertanyaan mereka bukan hal yang dimaksud. Ibu bisa bertanya dahulu sebelum memberikan penjelasan:

  1. “apa yang kamu ketahui tentang itu?”
  2. “apa yang pernah kamu dengar tentang itu?”
  3. “apa yang kamu pahami tentang itu?”
  • Jangan berikan informasi yang telalu banyak.

Jawab dengan jawaban yang singkat, padat dan jelas yang mampu dipahami oleh anak. Kemudian tanyakan, “ada yang ingin ditanyakan lagi?”

  • Cek pemahaman mereka.

Setelah ibu menjawab pertanyaan mereka, cek apakah dia sudah mengerti atau belum.

Bisa jadi orang tua belum menemukan jawaban atas pertanyaan anak. Tidak masalah. Bagi anak tetap yang terbaik adalah mencari jawaban bersama orang tua. Jadi caranya bisa dengan membaca buku bersama, mencari di internet bersama atau bertanya ke orang lain (misal dokter) bersama orang tua.

Bagi orang tua yang muslim akan lebih mudah melakukan edukasi pendidikan seks dini kepada anak dengan memperkenalkan aurat dan hukum menutup aurat:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/aurat-wanita-di-depan-mahram-dan-wanita-lain.html

http://muslimah.or.id/fikih/aurat-wanita-di-depan-mahramnya-bagian-2.html

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/manakah-aurat-lelaki.html

Jadi, anak yang sedang bertanya tentang seks dan seksualitas sebenarnya dia sedang ingin belajar tentang jenis kelamin serta peranan terkait jenis kelamin tersebut. Sehingga orang tua harus memfasilitasi belajar pendidikan seks dini bagi anak dengan arif dan bijaksana.

Ajarkan Anak Untuk Melindungi Diri

Menjadi orang tua di jaman ini sangatlah penuh tantangan. Banyak bahaya mengintai anak dari sumber yang tidak terduga. Ajarkan anak untuk melindungi diri sesuai tahapan tumbuh-kembangnya. Sampaikan kepada anak bahwa:

  • Tubuhnya adalah anugrah Allah yang menjadi miliknya
  • Ajarkan anak mengenal nama anggota tubuhnya dalam nama ilmiah
  • Ajarkan bahwa anak memiliki hak privasi yang harus dihormati, dihargai dan dipertahankan dari perilaku orang lain.
  • Ajarkan anak bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat dan dipegang oleh orang lain. Teman, orang lain, orang tua dan keluarga tidak boleh melihat dan memegang area privat di tubuhnya. Ajarkan bahwa anak bisa meminta tolong kepada orang tua atau orang lain yang bisa dipercayai (ibu sebutkan siapa saja orang yang bisa anak percayai untuk melindunginya) saat dia merasa tidak nyaman atau kesakitan. Sampaikan jika pada pemeriksaan dokter/perawat maka akan didampingi oleh ibu/orang tua, atau bagaimana langkah tepat pada kondisi gawat darurat/bahaya tertentu dimana anak membutuhkan bantuan untuk diselamatkan.
  • Ajarkan anak untuk mengetahui sentuhan-sentuhan yang membuatnya merasa aneh atau tidak nyaman.
  • Ajarkan anak untuk menolak dan menyuruh orang yang menyentuh tubuhnya untuk berhenti melakukan tindakan yang membuatnya tidak nyaman.
  • Ajarkan anak untuk menceritakan kepada ibu hal-hal yang menurutnya tidak enak atau tidak nyaman.
  • Ajarkan anak adab bergaul yang baik di masyarakat namun disertai dengan pengetahuan keamanan diri terhadap perilaku orang lain yang tidak baik. Waspada terhadap orang asing.

Ajarkan anak untuk tidak menerima hadiah, makanan atau minuman dari orang lain kecuali dengan ijin orang tua. Hindari berkomunikasi dengan orang asing. Jangan pernah mau diajak bepergian dengan orang tanpa seijin orang tua. Ajarkan anak untuk tidak masuk ke dalam mobil atau rumah orang lain keculi telah diijinkan oleh orang tua. Ajarkan anak cara melindungi diri dan mencari pertolongan yang benar saat dalam kondisi bahaya.

1558400_649795838443058_7951971052682968811_n10463983_10152209548428519_1917636318041308741_n

Semoga Allah Menjaga kita semua dengan Penjagaan-Nya yang Maha Sempurna. Aamiin

 

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

3 replies

  1. Materi ini ilmu yg lagi saya cari, terimakasih ya dr.anisa untuk semua postingannya yg sangat bermanfaat buat banyak orang ☺👍🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s