Lotus Birth dan Waktu Pemutusan Aliran Darah Tali Pusat Bayi Baru Lahir

Banyak teman bertanya pada saya tentang kelahiran lotus atau lotus birth dimana tali pusat bayi tidak dipotong dan dibiarkan putus sendiri.

Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah membiarkan tali pusat yang tidak diklem dan  lahir  secara utuh (jadi setelah bayi lahir, tali pusat tidak dilakukan pengekleman dan setelah plasenta lahir, plasenta beserta talipusatnya dibiarkan saja hingga nanti saatnya “puput”). Dalam lotus birth plasenta dibiarkan dan Tali pusat kemudian Kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir.

Pada Lotus Birth, kelebihan cairan yang dikeluarkan plasenta  disimpan dalam mangkuk atau waskom terbuka atau dibungkus kain, lalu didekatkan dengan bayi. Kain yang digunakan untuk  menutupi plasenta atau wadah yang digunakan harus memungkinkan terjadinya pertukaran udara, sehingga plasenta mendapatkan udara dan mulai mengering serta tidak berbau busuk.

Garam laut sering digunakan untuk mempercepat proses pengeringan plasenta. Kadang-kadang minyak esensial, seperti lavender, atau bubuk tumbuh-tumbuhan seperti goldenseal, neem, bersama dengan lavender  juga digunakan untuk  tambahan antibacterial. Apabila tindakan pengeringan plasenta tidak diterapkan dengan baik plasenta akan memiliki bau yang berbeda, bau tersebut dapat diatasi  dengan penanaman plasenta secara langsung atau didinginkan setelah minggu pertama pasca persalinan.

Sampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai adanya kehilangan berat badan bayi dan penyakit kuning karena tindakan  Lotus Birth. Referensi mengenai Lotus Birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, serta Kristen dan Yahudi.

Karena adanya praktek budaya yang berbeda maka proses pengawetan plasenta dilakukan dalam berbagai cara yang berbeda. Beberapa orang lebih memilih untuk menyimpan plasenta sehingga dapat menguburkannya dengan anak di akhir kehidupan anak tersebut. Sedangkan yang lainnya membiarkan plasenta sampai mengerut dan mengering secara alami dan kemudian dikuburkan. Salah satu contohnya adalah Orang-orang Igbo di Nigeria, mereka menguburkan plasenta setelah lahir dan sering menanam pohon diatas kuburan plasenta tersebut.

Beberapa hal yang dilakukan dalam Lotus Birth diantaranya :

1. Bila bayi lahir, biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat berada sekitar leher bayi, cukup angkat tali tersebut.

2. Tunggu lahirnya plasenta secara alami.

3. Ketika plasenta lahir, tempatkan pada mangkuk di dekat ibu.

4. Tunggu transfusi penuh darah dari pusat ke bayi sebelum menangani plasenta.

5. Hati-hati dalam mencuci plasenta yaitu dengan menggunakan air hangat dan tepuk-tepuk sampai kering.

6. Tempatkan plasenta di tempat yang kering.

7. Letakkan plasenta pada  bahan yang menyerap seperti sebuah popok atau kain kemudian letakkan dalam tas plasenta. Permukaan plasenta akan berubah setiap hari bahkan lebih cepat  jika sering terjadi rembesan. Alternatif lain untuk mempercepat pengeringan plasenta yaitu dengan menaburkan garam pada bagian plasenta.

8. Gendong bayi dan beri makan sesuai kebutuhannya.

9. Pakaikan bayi menggunakan pakaian yang longgar.

10. bayi dapat dimandikan seperti biasa, biarkan plasenta bersamanya.

11. Meminimalisir pergerakan bayi.

Sumber Bidan Kita

Kebetulan saya menemukan artikel yang cocok di website Perinasia (Perkumpulan Perinatologi Indonesia) berikut ini ulasannya tentang waktu tepat pemutusan tali pusat ditinjau dari keuntungan dan risiko kesehatan bayi:

Sekitar lebih dari 200 tahun yang lalu, pada tahun 1801, praktik pemutusan tali pusat tidak dilakukan dengan segera. Pemutusan tali pusat menunggu sampai bayi bernapas dengan teratur. Hal ini disebabkan oleh latar belakang pemikiran bahwa bayi yang baru dilahirkan dalam kondisi yang lemah dan sebagian darah belum masuk sepenuhnya ke dalam aliran darah bayi dan sebagian masih tertinggal di plasenta (Erasmus Darwin, 1801)

Pada era sekitar 1960, terdapat pemikiran bahwa tali pusat yang panjang diduga mempunyai keuntungan lain, yaitu memungkinkan seorang ibu untuk membawa bayinya mencari pertolongan bila diperlukan, tanpa ada risiko plasenta akan tertarik.  Selain itu, adanya tali pusat yang panjangnya sekitar 18 inci (46 cm) memungkinkan seorang bayi diletakkan di atas perut ibu setelah kelahirannya, dengan demikian isapan bayi ke puting susu ibu akan membantu mengurangi perdarahan yang berlebihan saat fase pelepasan plasenta. (Walker CW, Pye BG. BMJ 1960)

Kontraksi uterus dan transfusi plasenta

Terdapat pengurangan volume darah plasenta dan peningkatan volume darah bayi pada 3 menit pertama setelah lahir. Pada menit ke-3 terdapat peningkatan volume darah bayi sekitar 20% dan pengurangan volume darah plasenta pada kisaran jumlah yang sebanding. Terkait dengan kontraksi uterus terhadap aliran darah plasenta ke bayi, laporan penelitian tahun 1968 membandingkan kelompok bayi dari ibu yang mendapat suntikan uterotonika dan tanpa uterotonika pada saat intra partum, ternyata didapatkan adanya peningkatan darah plasenta ke bayi sebanyak sekitar 16 ml/kg, dengan demikian volume darah bayi meningkat dari 70 ml/kg menjadi 86 ml/kg dalam 60 detik setelah seorang ibu disuntik dengan uterotonika (Yao AC, et al. Lancet,1968; Yao AC et al, Lancet 1969) . ..HAL 2

Sejak itu pemutusan aliran darah tali pusat tidak dianggap sebagai proses yang alami dan tidak memberikan arti, namun merupakan bagian dari kehidupan bayi yang sebaiknya dipertimbangkan untuk dilakukan berdasarkan bukti ilmiah yang kuat dengan mempertimbangkan kemungkinan dampak positif dan negatif yang potensial muncul.

Beberapa praktik pemutusan aliran darah tali pusat bervariasi tiap institusi. Ada yang melakukan dengan cepat dalam waktu 15 detik sampai ada yang cenderung lambat sampai denyutan tali pusat berhenti atau sekitar waktu 5 menit setelah bayi lahir. Belum ada kesepakatan yang baku mengenai kapan waktu yang terbaik untuk melakukan pemutusan tali pusat.

Waktu pemutusan aliran darah tali pusat : “Dini” atau “Lambat” ?

1. Terdapat beberapa pendapat mengenai batasan waktu pemutusan aliran darah tali pusat tersebut.

2. Untuk periode 1989-2006, American Consensus Obstetric and Gynecology mengemukakan bahwa pada dasarnya pemutusan aliran darah tali pusat sebaiknya dilakukan “segera setelah lahir” dan dilakukan dengan klem ganda (“doubly clamped”).

3. Kapan dikatakan pemutusan aliran darah tali pusat yang “segera” sebagai “waktu yang dianggap optimal” terhadap kondisi bayi baru lahir? Terminologi “segera” masih belum ada batasan waktu yang jelas.

4. Pada studi observasional yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 1998-1999, didapatkan waktu pemutusan aliran darah tali pusat yang dilakukan oleh Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan berkisar pada waktu < 60 detik, dengan rata-rata 30 detik (S. Lusyati, Abdurrahman Sukadi, 1999).

Beberapa laporan studi menyebutkan antara “waktu pemutusan aliran darah tali pusat” terhadap “beberapa luaran” terjadi:

  • Peningkatan volume darah

  • Peningkatan sel darah merah

  • Nilai hematokrit BBL

  • Cadangan zat besi

  • Dampak waktu pemutusan aliran darah tali pusat terhadap peningkatan volume darah bayi dan volume sel darah merah pada bayi aterm normal ( Yao AC et al. Lancet 1969).

Didapatkan perbedaan dalam hal jumlah volume darah dan volume sel darah merah antara waktu pemutusan tali pusat < 15 detik dibandingkan dengan waktu pemutusan tali pusat > 60 detik.

Dampak waktu pemutusan aliran darah tali pusat terhadap nilai hematokrit bayi baru lahir (BBL)

Bila dilihat aspek hematokrit pada BBL, ternyata tidak didapatkan perbedaan nilai antara bayi yang dilakukan pemutusan tali pusat pada waktu < 5 detik dan 60 detik (Yao et al, Lancet 1969).

2014-03-17-14-30-14

Sebaliknya terdapat peningkatan hematokrit yang tinggi pada waktu pemutusan tali pusat sekitar 5 menit pada pemeriksaan usia 24 jam setelah lahir (hematokrit 44 % vs 62% pada waktu antara < 5 detik vs 5 menit) (Saigal S et al,  1972).

Dampak waktu pemutusan aliran darah tali pusat terhadap cadangan besi pada anak usia 3 bulan  (Gupta & Ramji  Indian Pediatrics 2002):

Penelitian di New Delhi menunjukkan adanya perbedaan nilai cadangan besi pada bayi yang mendapat pemutusan tali pusat secara dini (< 60 detik) dan lambat (5 menit) saat usia mereka menginjak usia 3 bulan. (80 (15-180) vs 105 (30-500) pada waktu pemutusan tali pusat < 1 menit vs 5 menit).

Hasil penelitian tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak Meksiko:

Terdapat peningkatan cadangan Fe dan penurunan kejadian anemi zat besi pada saat usia mereka sekitar 6 bulan (Chaparro et al, Lancet, 2006). Meta analisis terhadap beberapa studi mengenai perbedaan waktu pemutusan aliran darah tali pusat dini vs lambat (lebih dari 60 detik) terhadap luaran bayi baru lahir: (McDonald SJ, et al. Cochrane Database of Systematic Reviews July 2013)

Tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal :

  • Kematian neonatus

  • Perawatan di NICU

  • Kejadian sindrom gawat napas

  • Kejadian polisitemia

  • Kejadian neonatal hiperbilirubinemia

Pada kelompok dengan waktu pemutusan tali pusat yang “lambat” didapatkan :

  • Kadar Hb pada usia 24-48 jam  pertama  lebih tinggi = 1.49 g/dL

  • Cadangan zat besi yang lebih tinggi pada usia 3-6 bulan

  • Memerlukan fototerapi lebih banyak

Dampak perbedaan waktu pemutusan aliran darah tali pusat pada bayi prematur

  • Pada bayi prematur, dampak terhadap nilai hematologi  tampak sangat berbeda pada perbedaan waktu pemutusan aliran darah tali pusat

  • Saigal (1972) mengemukakan perbedaan nilai hematokrit yang sangat jauh antara waktu pemutusan tali pusat pada segera setelah lahir dan 1 menit (45% vs 55%)

  • Semakin kecil usia gestasi perbedaan nilai hematokrit  semakin berbeda. Pada bayi prematur < 29 minggu menunjukkan nilai hematokrit  39% vs 50% pada waktu pemutusan tali pusat < 10 detik vs 20 detik (Ibrahim, 2000)

  • Beberapa waktu yang lalu, salah satu artikel di KOMPAS (Desember, 2013) melaporkan terdeteksi tingginya angka kejadian anemi akibat defisiensi zat Besi (Fe) pada anak-anak Indonesia.

  • Seperti telah diketahui dengan sangat baik bahwa anemi karena defisiensi zat Besi dapat mempengaruhi tingkat perkembangan.

Beberapa masalah yang mungkin terjadi akibat anemia defisiensi zat besi ini antara lain :

1.    Gangguan perkembangan motorik        Shafir T et al.Early Hum Dev. 2008

2.    Gangguan fungsi kognitif.        Carter RC et al. Pediatrics. 2010 ;        Algarín C et al Dev Med Child Neurol. 2013

3.    Gangguan fungsi memori .        Congdon EL et al.J Pediatr. 2012

4.    Gangguan tingkah laku .         Lozoff B et al.Pediatrics. 2000

5.    Gangguan fungsi pendengaran dan penglihatan . Algarín C et al.Pediatr Res. 2003 Feb;53(2):217-23.

“Disimpulkan dari laporan penelitian akhir akhir ini bahwa didapatkan dampak positif dari waktu pemutusan aliran darah tali pusat yang lambat terutama terhadap nilai hematologi dan cadangan zat besi pada usia 6 bulan berikutnya”

“Waktu pemutusan aliran darah tali pusat yang pada bayi normal sekitar 60 detik merupakan waktu yang optimal dan dapat membantu meningkatkan cadangan zat besi pada kehidupan selanjutnya”

Waktu pemutusan tali pusat sekitar 60 detik bukanlah waktu yang sebentar. Hal ini tentu dapat mudah diaplikasikan pada bayi baru lahir yang tidak bermasalah, dimana perawatan rutin pada bayi tersebut dapat dilakukan di atas perut ibu.

Lantas bagaimana dengan bayi yang memerlukan resusitasi, bahkan pada bayi prematur.  Pada kondisi ini menunda tindakan resusitasi hingga sekitar 60 detik bukan tindakan yang tepat bahkan berlawanan dengan kaidah resusitasi, dimana resusitasi harus dilakukan segera.

Laporan studi dari Hosono S et al. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed 2008, yang membuktikan bahwa pada kondisi yang tidak dapat menunggu, tali pusat dapat dipotong segera namun lebih panjang sekitar 20 cm dengan tujuan untuk dilakukan “milking”/pengurutan tali pusat. Dengan demikian bayi tetap mendapatkan efek tranfusi (transfusi plasenta), Seperti halnya pemotongan tali pusat yang “lambat”

Penelitian dilakukan terhadap bayi prematur < 29 minggu dan diikuti sampai usia 3 bulan. Ternyata dibandingkan bayi prematur yang mendapat pemutusan tali pusat dini tanpa “milking”, pada kelompok “milking” didapatkan :

  • Kebutuhan transfusi dan frekuensi transfusi  lebih jarang

  • Mempunyai kadar Hb, hematokrit yang lebih tinggi

  • Kebutuhan ventilasi dan oksigen lebih rendah

  • Tidak didapatkan efek samping hiperbilirubinemia dan perdarahan intrakranial yang lebih tinggi

Dari meta analisis terhadap 15 penelitian pada kelompok bayi prematur (24-36 minggu) membandingkan antara kelompok pemutusan tali pusat lambat dan dini + “milking” (Cochrane Database Syst Rev 2012) memberikan hasil yang tidak berbeda dalam hal :

  • 1. Kejadian asfiksia (Gangguan pernafasan berat)

  • 2. Kebutuhan terapi hipotermia (Suhu tubuh rendah)

  • 3. Mortalitas (Angka kematian)

  • 4. Gangguan pernapasan (sindrom gangguan napas, kebutuhan surfaktan, kebutuhan ventilasi mekanik, kebutuhan oksigen)

  • Pada bayi yang memerlukan resusitasi, oleh karena resusitasi perlu dilakukan segera, maka  bayi harus segera dipisahkan dari ibu dengan tujuan untuk mendapat tindakan resusitasi.

  • Pada periode transisi, dengan mengembangnya alveol terjadi penurunan tahanan di paru paru.

  • Waktu pemutusan tali pusat itu sendiri memberikan dampak antara lain: pemutusan arteri umbilikalis memberikan dampak meningkatnya tekanan darah sistemik dan meningkatnya beban ventrikel kiri (afterload), dan pemutusan vena umbilikalis memberikan dampak terhadap menurunnya pengisian atrium dan ventrikel kanan.

  • Pada bayi yang memerlukan resusitasi, akibat tahanan paru yang relatif masih tinggi, mengakibatkan penurunan aliran darah ke atrium kiri serta akibat tingginya “afterload” akibat pemutusan tali pusat mengakibatkan “cardiac output” menurun. Penurunan “cardiac output” selain mengakibatkan hipotensi juga mengakibatkan gangguan perfusi otak.

  • “Disimpulkan bahwa setiap bayi yang membutuhkan resusitasi  pada saat yang sama memerlukan transfusi plasenta”

  • Rekomendasi dari The American College Obstetrician and Gynecologist dan ILCOR (Desember 2012):

  • “Berdasarkan beberapa laporan penelitian dan meta analisis, disarankan untuk melakukan pemutusan tali pusat sekitar waktu 30-60 detik dan bisa ditunda hingga 2 menit, demikian juga halnya terhadap bayi prematur (namun jika memungkinkan untuk dilakukan)”.

Sumber: Artikel ilmiah oleh  dr. Setyadewi Lusyati, SpA(K), PhD (Kelompok Kerja Neonatologi RSAB Harapan Kita) di PERINASIA akses Senin, 17 Maret 2014 jam 14:47

Rekomendasi WHO terkait delayed cord clamping dan waktu pemutusan tali pusat bayi baru lahir (link):

Rekomendasi Waktu Pemutusan Tali Pusat oleh WHO

WHO merekomendasikan pengekleman tali pusat ditunda sekitar 1 – 3 menit untuk mendapatkan manfaat plasenta.

Guideline di Indonesia tentang perawatan bayi baru lahir normal:

2014-07-17-06-38-40

Departemen Kesehatan Republik Indonesia merekomendasikan pemotongan dan pengikatan tali pusat sebaiknya dilakukan sekitar 2 menit setelah lahir.

Jadi ditinjau dari segi kesehatan yang berdasarkan penelitian berbasis bukti, disarankan menunda pengikatan dan pemutusan tali pusat 1 – 3 menit jika memungkinkan.

Jika mau bayi lebih sehat, tumbuh berkembang dengan baik dan dekat dengan ibu yaaa ibu harus jadi ibu profesional yang mengadopsi pola asah asih asuh yang ramah anak dan yang jelas telah terbukti bahwa memberikan ASI serta menyusui bayi  mampu memberikan manfaat yang besar secara lahir batin dalam jangka pendek maupun di masa depan bagi anak juga ibu berdasarkan penelitian yang berbasis bukti 😉

Tentang lotus birth dari RCOG (Royal College of Obstetricians and Gynaecologists):

Lotus birth menurut RCOG

RCOG menyatakan tidak ada penelitian dan belum ada bukti manfaat kesehatan terkait lotus birth. Segera setelah berhenti berdenyut saat lahir, plasenta tidak lagi memiliki sirkulasi darah dan menjadi jaringan tubuh yang mati. Jaringan plasenta kaya akan darah sehingga sangat disukai oleh kuman penyakit dan rentan infeksi. Kuman yang ada di plasenta berisiko menyebar ke tubuh bayi kemudian menyebabkan infeksi. Jika ibu memilih metode ini, maka bayi harus dimonitor ketat terkait tanda-tanda infeksi.

Diskusi dengan beberapa kawan dokter yang juga paham agama Islam menyimpulkan bahwa plasenta adalah organ yang merupakan bagian dari tubuh manusia yang sudah mati ketika berhenti berdenyut sehingga harus diperlakukan dengan layak, namun tidak ditentukan secara spesifik kapan waktu yang tepat untuk pemutusan dan penguburan plasenta ini. Tentang waktu yang tepat kawan-kawan saya ini lebih memilih pada mana yang paling banyak manfaatnya dan yang paling sedikit mudharatnya bagi bayi sesuai penelitian berbasis bukti.

Namun, semua keputusan memang ada di tangan kedua orang tua. Pertimbangkan dengan baik atas setiap keuntungan dan risiko yang ada. Buat birth plan yang baik, kemudian diskusikan dengan tenaga kesehatan yang dipercaya. Tentu yang paling dirugikan dari kesalahan orang tua dalam membuat keputusan adalah bayi.

 

 

 

PERHATIAN!
WEBSITE INI BUKAN UNTUK TUJUAN PENGOBATAN. ARTIKEL HANYA BERSIFAT SEBAGAI EDUKASI UNTUK MENYEDIAKAN INFORMASI DAN TIDAK MENGGANTIKAN PENANGANAN MEDIS DARI DOKTER/AHLI PROFESIONAL SECARA LANGSUNG. PERIKSAKAN KE DOKTER/AHLI JIKA ANDA MEMILIKI PERMASALAHAN KESEHATAN/KONDISI LAIN YANG MENGGANGGU. SEGERA KE RUMAH SAKIT ATAU UGD JIKA ANDA MERASA SAKIT, MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN ATAU DALAM KONDISI DARURAT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s