Tetap sehat di tengah guyuran hujan abu vulkanik

Gunung berapi  yang meletus dapat mengeluarkan gas beracun, awan panas, lahar panas, banjir lahar dingin, hingga debu dan abu. Kadang bahaya yang ditimbulkan gunung berapi  sebenarnya dapat diprediksi sebelumnya. Namun, masing-masing gunung berapi sebenarnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Sehingga tak jarang prediksi yang telah dibuat melenceng. Mempelajari pola letusan gunung berapi yang dulu pernah terjadi serta mengikuti petunjuk/ instruksi dari pemerintah merupakan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Gunung Merapi, 2006

Gunung Merapi, 2006

Ketika meletus, paling tidak gunung berapi akan mengeluarkan isi perutnya, yaitu abu vulkanik yang terdiri dari batu-batu kecil, gas, serta debu. Komponennya juga bisa sangat beragam, dapat berupa asam (nitrat dan sulfat), kimia organik (karbon), logam berat, tanah, hingga serbuk bunga dan spora jamur. Tiap gunung berapi memiliki isi perut yang berbeda-beda. Untuk efeknya terhadap kesehatan, selain tergantung jenis komponennya, juga berkaitan dengan ukurannya.

  • Ukuran mikro (kurang dari 10 mikrometer), memiliki efek terhadap kesehatan yang paling besar. Dengan ukuran yang begitu kecil, debu dapat masuk hingga bagian paru-paru yang dalam, yaitu bronkus.
  • Ukuran halus (10 – 2,5 mikrometer).
  • Ukuran kasar (lebih dari 2,5 mikrometer – 10 milimeter).
  • Ukuran besar (lebih dari 10 mikrometer), biasanya tidak dapat masuk ke dalam paru-paru. Namun dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, hidung, dan tenggorokan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika terjadi hujan abu gunung berapi.

Siapa sajakah yang berisiko sensitif terhadap abu gunung berapi?

Seseorang dengan penyakit jantung dan paru-paru, orang yang sudah tua serta anak-anak berisiko tinggi terkena dampaknya.

Orang yang memiliki penyakit jantung dan paru-paru, seperti: penyakit jantung coroner, gagal jantung, penyakit obstruktif paru kronik, asma, TBC; memiliki risiko penyakit-penyakit tsb akan kambuh. Pasien kencing manis juga berisiko tinggi karean mereka memiliki kecenderungan untuk terkena penyakit jantung dan paru.

Anak-anak yang sebenarnya paru-parunya juga dalam masa pertumbuhan, cenderung aktif dan menghabiskan waktunya diluar rumah sehingga terpapar abu gunung berapi lebih banyak dan menyebabkan asma yang mereka miliki kambuh.

Berangkat sekolah ditemani guyuran hujan abu

Berangkat sekolah ditemani guyuran hujan abu

Apa saja efek yang ditimbulkan dari abu gunung berapi terhadap kesehatan?

Efek pada kesehatan dapat dibagi menjadi beberapa: efek pada pernapasan, gejala pada mata, iritasi kulit, dan efek tidak langsung lainnya.

  • Efek pada pernapasan:

Pada beberapa peristiwa meletusnya gunung berapi, abu yang dikeluarkan sangat halus sehingga dapat sampai ke bagian paru-paru yang dalam. Dengan banyaknya abu ini, orang sehat pun akan terkena efeknya. Dalam jangka waktu yang dekat (fase akut), beberapa gejala yang dapat ditimbulkan adalah:

    1. Hidung meler dan iritasi
    2. Iritasi dan nyeri tenggorokan, kadang disertai dengan batuk kering.
    3. Orang yang telah memilki keluhan sebelumnya dapat timbul radang paru-paru (bronchitis) dengan keluhan batuk yang lebih parah dan berdahal, bersin, dan napas yang tersengal-sengal.
    4. Iritasi jalan napas pada penderita asma dapat berupa napas yang pendek-pendek (sesak napas), bersin, dan batuk.
    5. Pada beberapa kasus yang sangat jarang, abu gunung berapi mengandung kristal silika yang dalam jumlah sedikit pun akan memberikan efek yang berat berupa penyakit silikosis.
  • Gejala pada mata:

Iritasi mata adalah hal yang paling umum terjadi karena debu dan abu dapat melukai bagian mata yang paling depan yang disebut kornea serta konjungtiva. Lensa kontak sebaiknya tidak dipergunakan. Gejala yang umum terjadi diantaranya:

    1. Perasaan mengganjal pada mata, terasa seperti ada benda asing.
    2. Mata menjadi nyeri, gatal dan panas.
    3. Mata berair.
    4. Abrasi kornea
    5. Konjungtivitis dengan mata merah, terasa panas dan nyeri jika melihat cahaya.
  • Iritasi pada kulit:

Gejala iritasi pada kulit sebenarnya jarang terjadi, kecuali jika di abu gunung berapi bersifat asam. Gejalanya adalah:

    1. Iritasi dengan kulit yang kemerahan.
    2. Infeksi sekunder karena kulit yang digaruk.
  • Efek tidak langsung:

Seperti pada efek pada kesehatan, hujan abu menyebabkan beberapa hal yang berujung pada masalah kesehatan secara tidak langsung.

Efek pada jalan: Hujan abu dari gunung berapi menyebabkan jarak pandang sangat terbatas sehingga meningkatkan risko kecelakaan. Belum lagi ditambah jalan yang licin atau bahkan tidak berfungsinya sarana transportasi sehingga bahan kebutuhan pokok tidak dapat didatangkan.

    1. Efek pada listrik: Hujan abu dapat menyebabkan terputusnya aliran listrik. Abu-abu dapat menempel dan sulit dibersihkan.
    2. Efek pada sumber air bersih: Abu dapat mencemari sumber air bersih. Terlebih lagi jika ternyata dalam abu gunung berapi ini terdapat zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.
    3. Efek pada sanitasi dan sarana kebersihan: Hujan abu dapat menyebabkan terputusnya proses sanitasi. Misalnya saja truk pengangkut sampah yang tidak dapat beroperasi.
    4. Atap rumah jatuh: Tebalnya abu yang ada di atap rumah bisa berisiko menyebabkan atap rumah ambruk, atau terluka ketika membersihkan atap rumah dari abu gunung berapi.
    5. Efek pada hewan ternak: Selain menganggu kesehatan hewan ternak, abu yang mengenai rumput makanan ternak juga dapat mengandung zat beracun seperti asam hialuronat yang berbahaya

Murid2

Apa yang dapat dilakukan untuk melindungi diri ketika hujan abu?

  1. Batasi aktivitas diluar rumah, termasuk batasi mengendarai kendaraan bermotor.
  2. Tutup pintu dan jendela rumah.
  3. Lindungi diri ketika keluar rumah dengan menggunakan masker dan kaca mata. Jangan gunakan lensa kontak.
  4. Tutup semua tempat penampungan air. Air yang terkena sedikit abu, biasanya tidak berbahaya untuk dikonsumsi setelah disaring.
  5. Sayur dan buah yang terkena abu dapat dikonsumsi setelah dicuci bersih.
  6. Ketika membersihkan abu, semprot sedikit air terlebih dahulu baru dibersihkan. Menyapu abu kering dapat menyebabkan abu menyebar dan malah berbahaya.

Saat musibah datang merupakan masa-masa yang berat. Namun, tetap jaga kesehatan ya.

Gunung Sinabung, 2013-2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s